
''Gue nggak nyangka, elo tega banget sama Alia. Alia salah apa sama elo?'' kata Fandi dengan suara meninggi.
''Ya, Alia nggak pantas aja buat Elvan.'' Jawab Alua tergagap. Karena Fandi dan Leon benar-benar menginterogasi Sandra dan membawanya ke lapangan, di bawah terik sinar matahari. Ya, mereka sedang menghukum Sandra.
''Kasus ini bisa gue bawa ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan. Emangnya elo mau, orang tua elo tahu kelakukan anaknya ini? Wajah malaikat tapi hati iblis!" tegas Fandi.
''Yoi bener banget! Dia kan selama ini selalu bersikap manis dan manja di depan orang tuanya. Bayangin aja kalau orang tuanya tahu. Jangan lupa San, kita ini temenan udah lama jadi kita juga tahu gimana diri elo itu penuh dengan manipulasi di hadapan orang tua elo.'' Sambung Leon yang tak kalah kesal dengan sikap Sandra.
''Ja-jangan bilang sama mereka! Mereka pasti kecewa dan marah sama gue.'' Kata Sandra memohon.
''Makanya elo kalau mau bertindak, mikir dulu! Elo itu kayak psikopat tahu nggak!" Sandra benar-benar tidak bisa berkutik saat di cecar oleh Fandi dan Leon.
''Sekarang biarin gue pulang! Ini panas banget.'' Kata Sandra.
''Biarin kering lo disini!" kata Leon. Rendra yang melihat Sandra di tengah lapangan bersama Leon dan Fandi segera menghampirinya.
''Leon! Fandi! Apa yang kalian lakukan pada Sandra?'' tegur Rendra dengan suara meninggi.
''Ren, tolongin aku! Mereka jahatin aku,'' rengek Sandra sambil memeluk lengan Sandra.
''Kalian keterlaluan banget sih sama cewek,'' kata Rendra.
''Ren, elo nggak tahu aja dia itu udah jahat sama Alia.'' Kata Fandi.
''Nih, kalau elo nggak percaya!" kata Leon sambil menunjukkan vidio yang di lakukan Sandra pada Alia. Rendra sangat marah saat melihat apa yang di lakukan oleh Sandra pada Alia.
''Sandra! Kamu keterlaluan banget. Salah apa Alia sama kamu? Hah?'' bentak Rendra.
''Sekarang dimana Alia?'' tanya Rendra pada Leon dan Fandi.
''Udah di bawa sama Elvan.'' Jawab Leon.
''Sandra, aku kecewa banget sama kamu. Kamu keterlaluan banget. Kelewatan kamu, San!" kata Rendra sembari berlalu meninggalkan Sandra.
''Rendra! Tungguin aku!" teriak Sandra sambil mengejar Rendra.
''Emang gila si Sandra!" kata Fandi.
''Ya udah kita ke rumah Elvan kalau gitu.'' Kata Leon.
''Ya udah, yuk! sekalian lihatin Alia gimana. Itu si Rani sama Diana ajak sekalian.'' Kata Fandi.
''Oke. Kita sekalian jalan ke kelas mereka.''
-
Setelah selesai makan siang, Elvan ingin mengajak Alia untuk sholat dzuhur bersama.
''Alia, kamu mau sholat berjamaah sama aku?'' tanya Elvan ragu-ragu.
''Iya.'' Jawab Alia malu-malu. Elvan kemudian mengajak Alia ke kamarnya. Saat di kamar, Elvan membuka laci meja dan memberikan tasbih Alia yang tertinggal disana.
''Ini punya kamu kan?''
''Iya. Kok ada sama kamu?''
__ADS_1
''Sepertinya waktu itu ketinggalan.''
''Aku pikir sudah hilang. Ya udah kalau gitu kita sholat ya. Apa kamu sudah hafal?''
''Iya aku masih bisa. Hanya saja aku dulu marah sama Tuhan karena masalah yang aku hadapi. Dan sekarang aku sadar, tidak seharusnya aku marah da memusuhi Tuhan.''
''Syukurlah kalau sekarang kamu paham, El. Aku senang mendengarnya.''
Mereka kemudian mulai sholat dengan khusyuk. Alia sangat bahagia saat ini, Elvan benar-benar berubah.
...****************...
''Elvan! Elo dimana?'' teriak Fandi.
''Eh ada Den Fandi dan Den Leon. Den Elvan lagi di kamar.''
''Oh di kamar, apa Alia masih disini, Bi?''
''Masih, Den. Mbak Alia sedang bersama Den Elvan.''
''Apa?'' sahut Rani dan Diana kompak.
''Wah, jangan sampai Elvan merayu Alia dan mengajak Alia melakukan sesuatu yang....," belum selesai bicara, Rani dan Diana kompak teriak. Aaaaaaa.....!!!
''Heh, kalian ini jangan negatif thinking dulu,'' kata Leon.
''Tapi gue penasaran juga. Kita susul Elvan. jangan sampai dia merusak Alia,'' kata Fandi. Mereka berempat segera lari menuju lantai dua kamar Elvan. Sementara selesai sholat, Elvan segera menuju balkon kamarnya.
