
''Alia, aku ke cafe dulu ya. Aku antar kamu ke tempat kerja sekalian ya?''
''Nggak usah, Ren. Kamu mending ke cafe aja. Aku mau ke perpus sebentar.'' Kata Alia.
''Ya udah kalau gitu. Makasih ya kamu udah obatin aku.''
''Iya sama-sama. Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya kamu dan Elvan seperti ini. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini.''
''Maafin aku ya, Al.''
''Ya udah aku ke perpustakaan dulu. Assalamualiakum,'' kata Alia sembari berlalu.
''Waalaikumsalam.'' Rendra segera menuju tempat parkir dan segera menuju cafe. Sementara Alia pergi menuju ke perpustakaan. Alia lalu membuka tasnya dan membuat lamaran pekerjaan. Berharap ada yang membutuhkan tenaganya.
__ADS_1
''Kamu nggak boleh patah semangat, Alia. Kamu harus terus berjuang untuk Ayah dan Andra. Kamu jangan lemah dan jangan cengeng, Alia.'' Kata Alia yang berusaha menyemangati dirinya sendiri. Setelah selesai, Alia lalu mulai mencari pekerjaan. Mulai dari cafe, laundry, tempat percetakan, kantor, semuanya tidak ada yang membutuhkan pekerja paruh waktu. Hingga hari pun mulai petang, Ailee memilih istirahat di masjid, sekaligus menunggu adzan maghrib berkumandang.
Sementara Elvan, memilih pergi menuju klub malam. Ada rasa bersalah di hatinya pada Alia namun ada rasa kesal juga pada Alia. Elvan pun merasa sulit untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. Saat wine ada di hadapannya, ia selalu teringat dengan apa yang di katakan oleh Alia. Namun kini Elvan tak peduli, Elvan bahkan menenggaknya langsung dari botol wine tersebut.
''Woi orang songong!" panggil seseorang pada Elvan. Elvan pun tetap diam dan tidak menghiraukan. Kemudain segerombolan pria mengahmpiri Elvan. Satu diantaranya memiliki dendam pada Elvan.
''Elo budek ya, gue manggil elo," kata salah satu pria tersebut sambil mencengkeram pundak Elvan. Elvan lalu melirik tajam pria itu sembari menepis tangannya.
''Siapa lo? sorry gue lupa,'' kata Elvan dengan cuek.
''Elo ingat nggak waktu SMP ada anak yang elo bully karena bajunya kumal dan sepatunya bolong? Elo bikin anak itu nangis karena elo merasa berkuasa. Terus elo dorong anak itu sampai terjatuh dan kepalanya cedera. Ingat nggak lo? Kasihan banget hidup lo, masih aja kayak gini. Bokap elo sih hidup banyak tingkah, anaknya broken home deh. Jadi sok penguasa tapi sebenarnya hatinya kesepian,'' kata pria itu dengan tertawa terbahak-bahak.
''Terus mau elo apa? sorry waktu itu. Gue juga udah lupa,'' ucap Elvan dengan santai meskipun ia sangat ingin memukul orang itu.
__ADS_1
''Sekarang terbukti kan siapa yang hidupnya menderita. Nyokap elo bunuh diri kan karena nggak kuat di madu, iya kan? Ya ampun ternyata nasib gue dengan sepatu bolong lebih baik daripada elo, keluarga penuh masalah.'' Mendengar ucapan pria itu tentang Mamanya, membuat Elvan sangat geram. Ia mengeratkan rahangnya dan mencengkeram kuat botol wine di hadapannya. Ingin sekali ia memukul kepala pria itu dengan botol winte tersebut. Elvan yang tak bisa mengendalikan emosinya, mencengkeram wajah pria tersebut.
''Gue menghina elo bukan karena elo miskin tapi karena gue denger sendiri, elo bicara buruk tentang gue dan elo membuat cerita tidak sesuai fakta. Elo emang dari dulu punya bakat jadi mulut ember. Sepatu bolong dan baju kumal elo, lebih berharga dari mulut menjijikkan elo,'' ucap Elvan sembari melepas cengkraman di wajah pria itu.
''Hahahaha, iya, iya, apapun itu, memang yang berkuasa selalu menang. Dasar anak pecundang, anak broken home, ibunya mati bunuh diri karena bapaknya selingkuh, ganjen sih,'' ledek pria itu. Kali ini Elvan benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Tanpa pikir panjang Elvan melanyangkan tinju ke wajah pria itu. Hingga pria itu tak kesempatan untuk memukul Elvan.
''Ini buat fitnah yang elo sebar. Kalau elo iri sama hidup gue, ambil aja sana. Gue nggak butuh,'' kata Elvan sambil terus memukul pria itu. Mata Keenan memerah bahkan air mata keluar dari matanya. Ia benar-benar sakit hati jika ada seseorang yang menghina atau membawa nama mamanya. Akhirnya salah satu teman pria itu, melayangkan pukulan di kepala Elvan dengan menggunakan botol bir. PRAK! Darah mengucur dari kepala Elvan. Semua orang pun berteriak histeris hingga tidak ada yang berani memisah mereka. Elvan kemudian bangkit dan balik melayangkan tinjunya pada orang yang telah memukulnya. Elvan mencoba bertahan dengan memegangi kepalanya, namun kini giliran Elvan yang di keroyok. Belum sembuh luka Elvan karena di pukuli Rendra, kini luka Elvan bertambah lagi dan lebih parah. Hingga akhirnya Elvan terjatuh ke lantai tak berdaya namun Elvan masih terus di pukuli. Hingga ada security datang, bersamaan dengan itu, Endrew pun datang.
''Elvan!" teriak Endrew yang melihat Elvan bersimbah darah.
''Pak, cepat tangkap mereka dan jebloskan ke penjara,'' kata Endrew dengan marah pada securty dan pada anak buahnya. Endrew segera menggendong Elvan dan membawanya ke rumah sakit.
Bersambung....
__ADS_1