
Setelah menemui Pak Samir, Elvan pun segera menuju menuju kampus. Dengan menyunggingkan senyumnya ia menjemput Alia di kelasnya. Alia terkejut saat melihat Elvan sudah berdiri di depan kelasnya. Namun disaat yang bersamaan, Rendra pun juga ingin menemui Alia.
''Waduh, dua cogan nungguin nih,'' bisik Diana pada Alia.
''Iya satunya bad boy, satunya lagi good boy,'' timpal Rani cekikikan.
''Ssstttt kalian apaan sih,'' kata Alia sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.
''Ya udah sana, Al. Mereka udah nungguin kamu.'' Kata Rani.
Elvan terlihat kesal melihat Rendra juga ada disana.
''Elvan, Rendra! Ada apa kalian ingin menemuiku?''
''Aku ingin bicara denganmu, Al.'' Kata Rendra.
''Aku juga. Ini tidak kalah penting.'' Kata Elvan.
''Kamu sudah sembuh? tapi kamu terlihat pucat sekali, El.'' Kata Alia.
''Aku disini hanya untuk kamu.'' Kata Elvan.
''Alia, aku ingin bicara denganmu. Penting!" sela Rendra. Alia pun merasa bingung dengan kedatangan Elvan dan Rendra. Mana yang harus ia dahulukan.
''Elvan, aku akan bicara terlebih dahulu dengan Rendra.'' Kata Alia. Karena Alia menganggap berurusan dengan Rendra justru lebih cepat jika di bandingkan dengan Elvan.
''Oke, baiklah! Aku menunggu di mobil.'' Ucap Elvan mengalah. Rendra kemudian mengajak Alia menuju taman kampus.
''Maafin aku ya Al kalau aku menganggu waktumu. Aku ingin bertanya sebenarnya bagaimana perasaan kamu sama aku sekarang?'' Mendengar pertanyaan dari Rendra, membuat Alia menjadi bingung untuk menjawabnya. Alia tak bisa selugas dulu menjawab pertanyaan itu dari Rendra.
''Kenapa kamu diam, Al? Apa rasa itu sudah tidak ada lagi untuk aku? Seandainya kamu masih memiliki rasa itu, mari kita perjuangkan perasaan kita. Atau kamu sudah bertemu dengan dia? Laki-laki yang sudah di jodohkan denganmu?''
''Belum! Aku belum menemukannya. Maafkan aku, Ren. Karena dalam sujud sepertiga malamku, aku sama sekali tidak melihat wajahmu. Maafkan aku, Ren. Justru wajah orang lain yang tak pernah ada dalam benakku yang muncul.'' Kata Alia. Mendengar jawaban Alia, membuat hati Rendra hancur. Kebersamaan mereka selama ini belum menjamin jika mereka berjodoh. Rendra menarik nafas panjang berusaha menahan rasa sedihnya.
''Lalu siapa yang muncul dalam sujudmu, Al?'' tanya Rendra dengan mata berkaca-kaca. Alia sama sekali tidak sanggup menatap mata Rendra.
''Maafkan aku, Ren. Aku tidak bisa menjawabnya. Karena nanti kamu juga akan tahu. Sekali lagi maafkan aku. Aku berharap kita tetap masih bisa berteman.''
''Baiklah, Alia. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kamu.'' Kata Rendra sembari beranjak dari duduknya dan meninggalkan Alia.
__ADS_1
''Maafkan aku, Ren. Selama ini aku terus bersujud untuk mencari jawabannya tapi entah kenapa wajah Elvan yang selalu saja muncul dalam sujudku. Aku sendiri bingung, kenapa harus Elvan?'' gumam Alia dalam hati sembari menatap punggung Rendra yang langkahnya semakin jauh darinya.
...****************...
Sementara di dalam mobil, Elvan menunggu dengan cemas Alia. Semua pikiran buruk tentang Rendra dan Alia bersarang dalam benaknya.
''Ahhh...! Kenapa lama sekali sih?'' gumam Elvan dengan kesal. Elvan pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon Alia.
''Halo! Kamu dimana sih?'' tanya Elvan dengan ketus.
''Iya, ini aku udah jalan, El. Sabar dong!"
''Ngapain aja sih kalian? Lama banget! Pasti mesra-mesraan.''
''Berhenti suudzon ya. Aku sudah dekat dengan mobilmu.'' Kata Alia dengan kesal. Elvan kemudian menoleh ke arah luar dan ia tersenyum melihat Alia sudah dekat dengan mobilnya. Elvan pun mengakhiri panggilannya. Elvan segera keluar dan membukakan pintu untuk Alia.
