Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPISODE 18 Masjid


__ADS_3

Elvan menuruti keinginan Alia, akhirnya ia membawa mobil elf. Ia sengaja menyewakan mobil elf untuk mereka. Rendra pun sudah ada disana membantu Alia memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil. Alia tersenyum melihat Elvan yang benar-benar membawa mobil elf untuknya. Setelah selesai, memasukkan semua barang, mereka siap untuk berangkat.


"Terus, siapa yang mau nyetir nih?" tanya Elvan.


"Aku aja nggak apa-apa. Al, nanti kamu di depan tunjukkin jalannya ya." Sahut Rendra.


''Oke." Jawab Alia dengan senyum manisnya.


''Nggak bisa!" sahut Leon dengan lantang.


"Semua cewek duduk di bangku tengah. Gue sama Leon di belakang. Dan Elvan di depan sama Rendra. Kalian kan bukan muhrim. Enak aja mau deket-deketan." Kata Fandi.


''Oke. Tidak masalah kok. Elvan, nanti gantian nyetir ya.'' Kata Fandi.


"Nggak janji deh.'' Singkat Elvan.


''Jangan gitu dong, El. Kamu harus gantian.'' Kata Alia.


''Ya, gue kan udah nyewain mobil. Ya ogah lah kalau di suruh nyetir.'' Ketus Elvan.


''Udah-udah, ayo naik. Keburu siang. Aku aja nggak apa-apa.'' Kata Rendra yang mencoba mengalah. Mereka semua segera masuk ke dalam mobil dan siap menuju panti asuhan. Di dalam mobil, Rendra, Alia, Rani dan Diana asyik bersholawat. Sementara Leon dan Fandi, menyumpal telinga mereka dengan headset sembari tidur. Maklum saja mereka mereka selalu pulang dini hari hampir setiap hari. Sementara Elvan hanya diam sembari fokus menatap jalanan. Namun saat melewati sebuah jalan tikungan tajam dengan jurang di bawahnya, membuat Elvan panik. Keringat dinginnya muali keluar.


''Apa tidak ada jalan lain?" tanya Elvan dengan panik.


''Tidak ada, El. Ini jalur alternatifnya. Karena panti asuhannya memamg terletak di desa dekat pegunungan. Sebentar lagi juga turun kok jalananannya. Memangnya kenapa? mual?'' kata Alia.


''Nggak apa-apa.'' Singkat Elvan. Elvan memilih menyandarkan kepalanya pada headrest bangku mobil. Lalu ia memejamkan matanya. Melewati jalanan seperti itu, membuat Elvan teringat kecelakaannya bersama Mamanya. Trauma yang ia alami belum juga hilang.


''Ampun deh, dua orang di belakang ini anteng banget. Mereka bisa juga naik mobil kayak gini." Kata Rani sambil menoleh kebelakang, melihat Leon dan Fandi tertidur pulas. Bahkan Fandi dan Leon tetap tenang saat mereka melewati jalanan yang penuh batu.


''Ren, hati-hati ya. Kalau kamu capek, kita istirahat sebentar.'' Kata Alia pada Rendra.

__ADS_1


''Iya, Al. Kamu tenang aja ya.'' Jawab Rendra dengan lembut.


''Nanti kalau ada mushola atau masjid kita istirahat sebentar. Soalnya sebentar lagi waktunya sholat dzuhur.'' Kata Alia.


''Siap, Bu Alia!" Jawab Rendra dengan senyum manisnya. Akhirnya Rendra berhenti di sebuah masjid karena adzan dzuhur sudah berkumandang. Rendra segera turun dari mobilnya. Di susul oleh Rani dan Diana. Sementara Fandi dan Leon masih tertidur pulas. Elvan sedari tadi menahan rasa gelisah sembari memejamkan matanya. Ia kembali teringat peristiwa buruk yang di alami oleh ia dan Mamanya dulu. Sedangkan Alia sibuk mencari mukena dalam tasnya namun mukenanya belum ketemu juga.


"Mama!" teriak Elvan yang membuat Alia tersentak kaget. Elvan membuka matanya, keringat dingin mengucur di wajahnya, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya pun terengah.


"Elvan, kamu nggak apa-apa?" tanya Alia.


"Ngg-nggak apa-apa kok. Kita sudah nyampai ya?" tanya Elvan yang berusaha menyembunyikan perasaan traumanya.


