
Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya pesanan pun datang.
''Silahkan,'' ucap Andra sembari meletakkan pesanan mereka di atas meja.
''Lama banget sih, gue udah lapar!" ketus Rendi.
"Ren, kamu apaan sih? Kamu nggak lihat kalau cafe sedang ramai. Jadi harus sabar,'' kata Kinar yang mencoba menenangkan Rendi. Andra memilih menutup telinga, saat mendengar ucapan Rendi yang membuatnya kesal.
''Maaf ya kalau harus membuat kalian lama menunggu. Cafe sedang ramai, selamat menikmati,'' ucap Andra yang tetap berusaha ramah.
''Makasih ya, Ndra.'' Kata Kinar. Namun saat Andra berbalik, Rendi dengan sengaja menjegal kaki Andra. Sehingga membuat Andra jatuh tersungkur dan menabrak temannya yang juga membawa makanan untuk pengunjung. Makanan yang di bawa teman Andra itupun jatuh berantakan.
''Andra! Kamu nggak apa-apa,'' kata Kinar yang berusaha membantu Andra berdiri.
''Andra, elo hati-hati dong. Kita mesti buat orderan lagi nih. Bisa ngamuk nih kalau makanan hancur gini, customer bisa marah karena harus nunggu lagi,'' kata teman Andra dengan kesal sambil membereskan makanan yang terjatuh.
''Sorry banget.'' Ucap Andra yang juga buru-buru ikut membersihkan. Melihat Kinar yang juga ikut membantu Andra, Rendi menjadi kesal. Rendi menarik tangan Kinar dan menyuruh Kinar untuk duduk.
''Kamu ngapain bantuin dia?'' ketus Rendi.
''Ya kan kasihan, Ren.''
''Itu karena ulah dia sendiri. Sok kecakepan sih! Makanya kalau kerja yang bener, jangan meleng tuh mata.'' Kata Rendi dengan kesal.
''Sabar Andra, sabar,'' ucap Andra yang segera menuju dapur setelah selesai membereskan sisa makanan yang jatuh.
''Pecat aja lah, pelayan nggak becus,'' kata Rendi dengan suara meninggi, hingga semua orang mendengarnya. Namun Andra tak menghiraukan dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
''Rendi! Kamu ini apa-apaan sih, nggak malu apa di denger banyak orang. Kalau kamu kayak gini, aku pulang dan nggak usah temui aku,'' ancam Kinar.
''Iya, iya, maaf. Ya udah ayo kita lanjutin makannya.'' Kata Rendi. Atas kejadian itu, Andra pun di panggil oleh manajer cafe.
__ADS_1
''Kamu ini bagaimana Andra? Kenapa bisa mengacaukan semuanya? Customer kita kecewa dan mereka pulang. Seharusnya kamu tahu kalau cafe sedang ramai, mereka sudah mau bersabar untuk menunggu tapi kamu malah membuat semuanya kacau.''
''Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja,'' kata Andra dengan penuh sesal.
''Jangan mentang-mentang kamu dekat Pak Rendra, kamu bisa seenaknya. Apa kamu sadar kalau Pak Rendra selalu mengistimewakan kamu dan kamu menjadi pergunjingan teman-teman kamu.'' Kata Pak Manajer dengan suara meninggi.
''Ya Allah, ternyata benar. Nasihat Kak Alia sama aku, tidak seharusnya aku dengan mudah menerima kebaikan Pak Rendra. Dan ternyata di belakangku, mereka membicarakan aku,'' batin Andra.
''Sekali lagi saya minta maaf, Pak.''
''Saya tahu sebesar apapun kesalahan kamu, Pak Rendra akan memaafkannya. Percuma juga saya memarahi kamu atau memecat kamu karena Pak Rendra tidak akan pernah mengijinkannya. Bekerja profesional, jangan jadi penjilat. Kembali kerja sana.''
''Baik, Pak. Sekali lagi maafkan saya.'' Andra pun segera keluar dari ruangan manajer.
''Kamu harus kuat, Andra. Cacian dan makian jadikan motivasi untuk sukses. Jangan cengengeng,'' kata Andra pada dirinya sendiri. Namun air mata pun jatuh membahasi wajahnya. Andra menangis bukan karena sikap Rendi yang sengaja menjegalnya ataupun gunjingan teman kerjanya tapi lebih kepada kenapa orang miskin selalu di pandang rendah. Apalagi tanggung jawab Andra sebagai anak laki-laki itu tidaklah mudah. Andra buru-buru menyeka air matanya saat melihat Rendra datang.
