
Satu minggu pun berlalu. Alia semakin bahagia dengan pernikahannya dengan Elvan. Elvan juga berubah semakin baik. Kini Elvan tengah bersiap berangkat menuju kantor. Alia sudah menyiapkan sarapan di atas meja.
''El, apa boleh hari ini aku pergi ke rumah Ayah?'' tanya Alia sembari menuangkan nasi pada piring Elvan.
''Tentu boleh, Alia. Nanti pulang kantor, biar aku jemput ya.''
''Terima kasih ya, El.''
''Sama-sama, Alia. Oh ya bagaimana sekolah Andra? apa ada masalah soal biaya?''
''Sejauh ini semuanya aman, sayang. Andra kan dapat beasiswa sampai kuliah nanti. Dia ingin mengambil kuliah memasak di Singapura.''
''Bagus sekali, sayang. Lalu apa rencana dia selanjutnya?''
''Andra punya cita-cita ingin mempunyai restoran sendiri.''
''Kalau seperti itu, lebih baik dia mengambil kuliah manajemen bisnis saja. Kalau masak, dia bisa ambil kursus disana. Kalau dia ingin bisnis, dia juga harus belajar tentang manajemen.''
''Nanti kamu ajak dia bicara aja. Kamu kan yang lebih paham soal ini.'' Kata Alia.
''Rasanya malas sekali ke kantor. Bahkan ini pertama kalianya aku ke kantor papa.''
''Jangan seperti itu, El. Kak Endrew sudah susah payah mengemban tanggung jawab ini, masak iya mau kamu sia-siain gitu aja. Seharusnya kamu sekarang harus semakin dewasa apalagi sekarang kamu telah menjadi seorang suami.''
''Iya-iya. Aku akan semangat bekerja tapi aku tidak langsung menjabat dengan posisi tinggi, Al. Aku sengaja memilih menjadi manajer, aku tidak mau menjadi terlalu sibuk dan meninggalkan kamu sendiri.''
''Iya terserah kamu saja. Yang penting kan kamu kerja.''
''Oh ya kita kan sudah suami istri, masak manggil nama sih.'' Protes Elvan.
''Terus, mau manggil apa? kan nama kamu Elvan dan aku Alia,'' jawab Alia dengan polosnya.
''Panggil sayang gitu biar romantis atau apalah asal jangan nama,'' kata Elvan.
__ADS_1
''Baiklah suamiku sayang, apa seperti itu?''
''Iya. Itu sangat enak di dengar daripada hanya memanggil nama.''
''Dasar kamu. Ya udah kamu habisin sarapannya ya, jangan lupa antar aku ke rumah Ayah.''
''Iya pasti. Kalau begitu nanti makan siang aku jemput ya, sekalian ajak ayah juga.''
''Insya Allah.'' Jawab Alia dengan senyumnya. Setelah selesai sarapan, Elvan bergegas mengantar Alia ke rumah ayahnya. Setelah itu Alia berpamitan untuk berangkat ke kantor.
-
''El, ini ruangan kamu.'' Kata Endrew pada Elvan.
''Makasih ya, Bang.'' Kata Elvan dengan pandangan yang tertuju di setiap sudut ruangan karena ini pertama kalianya bagi Elvan menginjakkan kaki ke kantor setelah beranjak dewasa.
''El, kenapa kamu tidak menempati ruangan direktur? itu kan hak kamu. Aku tidak punya hak apa-apa disini.''
''Sudahlah, Bang. Jangan terlalu di pikirkan. Aku belum pantas di posisi itu, aku harus masih banyak belajar. Aku tidak mau mengacaukan kerja kerasmu selama ini. Menjadi manajer memang menjadi pilihanku. Aku tidak mau menjadi terlalu sibuk dan memiliki sedikit waktu untuk keluargaku.'' Ucapan Elvan sangat mengena di hati Endrew, ia juga merasa bersalah karena sering meninggalkan Chelsea demi mengejar duniawi yang tidak ada habisnya tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi tanggung jawabnya.
''Mmm baiklah, setidaknya tunggu dua bulan ya, Bang. Bantu aku dulu!"
''Iya kamu tenang saja. Nanti Voni akan membantu semua pekerjaanmu.''
