Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 27 MIMPI BURUK


__ADS_3

''Mama!'' Teriak Elvan dengan kencang saat ia terbangun tengah malam. Lagi-lagi mimpi buruk menghantui Elvan. Tubuh Elvan berkeringat dingin setiap kali bermimpi tentang kecelakaan itu. Pandangan Elvan mengedar, ia baru saja terbangun dari mabuk beratnya. Elvan pun baru menyadari bahwa dirinya sudah berada di kamarnya. Bahkan Elvan pun masih mengenakan pakaian yang ia pakai pagi tadi. Elvan meraih ponselnya dan melihat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Elvan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Rasa trauma pasca kecelakaan benar-benar membuatnya tersiksa. Di tambah saat itu pula, ia mengetahui kenyataan bahwa Papanya telah memiliki istri dan juga anak lain. Apalagi sebelum kecelakaan, Elvan mendapati Mamanya seperti sedih bahkan menangis.


''Ma, El kangen Mama. Papa benar-benar tidak peduli pada El. Papa terlalu nyaman bersama wanita itu disana, sampai lupa ada anaknya disini,'' ucap Elvan penuh dengan kemarahan. Elvan sepertinya sangat dendam terhadap Mamanya Endrew. Elvan keluar dari kamarnya dan ia berjalan menuju ke kamar Mamanya. Ia melihat bagaimana dulu keluarga mereka sangat bahagia. Elvan tersenyum getir, melihat potret dirinya bersama Papa dan Mamanya. Elvan memeluk pigura foto itu dan terduduk di sudut kamar, sembari menangis. Hatinya begitu terasa sakit dan sangat sepi sejak kepergian Mamanya. Terlalu dini bagi Elvan untuk memahami semuanya. Yang ia tahu hanya penghianatan dan dendam. Dada Elvan sangat sakit, dadanya terasa sangat sesak. Nafasnya tersengal karena tangis Elvan benar-benar memecah keheningan di dalam kamar Mamanya. Bi Minah yang melintasi kamar Bu Maya, mendengar suara Elvan yang tengah menangis. Bi Minah mendekatkan telinganya pada pintuk kamar.


''Ya Allah, kasihan Den Elvan. Nyonya Maya, hati saya selalu ikut sedih setiap kali Den Elvan seperti ini. Kasihan Den Elvan, Nyonya Maya. Sabar ya, Den. Bibi akan selalu setia sama Den Elvan. Bibi tidak peduli Den Elvan mau galak atau apa, Bibi tetap sayang sama Aden,'' gumam Bi Minah dalam hati sembari menangis. Bi Minah pun kemudian segera kembali menuju ke kamarnya.


Dirumahny, Alia telah terbangun. Seperti biasa ia melakukan sholat malam. Meskipun kakinya sedang sakit tapi itu semua tidak menghalangi Alia untuk beribadah. Dengan menggunakan kruk, Alia berjalan menuju tempat wudhu. Dinginnya air yang membasuh wajahnya, membuat Alia merasa sejuk. Selesai berwudhu, Alia kembali ke kamarnya. Ia segera mengenakan mukena dan melakukan sholat malam. Alia sangat khusyuk dalam sholatnya. Tak lupa selesai sholat ia berdzikir sembari memejamkan matanya. Merasakan setiap kalimat dzikir yang ia ucapkan dalam hatinya. Hatinya terasa sangat tentram dan sangat damai. Seolah beban hidup dan rasa risau yang bersemayam di hatinya menjadi hilang. Saat Alia mulai menengadahkan tangannya dengan sangat khusyuk, entah bagaimana bayangan masa kecilnya bersama seorang anak laki-laki terlintas di sana. Alia dalam sujud sepertiga malamnya, berusaha membuang bayangan itu namun justru wajah anak laki-laki dalam foto itu semakin terlihat jelas. Alia tidak tahu apa maksud semua ini. Ia hanya terus berusaha khusyuk dalam doanya. Selesai sholat, Alia membuka lacinya untuk mengambil foto tersebut.


''Bunda, kenapa wajah anak kecil ini terlintas dalam doaku? Ya Allah apa arti semua ini?'' gumam Alia dalam hati.


...****************...


Keesokan paginya, Alia bersama adik dan Ayahnya sedang sarapan bersama.


''Gimana sekolah kamu, Andra?''