''Kamu ke walk in closet saja untuk merapikan jilbab kamu. Aku tidak akan mengintipnya.'' Kata Elvan. Alia kemudian mengikuti apa yang Elvan katakan. Alia terbelalak melihat almari baju yang begitu besar dan tempat ganti baju yang sangat mewah. Terdapat berbagai macam koleksi aksesoris dan jam tangan milik Elvan.
''Aw!" rintih.
''Alia, kamu nggak apa-apa?'' tanya Elvan dengan panik.
''Kamu berdarah.'' Kata Elvan khawatir. Elvan kemudian memapah Alia dan mengajaknya duduk.
''Hah? Alia berdarah? Apa yang Elvan lakukan?'' bisik Leon. Mereka berempat sedang menguping Elvan dan Alia dari balik pintu kamar Elvan.
''Sstttt dengerin aja dulu,'' kata Fandi.
''El, perih!" rintih Alia.
''Iya nih. Kamu hati-hati ya.''
''Tapi vas bunga kamu?''
''Sudah jangan di pikirkan. Ini pecahannya cukup besar. Sebentar aku ambil kotak P3K dulu. Kamu tahan ya, Al. Habis ini aku cabut pelan-pelan supaya kamu nggak kesakitan.''
''Hah? Apa yang mau Elvan cabut? Wah gawat nih?'' kata Rani.
''Nggak mungkin Alia tergoda sama Elvan. Siapa tahu mereka lagi ngapain gitu.'' Timpal Mona yang berusaha menjernihkan pikirannya.
Elvan kemudian meletakkan kaki Alia di pangkuannya.
''Sebaiknya kamu setelah ini aku antar pulang dan istirahat. Fokus kamu pasti terganggu karena kejadian tadi.''
__ADS_1
''Iya, El. Tapi ini perih dan sakit. El, sepertinya ini menancap terlalu dalam apalagi di bagian telapak ini. Kerasa banget sakitnya.''
''Hah, apalagi nih si Alia? Apa ya g menancap terlalu dalam? Otak gue traveling, sumpah!" celetuk Leon.
''Tahan ya, aku cabut. Aku akan meniupnya. Tahan ya Al, aku cabut.''
''Iya, El. Tapi pelan-pelan ya.'' Kata Alia mendesis kesakitan.
''Aw...ssshhhhh....Ya Allah perih banget!" kata Alia dengan suara meninggi. GUBRAK! Fandi, Leon, Rani dan Diana yang tidak tahan mendengar suara dari dalam, membuat Leon tak sengaja membuka pintu dan mereka semua terjatuh saling menimpa. Elvan dan Alia saling melempar pandangan, terkejut melihat kedatangan mereka berempat.
''Hei, kalian! Ngapain disini?'' bentak Elvan. Mereka kemudian berusaha berdiri.
''Elo ngapain, El?'' tanya Leon yang merasa salah paham dengan sahabatnya.
''Nih, Alia kena pecahan vas kakinya.'' Kata Elvan sambil menunjukkan pinset yang terdapat pecahan kaca.
''Pasti kalian nguping ya? Pasti ekspetasi kalian ke arah 18++ kan?'' kata Elvan yang seolah bisa menebak pikiran sahabatnya.
''Ya Allah, Alia. Kenapa kamu bisa seperti ini? El, apa kamu nyakiti Alia?'' tuduh Diana.
''Ya nggak lah.'' Sanggah Elvan.
''Udah jangan ribut, kita berdua habis sholat jamaah dan nggak sengaja aku jatuhin vas bunga, terus kaki aku kena pecahannya. Elvan cuma bantu aja.''
''Ah, syukurlah! Aku pikir Elvan merayu untuk menodai kamu,'' celetuk Diana terang-terangan.
''Hei, gue nggak semesum itu. Alia itu ibarat berlian jadi harus di jaga sampai waktunya.'' Ketus Elvan.
''Kita kesini cuma pingin tahu kabar Alia aja. Kita puas banget habis ngerjain si Sandra. Kapok deh, kita bikin dia kayak ikan asin. Kita jemur seharian.'' Kata Leon dengan kesal.
''Seharusnya jangan seperti itu, Le. Kasihan dia. Sandra pasti kesal sama aku.''
''Alia, stop bela Sandra. Dia keterlaluan. Kalau dia macam-macam, aku mau laporin dia ke kantor polisi. Karena kita semua udah punya bukti,'' ucap Elvan.
''Jangan, El. Sudah biarin saja.''
''Buat jaga-jaga aja, Al. Aku juga nggak bakal laporin kok. Buat ancam dia aja, biar dia nggak gangguin kamu.'' Kata Elvan.
''Terima kasih ya. Kalian sudah peduli sama aku.''
''Sudah seharusnya bidadari surga itu di jaga,'' celetuk Leon dengan gaya gemasnya.
"Lebay!" kata Rani sambil menoyor kepala Leon.
"Hei, nggak sopan!" kata Leon dengan kesal sambil membalas Rani.
"Eh kok kalian malah toyor-toyoran sih!" kata Alia berusaha melerai.
"Kan dia yang mulai duluan, Al. Cewek bar-bar banget. Contoh tuh Alia."
"Ya elo belum tahu aja, kalau Alia udah keluar tanduknya. Kelar hidup lo!" kata Rani.
"Hah? Sumpah lo." kata Leon dengan nada mengejek. Mereka kemudian tertawa merasa terhibur dengan pertengkaran kecil Rani dan Leon.
Bersambung....
__ADS_1