''Voni? siapa dia?''
''Sekertaris yang sudah aku siapkan untukmu.''
''Aku tidak mau! aku mau sekretaris laki-laki.'' Ketus Elvan. Endrew menghela nafas panjang mendengar permintaan adiknya itu.
''Baiklah aku akan mencarikanmu sekretaris baru dan mengajarinya dulu. Nanti setelah siap, dia akan mendampingimu.''
''Oke, terima kasih, Bang. Yang jelas laki-laki!''
__ADS_1
''Iya-iya. Baiklah selamat bekerja. Aku permisi dulu.''
''Oke!" Endrew lalu pergi meninggalkan ruangan Elvan.
-
Sementara itu Sandra sedang berada di cafe Rendra. Ia sedang mengganggu Rendra di ruangannya. Sungguh tantangan berat menghadapi sikap agresif Sandra. Kalau tidak kuat iman, entah akan jadi apa Sandra.
''Sandra, biarkan aku bekerja ya.'' Kata Rendea yang menurunkan Sandra dari pangkuannya.
''Kenapa sih kamu seperti ini? jangan bilang kamu belum bisa melupakan Alia.'' Kata Sandra yang asal menuduh.
''Bukan seperti itu, kenapa kamu malah menuju ke arah sana? kita ini belum muhrim, San. Kamu seharusnya jangan seperti itu. Aku buka pria seperti itu.''
''Ternyata kamu sangat membosankan. Udah mau dua bulan, masak ciuman aja nggak boleh.''
''Sandra, kamu adalah seorang wanita jadi sudah sepantasnya aku menjaga kamu dan menghargai kamu.''
''Lalu kapan kamu akan menikahi aku?''
''Apa kamu siap meninggalkan dunia model kamu? lalu kita hijrah sama-sama. Aku tidak memaksamu untuk memakai hijab tapi setidaknya kurangi memakai rok pendek dan baju tanpa lengan ya.''
''Kamu pasti ingin aku seperti Alia kan? kamu ingin aku menjadi seperti dia kan? aku pasti cuma pelampiasan kamu saja,'' kata Sandra dengan wajah cemberut.
''Ya Allah, Sandra. Kamu ini bicara apa kok asal nuduh seperti itu. Aku justru ingin melindungi kamu, Sandra.''
''Aku tidak bisa meninggalkan dunia modelku.'' Jawab Sandra tegas.
''Kamu masih bisa berkarir di dunia model islami. Model kan tidak harus terbuka. Apalagi hijab sekarang semakin modern. Iya kan?''
''Ya tapi susah. Panas kalau pakai hijab. Nanti rambut aku bau, lepek, gatal dan bisa jadi ketombe karena tertutup hijab terus.'' Kata Sandra dengan segala alasannya.
''Pelan-pelan saja, San. Itu juga untuk kebaikan kamu. Apalagi setelah menikah nanti, apa yang kamu lakukan bisa menjadi sesuatu yang berdosa juga untuk aku karena kamu adalah makmum ku dan aku imam ku. Tanggung jawab ku terhadap kamu itu dunia akhirat, San.'' Mendengar nasihat Rendra, Sandra hanya terdiam. Rendra sendiri belum siap menikahi Sandra karena sikapnya yang seperti ini. Rendra sendiri sudah menyampaikan niat baiknya pada orang tua Sandra namun Rendra juga menjelaskan kalau ia tidak ingin terburu-buru. Orang tua Sandra justru sangat senang mendengarnya dan justru meminta mengubah Sandra menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Kedua orang tua Sandra merasa salah mendidik Sandra sampai Sandra menjadi seperti itu. Rendra pun mengiyakan permintaaan orang tua Sandra. Dan ini memang tangangan yang harus Rendra lakukan untuk mengubah Sandra yang dominan hidup ala orang barat.
__ADS_1
Meskipun tidak mudah mengubah Sandra karena Sandra selalu menentangnya dan selalu mengaggap kalau Rendra itu membosankan tidak seperti pria pada umumnya. Namun Rendra tidak pernah menyerah untuk membawa Sandra menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Bersambung.... Maaf ya baru up lagi, hehehe 🙏🙏🙏