Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"

Jodoh Sepertiga Malam "ALIA"
EPS. 43 Cemburu???


__ADS_3

Tak lama kemudian Bi Minah pun datang membawa segelas susu.


''Mbak, ini susunya.'' Kata Bi Minah.


''Iya, Bi. Tolong bangunkan Elvan dan suruh minum, Bi.''


''Aduh, Mbak maaf. Saya nggak berani. Saya takut. Mbak Alia aja ya. Nanti saya bantu.'' Kata Bi Minah.


''Ya udah kalau gitu, Bi.'' Kata Alia dengan berat hati. Alia lalu membangunkan Elvan dengan tongkat kruknya. Alia memukulkan pelan ke tubuh Elvan.


''El, bangun! Ini minum dulu,'' kata Alia. Namun Elvan tetap tidak bangun.


''Mbak, coba di angkat tubuhnya Den Elvan ke posisi duduk,'' kata Bi Minah. Alia pun merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Dengan ragu-ragu ia mencoba mengangkat tubuh Elvan, sesuai perintah Bi Minah. Alia lalu menyangga punggung Elvan dengan lengannya kemudian Elvan perlahan membuka matanya.


''Ini minum dulu,'' kata Alia sambil menyodorkan segelas susu. Elvan yang dalam kondisi setengah sadar, lalu menenggaknya sampai habis.


''Anak pintar. Mending minum susu sehat daripada minum alkohol,'' kata Alia. Tak lama kemudian perut Elvan begitu mual, ia segera menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


''Kalau udah bisa muntah lega tuh, Bi.''


''Saya nggak tahu bagaimana menasihati Den Elvan, supaya nggak mabuk. Hampir setiap hari seperti ini, Mbak. Bahkan selalu pulang malam. Baru kemarin aja, Den Elvan betah di rumah pas ada Mbak Alia. Dan baru kemarin Den Elvan sama sekali nggak minum,'' cerita Bi Minah pada Alia. Tak lama kemudia Elvan keluar dari kamar mandi.


''Gimana El, masih mual?''


''Nggak kok. Elo udah bawain makan?'' tanya Elvan pada Alia.


''Udah kok, El. Udah enakan?''


''Iya. Gue minum nggak terlalu banyak tadi cuma cara cepet buat nyadarin gue dari mabuk ya minum susu itu,'' kata Elvan yang telah sadar kembali. Meskipun raut wajahnya terlihat masih kusut dan matanya masih memerah.


''Tapi elo kok tahu?''


''Ya aku ngarang aja. Eh nggak tahunya mempan untuk kamu. Lagian ngapain sih minum kayak gitu. Selain nggak baik buat kesehatan, di agama kita juga di larang.'' Jawab Alia asal.


''Kebetulan juga aku bawa sup daging, biar besok pas bangun dia nggak hangover,'' gumam Alia dalam hati.


''Udahlah nggak usah ceramah, gue lapar! Gue mau makan,'' kata Elvan sembari berlalu meninggalkan kamarnya. Alia hanya bisa menghela nafas panjang dengan sikap Elvan.


''Sabar ya, Mbak. Den Elvan memang seperti itu. Susah banget di nasihatin,'' kata Bi Minah.


''Ya udah nggak apa-apa kok, Bi. Ya udah kita turun kalau begitu.''


''Iya, Mbak.'' Alia dan Bi Minah pun keluar dari kamar Elvan, mereka menyusul Elvan menuju ruang makan.


''Elo masak apa?'' tanya Elvan.


''Sup daging sama dadar jagung,'' kata Alia.


''Ya udah duduk. Temenin gue makan,'' kata Elvan. Alia hanya bisa diam dan menurut pada Elvan. Sementara Bi Minah pergi menuju dapur.


''Berdoa dulu, El,'' sela Alia saat Elvan hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


''Udah tadi dalam hati,'' jawab dengan nada sinis sambil melahap makanannya.


''Kenap Al, masakan elo semakin bikin gue ingat sama Mama. Makan masakan elo, bikin kangen gue sama Mama terobati,'' kata Elvan dalam hati sambil mencuri pandang pada Alia.


''Elo nggak makan?''


''Aku udah makan kok. Selesai kamu makan, aku pamit pulang ya.''

__ADS_1


''Oke. Jangan lupa sarapan besok.''


''Mau minta di masakin apa?''


''Gue pingin nasi goreng sama telur mata sapi. Sama buah potong ya.''


''Iya, insya allah.''


''Gue tunggu di kantin jam 8.''


''Iya, El. Insya Allah.''


...****************...


Keesokan paginya, Alia memasak sesuai permintaan Elvan. Sesampainya di kampus, Alia segera menuju kantin. Ia tak menyangka bahwa Elvan sudah tiba disana terlebih dahulu.


''Assalamualaikum,'' sapa Alia dengan senyum ramahnya.


''Wa-waalaikumsalam,'' jawab Elvan tergagap karena terpesona dengan kecantikan Alia. Sejenak Elvan terpana dengan kecantikan Alia, membuat matanya enggan melepaskan wajah Alia.


''Woi !" seru Alia sambil menepukkan tangannya di depan wajah Elvan. Elvan pun tercekat.


