
Saat yang di nanti Leon tiba. Leon segera menuju ke masjid. Di sana ia melihat gerombolan para hijabers cantik yang mulai memasuki masjid.
"Wah, mereka ternyata cantik-cantik juga ya." Gumam Leon. Tak lama kemudian, terlihatlah Alia bersama Diana dan Rani. Leon melambaikan tangannya pada Alia.
" Al, Al, itu si Leon say hai sama kamu." Seru Rani.
"Udah ah biarin aja. Dia katanya mau ikut," kata Alia.
''Hah? serius Al?" tanya Diana yang seolah tak percaya.
''Entahlah dia serius apa nggak? kita lihat aja nanti." Kata Alia dengan senyum tipisnya. Mereka kemudian segera masuk ke dalam masjid kampus untuk sholat dan kemudian mendengarkan tausyiah. Kegiatan seperti ini dalam komunitas Alia, disebut dengan syiar Islam. Leon pun duduk dan menunggu di depan halaman masjid.
"Astaga, baru kali ini gue ngemis-ngemis sama cewek. Biasanya cewek-cewek yang ngemis-ngemis sama gue. Bisa turun derajat gue sebagai playboy imut." Gumam Leon yang mulai jenuh untuk menunggu. Fandi kemudian datang membawa minuman dingin dalam kemasan pada Leon.
"Nih, gue tahu elo pasti haus." Kata Fandi sembari menyodorkan minuman. Fandi kemudian ikut duduk bersama Leon.
"Thanks ya. Ini lama banget nungguin, Alia." Gerutu Leon sembari mengibaskan tangannya pada wajahnya karena matahari yang semakin terik.
''Elo mau nungguin sampai kering? kayak ikan asin." Ledek Fandi sambil terkekeh.
''Maksud elo?"
''Iya, lah. Elo tahu acara mereka itu bisa sampai dua jam."
''What? serius? kemarin Alia bilang cuma sepuluh menit." Kata Leon yang merasa di bohongi. Mendengar ucapan Leon, Fandi pun melepas tawanya dengan puas.
''Makanya jadi playboy jangan bodoh. Di kerjain kan sama tuh cewek. Gue tadi sempat tanya, sama salah satu dari mereka dan katanya, acara seperti ini sampai dua jam. Selamat menunggu aja, Le. Selamat kering jadi ikan asin. Ini namanya playboy kena karma." Seloroh Fandi yang tidak henti tertawa. Fandi pun kemudian berlalu meninggalkan Leon.
__ADS_1
''Hei, playboy jangan teriak playboy," teriak Leon dengan kesal.
''Tapi gue nggak boleh nyerah. Masak iya gue nyerah sih." Gumam Leon yang berusaha menyemangati dirinya sendiri. Satu jam sudah Leon menunggu di sana. Kemudian handphonenya berbunyi dan ada nama Fandi di layar handphonenya.
''Udah selesai belum? gue mau ke rumah Elvan."
''Elo ke sana aja deh. Cowok itu yang di pegang omongannya. Kalau gue pergi, bisa jatuh harga diri gue sebagai cowok."
''Iya, iya terserah elo deh." Jawab Fandi yang kemudian mengakhiri panggilannya.
...****...
Dua jam pun berlalu, Alia pun keluar dari masjid bersama ke tiga temannya.
''Wah, Al dia masih di sana. Nggak nyerah juga ya." Celetuk Rani.
''Padahal aku sudah ngerjain dia. Lagian siapa suruh mau coba gangguin aku. Apalagi playboy seperti mereka. Mewakili kaum wanita, aku nggak akan lah membiarkan mereka menyakiti wanita lagi. Sekali-kali mereka harus di beri pelajaran, apalagi mau meremehkan wanita berhijab seperti kita. Aneh saja kan, tiba-tiba dia deketin aku." Kata Alia dengan tegas.
''Assalamualaikum," sapa Alia dengan suara yang sengaja ia keraskan. Leon pun tergagap dan terbangun.
''Waalikumsalam," jawab Leon dengan suara dan ekspresi coolnya. Padahal nyawanya sendiri belum terkumpul, hahaha.
''Maaf ya nunggu lama. Tadinya emang sepuluh menit tapi ada kegiatan tambahan." Kata Alia yang berusaha bersikap manis.
''Iya, iya nggak apa-apa kok. Ayo kita makan siang bersama." Ajak Leon.
''Boleh, tapi aku ngajak teman-teman aku ini ya."
__ADS_1
''Nggak bisa ya pergi berdua saja." Tawar Leon.
''Tapi teman-teman aku sama-sama belum makan." Kata Alia memelas.
''Baiklah, ayo kita ke kantin." Jawab Leon dengan berat hati. Leon lalu berjalan lebih dulu di depan, sementara Alia mengikuti dari belakang bersama Rani dan Diana. Mereka berempat segera menuju kantin dan Leon segera memesankan makanan untuk mereka.
''Maaf ya, menunya yang masih tersisa tinggal bakso saja." Kata Leon
''Nggak apa-apa kok." Jawab Alia dengan ramah. Tak lama kemudian pesanan pun datang. Empat mangkok bakso dan empat gelas es jeruk.
''Makasih ya, Leon. Kita hari ini duduk di hadapan cowok keren satu kampus. Tapi sayang, menunya cuma bakso." Celetuk Rani.
''Iya nih, katanya Rich Man kok makannya bakso." Timpal Diana.
''Ya maaf ya, habis gimana aku pikir sepuluh menit. Tadinya mau ngajakin ke restoran mahal tapi ternyata harus nunggu dua jam. Dan aku sudah benar-benar kelaparan. Lain kali aku ajak kalian semua ke restoran bintang lima milik keluargaku." Kata Leon penuh dengan percaya diri.
''Wah, beneran ya. Awas kalau bohong." Ancam Rani sambil menunjukkan garpu pada wajah Leon, sehingga membuat Leon menjadi sedikit takut.
''Gila ni cewek. Gue pikir kalem tapi ternyata mereka lebih galak dari perkiraan gue. Ampun deh, ogah harga diri gue jatuh gitu aja." Gumam Leon dalam hati.
''Udah, kalian jangan gitu. Kalian bukanya terima kasih tapi malah protes sama Leon. Itu namanya kalian tidak bersyukur." Kata Alia yang berusaha mengingatkan.
''Nah, itu betul apa kata Alia." Timpal Leon yang merasa senang karena ada yang membelanya.
''Leon, kamu pimpin doa makan ya. Bisa kan?" tanya Alia.
''Doa mau makan? bisa lah." Jawab Leon penuh dengan percaya diri. Leon lalu memimpin doa makan dengan lancar.
__ADS_1
''Untunglah, gue bisa. Padahal, gue bisanya cuma doa mau makan sama tidur aja. Selamat, harga diri gue. Setidaknya gue masih punya sisi religius sedikit di hadapan Alia dan teman-temannya," gumam Leon dalam hati sambil melahap baksonya.
...Next, to be continued.......