Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 61 Melukis Cinta


__ADS_3

"Alia! Makan siangnya sudah siap?'' teriak Elvan sembari menuruni anak tangga.


''Mbak Alia lagi sholat dzuhur, Mas.'' Sahut Bi Minah.


''Lagi sholat dimana?''


''Dikamar saya, Den.'' Kata Bi Minah. Elvan yang penasaran, menuju kamar belakang Bi Minah. Dari balik jendela kaca kamar, Elvan melihat Alia sedang sholat dengan khusyuknya. Terlihat wajah Alia yang tampak cantik berseri dalam balutan mukena. Tiba-tiba Elvan merasakan jantungny berdebar dengan sangat kencang.


''Duh, kenapa nih? Kok detak jantung gue cepat gini,'' batin Elvan. Elvan kemudian segera menuju meja makan sembari memegangi dadanya.


''Den Elvan kenapa?'' tanya Bi Minah yang melihat Elvan meringis sakit sambil memegangi dadanya.


''Nggak tau, Bi. Jantung saya rasanya detaknya cepat banget. Kenapa ya Bi?''


''Memangnya Den Elvan habis ngapain?''


''Nggak ngapa-ngapain. Cuma jalan sebentar lihatin Alia sholat.'' Mendengar ucapan Elvan, Bi Minah pun menahan senyumnya.


''Kenapa senyum-senyum?'' tanya Elvan ketus.


''Ma-maaf, Den. Kalau boleh saya jawab, sepertinya Den Elvan jatuh cinta.''


''Jatuh cinta? Ngaco deh, Bibi. Udah Bibi balik kerja sana. Saya mau makan dulu,'' kata Elvan dengan ketus.


''I-iya, Den. Maaf Den.'' Kata Bi Minah sembari berlalu.


''Masak sih gue jatuh cinta? Ah nggak mungkin. Gue dekat sama banyak cewek dan jantung gue biasa aja tuh. Gue kan udah biasa dekat sama cewek-cewek. Jadi nggak mungkin.'' Kata Elvan yang berusaha menolak apa yang dia rasakan.


-


Sepulang sekolah Kinar berniat mengajak Andra untuk makan siang bersama. Kinar pun sekarang satu kelas dan duduk satu bangku dengan Andra. Namun sangat sulit untuk mendekati dan berteman dengan Andra. Meskipun beberapa hari mereka menjadi deka tapi Andra begitu susah bergaul dengan lawan jenis.


''Andra, hangout yuk! Elo kan udah baik ajarin gue jadi mau nggak kalau habis ini, kita makan bareng,'' ajak Kinar pada Andra.


''Maaf ya, aku nggak bisa.''


''Emangnya kenapa? gue deh yang bayarin.''


''Aku harus kerja, Kinar.''


''Kerja? Serius kamu kerja. Oh ya lupa, kamu kan harus bertahan hidup kan ya. Kamu kan termasuk murid tidak mampu di sekolah.'' Kata Kinar dengan begitu jujur tanpa mempedulikan perasaan Andra.


''Iya. Aku memang termasuk tidak mampu. Tapi setidaknya aku bisa mengajari anak orang kaya seperti kamu.'' Kata Andra dengan tegas sembari berlalu.


''Andra, tunggu!" cegah Kinar.


''Sorry, gue nggak ada maksud gitu.''


''Nggak apa-apa. Aku udah biasa di hina kok.'' Kata Andra yang tetap berusaha tersenyum.


''Sorry ya. Kalau gue ngomongnya nyinggung banget. Gue kesel aja karena elo nolak ajakan gue. Padahal gue cuma niat baik, pingin nraktir elo makan.''


''Tapi maaf, aku memang harus kerja.''

__ADS_1


''Emangnya kamu kerja dimana?''


''Di Hero Cafe.''


''Kebetulan banget. Gue ikut ya, sekalian gue makan disana deh.''


''Ya udah nanti kamu langsung kesana aja. Kamu kan bawa mobil.''


''Kebetulan gue nggak bawa mobil. Lagi di sita sama Papa, soalnya gue keseringan klayapan, hehehe. Jadi gue nebeng motor elo ya.''


''Yakin? Nggak takut kepanasan, keringetan dan bau matahari?''


''Yakinlah. Ayo!" Kata Kinar dengan semangat sembari mengenggam tangan Andra dan mengajaknya menuju tempat parkir motor.


''Nih, pakai helem dulu.'' Kata Andra sambil menyodorkan helm warna pink pada Kinar.


''Elo bawa helm dua buat siapa?'' tanya Kinar penasaran.


''Oh untuk Kakak aku. Jadi sebelum ke sekolah, aku antar Kakak ke kampus dulu.''


''Oh gitu. Ya udah ayo berangkat!" kata Kinar dengan penuh semangat. Andra kemudian segera berangkat menuju cafe dengan memboncengkan Kinar. Dari kaca spion motor, Andra menahan senyumnya saat melihat Kinar yang tampak tidak nyaman naik motor. Beberapa kali Kinar merapikan rambutnya, mengibaskan tangannya dan menggunakan tasnya untuk menghindari terik matahari. Ini adalah pertama kalinya bagi Kinar naik motor. Panas matahari begitu menusuk kulit putihnya. Rambut panjangnya yang tergerai, sesekali berantakan karena tertiup angin. Sesampainya di cafe, Andra tiba bersamaan dengan Rendra dan Sandra.


''Pak Rendra,'' sapa Andra sembari menundukkan kepalanya.


''Hei, Ndra. Mmmm sama siapa?'' tanya Rendra sembari melirik ke arah Kinar.