''Kenapa? awas, nanti jatuh cinta kelamaan lihat aku,'' goda Alia.


''Naksir? nggak lah,'' sangkal Elvan dengan sikapnya yang salah tingkah. Alia tersenyum melihat Elvan yang salah tingkah.


''Ya udah buruan makan. Nasi goreng, telur mata sapi. Jangan lupa berdoa dulu.'' Kata Alia pada Elvan. Namun seperti biasa, Elvan mengabaikan ucapan Alia. Saat Elvan akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, Alia memegang kuat tangan Elvam lalu menurunkannya. Alia kemudian mengambil sendok dari tangan Elvan dan meletakkannya. Alia lalu menengadahkan tangan Elvan dan membacakan doa makan untuk Elvan. Tiba-tiba jantung Elvan berdetak begitu cepat saat Alia memegang tangannya. Alia menuntun Elvan mambaca doa makan, seperti mengajari seorang anak kecil. Bukan memperhatikan Alia yang membantunya berdoa tapi justru mata Elvan menatap lekat wajah Alia.


''Amin,'' ucap Alia sambil menuntun tangan Elvan untuk membasuhkan telapak tangannya pada wajah Elvan sendiri.


''Gampang kan? masak berdoa gitu aja nggak bisa. Masak kalah sih sama Chelsea. Chelsea bisa sendiri tapi kamu minta di ajari,'' ledek Alia.


''Ya udah, aku ke kelas dulu ya.''


''Jangan! temani aku makan dulu,'' pinta Elvan.


''Nggak bisa apa makan sendiri,'' bantah Alia dengan kesal.


''Upah yang gue kasih, sudah termasuk service buat nungguin gue selesai makan.'' Kata Elvan yang membuat Alia tak berkutik.


''Assalamualaikum, Alia,'' sapa Rendra yang mengagetkan Alia.


''Rendra? waalaikumsalam. Ada apa?''


''Kamu disini sama dia ngapain?''


''Nemenin gue makan,'' sahut Elvan.


''Maaf tapi aku tanya sama Alia?''


''Iya dan gue yang jawab,'' ketus Elvan.


''Oh ya ini bawain kamu yoghurt, buatan aku sendiri. Dan ini bagus untuk tulang kamu.''


''Ya Allah, Ren. Nggak usah repot-repot.''


''Aku boleh duduk kan?'' tanya Rendra.


''Boleh-nggak!" sahut Alia dan Elvan bersamaan.

__ADS_1


''Ini kan tempat umum jadi silahkan aja, Ren. Nggak usah minta ijin.'' Kata Alia. Mendengar ucapan Alia, membuat Elvan kesal.


''Makasih ya, Al. Ya udah kamu cobain aja dulu.''


''Oke, aku cobain dulu,'' kata Alia sambil membuka cup berisi yoghurt.


''Gimana?'' tanya Rendra dengan antusias.


''Mmmm enak kok. Asamnya pas banget. Cocok lho kalau di masukin di daftar menu cafe kamu sebagai makanan penutup.''


''Baiklah, aku akan memasukannya dalam daftar menu cafe.'' Kata Rendra dengan senyum manisnya.


''Elvan, sayang,'' sapa Sandra tiba-tiba sambil merangkul Elvan.


''Ihhh, apaan sih. Sana-sana,'' ketus Elvan sambil melepaskan rangkulan Sandra.


''Jahat banget sih. Lho Ren, kamu disini?''


''Iya, San.''


''Ini siapa?'' tanya Sandra sambil menunjuk ke arah Alia.


''Dia Alia,'' jawab Elvan dan Rendra bersamaan.


''El, ada hubungan apa kamu sama dia?'' selidik Sandra.


''Nggak ada,'' ketusnya.


''Oh pasti ini pacar kamu ya, Ren?'' tanya Sandra pada Rendra.


''Bukan, San. Doain aja bisa jadi istri,'' celetuk Rendra yang membuat Elvan geram dan membuat Alia tersipu malu.


''Tapi cocok sih kamu sama si Alia ini. Elvan nggak cocok sama dia. Bukan tipe Elvan kali. Elvan kan sukanya kayak aku,'' kata Sandra.


''Ah banyak omong!'' kata Elvan yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan kantin. Dada Elvan terasa sesak melihat Rendra dan Alia yang saling melempar tatapan saling suka.


''El, tungguin,'' teriak Sandra sambil berlari mengejar Elvan.


''Ren, kamu tadi ngomong apa sih? nanti kalau ajdi gosip gimana?''


''Maaf ya, Al. Habis aku kesel lihat sikap Sandra yang seolah memandang kamu sebelah mata.''


''Kamu kenal dia?''


''Iya. Dia suka sama Elvan. Aku waktu itu bantu dia pas kakinya terkilir.''


''Oh gitu. Aku ingin hubungan kita, hanya kita dan Allah yang tahu.''


''Iya, maafin aku ya.''


''Ya udah aku mau ke kelas dulu.''


''Ya udah kamu hati-hati ya. Aku mau ke perpus.''


''Oh ya makasih ya buat yoghurtnya. Assalamualaikum.''


''Sama-sama Alia. Waalaikumsalam.''


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2