
''Nak, kamu sudah pulang?'' sapa Pak Samir pada Alia yang sedang menyiapkan makan malam.
''Iya, Yah. Tadi Alia ijin nggak masuk kerja. Oh ya tadi Alia salam nggak ada yang jawab. Ayah darimana?''
''Tadi Ayah dari rumah Pak Rt. Biasa kan acara rutin warga tiap bulan. Acaranya di majuin sore tadi, soalnya Pak Rt nanti malam ada acara keluarga.''
''Ya udah Ayah duduk aja dulu, makan malamnya sebentar lagi siap.''
''Oh ya kamu masaknya kok banyak banget. Emang mau ada tamu?''
''Nggak kok. Ini Andra minta tolong sama Alia masak untuk Elvan. Tadinya Andra mau bawain dari cafe dan di masak sendiri tapi nggak keburu soalnya cafe lagi rame dan Andra masih belum pede untuk masakin orang lain, Yah.''
''Dasae anak itu. Mau punya cafe eh malah masak belum pede,'' kata Pak Samir terkekeh.
''Oh ya, kamu sekalian aja bawain nak Elvan pisang goreng. Itu pisangnya masih. Kayaknya dia suka banget. Dia sudah baik perbaiki motor Andra seperti baru,'' imbuh Pak Samir.
''Iya, Ayah. Alia buatin Elvan pisang goreng.''
''Ya sudah kalau begitu Ayah ganti baju dulu ya.''
''Iya, Yah.''
''Ayah kenapa baik banget sih sama Elvan,'' gumam Alia dalam hati yang penuh rasa heran. Setelah selesai makan malam dan Andra sudah di rumah, Andra dan Alia segera pergi menuju rumah Elvan. Di tengah perjalanan Andra dan Alia pun terlibat obrolan.
''Kakak sudah sampaikan terima kasih sama Mas Elvan? Apa Mas Elvan nyuruh kita bayar?''
''Sudah Andra. Dia nggak nyuruh bayar kok.''
''Baik banget ya dia, Kak. Maaf ya Kak kalau aku merepotkan Kakak untuk memasak.''
''Nggak apa-apa kok. Daripada kamu beli mending masak sendiri.''
''Tadinya aku mau masakin Kak Elvan sendiri tapi belum pede, hehehe. Apalagi tadi cafe ramai banget. Oh ya Kak Alia dapat salam dari Pak Rendra. Pak Rendra ingin Kak Ala mengunjungi cafenya.''
''Iya insya allah kalau udah gajian Kakak kesana.'' Kata Alia.
''Kayaknya Pak Rendra suka deh sama Kakak. Dia juga baik banget sama aku. Bahkan setiap hari selalu nitip salam untuk Kakak.''
''Kamu ini ngarang aja.''
''Iya Kak beneran. Masak sih aku bohong. Tapi Mas Elvan juga baik. Aduh, aku jai bingung mau milih siapa yang pantas jadi kakak iparku,'' ucap Andra terkekeh.
''Udah deh kamu nggak usah aneh-aneh, Andra. Ada-ada saja kamu ini.''
''Sebenarnya aku juga menyimpan rasa untuk Rendra tapi kami sudah berjanji untuk saling bersujud demi mendapatkan jodoh yang tepat,'' gumam Alia dalam hati.
Sesampainya di rumah Elvan, security langsung mempersilahkan Andra dan Alia masuk ke ruang tamu.
''Assalamualikum,'' sapa Alia.
''Wah gede banget ya Kak rumahnya. Kayak istana,'' kata Andra yang begitu takjub.
__ADS_1
''Waalaikumsalam,'' jawab Bi Minah yang berjalan mendekat ke arah ruang tamu.
''Eh Mbak Alia,'' seru Bi Minah.
''Bi, Elvan ada.''
''Oh ada, Mbak. Silahkan duduk, Mbak. Saya panggilkan Den Elvan dulu ya. Dari tadi di kamar terus. Padahal saya sudah siapkan makan malam, eh nggak keluar-keluar juga.''
''Iya, Bi.'' Jawab Alia. Bi Minah segera menuju kamar Elvan. Elvan sendiri sedang duduk di sofa kamarnya sembari menatap layar ipadnya, memantau pasar saham dan diam-diam Elvan pun memilikinya. Tak lupa segelas wine berada di genggamannya.