''Belum. Kita mau sholat dzhuhur dulu. Lebih baik ayo kita sholat dulu." Ajak Alia. Elvan lalu keluar dari mobil. Ia membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Alia lalu menyusul keluar dan membiarkan Fandi dan juga Leon di dalam mobil.


''Kenapa sih dia? udah dua kali aku pergokin dia mengigau dan memanggil Mamanya. Sebenarnya Elvan kenapa? wajahnya begitu geliasah dan tak seperti biasanya." Gumam Alia dalam hati.


''Aku lupa caranya sholat." Celetuk Elvan.


''Le, mana mereka?" tanya Fandi.


''Emang udah nyampek? kok kita nggak di bangunin?" kata Leon. Fandi dan Leon lalu melepasakan headset mereka.


''Ayo kita turun dan susul mereka." Ajak Fandi. Mereka lalu segera keluar dari mobil. Baru saja turun dari mobil, mereka mendapati Alia, Elvan, Rendra, Rani dan Diana keluar dari masjid.


''Udah bangun kalian? kalau mau sholat, kita tunggu." Kata Alia.


''Ah, nggak ah. Nanti aja sholatnya." Kata Leon sambil menggaruk tengkuknya.


''Iya, aku capek nih. Masih ngantuk." Timpal Fandi sambil menguap.


''Segeralah sholat sebelum kita di sholatkan. Jangan di tunda, kita tidak tahu kapan kita akan di panggil. Karena kematian tidak bisa di tunda. Setidaknya saat Tuhan mengambil kita, kita masih punya sedikit tabungan amal ibadah untuk kita bawa. Daripada tidak sama sekali.'' Kata Alia.

__ADS_1


''Iya, Ustadzah. Kita sholat." Kata Leon sambil menarik lengan Fandi menuju masjid. Sementara Alia tersenyum melihat tingkah konyol mereka berdua.


''Ya udah ayo kita masuk ke mobil sambil nunggu mereka." Ajak Rendra.


''Gue disini aja nunggu mereka." Sahut Elvan.


''Oke." Jawab Rendra. Rendra bersama Alia, Rani dan Diana segera menuju mobil. Elvan lalu menuju teras masjid sambil menunggu kedua sahabatnya. Elvan duduk sejenak dan merasakan hembusan angin yang sejuk. Elvan tiba-tiba merasakan hatinya begitu tenang. Ia tak pernah merasa setenang ini. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini. Mata Elvan lalu tertuju pada seorang kakek tua renta, yang berjalan menuju masjid. Kakek itu membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Namun Kakek itu merasa kesulitan saat akan menaiki teras masjid. Karena untuk masuk teras masjid ada tangga yang harus di lewati. Hati Elvan tergerak untuk membantunya.


''Kek, mari saya bantu." Kata Elvan.


''Terima kasih ya, Nak." Kata Kakek tua tersebut.


"Kakek kenapa tidak sholat di rumah saja?" kata Elvan sambil menuntuk Kakek tua itu.


''Kakek sudah terbiasa sholat di masjid. Apalagi bisa berjamaah, pahalanya berkali lipat. Lagian rumah Kakek dekat sini. Nak, selagi Kakek mampu dan sanggup pasti akan melakukannya. Karena berada di rumah Allah, membuat hati Kakek lebih tenang. Di usia seperti Kakek tidak ada hal yang lebih penting selain mendekatkan diri kepada Allah." Kata Kakek tua itu. Ucapan Kakek itu seolah menampar keras Elvan.


''Sudah sampai, Kek. Silahkan kalau Kakek mau sholat."


"Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah sholat?"


"Sudah, Kek. Saya sedang menunggu dua teman saya.''


''Oh, baiklah. Kakek sholat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.'' Jawab Elvan. Ternyata dari dalam mobil, Alia melihat itu semua. Saat ia menoleh keluar jendela, tak sengaja ia melihat Elvan membantu Kakek tua itu. Melihat hal baik yang di lakukan oleh Elvan, membuat Alia tersenyum. Tak lama kemudian Fandi dan Leon muncul.


''Woi, nglamun apa lo!" seru Leon sambil menepuk pundak Elvan. Elvan pun terkejut. Karena sedari tadi ia memang sedang melamun. Suasana hatinya campur aduk.


''Ngagetin aja sih! Ayo ke mobil! Mereka sudah lama nungguin kita." Ketus Elvan sembari berlalu menuju mobil. Fandi dan Leon saling menatap heran.


...Maaf ya baru upload, hehehe... Jangan lupa buat like, komen dan vote ya, makasih 🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2