Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 35 Tertarik?


__ADS_3

Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya. Teringat semua kenangan indahnya bersama Papa dan Mamanya. Alia dan Andra saling melempar pandangan penuh rasa heran melihat Elvan yang menitikkan air matanya.


''Elvan, kamu nggak apa-apa?'' kata Alia sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Elvan namun Elvan tak bereaksi.


''Mas Elvan!" panggil Andra sambil menepuk bahu Elvan. Barulah Elvan sadar bahwa angannya telah melambung jauh pada masa lalu.


''Eh iya. Sorry, kenapa?'' kata Elvan yang menyadari bahwa air matanya telah membasahi pipinya. Elvan buru mengusapnya.


''Kamu nangis?'' kata Alia lirih.


''Siapa juga? huh hah! Ini pedes aja,'' sangkal Elvan sembari buru-buru menenggak segelas air putih di hadapannya.


''Masak sih ini pedes? Aku bikinnya nggak pedes-pedes banget.''


''Iya gue nggak suka makanan pedes,'' kata Elvan yang mencoba menutupi rasa sedihnya.


''Maaf ya, aku nggak tahu.'' Kata Alia.


''Enak nggak Mas, masakan Kak Alia?''


''Enak kok. Enak banget malah. Besok tolong buatkan lagi ya. Dan bawa ke kampus. Jadi besok gue sarapan masakan bikinan elo. Tenang aja gue bakalan bayar kok.''


''Kamu yakin? suka makanan kampung gini? nggak bikin sakit perut apa? terus itu kan petai. Kamu nggak takut bau kalau di deketin cewek-cewek.''


''Hahaha, ya nggak lah. Makan petai nggak bikin kegantengan gue luntur,'' kata Elvan dengan penuh percaya diri.


''Hhh, mulai deh,'' gumam Alia.

__ADS_1


''Dan pisang goreng elo juga enak banget. Besok bawain juga ya, biar di makan sama anak-anak. Dan tenang aja, gue bayar juga. Oke.''


''I-iya deh. Semoga gue ingat.''


''Ya harus ingat lah. Gue kan bayar! Tenang gue beli dua ratus ribu makanan elo perporsi. Gimana?''


''Hah? dua ratus ribu? itu kemahalan. Paling beli di luar cuma sepuluh ribu.''


''Elo paginya bawain gue sarapan ke kampus. Terus siangnya, elo ke rumah masakin gue. Dan selesai pulang dari laundry, elo mampir kesini bawain gue makan malam. Sarapan, makan siang, makan malam, masing-masing gue kasih dua ratus ribu. Jadi kalau elo masakin gue setiap bulan, bisa di hitung kan setiap bulan elo dapat berapa? Iya kan?'' kata Elvan yang mencoba menego Alia.


''Wah kalau kayak gitu gaji Kak Alia, berkali-kali lipat dari kerjaan aku,'' celetuk Andra.


''Andra, kamu ini.''


''Elo pikir aja dulu. Kalau elo setuju, elo hubungin gue. Mana handphone elo, gue tulis nomor gue, biar elo bisa hubungin gue,'' kata Elvan. Alia dengan ragu-ragu mengeluarkan ponselnya daj memberikannya pada Elvan. Elvan segera menuliskan nama dan nomor ponselnya di kontak Alia. Kemudian ia menelepon nomornya sendiri dengan ponsel Alia, untuk mengetahui nomor ponsel Alia.


''Nih, itu udah gue save.''


''Eits, jangan elo ganti. Awas aja kalau sampai elo ganti,'' ancam Elvan.


''Ini kan handphone aku. Jadi suka-suka aku dong.''


''Udah, jangan di ganti. Apa susahnya sih? Hak aku juga mau kasih nama apa,'' paksa Elvan pada Alia. Sementara Andra hanya bisa menahan tawanya melihat sikap Elvan dan Alia yang lucu.


''Yang bener ini namanta ELVAN NGGAK ADA AKHLAK TUKANG GHIBAH,'' gumam Alia dalam hati dengan kekesalan di ubun-ubun. Alia hanya bisa mengalah dan menuruti keinginan Elvan. Alia dan Andra pun akhirnya pulang karena hari semakin larut. Kasihan Pak Samir kalau harus sendirian di rumah.


