Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 87 Terkurung


__ADS_3

Keesokan harinya, Alia sudah membawa koper milik Elvan. Kini Alia sedang menunggu Fandi dan Leon di halte. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya mereka berdua pun datang.


''Maaf ya, Al nunggu lama,'' kata Leon sembari membukakan pintu untuk Alia.


''Iya nggak apa-apa kok.'' Setelah Alia masuk begitu juga Leon, Fandi segera kembali melajukan mobilnya.


''Leon, Fandi, sebenarnya apa yang terjadi dengan Elvan?''


''Gimana ya ngomongnya?'' ucap Fandi ragu-ragu.


''Sejujurnya aku sudah tahu semua masalah Elvan. Aku tahu apa yang dia hadapi bahkan masalah keluarganya. Tapi aku selama ini berusaha diam dan bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa. Dan sejak semakin dekatnya, aku merasakan dia yang sekarang bukan dia yang sebenarnya. Dia bersikap kuat tapi sebenarnya dia sangat terluka oleh masa lalunya selama ini.''


''Aku nggak nyangka kamu bisa memahami Elvan, Al. Apa yang kamu katakan memang benar. Sepertinya hanya kamu yang bisa memahami Elvan. Seperti yang kamu tahu, dia banyak wanita karena kesepian saja. Lagian juga para wanita itu hanya mengambil keuntungan dari Elvan. Tapi tak pernah sekalipun Elvan bersikap kurang ajar pada mereka.'' Jelas Fandi.


''Sebenarnya juga Elvan kemarin mengakui kalau dia cinta sama kamu, El. Dia cerita sama kita tentang perasaan dia sama kamu. Kita berteman dari sejak dalam kandungan sampai detik ini, baru kali ini Elvan curhat cinta sama cewek. Apalagi sampai bilang pingin ngajak nikah,'' sambung Leon.


''Dan Elvan pulang itu karena Papanya. Elvan di bius dan di paksa pulang. Dia sekarang di kurung di rumah, Al. Kadang nggak adil juga sih sikap Om Tama sama Elvan.'' Lanjut Fandi.


''Oh ya apa benar kalau Elvan mau di jodohkan juga?''


''Iya kamu benar. Tapi kita sendiri nggak tahu siapa gadis itu, sebaliknya Elvan juga nggak tahu siapa gadis itu. Dan kata Elvan kamu juga akan di jodohkan?'' tanya Fandi.


''Iya, Fan. Aku sendiri juga nggak tahu dimana dia. Jadi aku mau cari tahu siapa dia. Dia adalah anak dari sahabat bunda aku.''

__ADS_1


''Heran ya sama orang tua jaman sekarang, masih aja main jodoh-jodohan,'' gerutu Leon.


''Nggak semua perjodohan buruk juga kali, Le. Yang jelas bunda kamu sudah pasti yakin kalau dia laki-laki yang tepat untuk kamu.'' Kata Fandi.


''Entahlah, Fan.'' Kata Alia pasrah.


''Lalu bagaimana perasaanmu dengan Elvan, Al?'' selidik Fandi.


''Aku belum tahu. Hanya saja, aku merasa ingin selalu membantu dia menghadapi semua masalahnya. Entah kenapa melihat dia sedih, aku juga sedih. Aku ingin sekali menghiburnya. Aku sendiri belum yakin dengan perasaanku. Lalu bagaimana kondisi Elvan?''


''Sudah pasti dia stres tuh di kurung. Kamu tahu sendiri Elvan gimana keras kepalanya. Elvan sangat mencintai kamu, Al. Kamu harus tahu itu,'' ucap Fandi. Mendengar ucapan Fandi, Alia hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.


...****************...


''Buka pintunya!" teriak Elvan dari dalam kamarnya. Namun tak ada satupun yang menjawab. Sementara di bawah, Endrew sedang membujuk Papanya untuk membuka pintu kamar Elvan.


''Biarkan saja dia Endrew. Dia akan kabur lagi.''


''Pah, memang kapan Papa akan menikahkan Elvan?''


''Secepatnya! Anak buah Papa sudah mencari keberadaan gadis itu dan keluarganya. Pah, setidaknya biarkan mereka berkenalan dulu. Jangan paksa Elvan.''


''Berkenalan setelah menikah itu lebih baik. Daripada sekarang yang ada Elvan akan kabur lagi. Hanya ini yang bisa Papa lakukan untuk membahagiakan Mama Maya.''

