Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 89 Dendam Yang Berakhir


__ADS_3

''Papa, buka pintunya! Aku janji tidak akan kabur dan aku akan menyetujui perjodohan itu," teriak Elvan dari dalam kamarnya sambil menggedor keras pintu kamarnya. Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan Elvan melihat Bu Elisa berada di depan pintu. Elvan menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Melihat sebuah kesederhanaan dari Bu Elisa. Matanya tampak sendu dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Penampilannya sangat berbeda jauh dengan Mamanya yang selalu suka bersolek dan memakai pakaian yang bagus. Elvan melihat lebih dalam mata Bu Elisa, bahwa selama ini Bu Elisa begitu menderita lahir dan batin. Hidup bertahun-tahun dengan kebencian yang Elvan berikan. Yang ia tahu saat itu, hanya tangisan Mamanya. Yang tanpa ia tahu apa arti tangisan itu. Ia hanya seorang anak yang tidak rela jika ibunya di sakiti dan terluka oleh orang lain. Semua sikap kerasnya selama ini hanya ingin menutupi luka yang ia pendam sendiri tanpa tahu kebenarannya seperti apa. Kini ia tahu, kini ia mengerti, apa arti tangisan Mamanya selama ini. Bu Elisa mendekati Elvan, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Elvan. Ia menatap dengan seksama wajah Elvan yang sangat mirip dengan Bu Maya.


''Kamu sangat mirip dengan Mbak Maya. Maafkan Mama ya. Mama dan Endrew siap pergi dari kehidupan kamu dan Papa kamu untuk selamanya. Mama akan segera mengurus perceraian kami untuk kebahagiaan kamu. Mama hanya menjalankan amanah dari Mama kamu dan sekarang kamu sudah dewasa jadi Mama tidak perlu menjaga kamu lagi. Tugas Mama sudah selesai. Mama kamu pasti sangat bangga memiliki seorang putra yang sangat tampan dan pintar seperti kamu. Sebelum Mama pergi, Mama juga ingin berpesan jika kamu kelak menikah, jadikanlah istrimu satu-satunya ratu di hati kamu. Karena di duakan atau menjadi yang kedua itu sangat menyakitkan. Jangan pernah sekalipun kamu melakukan itu, nak.'' Ucap Bu Elisa dengan bulir air mata yang begitu deras membasahi pipinya yang mulai keriput. Mendengar ucapan Bu Elisa, membuat hati Elvan tersentuh bahwa selama ini kemarahan dan kebenciannya itu salah. Bu Elisa kemudian melepaskan tangkupan tangannya perlahan. Bu Elisa pun kemudian segera pergi dari kamar Elvan namun panggilan Elvan, menghentikan langkah Bu Elisa.


''Mah!" panggil Elvan lirih. Mendengar Elvan memanggilnya dengan panggilan Mah, membuat hati Bu Elisa bergetar. Bu Elisa pun semakin terisak.


''Mama!" panggil Elvan kembali. Bu Elisa kemudian berbalik dan menatap Elvan dengan senyuman. Elvan kemudian mendekat ke arah Bu Elisa dan memeluknya.


''Maafkan aku, Mah. Maafkan aku. Maafkan semua sikap kasarku selama ini. Atas semua caci maki ku kepada Mama.'' Elvan pun menangis dalam pelukan Elisa.


''Tidak, nak. Kamu tidak bersalah. Kamu sudah melakukan hal yang benar untuk menjaga dan melindungi Mama kamu. Semua anak laki-laki pasti akan melakukan hal yang sama untuk Ibunya. Jangan salahkan diri kamu. Seandainya waktu bisa Mama putar kembali, Mama memilih tidak melakukan ini semua. Mama hanya seorang ibu yang berusaha ingin selalu bersama anaknya. Mama sama sekali tidak marah ataupun benci sama kamu. Mama sangat menyayangi mu dan mencintaimu seperti Mama menyayangi dan mencintai Endrew.''


''Maaf, Mah. Maaf. Maafkan juga Mama ku.''


''Tidak. Mama kamu juga tidak bersalah. Mama kamu hanya seorang istri yang menginginkan seorang buah hati dalam pernikahannya. Keadaanlah yang membuat kita terjebak dalam situasi seperti ini. Justru kami sebagai orang tua yang meminta maaf karena telah melibatkan kalian, anak-anak yang lugu dan tidak berdosa.''


''Terima kasih, Mah. Terima kasih. Aku sekarang tahu Mah siapa jodohku. Beri tahu Papa bahwa aku akan menerima perjodohan ini. Sekarang aku akan menemuinya.'' Elvan kemudian melepaskan pelukan dari Bu Elisa. Elvan segera bergegas menuju rumah Pak Samir.