''Silahkan!" kata Elvan dengan senyum lembutnya. Alia hanya tersenyum simpul melihat sikap aneh Elvan. Elvan segera masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
''Cepat bicara! Aku harus bekerja!" ketus Alia.
''Tenang saja! Aku sudah menelpon Mbak Milka.'' Kata Elvan.
''Maksud kamu?''
''Kamu tidak akan menculikku kan?''
''Hhh tidak lah! Apa untungnya menculikmu?'' kata Elvan sinis.
''Hhh selalu saja begitu. Ya Allah, kenapa wajahnya bisa muncul dalam sepertiga malam ku? Apakah Kau yakin jika dia adalah jodoh ku, Ya Allah?" gumam Alia dalam hati. Elvan mengajak Alia menuju semuah tamab bermain. Tempat dimana Alia dan Elvan bertemu. Alia terkejut saat Elvan membawanya ke taman ini. Tidak banyak yang berubah dengan taman itu karena taman bermain ini sudah terbengkalai.
''Ke-kenapa mengajakku kesini, El?'' tanya Alia.
''Aku ingin kita nostalgia.'' Kata Elvan. Alia semakin bingung mendengar ucapan Elvan. Elvan segera mematikan mesin mobilnya dan segera turun dari mobilnya begitu pula dengan Alia. Tanpa ragu, Elvan menggandeng tangan Alia dan menuntunnya untuk duduk di sebuah ayunan.
''Duduklah disini, Alia.'' Pinta Elvan. Elvan perlahan mengayunkan ayunan itu.
''El, apa maksud kamu?''
''Apa kamu mengingatku, Lili?'' ucap Elvan tiba-tiba.
__ADS_1
''Lili? Maksud kamu apa, El?'' Alia pun semakin bingung dengan ucapan Elvan. Elvan kemudian duduk berlutut di hadapan Alia.
''Lili? Apakah kamu sungguh tidak mengingatku? Anak kecil itu?''
''Apa kamu Eel? Anak dari tante Maya?'' kata Alia dengan mata berkaca-kaca.
''Iya. Dan kamu Lili anak tante Nita.'' Elvan kemudian memberikan sebuah foto untuk Alia.
''Mama, juga memintaku untuk menikahi mu Alia. Aku baru saja mendapatkan surat dari Mama. Dalam surat itu berisi kalau aku telah di jodohkan dengan mu.'' Kata Elvan sembaru menatap lekat wajah Alia.
''Ya Allah berarti mimpi itu benar kalau Elvan adalah dia. Dia yang selama ini aku cari,'' gumam Alia dalam hati. Alia dengan tangan gemetar mencoba menangkupkan tangannya pada wajah Elvan.
''Jadi kamu beneran Eel?'' kata Alia yang berusaha menahan tangisnya. Elvan tersenyum sembari mengusap air mata Alia.
''Maafin aku, kalau ekspetasi jodoh kamu tidak seperti Rendra. Tapi aku akan berusaha berubah. Bimbing aku Alia.'' Ucap Elvan dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
''Bagaimana dengan orang tua kamu? Apa kamu sudah baikan dengan mereka?''
''Apa selama ini kamu tahu masalahku?''
''Iya. Aku tahu semuanya, El. Dan itulah yang membuatku bertahan disisi mu. Tapi aku tidak mengerti arti perasaan ini. Kamu bisa menyembunyikan rasa sepi dan luka kamu selama ini. Itulah yang membuatku kagum dan bertahan berteman denganmu. Meskipun perlahan rasa ini semakin berkembang entah kemana.''
''Terima kasih. Kamu sudah berada disisiku dan bertahan disisiku. Bahkan kamu telah menerima baik dan buruknya diri aku selama ini. Aku akan berubah, Alia.''
''Berubahlah untuk Allah, jangan berubah untuk aku.''
''Iya. Aku mengerti dan aku mohon bimbing aku.''
''Mmmm apa kamu mau menikah denganku?'' tanya Elvan kembali.
''Kita lihat saja nanti, El.'' Goda Alia dengan senyum tipisnya.
''Aku sudah memberitahu Ayah mu, Al. Dan Ayah kamu merestuinya.''
''Iya tapi biarkan aku untuk berpikir lagi,'' ucap Alia yang sengaja menggoda Elvan. Elvan hanya bisa menghela nafa panjang mendengar jawaban Alia.
''Baiklah, aku akan memantaskan diri aku untuk kamu.''
''Terima kasih ya, El.''
__ADS_1
''Sama-sama, Alia.''
Bersambung...