__ADS_1


''Pah, kalau boleh tahu seperti apa gadis itu? Endrew akan bantu menyarinya. Apa Papa ada foto gadis itu?''


''Tidak ada, Endrew. Hanya foto masa kecil gadis itu.''


''Lalu bagaimana kita bisa menemukannya? Besok adalah hari ulang tahun Elvan ke-20, Pah. Apa tidak sebaiknya Papa lepaskan saja, biarkan dia menikmati hari ulang tahunnya bersama teman-temannya.''


''Tidak ada perayaan apapun! Biarkan dia di rumah. Dia sudah banyak berulah dan selalu menyusahkanmu, Endrew.''


''Itu semua karena frustasinya, Pah.''


''Papa melakukan itu hanya ingin dia tumbuh menjadi pria yang kuat dan tidak cengeng. Mungkin cara Papa yang salah dan begitu membekas dalam hatinya. Lebih baik kamu pergi ke kantor saja!"


''Hhhhh, baiklah, Pah,'' ucap Endrew sembari menghela nafas panjang.


-


CEKLEK! Suara Bu Elisa membuka pintu kamar Elvan. Bu Elisa pun terlihat sedih melihat Elvan yang terduduk di lantai sudut kamarnya. Wajahnya tampak pucat dan matanya terlihat sembab. Elvan memalingkan wajahnya saat melihat Bu Elisa masuk ke dalam kamarnya. Bu Elisa kemudian mendekat dan duduk di hadapan Elvan.


''Elvan, mama sudah tidak menunda lagi. Maafkan mama. Maafkan Papa juga.''


''Pergi!'' bentak Elvan.


''Tolong ijinkan Mama bicara sebentar saja. Setelah itu Mama tidak menganggumu. Saat mendengar kecelakaan itu, sebelumnya Papa kamu ingin pulang dan menghadiri acara kenaikan kelasmu. Bahkan semalam sebelum kejadian, Mama sudah memaksa Papa mu. Bahkan Endrew yang sedang sakit, meminta Papa kamu pulang. Tapi Papa kamu tidak tega meninggalkan kami. Sampai keesokan harinya, Papa kamu sudah berniat pulang dan menelepon Mama kamu. Tapi ternyata kamu yang mengangkat telepon itu. Kami pun segera menyusul kalian di rumah sakit. Di saat itu pula, Mama sangat merasa bersalah dengan Mama kamu. Dan di saat itu juga Mama ingin minta cerai. Namun ternyata Mbak Maya, sempat tersadar. Mbak Maya mendengar semua pembicaraan kami. Bahkan saat itu Papa kamu sudah bersedia menceraikan Mama. Tapi Mbak Maya justru melarangnya dengan keras. Mbak Maya bilang untuk jangan cerai, bagaimana nasib Elvan tanpa aku? Kamu harus menjadi ibu untuk Elvan. Sayangi dia seperti kamu mencintai Endrew. Kalian jangan berpisah! Ini semua juga salahku. Aku tidak akan bertahan lama, tolong jaga anakku dan rawat dia. Itulah yang di katakan Mama kamu, sebelum Mama kamu menghembusakn nafas terakhirnya.'' Ucap Bu Elisa dengan bulir air mata yang telah membasahi pipinya.

__ADS_1


''Asal kamu tahu sampai detik ini, rasa bersalah begitu menggerogoti hidup Mama. Dan ini adalah surat yang di tinggalkan Mama kamu untuk kamu, El. Di dalam sini, kamu bisa tahu siapa jodoh kamu. Papa kamu melakukan perjodohan ini hanya untuk memenuhi wasiat terakhir Mama kamu. Mama kamu sendiri lah yang meminta kamu di jodohkan dengan gadis pilihannya. Mama kamu meminta untuk memberikan surat ini saat usia kamu 20 tahun karena sudah saatnya di usia ini kamu menikah. Tapi Mama tidak bisa menunggu besok, kamu harus membacanya sekarang. Kalaupun kamu tidak suka dengan perjodohan ini, Mama akan membantu kamu untuk menghentikannya. Mama juga akan membantu kamu untuk menikahi gadis pilihan kamu. Mama ada di pihakmu.'' Mendengar kalimat terakhir Bu Elisa, membuat Elvan melihat ke arah Bu Elisa. Bu Elisa pun kemudian pergi meninggalkan Elvan. Air mata yang sedari menggenang kini pun runtuh dari pertahanannya.


next....


__ADS_2