...****************...


Elvan kemudian segera pergi menuju rumah Alia untuk menemui Pak Samir.


''Assalamualaikum,'' salam Elvan sembari mengetuk pintu rumah Pak Samir.

__ADS_1


''Waalaikumsalam.'' Jawab Pak Samir sembari membukakan pintu.


''Nak Elvan! Alia masih di kampus."


''Saya mencari Om Samir,'' ucap Elvan dengan senyumnya.


''Ayo masuk dulu dan silahkan duduk.''


''Ada apa ini, nak?'' lanjut Pak Samir.


''Saya tidak akan basa-basi lagi, Om. Saya mencintai Alia dan ingin menjadikan Alia sebagai pendamping hidup saya.'' Ucap Elvan dengan tegas tanpa bertele-tele. Pak Samir benar-benar terkejut dengan pengakuan Elvan.


''Tapi nak, bukanya menolak atau bagaimana tapi Alia sudah di jodohkan.'' Kata Pak Samir dengan hati-hati karena takut jika Elvan tersinggung.


''Darimana kamu tahu, nak?''


''Saat itu saya tidak sengaja mendendengar percakapan Om dan juga Rendra. Jadi maaf saat itu saya tahu semuanya.''


''Iya nak kamu benar sekali. Kami sedang mencari dan menemui anak yang telah di jodohkan oleh bundanya Alia.''


''Om tidak usah mencari jauh-jauh karena anak laki-laki itu ada di hadapan Om.''


''Maksud kamu apa nak? Om tidak paham.'' Elvan kemudian mengeluarkan foto masa kecil Alia dan juga foto Elvan berempat bersama Bu Nita, Bu Maya dan juga Alia.

__ADS_1


''Ini Tante Nita kan, Om? Dan ini Lili, nama kecil Alia. Ini aku Eel dan ini Mama Maya,'' kata Elvan sembari menunjuk satu persatu yang ada di foto tersebut. Mata Pak Samir berkaca-kaca saat melihat foto itu.


''Selama ini saya juga mencari Lili, Om.''


''Lalu bagaimana kabar Maya, Mama kamu?''


''Mama sudah meninggal 8 tahun yang lalu karena kecelakaan.''


''Innalillahi wainnailaihi roji'un jadi Maya sudah meninggal, Ya Allah. Dan Bundanya Alia juga meninggal 8 tahun yang lalu. Ya Allah jadi selama ini kamu adalah putra Maya. Lalu bagaimana kabar Papa kamu dan istri keduanya?''


''Om tahu tentang itu?''


''Iya, nak. Dulu kami berempat adalah teman. Bahkan saat Maya mengambil keputusan itu, kami sempat memarahi Maya karena apa yang dia lakukan itu akan menimbulkan masalah kedepannya. Sesekali dia berkunjung kemari dan selalu saja menangis. Dia menangis menyesali keputusannya karena kamu. Kamu tidak mendapatkan kasih sayang ituh dari Papa kamu. Kami tahu semuanya, nak. Tapi kami juga tidak mau terlibat jauh. Akhirnya setelah kepergian Bundanya Alia, kami memutuskan untuk pindah rumah. Karena Om juga kena PHK dan butuh biaya untuk melanjutkan hidup. Kami menjual rumah lama kami dan membeli rumah yang lebih kecil di sini.''


''Ya Tuhan, kebencianku selama ini sangat tidak beralasan. Kasihan Mama Elisa dan Endrew,'' gumam Elvan dalam hati.


''Om, saya sangat senang karena bisa menemukan Alia.''


''Tapi keadaan Alia seperti ini, kami miskin. Apa kamu tidak malu memiliki istri orang miskin dan mertua seperti saya.''


''Tidak Om! Untuk apa malu. Saya sangat tulus mencintai Alia dan ingin membahagiakannya. Tapi jangan beri tahu Alia dulu ya, Om. Jangan juga menyinggung masalah pernikahan, saya ingin memberitahu Alia sendiri. Saya juga ingin membiarkan Alia meraih apa yang menjadi cita-citanya. Saya tidak ingin menjadi penghalangnya, Om. Biarkan Alia menyelesaikan kuliahnya dulu dan saya juga ingin lebih memantaskan diri saya untuk Alia.''


''Iya nak. Om senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kamu. Dunia ini ternyata sempit sekali.'' Pak Samir dan Elvan pun kemudian saling berpelukan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2