
''Alia, tolong kirim baju ini ya!" Teriak Santi dari ruang setrika.
"Iya, Mbak. Yang mana?"
''Itu yang ada ada tas warna biru. Udah aku kasih nama dan tempelin alamat rumahnya.'' Imbuh Santi.
''Oke, Mbak.'' Jawab Alia sembari mencari pakaian yang di maksud Santi, di rak pakaian yang sudah siap di antar. Alia terkejut ketika melihat nama dan alamat yang tertea di tas tersebut.
''Elvan? Aduh, kenapa harus ke rumah dia lagi sih?" gerutu Alia.
''Semangat, Alia! Nggak boleh ngeluh. Dosa kalau kamu bersikap seperti itu sama orang.'' Kata Alia pada dirinya sendiri. Alia mengambil tas berisi pakaian milik Elvan. Ia lalu menyambar kunci dan helm, lalu segera menyalakan mesin motor dan berangkat. Di rumahnya, Elvan sendiri baru selesai mandi. Ia melihat Chelsea sedang sibuk menggambar. Elvan tersenyum melihat Chelsea begitu antusias untuk menggambar. Elvan lalu menuju walk in closet-nya yang begitu mewah. Mulai dari pakaian, sepatu, jam tangan, tas, parfum dan aksesoris lainnya, tertata rapi di sana.
''Om, aku ke bawah ya!" teriak Chelsea.
''Oke. Jangan main jauh-jauh ya.'' Pesan Elvan sembari ganti baju.
''Iya, Om.'' Chelsea dengan wajah gembira segera lari keluar. Ia menuju halaman depan dan mengajak Pak Jono untuk bermain bola.
''Ayo, Non tendang yang keras!" seru Pak Jono. Chelsea dengan semangat pun menendang bola.
''Wah, Nona jago juga ya. Cewek kok suka main bola sih?" tanya Pak Jono.
''Iya, dong, Pak. Masak cowok aja yang boleh main bola. Tangkap ya, Pak.'' Kata Chelsea dengan begitu gemasnya.
''Siap, Non!" Kata Pak Jono sambil merentangkan tangannya, seolah sebagai penjaga gawang. Chelsea mendangnya dengan keras dan bisa menjebol gawang Pak Jono. Sudah tentu Pak Jono mengalah, namanya juga bermain dengan anak-anak.
''Aduh, Pak Jono kalah nih. Nona hebat banget nendangnya. Kayak Christiano Ronaldo aja.'' Puji Pak Jono yang berpura-pura jatuh. Chelsea pun meloncat senang dengan mengangkat kedua tangannya ke udara. Rupanya dari balkon atas, Elvan melihat Chelsea yang begitu gembira saat bermain bola. Ia teringat kembali dengan kenangannya bersama Papa dan Mamanya saat masih kecil.
''Non, tunggu disini sebentar ya. Pak Jono mau minum dulu.''
''Iya, Pak.'' Jawab Chelsea. Sambil menunggu Pak Jono, Chelsea memutuskan untuk bermain bola sendiri. Karena tendangan Chelsea yang cukup jauh, bola itu menggelinding keluar dari pintu gerbang.
''Yah, bolanya keluar. Gimana ya ini?" gumam Chelsea.
''Chelsea! Biarkan saja. Nanti aku belikan lagi.'' Sahut Elvan dari balkon atas.
__ADS_1
''Kalau beli kan nunggu, Om. Aku mau sekarang main bolanya. Aku ambil dulu ya.''
''Jangan, Chelsea! Kamu ini keras kepala. Tunggu disana, aku akan turun.'' Kata Elvan.
''Ah, Om Elvan lama. Aku ambil sendiri aja. Kan bolanya juga di seberang sini aja.'' Kata Chelsea yang nekat mengambilnya. Elvan yang baru saja sampai di halaman depan terkejut saat mendengar suara seperti tabrakan.
''Chelsea!" Teriak Elvan begitu emosional. Ia langsung berlari untuk melihat keponakannya. Ia tampak terkejut saat melihat Alia terguling bersama Chelsea di jalanan dan sebuah motor menabrak pohon. Mata Elvan berkaca-kaca dan sangat khawatir, jika Chelsea benar-benar mengalami sebuah kecelakaan. Elvan lalu berlali untuk menolong Chelsea dan Alia.
''Chelsea, kamu nggak apa-apa." Kata Elvan penuh. khawatir sambil berlutut memeluk Chelsea.