...****************...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Alia segera masuk ke kamarnya. Tiba-tiba alarm pengingat di ponselnya berbunyi. Alia segera membukanya. Pengingat jadwal kontrol dan suntik insulin Pak Samir di rumah sakit besok. Pengingat itu bersamaan dengan tagihan air dan listrik yang jatuh tempo bersamaan. Sedangkan Alia sudah tidak memiliki uang simpanan lagi. Alia kembali mengingat bahwa stok beras di dapur hanya untuk besok saja. Alia benar-benar sedih dan bingung. Alia juga tidak ingin membebankannya pada Andra. Ia tidak ingin menganggu konsentrasi Andra untuk sekolah. Biarlah uang hasil kerja Andra, di gunakan untuk kepentingan Andra sendiri. Ia pun tidak tega jika harus meminta uang pada Andra. Apalagi gaji paruh waktu Andra, juga tidak seberapa. Bahkan sejak kerja, Andra tidak pernah lagi meminta uang saku dan uang bensin pada Alia. Meskipun selama ini Andra tidak pernah memintanya pada Alia tetapi Alia sendiri yang selalu memberikannya. Alia merasa memiliki tanggung jawab besar pada adiknya. Karena Alia menyadari, Andra tumbuh tanpa sosok seorang Ibu. Alia kemudian mengingat tawaran Elvan.


''Apa aku terima ya tawaran Elvan? Ini juga pekerjaan halal. Kasihan Ayah dan Andra kalau seperti ini. Ya Allah, apa aku terima saja ya?" kata Alia yang sedang berdialog pada dirinya sendiri. Alia segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya'. Siapa tahu dengan sholat Alia bisa mengambil keputusan dengan tepat.


Rendra yang sedang di cafenya tampak melamun sembari menatap foto Alia di ponselnya.


"Alia, kenapa ya aku merasa kita tidak sedekat dulu? kenapa aku merasa ada jarak di antara kita? jujur aku merindukan kamu Alia. Apa karena sejak ada cafe dan aku sibuk mengurusi cafe, jadi waktu kita hanya sedikit ya. Ingin rasanya aku segera meminangmu Alia. Kamu adalah wanita idaman setiap pria. Oh ya, apa aku besok bawakan Alia makanan saja ya. Aku ingin tahu gimana komentar Alia tentang masakanku. Dan aku pun juga rindu masakan sambal petai Alia." Rendra kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan ia segera pulang. Di tengah perjalanan, Rendra melihat sebuah taksi yang sedang menepi. Rendra melihat sosok Sandra yang keluar dari taksi lalu melihat Sandra sedang muntah di tepi jalan. Rendra pun menghentikan mobilnya dan menghampiri Sandra.


"Sandra? kamu kenapa?" tanya Rendra. Rendra mencium bau alkohol yang sangat tajam. Sandra yang membungkuk untuk muntah, mendongak begitu mendengar suara yang tak asing di telinganya.


"Rendra. Hei, ngapain disini?" tanya Sandra dengan suaranya yang mabuk dan tubuhnya yang sempoyongan.


"Kamu mabuk, San?"


"Nggak. Aku nggak mabuk kok, cuma minum sedikit aja," celoteh Sandra sambil tertawa. Namun tiba-tiba Sandra pingsan dan tubuhnya terhuyung ke arah Rendra. Reflek Rendra pun menangkap tubuh Sandra.


''Pak, tinggal saja. Biar saya yang bawa pulang,'' kata Rendra pada supir taksi itu.


''Iya, Mas.''


''Oh ya ini ongkosnya,'' kata Rendra sembari memberikan uang dari saku celananya pada supir taksi.


''Terima kasih, Mas.'' Kata sopir taksi itu dan kemudian sopir taksi itupun pergi. Rendra memapah Sandra dan mengajak Sandra masuk ke dalam mobilnya. Rendra segera membuka tutup botol air mineral dan mencoba meminumkannya pada Sandra.


''San, ayo minum air ini. Supaya kamu enakan,'' kata Rendra sambil menepuk bahu Sandra supaya Sandra bangun. Sandra perlahan membuka matanya dan menenggak minuman yang di berikan oleh Rendra. Rasa pusing dan mual yang Sandra rasakan sedikit mereda.


''Sekarang aku antar kamu pulang ya. Kamu tinggal dimana?''

__ADS_1


''Aku tinggal di Sunrise apartemen lantai 15, kamar 205,'' kata Sandra dengan suaranya yang masih mabuk. Kemudian Sandra kembali tak sadarkan diri. Rendra hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Sandra yang menurutnya tidak pantas di lakukan oleh seorang wanita. Rendra segera melajukan mobilnya menuju apartemen Sandra.


Bersambung.... Jangan lupa like, komen dam vote ya, makasih 🙏😘


__ADS_2