''Andra, itu teman-teman kamu ya?'' kata Rendra.
''Iya, Pak.''
''Saya sudah makan. Mata saya cuma kena asap di dapur tadi.''
''Ya udah semangat kerja ya. Saya kedalam dulu.''
''Iya, Pak.''
...****************...
Entah kenapa Alia merasa sedih dengan sikap Elvan.
''Ya Allah, setelah ini aku bekerja apalagi? Elvan sudah memintaku berhenti bekerja.'' Gumam Alia sembari berjalan menyusuri jalanan. Alia tiba-tiba terpikirkan untuk menuju laundry Mbak Santi, karena ia belum sempat mengambil pesangonnya.
__ADS_1
''Assalamulaikum,'' sapa Alia.
''Waalaikumsalam. Eh Alia, kamu kemana saja? Mentang-mentang udah punya pacar kaya lupa sama aku. Sampai uang pesangon nggak di ambil-ambil.'' Goda Mbak Santi.
''Pacar? Pacar yang mana sih, Mbak.'' Kata Alia yang merasa bingung dengan ucapan Mbak Santi. Mbak Santi lalu mengajak Alia duduk di terasnya.
''Kamu ini nggak usah gitu lah, nggak usah malu-malu. Nggak nyangka ya laundry aku bisa mendatangkan jodoh untuk kamu.''
''Sebentar deh, Mbak. Aku jadi bingung. Mbak Santi dapat cerita darimana? Demi Allah, aku nggak ngerti sama apa yang Mbak Santi katakan.''
''Kok aneh sih. Bukanya Mas Elvan, langganan laundry kita pacar kamu? Iya kan?''
''Elvan? Ya Allah, Mbak Santi ngarang aja deh. Aku nggak pernah pacaran sama Elvan. Mana mungkin lah.''
''Tapi dia bilang gitu sama aku, Al. Sebenarnya rencana buat mecat kamu itu dia. Dia nyuruh aku buat mecat kamu karena dia nggak mau kamu kerja susah-susah. Pagi kampus, siangnya harus kerja. Bahkan setelah lulus kuliah, dia mau nikahin kamu. Sebagai gantinya, dia sampai nyariin aku dua orang buat bantu aku di laundry. Dia juga bilang kalau dia sedih kalau harus lihat kamu bekerja terlalu keras. Dia nggak mau kamu tahu rencana ini karena sudah pasti kamu akan menolaknya. Jadi aku terpaksa membuat cerita seperti itu. Maafin aku ya, Alia. Aku nggak ada maksud buat bohongin kamu.''
''Apa maksud Elvan melakukan ini semua? Dia melakukan itu tapi sekarang dia sudah tidak butuh aku lagi? Apa memanh benar ini bagian dari permainannya? Kamu benar-benar tega, El. Kamu benar-benar jahat.'' Gumam Alia dalam hati.
''Seharusnya Mbak Santi tanya aku dulu dan tidak mempercayai Elvan.'' Kata Alia dengan wajah sendunya.
''Maafin aku ya, Al. Karena aku sendiri juga sudah terlanjut bahagia dengar kabar baik tentang kamu. Jadi aku tanpa pikir panjang dulu. Sebentar ya, aku ambil pesangon kamu dulu.'' Kata Mbak Santi sembari berjalan menuju ruangannya untuk mengambil pesangon Alia. Tak lama kemudian Mbak Santi pun datang dengan membawa sebuah amplop.
''Ini Al, makasih ya kamu udah bantuin aku.'' Kata Mbak Santi sambil mengulurkan amplop itu pada Alia.
''Seharusnya aku yang harus berterima kasih sama Mbak Santi.''
''Apa kamu ingin kerja lagi Alia? Kapanpun kamu ingin kembali, kamu datang saja ya.''
''Terima kasih ya, Mbak. Aku mau fokus skripsi dulu, Mbak. Sekali lagi terima kasih ya, Mbak.'' Kata Alia sembari memeluk Mbka Santi.
''Sama-sama Alia. Sekali lagi maafin aku ya. Sukses ya buat kamu.''
__ADS_1
''Ya udah, Mbak. Aku pamit ya, assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.''