''Nggak apa-apa, Om. Kakak ini pasti terluka.'' Kata Chelsea sambil menunjuk kearah Alia yang berusaha bangun. Elvan melepaskan pelukannya pada Chelsea dan mengulurkan tangan pada Alia. Alia lalu menerima uluran tangan Elvan.
''Elo nggak apa-apa?"
''Kaki aku sakit. Sama lengan aku." Kata Alia. Elvan melihat lengan baju Alia sobek dan lengannya terluka karena tergores jalanan beraspal.
''Sorry ya. Gue pegang elo." Kata Elvan sambil memapah Alia. Ia mengalungkan tangan Alia pada pundaknya. Sementara Chelsea ikut membantu memegang Alia pada sisi sebelah kiri. Elvan lalu mengajak Alia untuk masuk ke rumahnya.
''Bi Minah! Ambilkan P3K!" teriak Elvan dengan suara kencang.
''Gimana sih kok bisa jatuh gini?" tanya Elvan.
''Tadi adik kecil ini, mau ambil bola. Kebetulan aku mau kesini antar baju dan udah sampai di depan gerbang. Eh dari arah berlawanan ada motor kencang, aku lihat adik ini udah di tengah jalan terus akhirnya aku coba selamatin.'' Cerita Alia.
''Benar itu Chelsea?" tanya Elvan.
''I-iya, Om." Jawab Chelsea sembari menunduk dengan sesal.
''Om?" gumam Alia dalam hati.
''Om kan sudah bilang untuk tunggu. Biar Om saja yang ngambil. Kenapa kamu malah nekat ngambil? sekarang lihat? bukan hanya kamu yang celaka tapi orang lain juga! Makanya jangan nakal!'' Kata Elvan dengan tegas yang membuat Chelsea takut. Alia yang kesal lalu meninju lengan Elvan.
''Aw, sakit. Kok gue yang di pukul." Protes Elvan pada Alia.
''Kamu sama anak kecil jangan kasar gitu dong. Namanya juga anak-anak.'' Bela Alia.
__ADS_1
''Dia ini emang bandel, nakal dan susah di kasih tahu." Lanjut Elvan dengan suara meninggi.
''Elvan, cukup! Kamu kok di lanjutin marahnya.'' Tegur Alia.
''Elo nggak usah ikut campur. Elo tahu apa? Nggak cuma bapaknya yang bawa sial buat keluarga gue tapi sekarang nurun ke anaknya.'' Imbuh Elvan dengan amarah tak terbendung. Mendengar ucapan Om-nya, Chelsea benar-benar terluka. Chelsea lalu menangis dan masuk ke dalam kamar Elvan.
''Den, ini P3K-nya.'' Kata Bi Minah.
''Itu, obatin si Alia. Hancur mood gue. Oh ya, makasih udah nyelamatin Chelsea. Dan ini uang, untuk biaya berobat.'' Kata Elvan sambil mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dan meletakannya di atas meja. Alia hanya bisa mengehela nafas panjang, melihat sikap Elvan yang begitu keras kepala. Elvan lalu pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil sportnya.
''Mbak Alia, kenapa bisa gini? Maafin sikap Den Elvan ya?" kata Bi Minah yang merasa tidak enak pada Alia.
''Nggak apa-apa, Bi. Oh ya Chelsea itu siapa?"
''Oh itu keponakan Den Elvan. Anaknya Den Endrew. Orang tuanya keluar kota jadi di titipin disini.'' Kata Bi Minah sambil mengobati luka Alia.
''Mbak Alia, ini gimana ceritanya?" tanya Bi Minah kembali.
''Iya, Bi, sampai lupa jawab. Tadi nolongin Chelsea yang hampir tertabrak motor.''
''Terima kasih ya, Mbak, sudah menolong Non Chelsea.''
''Chelsea pasti terluka karena ucapan Elvan. Apalagi dia menyebutkan kata-kata yang tidak pantas di ucapkan pada anak kecil.''
''Begitulah sikap, Den Elvan sejak Mamanya meninggal. Den Elvan suka uring-uringan. Di maklumi ya, Mbak.''
''Bi, saya boleh lihat Chelsea.''
''Iya, Mbak. Mbak Alia naik aja. Kasihan Non Chelsea. Den Elvan memang keterlaluan, meluapkan emosi tidak pada tempatnya.''
''Sabar ya, Bi. Saya ke atas dulu ya.''
''Iya, Mbak silahkan.''
next...to be continued
__ADS_1