''Alhamdulillah baik, Kak. Andra sampai lupa cerita kalau beasiswa Andra sudah di perpanjang. Dan nanti kalau sudah lulus, Andra akan di bantu untuk mendapatkan universitas yang bagus, Kak.''


''Alhamdulillah, Kakak seneng dengernya.''


''Ayah bangga sekali sama kamu, Nak. Jangan kecewakan Kakakmu ya.''


''Pasti, Ayah. Andra tidak akan mengecewakan kalian semua.''


''Memangnya kamu ingin ambil fakultas apa kalau kuliah nanti?''

__ADS_1


''Antara bisnis manajemen sama perhotelan, Kak.''


''Kamu serius ingin mengambil jurusan itu? Kamu nggak ingin ambil fakultas kedokteran?''


''Nggak, Kak. Andra ingin suatu saat nanti punya bisnis. Andra ingin membuka lapangan pekerjaan dan jadi bos. Sudah menjadi cita-cita Andra ingin punya usaha sendiri, Kak. Meskipun nanti Andra harus melamar jadi karyawan dulu. Sekalian belajar sama nyari modal, hehehe.''


''Cita-cita kamu tinggi juga ya. Kakak pinginnya kamu ambil fakultas kedokteran, Andra. Tapi kalau kamu berminat ke arah sana, Kakak akan tetap dukung kok.''


''Kalau Ayah terserah kamu aja, Ndra. Apapun cita-cita kalian, Ayah selalu mendokan yang terbaik untuk kalian.''


''Kalau Kak Alia cita-citanya pasti menjadi istri yang seholeha,'' goda Andra sambil tertawa.


''Mulai deh ngledek,'' kata Alia dengan sedikit kesal.


''Oh ya kemarin ada cowok ganteng banget anterin Kakak kamu pulang. Dia sopan banget,'' kata Pak Samir.


''Wah, kayaknya Kak Alia diam-diam menghanyutkan nih,'' goda Elvan.


''Apaan sih kamu, Ndra. Dia cuma nolongin Kakak aja. Soalnya kan Kakak habis nolong keponakannya. Jadi kaki kakak seperti ini gara-gara itu.''


''Wah, udah dekat dong sama keponakannya,'' goda Andra kembali.


''Kamu ini suudzon aja. Itu juga nggak sengaja. Kebetulan dia kan langganan laundry di tempat Kakak. Pas Kakak mau masuk ke rumahnya, eh ada anak kecil yang mau tertabrak motor jadi Kakak tolongin. Kakak awalnya juga nggak tahu kalau anak kecil itu keponakannya Elvan,'' cerita Alia yang keceplosan menyebut nama Elvan.


''Oh jadi Elvan namanya. Nggak perlu gugup gitu lagi, Kak. Kalau memang nggak ada apa-apa,'' kata Andra yang semakin membuat Alia salah tingkah.

__ADS_1


''Ayah, Andra nih nyebelin banget. Dari tadi godain Alia aja. Bukanya harus begitu, Yah. Dia harus bertanggung jawab, iya kan, Yah?''


''Iya aja deh,'' kata Pak Samir terkekeh.


''Kak, gantengan mana sama Kak Rendra?'' celetuk Andra.


''Andra! Kamu ini suka banget godain. Dosa lho godain Kakak.''


''Heheheh, habis Kakak lucu. Oh ya, kemarin Andra lihat Kak Rendra sama cewek. Tapi Andra nggak tahu siapa cewek itu.''


''Terus? Hubungannya sama Kakak apa? Terserah Rendra kan mau berteman sama siapa.''


''Kakak nggak cemburu gitu?'' pancing Andra.


''Andra! Kamu jangan buat Kakak marah ya,'' kata Alia dengan kesal.


''Andra, sudah, sudah. Kamu nggak lihat apa kalau wajah kakak kamu ini memerah.''


''Ayah! Ayah juga ikut-ikutan godain Alia.''


''Nggak apa-apa dong. Kan anak Ayah ini emang cantik. Jadi sudah pasti banyak yang suka. Ayah berdoa semoga kamu kelak mendapat imam yang bisa membahagiakan kamu dunia dan akhirat, amin.''


''Terima kasih, Yah. Tapi untuk saat ini doain Alia supaya lulus dulu dengan nilai yang baik.''


''Amin. Kalau soal iti tidak usah di ragukan. Kan anak-anak Ayah cerdas-cerdas semua.''

__ADS_1


Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya, terima kasih 🙏😍


__ADS_2