''Tok tok tok tok! Den Elvan ada tamu. Ada Mbak Alia di bawah,'' kata Bi Minah dari balik pintu.
''Alia? Ngapain dia kesini jam segini,'' gumam Elvan. Namun entah kenapa mendengar nama Alia, membuatnya merasa bahagia.
''Iya, suruh tunggu,'' sahut Elvan.
''Baik, Den.'' Kata Bi Minah yang segera pergi. Elvan bergegas menghadap cermin untuk merapikan rambut dan bajunya. Tak lupa ia menyemprotkan parfum pada seluruh tubuhnya. Tiba-tiba saja ia menyadari hal aneh yang ia lakukan.
''Eh ngapain juga gue kayak gini,'' kata Elvan. Elvan pun buru-buru meletakkan kembali parfumnya. Ia kemudian bergegas keluar menemui Alia yang masih menunggu di ruang tamu.
''Elo, ngapain kesini?'' kata Elvan dengan gayanya yang cuek.
''Hai, Mas. Kita kesini mau kasih makanan sama pisang goreng. Memang tidak seberapa tapi ini sebagai ucapan terima kasih karena Mas Elvan sudah memperbaiki motor kita. Dan ini di buat langsung sama Kak Alia,'' kata Andra dengan ucapannya yang polos.
''Oh begitu. Ya udah Alia, elo siapin makan malam itu buat gue ya. Kebetulan gue belum makan,'' pinta Elvan seenaknya.
''Siapin? Emangnya aku pembantu,'' kata Alia.
''Ya kalau mau berbuat baik jangan nanggung dong.''
''Kamu kok belain dia sih. Aku kan kakak kamu,'' bisik Alia.
''Nggak apa-apa kali, Kak. Cuma nyiapin aja kan nanti ada pembantunya Mas Elvan yang bantui.''
''Udah bisik-bisiknya?'' ketus Elvan.
''Iya, iya, aku siapin.''
''Andra ayo ikut ke meja makan.'' Ajak Elvan.
''I-iya, Mas.'' Andra pun akhirnya mengikuti Elvan menuju meja makan. Dan Alia segera menuju dapur.
''Lho Mbak Alia ngapain ke dapur?'' tanya Bi Minah.
''Itu Elvan minta di siapin makan malam. Saya bawakan makan malam untuk Elvan, Bi. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah betulin motornya Andra, adik saya.''
''Oh jadi semalam motornya adik Mbak Alia.''
''Maksudnya Bi?''
''Iya semlam beberapa orang bengkel di suruh ke rumah. Bahkan mereka sampai di larang istirahat sebelum motornya beres. Den Elvan belum pernah lho Mbak baik sama orang sampai segitunya,'' cerita Bi Minah.
__ADS_1
''Masak sih, Bi?''
''Iya, Mbak. Jangan-jangan Den Elvan suka sma Mbak Alia,'' celetuk Bi Minah.
''Ah Bibi, jangan seperti itu. Seleranya Elvan itu bukan saya. Ya udah Bi saya minta piring ya untuk siapin makanan ini.''
''Iya, Mbak.'' Alia pun segera menyiapkan makan malam untuk Elvan yang di bantu oleh Bi Minah.
''Silahkan di icipi. Semoga kamu suka,'' kata Alia.
''Andra kamu mau minum apa? dan kalian sudah makan?'' tanya Elvan.
''Nggak usah repot-repot Kak. Aku sama Kak Alia sudah makan kok.''
''Oh gitu. Elo masakin apa Al? nggak ada racunnya kan?''
''Ya Allah, kamu ini suudzon terus. Apa untungnya ngracunin kamu. Ini masakan kampung, sambal petai, tempe orek sama ikan teri dan pisang goreng. Maaf nggak ada daging dan ayamnya karena ini yang kita punya,'' kata Alia yang meras kesal dengan ucapan Elvan yang suka asal bicara.
''Seharusnya kalau mau berbuat baik itu total dong. Masak ngasih makanan kayak gini,'' protes Elvan.