''Oh ini, Kinar. Teman sekolah saya. Kebetulan pingin makan siang jadi saya ajak mampir, sekalian promosiin cafe,'' jelas Andra.


''Pasti, Pak.'' Jawab Kinar.


''Ya udah kalau gitu saya masuk dulu ya.'' Kata Rendra sembari berlalu mengajak Sandra masuk.


''Itu siapa? Bos kamu?''


''Iya, bos aku.''


''Itu siapa ya sama Pak Rendra?'' gumam Andra dalam hati penuh tanya.


''Ya udah, ayo masuk. Kamu duduk dulu ya, aku mau ganti baju dulu.''


''Oke!" jawab Kinar. Andra segera mengajak Kinar masuk ke dalam cafe. Kinar segera mencari tempat duduk, sementara Andra segera ke ruang ganti. Hari itu Kinar melihat sisi lain dari Andra, ternyata Andra memang pekerja keras. Kinar benar-benar merasa salut dengan semangat kerja Andra. Andra bisa membagi waktu antara sekolah dan bekerja.


...****************...


Selesai makan siang, Alia lalu mengajak Elvan untuk mengerjakan soal-soal yang ia berikan. Alia merasa takjub karena Elvan mengerjakannya dengan cepat dan jawabannya benar semua.


''Jawaban kamu benar semua lho, El. Kamu cepat banget ya kalau di ajarin. Padahal kita baru beberapa hari. Apa sebenarnya kamu ini pura-pura nggak bisa?'' kata Alia yang benar-benar merasa heran.


''Untuk apa gue capek-capek nunjukkin kepintaran gue. Kalau bokap gue selalu menganggap gue bodoh.'' Kata Elvan dengan sinis. Alia terhenyak mendengar ucapan Elvan yang terasa begitu menyakitkan.


''Seharusnya kamu tunjukkin dong kalau kamu memang pintar dan berbakat.''


''Percuma! Bokap nggak pernah peka,'' imbuhnya.

__ADS_1


''Baiklah kamu dapat nilai A+ dari aku. Dan aku ada hadiah untuk kamu.'' Kata Alia sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


''Coklat, emangya gue anak kecil apa,'' kata Elvan sinis.


''Namanya juga hadiah. Aku ngasih kamu ini karena aku menghargai kerja keras dan semangat kamu untuk belajar. Lagian cuma ini yang aku punya. Coklat ini juga hadiah dari Andra untuk aku karena aku sudah menjadi kakak sekaligus ibu untuknya.''


''Kalau ini dari Andra, kenapa elo kasih sama gue?''


''Aku udah sering dapat hadiah ini dari Andra. Dan sekarang aku yang kasih hadiah ke kamu. Supaya kamu makin semangat.'' Kata Alia dengan senyum manisnya.


''Baiklah, gue terima kalau gitu.'' Kata Elvan yang membalas senyum Alia.


''Dan sekarang gantian gue yang kasih hadiah sama elo.''


''Hadiah? Hadiah apa?'' tanya Alia penasaran.


''Ayo ikut gue!" Ajak Elvan sembari menarik tangan Alia menuju taman belakang rumahnya.


''Ngapain kita kesini?'' tanya Alia dengan heran.


''Sekarang elo duduk disini.'' Kata Elvan sembari menyuruh Alia duduk di bangku taman.


''Gue masuk sebentar dan elo disini aja. Oke!"


''Iya.'' Singkat Alia. Elvan kemudian segera masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi, galeri melukis. Elvan segera mengambil peralatan lukis dan membawanya menuju taman belakang rumahnya.


''Kamu ngapain bawa itu?''


''Gue mau melukis. Melukis waja elo.''


''Memangnya bisa?'' ucap Alia terkekeh yang seolah tak percaya dengan keahlian Elvan.


''Ya kita lihat saja nanti. Gue masih bisa apa nggak. Elo jangan ge-er ya. Ini cuma hadiah dan jangan baper,'' tegas Elvan. Mendengar ucapan Elvan, Alia hanya membalasnya dengan senyuman. Kemudian Elvan mulai melukis di atas kanvas. Alia duduk dengan menyilangkan kakinya. Gamis modern dengan kombinasi warna pink dan abu-abu, serta jilbab motiv abstrak, semakin membuat Alia anggun dan cantik. Tiga puluh menit berlalu dan akhirnya lukisan wajah Alia pun jadi.


''Udah jadi.''


''Coba aku lihat.'' Kata Alia yang beranjak dari duduknya. Alia begitu penasaran melihat wajahnya dalam bentuk lukisan.


''Subhanallah! Elvan, ini bagus banget. Kamu benar-benar berbakat. Bahkan lukisan ini lebih cantik daripada diri aku sendiri.'' Ucap Alia yang benar-benar takjub dengan hasil lukisan Elvan.


''Apa aku boleh menyimpan dan membawanya pulang?'' sambung Alia.


''Boleh. Bawa aja. Ini kan hadiah.''


''Ini adalah hadiah terindah dari orang lain, yang pernah aku dapat seumur hidup aku,'' kata Alia dengan rona wajah bahagia. Entah kenapa melihat Alia tersenyum, membuat Elvan sangat bahagia.


''Alia!"


''Iya, kenapa?'' kata Alia sembari menatap hangat wajah Elvan.


''Elo adalah wanita kedua yang gue lukis, setelah Mama.'' Kata Elvan sembari menatap mata Alia dengan lekat. Mendengar ucapan Elvan, membuat Alia tertegun. Alia bisa merasakan bahwa tatapan mata Elvan sangatlah tulus.


Bersambung.... Hehehehe, jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2