
Alia dengan perasaan marahnya segera keluar dan segera mengendarai motornya. Alia menyusuri gelapnya malam dengan tangisan. Ia menahan rasa sedihnya karena hampir di lecehkan oleh Elvan. Sekalipun Alia bisa tegar di hadapan mereka semua, namun hati Alia tetap rapuh. Hingga akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Alia buru-buru menyeka air matanya, ia tidak ingin melihat Ayah dan Andra tahu jika dirinya menangis.
''Assalamualaikum," sapa Alia sembari membuka pintu.
''Waalaikumsalam," jawab Andra dan Ayah kompak.
''Al, kamu tumben telat?"
''Maaf ya, Ayah. Soalnya tadi Mbak Santi nyuruh Alia buat antar baju. Itu motornya juga Alia bawa."
''Ayah hampir saja menyuruh Andra untuk menjemput kamu."
''Ya udah kalau gitu Alia mandi sekalian sholat isya' dulu ya."
''Kakak, nggak makan dulu aja. Mumpung masih anget. Ini sisa masakan aku di cafe lho."
''Iya, pasti habis ini Kakak makan. Kakak juga penasaran sama masakan kamu." Alia pun berlalu menuju kamarnya.
...***...
Endrew yang sedang bersantai di ruang keluarga, tertawa terbahak-bahak melihat handphonenya.
''Mas, kamu ngetawain apa sih?" sahut Milka, istri Endrew.
''Sini deh, sayang. Kamu pasti ketawa lihat ini." Kata Endrew. Milka kemudian mendekat dan duduk di samping Endrew.
''Elvan, Elvan. Dasar adik kamu ini, Mas." Kata Milka sembari tertawa.
''Memang siapa lagi yang menjadi bahan ejekan, Elvan. Kayaknya dia gadis baik-baik, Mas.''
''Namanya Alia.'' Endrew mendapat kiriman vidio dari anak buahnya, yang ia suruh untuk mengawasi Elvan.
''Kamu kenal dia?''
''Waktu aku ke rumah, Elvan. Dia anterin laundry ke rumah. Terus pas Elvan mabuk dan mau nimpa tubuh Alia, Alia reflek mendorongya dan akhirnya Elvan pingsan karena nggak sengaja terbentur batu hias."
__ADS_1
''Tapi dia keren lho. Dia bisa lawan Elvan. Lihat aja si Elvan, udah mempermalukan Alia tapi ternyata ujung-ujungnya malah dia yang di permalukan."
''Sekali-kali dia harus ngrasain di gituin, sayang." Meskipun Elvan selalu menolak perhatian Endrew, akan tetapi Endrew tidak pernah berhenti untuk memperhatikan Elvan. Terlebih saat Elvan mulai keluar malam, di situlah Endrew selalu menugaskan anak buahnya untuk mengawasi Elvan dari jauh.
...****...
''Nggak nyangka gue, efek plintiran tangan Alia bisa bikin tangan elo di perban gitu, El." Kata Fandi yang membuka obrolan pagi di dalam mobil.
''Gue heran tuh cewek makannya apa ya?" sahut Leon yang duduk di bangku belakang.
''Dia udah bikin gue celaka untuk kedua kalinya. Pertama pelipis gue dan sekarang tangan gue." Kata Elvan.
''Kita juga sih yang salah. Niat mempermalukan malah di permalukan. Apalagi cowok itu adiknya. Gue jadi merasa bersalah gini sama Alia." Kata Fandi yang tetap fokus memegang kendali stir mobilnya.
''Iya, ya. Gue tiba-tiba kok merasa bersalah juga ya." Sahut Leon.
''Kalian gimana sih kok pada plin plan. Nyuruh gue buat balas dendam tapi sekarang kalian malah merasa bersalah sama Alia." Kata Elvan yang kesal dengan teman-temannya.
''Sorry, sorry. Habis kita salah sangka sih. Gue sama Fandi udah gagal. Sekarang giliran elo maju dan rebut hatinya. Gue saranin, elo minta maaf sama Alia."
''Ide bagus sih. Dari situ elo bisa mengambil hati Alia. Kira-kira dia maafin elo apa nggak?" sahut Fandi.
Saat memasuki pintu gerbang kampus, Elvan dan kedua temannya melihat Alia turun dari boncengan motor adiknya. Dari balik kaca mobil, Elvan menyeringai melihat Alia.