''Ya udah nggak usah di makan mending aku bawa pulang aja,'' kata Alia sembari menata kembali makanan di atas meja.
''Siapa suruh bawa pulang? gue kan belum nyoba,'' kata Elvan yang menahan tangan Alia. Alia pun buru-buru melepaskan cengkraman tangan Elvan.
''Duduk!" perintah Elvan. Alia pun hanya bisa diam dan menuruti perintah Elvan. Elvan pun mulai mencobanya. Saat satu suapan masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba mata Elvan berkaca-kaca.
''Kenapa masakan Alia bikin gue kangen sama masakan Mama? apalagi masakan kampung seperti ini adalah kesukaan Mama. Bahkan ini adalah menu wajib di meja makan,'' gumam Elvan dalam hati. Alia melihat ke arah Elvan untuk melihat ekspresi Elvan. Namun Alia sangat terkejut saat melihat mata Elvan tampak berkaca-kaca. Angan Elvan melambung mengingat memorinya bersama Mamanya dulu. Saat Elvan belum mengetahui Papanya belum memiliki wanita lain.
Flashback
''Mama kok suka banget sih makan itu?'' kata Elvan kecil.
''Iya dong, sayang. Ini makanan wajib. Ini lebih enak daripada daging. Makanan ini adalah makanan penuh sejarah untuk Mama dan Papa. Dulu waktu Mama dan Papa awal-awal hidup berumah tangga dan merintis karir bersama, ini adalah makanan wajib kita. Kita benar-benar harus irit, sayang. Jadi makanan ini adalag makanan kebangsaan Mama dan Papa. Dan Bundanya Lili juga suka banget makanan ini. Makanan ini yang ngenalin bundanya Lili, pas kita masih kuliah. Jadi makanan khas anak kosan. Meskipun Mama dan Papa sudah berada di posisi sekarang tapi Mama nggak akan pernah melupakan riwayat hidup Mama sama Papa dulu. Sederhana namun apa aja yang kita makan rasanya sangat nikmat.'' Cerita Bu Maya pada Elvan.
"Iya, El. Ini itu makanan favorit Papa dan Mama. Makanan riwayat dan kenangan. Dulu kehidupan Papa dan Mama jauh dari kata mewah seperti sekarang ini. Jadi sekalipun sekarang nasib baik bersama kita, kita tidak melupakan makanan kenangan kita ini. Sambal petai, tempe orek dan teri. Dulu kita makan seperti ini nikmat banget ya, Ma?" kenang Pak Tama.
"Nikmat banget dong, Pa. Apalagi makannya di temani sama Papa," kata Bu Maya.
"Terima kasih ya, Ma. Karena Mama sudah setia menemani Papa sampai kita bisa sukses seperti ini." Kata Pak Tama sambil mengenggam tangan istrinya.
''Emangnya enak, Ma?'' tanya Elvan yang penasaran.
''Kamu coba aja, sayang. Mama yakin kamu pasti suka.''
''Tapi nanti makan petai jadi bau.''
''Masak sih cowok takut sama bau petai? makan petai nggak bikin ketampanan anak Mama hilang kok,'' kata Bu Maya sambil membelai lembut kepala putranya. Elvan pun kemudian mencicipinya.
"Papa yang ganteng aja berani makan petai. Buktinya Mama kamu semakin cinta sama Papa setelah makan petai," celetuk Pak Tama dengan tawanya. Elvan pun penasaran lalu mencobanya.
''Mmmm, enak banget lho, Ma. Ini juga nggak kerasa kayak makan petai. Tempe orek di padukan sama ikan teri ini enak lho, Ma. Yang bikin makanan ini enak karena Mama yang masak. Besok El mau di masakin ini lagi ya, Ma. Tapi kalau El mintanya sama ayam goreng.''
__ADS_1
''Siap, bos!" kata Bu Maya dengan senyum lebarnya. Setiap kali Pak Tama di rumah, Bu Maya selalu menyajikan makanan tersebut di atas meja. Bu Maya ingin selalu membuat Pak Tama mengingat perjuangan mereka dari nol dan kebersamaan mereka dulu. Meskipun saat itu hatinya begitu sakit karena ia harus rela berbagi suami dengan wanita lain.
...bersambung... Ayo jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘...