
''Terus kalau elo apa yang mengilhami elo jadi playboy?" tanya Fandi pada Elvan.
''Gue? Apa ya? Ya karena gue ganteng, kaya dan punya segalanya. Buat hiburan lah, biar nggak kesepian.'' Jawab Elvan dengan santainya.
''Masak elo nggak pernah jatuh cinta? Secara dari dulu cewek-cewek pada ngejar elo. Apa Sandra juga nggak pernah ada di hati elo?'' timpal Leon.
''Sandra? Nggak lah. Gue cuma anggap temen aja. Entahlah gue nggak pernah ngrasain yang namanya jatuh cinta. Cuma ada satu cewek dari dulu kehadirannya gue nantikan. Tapi entahlah dia dimana sekarang.''
''Siapa?'' kompak Fandi dan Leon.
''Dia anak sahabat nyokap gue. Waktu itu gue masih SD. Dan dia adalah salah satu cewek yang gue suka waktu ini. Dia manis, lucu dan baru pertama kali itu gue punya temen cewek. Meskipun pertemuan kita nggak berlangsung lama. Dan kata nyokap gue, saat dewasa nanti gue mau di jodohin sama anak sahabat nyokap gue. Karena akhirnya nyokap gue meninggal jadi sejak itu gue nggak pernah lagi ketemu sama dia. Namanya Lili. Nyokap manggilnya gitu sih, Lili.''
''Wah elo waktu bocil aja udah ada bakat playboy juga. Nah terus kemana si Lili? Masak elo nggak bisa sih nyari dia,'' kata Fandi.
''Entahlah.'' Singkat Elvan dengan rasa putus asa.
''Gimana kalau elo nyoba nyari info tentang Lili lewat kenangan masa lalu nyokap elo. Gue juga pingin lihat elo bahagia, El. Sudah cukup kisah pilu kehidupan elo yang menyakitkan. Elo harus bahagia dan kita akan bantu.'' Kata Leon yang merasa kasihan dengan penderitaan sahabatnya selama ini.
''Iya El. Kita kan udah sama-sama sejak kecil. Jadi kita juga siap bantu buat nemuin Lili. Tapi apa yang membuat elo tetap bertahan dan menanti Lili?''
''Karena nyokap gue. Nyokap gue pasti nggak akan pernah salah pilih. Gue nggak akan pernah nikah sebelum gue ketemu Lili.''
''Tapi kalau seandainya tiba-tiba elo sekarang nih jatuh cinta sama cewek lain dan akhirnya Lili kembali dan datang nemuin elo, apa yang mau elo lakukan?'' tanya Fandi.
''Setidaknya gue tahu keberadaan dan kabar tentang dia. Sekalipun dia sudah menikah, setidaknya dia bahagia dan dalam keadaan sehat. Kalaupun dia masih sendiri, setidaknya gue bakal bilang sama dia, kalau gue udah punya pasangan dan gue mau minta maaf sama dia karena kita tidak bisa bersatu dalam pernikahan. Dan setelah itu ya kita berteman dan saling menjaga silaturahmi aja.''
''Terus elo nggak pingin nyari dia?''
__ADS_1
''Nyari kemana? Jejaknya aja gue nggak tahu. Tapi ya sudahlah, itu juga cerita yang udah lama banget. Seandainya nyokap masih ada, pasti gue nggak perlu susah payah buat nyari Lili.''
''Sabar ya, El. Kita selalu berdoa, supaya elo happy terus.'' Kata Leon sembari merangkul sahabatnya itu dan Fandi ikut menimpali.
''Thanks ya.'' Singkat Elvan.
...****************...
Jam pulang kampus, Rendra menemui Alia dan mengajak Alia menuju taman yang berada di kampus. Mereka berdua duduk di bangku taman, di bawah pohon yang rindang.
''Ada apa Ren? Sampai kamu ngajakin aku kesini.''
''Nggak ada apa-apa kok, Al. Duduk disini rasanya nyaman dan tenang ya. Apalagi banyak bunga-bunga.''
''Iya kamu benar. Meskipun sudah siang tapi disini masih sejuk, namanya juga taman, hehehe.''
''Kamu baik-baik aja kan?''
