
Setelah bercerita pada Ayahnya, Alia segera masuk. Dan Alia mendapati Andra berjalan menuju dapur.
''Kak lihatlah! buburnya habis,'' kata Andra sambil menunjukkan mangkok kosong di tangannya.
''Syukurlah. Pasti bubur buatan kamu enak,'' kata Alia.
''Iya dong. Kak Elvan tadi juga bilang seperti itu. Dan sekarang Kak Elvan tidur.''
''Hah? tidur? secepat itu.''
''Tadi aku tungguin Kak Elvan makan. Makannya lahap banget. Terus aku tungguin deh sampai dia tidur. Dan Kak Elvan bilang sama aku, kalau aku harus jadi orang sukses supaya bisa membahagikan kakak dan Ayah. Dan Kak Elvan juga nyuruh aku, untuk menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dengan keluarga. Dia bercerita sampai akhirnya tertidur.'' Cerita Andra dengan antusias.
''Hhh, sok nasihatin Andra. Padahal dia yang butuh banyak nasihat,'' gumam Alia dalam hati dengan senyum tipisnya.
''Ya udah kamu istirahat ya. Kamu malam ini tidur sama Ayah ya?''
''Iya nggak apa-apa, Kak.''
''Ya udah kakak juga mau istirahat.'' Alia segera menuju kamarnya. Ia mulai membuka materi pelajaran untuk esok hari di kampus. Hingga akhirnya Alia tertidur di kursi. Dalam mimpi itu, Alia sedang bermimpi. Ia sedang duduk di tepi sebuah danau dengan pemandangan yang sangat indah.
''Alia!" panggil seseorang dengan suara yang sangat lembut.
''Bunda,'' kata Alia. Alia beranjak dari duduknya dan memeluk bundanya.
''Bunda, Alia rindu.'' Kata Alia dengan tangis yang tak bisa di bendung. Alia pun menangis sembari memeluk erat Bundanya.
''Bunda juga rindu, sayang. Kamu jangan menangis ya.''
''Bunda apa tidak bisa ikut bersama Alia? kami semua butuh bunda. Kenapa bunda begitu cepat meninggalkan kita?''
''Maafkan bunda sayang. Maafkan bunda yang harus meninggalkan kalian. Jadilah anak bunda yang kuat. Jadilah wanita yang kuat, sayang.'' kata Bu Nita sembari melepaskan pelukannya pada Alia. Bu Nita lalu menyeka air mata Alia dengan lembut. Kemudian Bu Nita menghilang dari hadapan Alia.
__ADS_1
''Bunda! Bunda!'' teriak Alia dengan air matanya yang kembali mengalir membasahi pipinya. Alia pun terbangun dari tidurnya.
''Bunda, terima kasih sudah menjenguk Alia dalam mimpi. Ya Allah, aku tertidur di sini,'' gumam Alia sambil menyeka air matanya. Alia lalu melihat ponselnya dan ternyata sudah jam satu dini hari. Alia segera keluar dari kamarnya untuk menjalankan sholat tahajud. Namun saat melintas kamar Andra, Alia mendengar suara merintih dari dalam. Alia lalu membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia melihat Elvan seperti sedang bermimpi, tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
''Mama,'' rintih Elvan. Alia lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang.
''Mama, maafin Elvan. Maafin Elvan yang nggak bisa jagain Mama,'' kata Elvan yang tengah mengigau. Terlihat bulir air mata menetes dari sudut mata Elvan. Entah kenapa hati Alia juga merasa sedih. Alia seolah bisa merasakan betapa berat beban hati yang Elvan pendam selama ini.
''Elvan, tidak seharusnya kamu menyakiti tubuh kamu seperti itu. Kamu kasihan sekali, selalu berusaha kuat di hadapan semua orang,'' gumam Alia. Tubuh Elvan pun semakin gemetar. Alia lalu memberanikan diri menepuk punggung tangan Elvan. Alia menepuknya dengan lembut dan perlahan tubuh Elvan kembali tenang. Alia sangat terkejut saat Elvan tiba-tiba menggenggam tangannya dengan sangat erat. Seolah Elvan tidak mau kehilangan. Elvan terus memanggil Mamanya. Alia pun akhirnya membiarkan Elvan menggenggam tangannya.
''Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?'' gumam Alia yang berusaha menarik tangannya. Namun genggaman tangan Elvan benar-benar sangat kuat. Alia mengambil tisu di hadapannya dan menyeka keringat yang membasahi wajah Elvan. Rupanya genggaman tangan Alia, mampu membuat tubuh gemetar Elvan menjadi tenang kembali. Alia mengambil handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres kening Elvan. Karena demam Elvan sudah turun. Ternyata di balik pintu yang sedikit terbuka, Pak Samir melihat itu semua. Sebagai seorang Ayah, Pak Samir merasakan betapa menderitanya Elvan.
''Kasihan sekali anak itu. Dan sepertinya anak itu benar-benar membutuhkan Alia di sisinya. Ya Allah apapun itu, berikanlah yang terbaik untuk putriku,'' gumam Pak Samir dalam hati.
...****************...
Adzan subuh pun berkumandang. Pak Samir bersama Andra, bersiap untuk sholat berjamaah. Tak lama kemudian Alia menyusul. Ali harus menunggu dua jam, sampai ia bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan Elvan. Mereka lalu sholat berjamaah bertiga dengan Andra sebagai imam. Mereka sholat berjamaah di dalam rumah dengan mushola kecil, yang cukup untuk mereka bertiga gunakan untuk sholat bersama. Sementara Elvan mulai terbangun. Pandangannya mengedar melihat sekeliling. Ia kemudian berusaha beranjak dari tempat tidurnya. Elvan melihat foto Andra di dalam kamar itu.
''Semalam gue pingsan rupanya,'' gumamnya lagi. Ia lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
''Kok sepi? apa mereka masih tidur? astaga ini kan masih jam empat.'' Kata Elvan dalam hati. Elvan lalu berjalan menyusuri rumah Alia yang sangat sederhana. Elvan kemudian melihat Alia bersama adik dan Ayahnya sholat jamaah bersama. Elvan melihat dari kejauhan. Elvan merasa iri dengan apa yang Alia miliki. Memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Elvan pun melihat dan menunggu mereka sholat sampai selesai.
''Astaghfirullah,'' seru Alia yang terkejut dengan sosok Elvan.
''Kamu sudah bangun?''
''Yang kamu lihat? kayak lihat setan aja.''
''Ya habis kamu berdiri disana. Siapa coba yang nggak kaget,'' gerutu Alia.
''Nak Elvan? bagaimana? sudah sehat?'' tanya Pak Samir.
__ADS_1
''Sudah, Om. Terima kasih sudah merawat saya. Saya mau pamit pulang.''
''Lho tunggu sini aja dulu. Habis ini Alia masak untuk sarapa pagi. Sekalian kita sarapan pagi.''
''Ah tidak usah. Saya sudah banyak merepotkan. Saya pamit pulang saja.''
''Tapi kamu yakin? saya khawatir sekali,'' kata Pak Samir.
''Kakak mending tunggu sini dulu aja. Kakak kan baru sehat.''
''Iya, El. Kamu disini aja dulu,'' sahut Alia.
''Baiklah kalau kalian memaksa.'' Kata Elvan yang mengiyakan karena Alia menyuruhnya untuk tinggal sejenak.
''Ya udah kalau gitu Alia masak dulu ya, Yah.''
''Iya, nak.''
''Andra apa aku bisa minta tolong?'' kata Elvan.
''Minta tolong apa kak?''
''Tas Alia masih tertinggal di mobil. Aku mau keluar nggak enak kalau ada tetangga yang lihat.''
''Oke, Kak. Aku ambilkan.''
''Nak Elvan, sebaiknya kamu istirahat saja lagi. Saya mau ke belakang, bersihin kandang ayam.''
''Iya Om, terima kasih,'' kata Elvan. Pak Samir pun segera menuju halaman belakang. Dan Elvan kembali ke kamar Andra.
''Kasihan sekali Alia tinggal di rumah seperti ini. Tapi mereka sangat bahagia meksipun tinggal di rumah sesederhana ini,'' gumam Elvan dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....