
Sesampainya di apartemen, Rendra membantu Sandra untuk berbaring di atas tempat tidur.
''Sandra, seharusnya kamu bisa menjaga pakaian mu supaya lebih sopan. Pakaian kamu mengundang syahwat lawat jenis kamu. Kamu coba pikir saat di jalan ada orang yang berinat jahat sama kamu gimana. Kamu harus bisa menjaga marwah kamu sebagai seorang wanita,'' kata Rendra yang berusaha menasihati Sandra.
''Udah lah jangan berisik. Nggak usah sok ceramah. Udah pergi sana,'' kata Sandra pada Rendra. Rendra hanya bisa diam mendapat jawaban dari Sandra.
''Ya udah kalau gitu aku pergi. Assalamualaikum,'' pamit Rendra sembari berlalu meninggalkan Sandra. Namun Sandra yang setengah sadar, menarik dan menahan tangan Rendra.
''Please, aku mohon jangan pergi,'' lirih Sandra dalam setengah sadarnya. Mata Sandra yang terpejam, tiba-tiba meneteskan air matanya. Rendra merasa iba dan menghentikan langkahnya. Rendra lalu berbalik dan melepaskan tangan Sandra. Namun genggaman Sandra sangatlah kuat bagi seseorang yang sedang mabuk.
''Ya Allah ujian apa ini? Kau memberiku ujian dengan menghadapkan aku dengan seorang wanita. Apa yang harus aku lakukan? menemaninya atau meninggalkannya. Aku tidak bisa melihat air mata seorang wanita menetes di hadapanku,'' kata Rendra dalam hati. Rendra kemudian menarik sebuah kursi dan meletakkan di samping ranjang Sandra. Rendra mencoba menepuk pelan tangan Sandra hingga Sandra terlelap dan tampak tenang. Rendra melihat ke arah jam tangannya dan jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tepat.
''Udah jam segini, aku harus pulang.'' Kata Rendra yang beranjak dari duduknya tapi lagi-lagi Sandra menahan tangan Rendra.
''Ya Allah, apa maksud semua ini? Sandra kembali menahanku. Ya Allah apa Kau benar-benae ingin mengujiku dengan bermalam disini? Aku harus pulang,'' gumam Rendra dalam hati. Rendra menghela nafas panjang, sebelum ia mengambil keputusan.
''Aku tidak akan pulang, Sandra. Aku akan menemani kamu disini,'' ucap Rendra dengan lembut. Perlahan Sandra melepaskan genggamannya pada Rendra. Rendra begitu terkejut karena Sandra mau melepaskan cengkramannya. Rendra lalu mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat malam. Dengan khusyu Rendra menghadap Sang Khalik. Berharap iman dan islamnya selalu terjaga sekalipun ada godaan di hadapannya. Tak lupa ia selalu menyebut nama Alia dalam doanya. Berharap Alia adalah seseorang yang di kirim Tuhan untuknya. Selesai sholat, Rendra membuka ponselnya dan membuka aplikasi Al Quran. Rendra mendaras bacaannya kembali dengan suaranya yang pelan. Sekalipun pelan, suara Rendra sangatlah lembut dan merdu. Andra takut jika bersuara kencang, akan menganggu Sandra yang telah tertidur.
-
Sementara Alia baru saja selesai melaksanakan sholat malamnya. Alia kaget saat mendengar ponselnya bergetar di atas meja. Ada nama ELVAN COWOK KECE NO DEBAT di layar ponselnya. Alia melenguh membaca nama Elvan di layar ponselnya.
''Assalamualaikum,'' sapa Alia dengan nada malas.
''Waalaikumsalam. Gimana tawaran aku?''
''Ini jam 2 dan kamu telepon hanya untuk menanyakan ini?'' kata Alia sembari melepas mukenanya.
''Iya lah. Ya maksud gue kan, kalau elo setuju gue bisa ambil uang cash. Soalnya gue nggak pernah punya uang cash di dompet. Adanya debit card.'' Kata Elvan dengan bangganya.
__ADS_1
''Jangan takabur. Nanti kalau Allah cabut nikmat kamu, mau bari tahu rasa,'' sentil Alia.
''Ah udah lah gue telepon nggak mau denger ceramah elo.''
''Eh aku aneh ya sama kamu. Kamu punya banyak pembantu di rumah, tiap hari mereka udah masakin kamu tapi kenapa kamu malah nyuruh aku buat masak? Terus mereka mau kamu suruh ngapain? buang-buang uang aja.''
''Gimana ya, gue juga bingung. Gue bingung gimana caranya habisin uang gue, jadinya ya suka-suka gue dong. Udah lah nggak usah banyak tanya, elo mau nggak? Kalau elo nggak mau ya udah, gue cancel aja.''
