
Leon dan Fandi pun juga di sibukkan dengan membantu di perusahaan keluarganya. Jika Elvan memilih sendiri jabatan yang ia inginkan, berbeda dengan Leon dan Fandi. Orang tua mereka sengaja menempatkan Leon dan Fandi sebagai manajer. Karena masing-masing orang tua mereka tahu kalau keduanya belum serius dan siap untuk mengurus perusahannya.
''Jam makan siang ke klub yuk!'' kata Fandi lewat sambungan teleponnya.
''Ayo aja! bete nih gue, berharap jadi direktur eh malah jadi manajer doang,'' keluh Leon di seberang sana.
''Sama dong kayak gue. Gue juga bete sama papa, gue di larang ngaku kalau gue anaknya lagi. Masuk akal nggak sih pemikiran orang tua kayak gitu.'' Kata Fandi.
''Lah, kok nasib kita sama sih, Fan. Papa juga kayak gitu kali. Jadi gue di kantor di suruh bersikap profesional seperti bos dan karyawan, bukan seperti ayah dan anak.'' Kata Leon yang mengeluhkan hal yang sama.
''Kenapa sih gue senasib melulu sama elo? kayaknya temenan sama elo bawa sial deh,'' kata Fandi.
''Eh jaga ya, gue kali yang sial temenan sama elo. Kenapa senasib melulu sih? itu si Rani sama Diana gimana?''
''Mana gue tahu. Habis nikahan Alia dua cewek itu entah hilang kemana. Tapi bodoh amat lah, masih banyak stok cewek yang lain.'' Kata Fandi.
''Mereka mungkin sibuk ngantor juga kali. Secara orang tua mereka juga punya perusahaan.'' Timpal Leon.
''Tapi mereka susah di hubungi.''
__ADS_1
''Jangan bilang elo baper?'' tuduh Leon.
''Siapa yang nggak baper, hampir satu bulan lebih kita semakin deket.'' Ucap Fandi.
''Hehehe iya juga sih. Sebenarnya gue juga baper tapi gue takut, merek berdua kayak macan. Coba aja kalem kayak Alia.'' Kata Leon.
''Ya udah lah ngapain bahas mereka. Gue tunggu di club ya. Sampai ketemu nanti.''
''Oke, Fan. Bye...'' Leon pun mengakhiri panggilannya.
-
''Ada apa, Kinar?'' tanya Andra dengan wajah dinginnya.
''Mmmm bantuin aku ngerjain tugas dong,'' kata Kinar dengan senyumnya.
''Tugas apa?''
''Fisika. Sumpah otak aku nggak nyampek sama sekali.''
__ADS_1
''Bukannya jaman sekarang otak sudah tidak terlalu penting ya?'' kata Andra. Kinar benar-benar merasa tersindir dengan ucapan Andra.
''Nyebelin banget sih. Kalau nggak mau ngajarin bilang aja!" kata Kinar dengan kesal. Andra hanya tersenyum tipis sembari melanjutkan perjalanannya menuju perpusatakaan. Kinar benar-benar kesal dengan sikap Andra yang keterlaluan.
''Sumpah nih cowok aneh banget. Semua cowok di kampus pada ngejar-ngejar gue, lah ini kayak jijik lihat gue,'' gerutu Kinar dalam hati. Kinar dengan kesal melangkahkan kakinya menuju kantin. Melihat Rendi disana, Kinar lalu menghampirinya.
''Sumpah kesel banget,'' ketus Kinar.
''Hei, honey. Kenapa datang marah-marah sih? siapa yang membuatmu kesal?''
''Tuh si cowok sombong Andra.''
''Bikin ulah apa dia?''
''Ya kan aku cuma minta di ajarin pelajaran fisika soalnya aku belum paham, eh dia malah ngatain aku kalau jaman sekarang bukanya otak sudah tidak penting. Masak iya dia bilang seperti itu? kamu tahu kan papa dan mama tidak akan mengembalikan fasilitasku kalau nilai aku masih jeblok semua.'' Cerita Kinar dengan kesal. Rendi pun juga sangat kesal mendengarnya.
''Oh jadi itu masalahnya. Sudah lah tenang saja. Kita itu tidak perlu pintar, kita tidak perlu nilai bagus, kita kan bisa beli nilai itu. Iya nggak? setelah kita lulus pun, masa depan kita sudah terjamin.'' Kata Rendi dengan teorinya yang selalu benar.
''Iya, Kinar. Bener kata si Rendi. Sekolah itu cuma formalitas aja. Orang tua kalian berdua kan tajir, paling habis lulus juga nglanjutin perusahaan. Orang kayak kita tidak perlu bingung memikirkan nilai bagus atau masa depan.'' Timpal Jordan. Kinar menghela nafas panjang mendengar ucapan Jordan dan Rendi.
__ADS_1
Bersambung.....