
Makanan pun telah tersaji di atas meja. Elvan pun sudah duduk di meja makan.
''Den, makanan yang sudah kita masak mau di apakan?'' tanya Bi Minah.
''Tolong Bibi kemas yang rapi. Biar nanti di bagikan sama orang di jalanan,'' kata Elvan.
''Baiklah kalau begitu saya permisi.'' Bi Minah pun segera undur diri.
''Ya udah kalau gitu gue pulang juga ya. Kan masaknya udah selesai.''
''Siapa suruh elo pulang. Duduk!" perintah Elvan pada Alia.
''Ada apa lagi sih, El? aku kan sudah masakin kamu. Aku harus ke laundry.''
''Tidak perlu! Elo nggak usah kerja di laundry lagi. Elo cukup kerja sama gue aja.''
''Ya nggak bisa gitu dong, El. Aku harus kerja disana. Aku punya tanggung jawab juga disana.''
''Gaji disana kan kecil. Lebih besar kerja sama gue kan. Lagian gaji dari gue juga udah cukup buat biaya elo sehari-hari.''
''Aku tahu kamu orang kaya dan mampu melakukan apapun. Tapi kamu nggak bisa mengatur hidup aku, El.''
''Siapa yang ngatur. Terserah elo aja deh,'' kata Elvan dengan kesal sembari menyantap makanannya. Tiba-tiba ponsel Alia berdering, panggilan masuk dari Mbak Santi.
''Tuh, lihat bos aku sudah telepon,'' kata Alia dengan kesal sambil menunjukkan layar ponselnya pada Elvan. Elvan hanya melempar senyum tipis pada Alia.
''Halo, assalamualaikum Mbak. Saya baru mau berangkat, Mbak.''
''Waalaikumsalam, Alia. Kamu tidak usah masuk, Alia.''
''Lho kenapa Mbak?''
''Karena kamu sakit beberapa hari, jadi saya terpaksa mencari karyawan lagi. Karena laundry lagi ramai. Jadi maaf aku tidak bisa memperkerjakan kamu paruh waktu lagi. Aku sekarang membutuhkan yang bisa full time, Alia. Maafin aku ya, maaf banget. Nanti kamu bisa kesini untuk mengambil pesangon kamu.'' Kata Mbak Santi dengan berat hati di seberang sana. Alia pun terduduk dan sangat sedih. Tapi ia juga merasa kasihan pada Mbak Santi, jika hanya mengandalkan dirinya saja.
''Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan Mbak Santi. Maafin aku ya mbak, kalau selama kerja aku banyak salah.''
''Tidak, Alia. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu juga cepat sembuh dan pesangon kamu bisa di ambil kapan saja. Mau nanti atau besok terserah kamu.''
''Iya, Mbak. Terima kasih ya, Mbak.''
''Sama-sama Alia. Kalau begitu sampai ketemu ya, assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam,'' jawab Alia sembari mengakhiri panggilannya. Alia pun merasa sedih dengan keputusan Mbak Santi yang menurutnya mendadak.
''Kenapa diam? nggak jadi berangkat?'' tanya Elvan.
__ADS_1
''Nggak. Aku di pecat secara terhormat.'' Kata Alia dengan lemas.
''Gue bilang apa, makanya kerja sama gue aja. Gimana kalau habis ini kita belanja? sambil ngasih makanan sama orang-orang di jalanan. Biar elo nggak perlu repot-repot ke pasar pagi buta,'' kata Elvan yang berusaha menghibur Alia.
''Bagi-bagi makanan?'' tanya Alia seolah tak percaya dengan ucapan Elvan.
''Iya. Kenapa? ada yang salah?''
''Nggak kok.'' Kata Alia sambil menggeleng.
''Nggak nyangka, Elvan bisa baik juga. Ya meskipun kadang suka kasar dan suka berubah nggak jelas moodnya,'' gumam Alia dalam hati.
''Oh ya, thanks ya. Masakan elo enak. Oke, ayo berangkat.''
''Iya.''
...****************...
Elvan dan Alia pun segera pergi. Saat mereka berhenti di lampu merah, Elvan segera turun dari mobil. Ia melihat anak jalanan di sana dan Elvan segera membagi-bagikannya. Alia pun mengikuti Elvan, membagikan makanan. Anak-anak itu terlihat sangat bahagia saat menerima makanan dari Elvan. Alia terharu dengan sikap Elvan yang ternyata sangat baik menurutnya.
''Alhamdulillah, Elvan mau berbagi. Aku seneng banget lihatnya. Ternyata dia nggak seburuk yang aku pikirkan. Tapi pada dasarnya semua manusia pasti memiliki sisi baik, seburuk apapun mereka karena manusia tidak ada yang sempurna,'' kata Alia dalam hati.
''Hei, bengong aja!'' kata Elvan pada Alia yang sedari tadi hanyut dalam lamunannya tentang sikap Elvan.
''Udahlah. Lagian elo bukanya bantuin, malah bengong aja. Tapi kebetulan tadi cuma jadi sepuluh box sih, jadinya cepat.''
''Maaf ya.''
''Its ok! Ayo kita ke supermarket belanja sayuran buat besok.''
''Iya.'' Mereka kemudian segera menuju supermarket. Sesampainya di sana, Elvan langsung mengambil keranjang untuk tempat belanjaannya.
''Oke, sekarang kamu ambil aja yang kamu butuhkan untuk masak besok.''
''Tapi pasti mahal, El disini. Kalau di pasar murah dan fresh, soalnya sayurnya baru datang.''
''Disini juga fresh kok dan lebih bersih tempatnya. Udah kamu ambil aja, biar aku yang bayar.''
''Tapi aku nggak tahu apa kesukaan kamu.''
''Aku suka apa aja apalagi kalau kamu yang masak.'' Kata Elvan. Elvan kemudian menggandeng pergelangan tangan Alia dan segera mengajaknya menuju rak sayuran juga daging.
''El, tangan kamu!" kata Alia dengan matanya yang membulat.
''Hehehe, sorry, reflek! Lagian nggak nyentuh langsung. Ini juga kena baju elo,'' protes Elvan. Mata Alia melotot kearah Elvan.
__ADS_1
''Ya udah gue tarik tas elo aja ya,'' kata Elvan sembari menarik tas slempang Alia. Alia hanya bisa diam dan menurut dengan Elvan. Sesampainya di rak sayur, Alia bingung mau pilih yang mana. Melihat Alia yang bingung, Elvan lalu mengambil sesuka hatinya.
''Lho kamu ngambilnya banyak banget, El.''
''Habisanya elo kelamaan. Cuma di lihatin doang.''
''Ya kan aku bingung milihnya. Ini aja banyak banget pilihannya. Kalau di pasar aku cuma beli kangkung aja.''
''Ya udah makanya aku ambil aja. Ini dari tulisannya sawi hijau, sawi putih, brokoli, bayam, kangkung, kol, wortel, tomat, buncis, kacang, entahlah apalagi ini.''
''Ya udah lah terserah kamu.'' Kata Alia dengan pasrah. Mereka kemudian menuju rak daging dan ikan. Lagi-lagi Alia bingung memilih. Alia hanya memilih daging satu pack saja.
''Kok cuma satu sih? elo pikir cuma elo aja yang mau makan?'' ketus Elvan.
''Iya ini aku ambil buat kamu aja, El.''
''Satu mana cukup, Alia. Ambil lagi dong. Aku makan tiga kali sehari, menunya harus beda biar nggak bosan,'' kata Elvan dengan ketus. Alia yang kesal dengan sikap Elvan mencoba untuk sabar menghadapi Elvan.
''Ya udah aku ambil dua kalau begitu.''
''Aduh, susah ya emang kalau ngomong sama orang kayak elo. Biasa belanja di pasar, di ajak ke supermarket norak banget.''
''Sabar Alia, sabar. Mulut Elvan ini memang pedes banget tapi aku harus sabar,'' gumam Alia dalam hati sambil menenangkan dirinya dari ocehan Elvan.
''Ya udah deh kamu aja sana yang ambil, suka-suka kamulah. Aku emang norak,'' kata Alia yang kelepasan marah pada Elvan.
''Sorry, gue nggak ada maksud gitu,'' kata Elvan memelankan suaranya.
''Ya udah kamu ambil saja yang menurut kamu cukup karena aku nggak tahu selera kamu.'' Kata Alia pada Elvan. Elvan lalu mengambil beberapa pack daging sapi, ayam, udang, ikan salmon, ikan tuna dan cumi-cumi. Semua sayuran, daging dan ikan masuk ke dalam keranjang.
''Kamu nggak pingin ambil apa gitu, Al?'' tanya Elvan pada Alia.
''Oh ya petai sama ikan tengiri, udah belum? sama terasi juga.''
''Oh iya, aku lupa. Daritadi aku mikir banget kayaknya ada yang hampir kelupaan. Makanan kesukaan Mama.''
''Kamu sayang banget sama Mama kamu ya?'' tanya Alia perlahan.
''Iya. Mama adalah segalanya.'' Ucap Elvan sembari berlalu meninggalkan Alia.
''Sebenarnya ada apa dengan kamu, El? kenapa kamu dingin dengan Kak Endrew? bukankah kalian saudara. Kamu selalu menatap mereka, seolah mereka orang jahat,'' gumam Alia dalam hati sambil melihat Elvan yang sudah melangkah jauh darinya.
''Astaghfirullah, berprasangka apa aku ini,'' kata Alia pada dirinya sendiri.
Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan vote ya, terima kasih 🙏😘
__ADS_1