
''Assalamualikum,'' sapa Andra.
"Waalaikumsalam, Andra. Kamu jadi datang?''
''Iya kak. Ayah yang meminta aku kesini. Ya Allah, Kak Elvan kok sampai gitu. Sebenarnya apa yang terjadi kak?''
''Kakak juga nggak tahu. Kata Kak Endrew, Elvan di keroyok.''
''Semoga Kak Elvan cepet sadar ya.''
''Amin.''
''Alia, kamu sudah makan?'' tanya Milka yang masuk bersama Endrew.
''Sudah kok, Kak.'' Jawab Alia.
''Ini siapa Alia?'' tanya Endrew.
''Oh iya ini adik saya, Andra.''
''Oh kamu punya adik juga.''
''Iya ini adik saya, Kak. Dia masih kelas 8.''
''Halo, Kak. Saya, Andra.'' Kata Andra sembari mengulurkan tangannya.
''Endrew, kakaknya Elvan. Dan ini istri saya Milka.''
''Halo, Andra. Senang berjumpa sama kamu. Kamu sangat tampan dan lucu.'' Kata Milka.
''Terima kasih, Kak Milka,'' ucap Andra dengan senyumnya.
''Alia, aku mau pamit. Tadi Chelsea sempat nggak enak badan. Kamu nggak apa-apa kan? Atau kamu pulang nggak apa-apa, biar suster yang jagain.''
''Mbak Milka sama Mas Endrew pulang aja nggak apa-apa kok. Kan sudah Andra disini.''
''Tapi kan kamu baru baikan, Alia.''
''Nggak apa-apa, Kak. Nanti kan saya bisa tidur di sofa. Kasihan Chelsea pasti butuh kalian.''
''Ya udah kalau gitu, kita pulang dulu ya. Tolong kamu kabari ya kalau ada apa-apa,'' kata Milka.
''Iya, Mbak.''
''Ya udah Alia kita pulang ya. Kamu juga baik-baik ya. Andra, makasih ya,'' kata Endrew.
__ADS_1
''Iya, Kak.''
''Mbak Milka sama Kak Endrew hati-hati ya.''
''Iya, Alia.'' Milka dan Endrew pun segera pamit. Malam itu Alia dan Andra menginap di rumah sakut untuk menemani Elvan.
''Kak, apa Kak Elvan nggak ada orang tua ya?'' tanya Andra.
''Ada kok tapi orang tua mereka di luar negeri.''
''Kasihan ya, Kak. Oh ya Kak, tadi aku udah mengundurkan diri dari cafe.''
''Ya udah syukurlah. Kamu sekarang fokus ke sekolah ya. Kakak sama Ayah pingin lihat kamu sukses.''
''Iya, kak. Makasih ya.''
''Ya Allah alhamdulillah, aku sudah mendapatkan pekerjaan. Terima kasih Ya Allah telah mengabulkan doaku.'' Gumam Alia dalam hati.
...****************...
Adzan subuh berkumandang, Andra membangunkan Alia untuk sholat subuh bersama. Mereka menjalankan sholat subuh di dalam kamar rawat Elvan. Karena kamar rawat Elvan sudah pasti kamar VVIP. Andra menjadi imam untuk kakaknya. Perlahan, Elvan mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sakit dan sangat berat. Bahkan sekujur tubuhnya pun terasa remuk. Elvan melihat Andra dan Alia sedang sholat berjamaah bersama.
''Alia, Andra. Mereka disini, mereka jagain gue,'' gumam Elvan dalam hati. Elvan sangat tersentuh saat Alia dan Andra menengadahkan tangan, menyebut namanya untuk memohon kesembuhan pada Sang Pencipta.
''Kamu belum bangun juga, El. Ini udah pagi lho,'' kata Alia sembari mengusap lembut punggung tangan Elvan. Elvan merasakan betapa lembutnya sentuhan Alia. Elvan merasa sudah lama sekali tidak ada orang yang memperhatikannya. Elvan kemudian membuka matanya.
''Alhamdulillah, kamu sudah bangun, El.'' Kata Alia.
''Kak Elvan udah sadar, kak?'' seru Andra.
''Iya, Andra.'' Andra kemudian mendekat ke arah Elvan.
''Ya Allah aku seneng banget lihat Kak Elvan udah sadar,'' ucap Andra.
''Kalian yang jagain gue?'' tanya Elvan lirih.
''Iya, El. Semalam Kak Endrew dan Mbak Milka juga disini tapi mereka pulang solanya Chelsea lagi nggak badan,'' jelas Alia.