''Eh, eh, jangan dulu dong. Aku... Aku mau. Tapi aku boleh minta gaji aku di depan?'' kata Alia dengan ragu-ragu.
''Hah? belum kerja udah minta gaji di depan?''
''Nggak semuanya kok. Aku cuma mau minta dua juta saja dulu. Sisanya kamu bisa bayar belakangan. Soalnya aku lagi butuh uang. Bolehkan?'' kata Alia yang berusaha menahan malunya.
''Mmmmm gimana ya? Ya udah deh. Anggap aja itu DP. Awas jangan sampai lupa!"
''Alhamdulillah. Makasih banget ya, El. Kamu besok mai di masakin apa?'' kata Alia dengan nada suara yang begitu bahagia. Entah kenapa Elvan merasakan kebahagiaan Alia.
''Oke, siap! Ya udah kalau gitu aku siap-siap dulu.''
''Siap-siap apa?''
''Siap-siap masak lah.''
''Hah? elo nggak tidur?''
''Udah tadi sebentar. Aku mau ke pasar, pasar jam segini udah buka dan sayurnya masih fresh.''
''Jarak pasar ke rumah berapa menit? dan elo setiap hari kepasar jam segini gitu?" tanya Elvan yang merasa heran dengan kebiasaan Alia.
__ADS_1
''Sekitar lima belas menit dan aku udah biasa jam segini bangun terus ke pasar. Emang kenapa sih? Udah kamu tidur aja sana.''
''Gue udah tidur dan ini juga kebangun. Ya udah deh berangkat sana. Oh ya besok gue tunggu di basecamp.''
''Basecamp apa?'' tanya Alia bingung.
''Basecamp Rich Man lah.''
Alia pun tertawa,'' Hahahaha. Emang ada ya basecamp kayak gitu. Sumpah selama ini kuliah baru denger basecamp kayak gitu. Emang sepenting itu ya kalian di kampus, sampai ada basecamp segala,'' ledek Alia.
''Ya wajarlah. Bokap gue kan pemilik kampus jadi ya wajar aja kalau gue dan geng gue punya basecamp. Udahlah jangan protes, cerewet banget.''
''Tapi dimana basecamp kamu?''
''Di belakang perpustakaan.''
''Iya, besok aku antar kesana. Ya udah aku mau ke pasar dulu. Sekali lagi makasih ya. Assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.'' Elvan lalu mengakhiri panggilannya. Elvan lalu melompat girang dan segera berganti pakaian untuk olahraga. Semua asisten rumah tangga di rumahnya, tampak bingung melihat Tuannya yang jam segini sudah bangun dengan wajahnya yang tampak bahagia.
''Bi Minah, tumben Den Elvan pagi buta udah bangun. Pakai pakaian olahraga lagi.'' Kata Bi Marni yang melihat Elvan berlari kecil menuruni anak tangga.
''Iya, kenapa si aden ini? Biasanya matahari udah terik baru bangun.'' Kata Bi Minah.
''Semakin kesini Den Elvan semakin aneh,'' ucap Bi Marni.
''Semoga Den Elvan seperti ini terus ya, Mar. Aku juga ikutan seneng kalau Den Elvan seperti ini.''
''Iya, Bi. Aku juga seneng lihatnya, adem gitu dan kelihatan makin ganteng,'' kata Bi Marni dengan genit.
__ADS_1
''Dasar kamu, Mar. Ayo kita kerja. Semoga Den Elvan berubahnya nggak cuma sehari aja," kata Bi Minah. Elvan pun menuju halaman depan untuk melakukan olahraga pagi. Pak Jono yang sedang merapikan taman pun terkejut, melihat Tuannya yang pagi buta sudah bangun dan kini sedang berolahraga. Berkali-kali Pak Jono mengucek matanya untuk meyakinkan bahwa yang ia lihat benar Tuannya. Begitu pula dengan Pak Tio yang sedang mencuci mobil. Berkali-kali Pak Tio menampar dan mencubit pipinya bahwa ia tidak mimpi, melihat Tuannya sudah bangun dan berolahraga dengan wajahnya yang tampak sangat bahagia. Seisi rumah pun di buat heran oleh sikap Elvan pagi itu yang mendadak berubah. Karena apa yang di lakukan Elvan, jauh dari kebiasaan Elvan selama ini. Selama ini Elvan paling susah bangun pagi dan bahkan setiap di bangunkan pun, Elvan tidak pernah langsung bangun. Bahkan ia pun selalu telat untuk berangkat ke kampus. Di kampus pun Elvan selalu mengambil mata kuliah di atas jam delapan. Bahkan tak jarang setiap kuliah, ia hanya mengikuti satu mata kuliah di antara lima mata kuliah hari itu. Hmmmm Elvan, Elvan...
...Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan votenya ya, makasih 🙏😘...