''Kamu baik-baik ya di sekolah dan hati-hati."
''Iya, Kak. Aku jalan dulu ya. Assalamualaikum."
''Waalaikumsalam." Setelah melihat Andra jauh dari pandangannya, Alia segera masuk ke dalam kampus. Namun gerombolan tiga pria menghadang jalan Alia. Elvan menunjukkan tangannya yang di perban di hadapan Alia. Alia merasa tersentak dan merasa bersalah, tidak menyangka bahwa tenaganya mampu membuat tangan Elvan seperti itu.
''Ini karena elo. Dan lihat luka di pelipis gue. Dua kali elo udah bikin gue celaka." Kata Elvan dengan kesal.
''Untuk luka pertama kamu, aku sudah tanggung jawab dan aku yang mengobatinya. Dan untuk tangan kamu, itu salah kamu sendiri. Kamu sendiri yang tidak bisa menghargai perempuan. Kamu bisa di kenakan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP yang berbunyi, barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain. Dan juga kamu bisa aku tuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik lewat media elektonik. Kamu tahu, sanksi atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE diatur dalam Pasal 45 ayat (3) 19/2016 :
Setiap Orang yang sengaja dan tanpa hak batas dan / atau mentransmisikan dan / atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan / atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan / atau pencemaran nama baik yang dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara lama 4 (empat) tahun dan / atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)." Jelas Alia panjang lebar yang membuat Elvan dan kedua temannnya menganga tidak percaya dengan kecerdasan Alia. Baru kali ini ada seorang gadis, yang tidak bisa mengalahkannya dan membuat mereka tak berkutik.
__ADS_1
"Dasar geng ghibah." Kata Alia sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Hei, berhenti. Gue belum selesai ngomong, gue juga bisa tuntut elo balik karena melakukan kekeras." Teriak Elvan. Namun Alia hanya diam dan berlalu begitu saja.
"Gila tuh cewek. Dia smart juga. Ambil fakultas apa sih dia itu." Kata Fandi.
''Mana gue tahu." Sahut Leon. Elvan benar-benar kesal lagi-lagi ia di permalukan oleh Alia.
''Sial ! Dia tidak semudah itu untuk di kalahkan. Terus elo mau kita ngapain lagi. Udah lah nggak usah taruhan lagi, gue ogaj berurusan sama dia." Gerutu Elvan.
''Kesempatan bagus, El. Masak elo buaya kepala merah mau nyerah gitu aja sih. Kita dukung elo. Dua mobil, El. Lumayan kan." Bujuk Leon.
''Bukannya ini malah tantangan buat elo, El. Elo pengecut banget. Elo belum nyoba udah nyerah." Kompor Fandi.
''Hei, jangan ngatain gue pengecut ya. Oke, gue akan buktikan. Jangan sampai harga diri kita sebagai cowok di injak-injak sama dia." Kata Elvan dengan geram sambil mengeratkan rahangya.
****
"Al, Rich Man jalan kesini." Kata Rani sambil menyenggol bahu Alia. Namun Alia tidak bergeming dan melanjutkan menyantap baksonya.
''Al, mereka semakin dekat." Timpal Diana. Mereka bertiga langsung duduk di hadapan Alia.
''Gue mau minta maaf," ceplos Elvan yang seketika membuat Alia kaget dan terbatuk.
''Uhuk uhuk uhuk uhuk." Alia langsung menyambar minuman yang ada di hadapannya. Alia baru menatap Elvan. Tiba-tiba Elvan menjadi salah tingkah saat Alia melakukan kontak mata dengannya.
''Aku harap maaf kamu tulus." Sahut Alia.
''Gue juga minta maaf ya, Al." Sahut Fandi.
''Gue juga." Sahut Leon. Mereka kompak mengulurkan tangannya pada Alia. Namun Alia hanya mengatupkan kedua tangannya.
''Maaf ya, kita bukan muhrim."
''Eh, boleh minta foto nggak." Celetuk Rani. Alia mengerutkan keningnya melihat sikap centil Rani.
__ADS_1
''Boleh-boleh," jawab Elvan.
''Aku juga." Sahut Diana yang tak mau kalah. Mereka lalu foto berlima. Alia kemudian memilih beranjak dari duduknya dan segera menuju masjid untuk menjalankan sholat dzuhur.