''Nggak. Aku cuma khawatir aja sama kamu. Alia, aku mau bilang sesuatu sama kamu kalau aku cinta sama kamu. Bahkan sejak pertama kali aku bertemu dang mengenalmu, rasa itu semakin dalam. Aku tidak bisa mengendalikannya. Semakin sulit menepis rasa ini. Aku ingin melamar kamu dab menikahi kamu,'' kata Rendra dengan sejujurnya.
''Ren, bukankah kita sudah membicarakan ini dan kita sudah sepakat untuk menjalani ini. Bagaimana dengan doa sepertiga malam mu, Ren? Apakah benar ada aku dalam isyaroh-mu?''
''Maaf Al. Aku belum menemukan petunjuk tapi dalam sujud sepertiga malamku, aku merasa yakin bahwa kamu adalah jodohku. Karena aku semakin sulit untuk membendung semua ini, Al. Aku ingin segera menikahi kamu, aku akan membuat kamu bahagia.''
''Ren, kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu terkesan terburu-buru. Kamu harus bisa membedakan antara nafsu dan isyaroh itu.''
''Iya, Al. Tapi aku takut dan nggak mau kehilangan kamu, Al.'' Rendra kemudian berlutut di hadapan Alia. Rendra kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Alia sangat terkejut saat Rendra membuka kotak hitam itu.
__ADS_1
''Alia Fahia Ghazala, apakah kamu mau menjadi istriku dan berada disisiku untuk selamanya?''
''Ren, apa maksud kamu? Kamu melamar aku?''
''Iya. Aku sudah yakin dengan kamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hati aku.'' Mata Alia pun berkaca-kaca mendapat lamaran mendadak dari Rendra. Ada rasa bahagia dan terharu namun tiba-tiba muncul keraguan di sudut hati Alia. Bukan karena Ayah dan Andra tapi karena sesuatu yang sulit untuk Alia pahami. Tapi Alia juga tidak bisa mematahkan hati Rendra begitu saja. Dan ternyata, sepasang mata tanpa sengaja melihat dan mendengar percakapan antara Alia dan Rendra. Bahkan sepasang itu melihat bagaimana Rendra berlutut sembari menyodorkan sebuah kotak berisi cincin di hadapan Alia. Dada Elvan terasa amat sakit sekali, sesak dan nyeri. Karena sebelum itu, Elvan sedang menuju kelas Alia untuk mengajak Alia pulang tapi ternyata Alia sudah tidak ada di dalam kelasnya. Elvan pun memutuskan untuk mencari Alia. Elvan lalu menemukan Alia dan Rendra sedang duduk bersama di taman. Kemudian sepasang mata Elvan, melihat semua itu dengan jelas dan nyata. Ada rasa sedih, perih dan kecewa disudut hati Elvan. Elvan lalu berbalik dan segera pergi dari tempat itu dengan langkah gontai. Elvan kini benar-benar sulit memahami perasaannya.
''Alia, kenapa kamu diam?'' tanya Rendra.
''Ren, maafin aku.'' Ucap Alia lirih. Mendengar ucapan Alia, membuat Rendra menutup kembali kotak cincin itu dengan perasaan kecewa.
''Ren, seharusnya kamu datang ke rumahku. Dan mintalah pada Ayah. Karena saat ini, aku masih menjadi milik Ayah.'' Ucapan Alia, sedikit memberi kelonggaran di sudut hati Rendra.
''Jadi kamu mengijinkan aku ke rumah mu dan melamarmu secara resmi?''
''Iya. Temuilah orang tuaku, Ren. Kalau Ayah memberikan restu, insya allah aku akan menerima lamaran kamu.''
''Kamu sungguh-sungguh dengan ucapan kamu, Al?'' kata Rendra dengan mata berbinar.
''Iya.''
''Kalau begitu lusa aku akan menemui Ayah kamu. Kebetulan lusa kan hari sabtu, kuliah juga libur jadi aku akan memperisapkan segalanya.''
''Iya, Ren. Aku akan tunggu kedatangan kamu. Kalau begitu aku permisi ya. Assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam. Kamu hati-hati ya.''
''Kamu juga ya.'' Kata Alia.
__ADS_1
''Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku bisa melamar Alia dan sebentar lagi aku akan menikahinya,'' gumam Rendra dalam hati dengan rasa bahagia tak terkira.
Bersambung... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih 🙏😘