''Kenapa elo nggak pulang aja? Ngapin nungguin gue disini.''
''Aku merasa bersalah juga sama kamu. Apalagi dengan kejadian kemarin siang.''
''Elo nggak usah merasa bersalah. Gue yang salah, maafin gue ya, Al. Tapi apa yang semua gue lakuin sama elo itu semuanya tulus, meskipun di awal gue cuma iseng. Mungkin ini karma buat gue,'' kata Elvan yang menyesali perbuatannya.
''Aku udah maafin kok. Lebih baik kita membuka lembaran baru, iya nggak? Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jadi lebih baik kita saling memaafkan,'' kata Alia dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
''Andra maafin gue ya kalau gue nyakitin Alia. Maaf.''
''Apapun itu aku maafin kok, Kak. Karena pada dasarnya manusia pasti mempunyai kebaikan dalam dirinya. Dan aku percaya kalau Kak Elvan itu baik.''
''Terima kasih kalian udah maafin semua kesalahan gue. Terima kasih juga kalian udah jagain gue disini. Dimana seharusnya keluarga gue yang ada disini.''
''Sama-sama, El. Kamu jangan terlalu banyak bicara ya. Andra, tolong beliin bubur ayam di depan ya.''
''Iya, Kak.'' Kata Andra dengan penuh semangat. Andra pun segera keluar untuk membeli bubur.
''Seneng ya kalau punya saudara kayak gitu.'' Kata Elvan sembari menatap Andra berlalu.
''Iya. Dia adik yang baik, aku bersyukur ada dia dalam hidupku.''
''Aku ingin menjadi kamu.'' Kata Elvan.
''Aku-Kamu? Sejak kapan?'' tanya Alia yang tampak terkejut dengan ucapan Elvan dengan panggilan yang berbeda.
''Sejak saat ini dan selamanya,'' kata Elvan sembari menggenggam tangan Alia.
''Apa kamu mau menikah denganku?'' sambung Elvan yang membuat Alia sangat terkejut. Jantung Alia serasa berhenti berdetak saat mendengar ucapan Elvan.
''Elvan, rayuan kamu nggak akan mempan. Udah jangan modus.''
''Aku nggak modus. Aku serius. Coba kamu rasain detak jantung aku. Aku jatuh cinta sama kamu, Alia.'' Kata Elvan sembari menuntun tangan Alia untuk menyentuh dadanya.
''El, kamu jangan aneh-aneh.'' Ucap Alia pelan.
''Aku serius. Aku benar-benar kena karma. Awalnya aku biasa saja. Tapi semakin mengenal kamu, membuatku semakin nyaman dan sangat menbutuhkan kamu. Aku ingin selalu dekat denganmu. Aku bahkan menyuruh bos laundry kamu untuk memecat kamu, supaya aku bisa dekat sama kamu. Kamu nggak usah capek-capek kerja dengan gaji yang minim. Aku menderita saat melihat kamu menderita. Aku marah dan cemburu saat kamu dengan Rendra, apalagi saat aku tahu kamu di lamar Rendra.'' Alia benar-benar terkejut dengan semua pengakuan Elvan.
''Ka-kamu tahu aku di lamar Rendra?'' tanya Alia tergagap.
''Iya. Aku melihat dan mendengar semuanya. Aku tahu kalau kamu nggak suka sama aku. Karena aku super bad boy. Bahkan aku nggak ada baiknya di mata kamu. Tapi aku nggak bisa bohongin perasaan ini. Semua keputusan ada di tangan kamu, Alia.''
''Kalau kamu memang serius, temui Ayah saat kamu sembuh nanti.''
''Ka-kamu serius? lalu Rendra?''
''Iya kamu dan Rendra harus menemui Ayah. Aku sendiri belum memberi keputusan pada Rendra.'' Mendengar ucapan Alia, membuat Elvan melepaskan genggaman tangan Alia dan membuat Elvan mendadak kehilangan semangat. Elvan pun membuang muka, enggan menatap Alia.
''Elvan, selama aku belum menikah, aku masih menjadi milik, Ayahku. Ayahku yang berhak atas diriku. Kalau kamu serius, kamu buktiin sama aku dan ayah. Buat aku yakin kalau kamu serius. Bisa aja kan kamu modus.'' Kata Alia yang berusaha menutupi rasa bahagia di sudut hatinya.
''Oke, aku akan buktiin,'' kata Elvan dengan ketus. Alia pun tersenyum melihat sikap Elvan yang kekanak-kanakan.
Bersambung...
__ADS_1