
Malam hari di tempat laundry...
''Al, kamu bisa bawa ini sekalian. Motornya kamu bawa aja." Kata Mbak Santi. Mbak Santi adalah bos, Alia. Laundry itu memanglah bukan laundry yang besar karena Mbak Santi baru enam bulan merintisnya. Meskipun begitu, Mbak Santi sudah punya banyak langgganan karena hasil laundry yang bersih, wangi dan rapi. Karyawan satu-satunya adalah Alia. Pertemuan Mbak Santi dan Alia pun baru berjalan tiga bulan. Alia senang bekerja dengan Mbak Santi karena Mbak Santi yang baik hati, sudah menerimanya bekerja paruh waktu. Padahal Mbak Santi sendiri masih belum terlalu membutuhkan karyawan. Di tambah hanya satu fokus pekerjaan yang di lakukan Alia. Yaitu hanya mengurus tumpukan baju saja, di tambah bekerja di laundry tidak menganggu waktu kuliahnya. Namun saat kuliah libur, Alia bekerja dengan full time.
''Nganterin baju kemana, Mbak?"
''Itu di night club. Ini stelan kemeja. Orangnya minta antar kesitu. Namanya Tuan Leon Mahendra. Kamu nanti tanya aja sama karyawannya. Karena club itu miliknya.''
''Lagian aneh-aneh aja sih, Mbak. Kenapa nggak kerumahnya."
''Stelan ini baru masuk tadi pagi dan minta malam ini selesai. Tapi mintanya di antar ke club situ. Kamu nggak apa-apa kan?"
''Nggak apa-apa kok, Mbak."
''Eh, Leon. Tapi kan aku juga nggak tahu nama panjangnya Leon itu. Nama Leon juga pasti banyak. Lagian nggak mungkin masak mahasiswa punya club. Pasti yang punya bapak-bapak mata keranjang," gumam Alia dalam hati yang berfikir begitu polosnya.
''Oh ya ini bonus buat kamu," kata Mbak Santi sambil menyodorkan selembar uang seratus ribuan.
''Mbak, ini kebanyakan. Aku kerjanya juga part time."
''Sudah kamu terima ya. Laundry kita semakin kesini semakin banyak pelanggan. Apalagi dengan jasa antar jemput baju seperti ini. Jadi para pelanggan makin senang. Maaf ya kalau aku menyusahkan kamu.''
''Tidak, Mbak. Aku senang kok kerja di sini.''
''Besok aku akan mencarikan kamu teman ya, sepertinya sekarang aku membutuhkan tambahan tenaga.''
''Iya, Mbak. Semoga laundry Mbak Santi makin sukses dan ramai ya.''
''Amin. Ya udah kamu hati-hati ya, Al. Sekalian kamu langsung pulang.''
''Iya, Mbak. Makasih ya. Assalamualaikum."
''Waalaikumsalam."
Alia segera menyalakan motor dan menuju club. Sesampainya di sana, ada rasa ragu di hati Alia. Ini adalah pertama kalinya Alia menginjakkan kaki di tempat ini.
__ADS_1
''Ya Allah, apakah aku berdosa. Tapi aku kesini hanya untuk mengantarkan setelan ini. Bismillah." Kata Alia yang mulai melangkahkan kakinya. Alia begitu terkejut, melihat pakaian para wanita yang begitu minim. Di tambah mereka berdansa mesra dengan para pria. Gerakan dansa yang begitu erotis. Suara musik begitu bising, Alia merasa bingung berada di tempat yang memang bukan tempatnya.
''Astaghfirullah, tempat macam apa ini. Maksiat sekali. Kenapa mereka suka sekali kesini?" gumam Alia dalam hati. Alia lalu menuju meja bar untuk bertanya tentang Leon Mahendra.
''Mas, apa Tuan Leon Mahendra ada? saya membawa stelan jasnya. Saya dari jasa laundry," kata Alia dengan suara setengah berteriak karena musik yang begitu keras.
''Oh Tuan Leon ada di sana." Kata pelayan itu sembari mengarahkan tangannya pada Leon yang sedang duduk di apit beberapa wanita seksi. Alia begitu terkejut melihat apa yang dia lihat. Alia dengan langkah ragu mendekati Leon. Namun Alia tetap berusaha bersikap biasa.
''Assalamualaikum,'' sapa Alia pada Leon. Leon menyeringai melihat kedatangan Alia.
''Waalaikumsalam, Alia."
''Ini pakaian kamu. Atas nama Leon Mahendra." Kata Alia.
''Iya, benar. Ini milik aku. Kamu kerja di laundry ya.''
''Iya. Ya udah aku pamit ya. Assalamualikum." Alia pun berbalik namun sudah ada tubuh seorang pria di hadapannya. Alia mendongakan kepala dan sangat terkejut melihat Elvan. Elvan tersenyum tipis menatap Alia. Leon mengangkat tangannya memberi kode pada DJ untuk menghentikan musiknya. Seketika suasana pun menjadi hening.
''Maaf aku mau lewat."
''Maaf kita bukan muhrim." Kata Alia dengan tegas.
''Oh, kejam sekali kamu. Beraninya kamu melawan aku ya. Udah lah nggak usah munafik. Sok-sokan nggak mau di peluk, nggak mau di sentuh tapi nyatanya sama aja.'' Sindir Elvan.
''Maksud kamu apa?" tanya Alia dengan tegas.
''Hei, dengerin kalian semua. Cewek ini nggak sebaik yang kalian kira. Jaman sekarang jangan percaya sama cewek yang terbungkus kayak gini. Mereka itu munafik. Luarnya aja alim tapi dalamnya sama-sama di obral."
''Tolong ya jaga ucapan kamu. Kamu jangan sembarangan bicara. Kita nggak pernah punya masalah sama sekali. Bahkan kita pun tidak saling mengenal dekat."
''Aku punya bukti atas semua kemunafikan kamu." Kata Elvan.
''Fandi, nyalakan proyektornya.'' Perintah Elvan. Fandi pun menanyangkan kedekatan dan adegan mesra antara Alia dengan Andra. Kemudian adegan Rendra dan Alia saat berada di kantin.
''Kalian lihat kan. Gadis sok alim ini, ternyata juga player dan bebas di jamah. Alia, sekarang buka saja jilbab mu di sini." Kata Elvan. Semua pengunjung yang ada di sana pun saling berbisik. Alia begitu marah dengan semua tuduhan Elvan.
__ADS_1
''Tuduhan kamu itu fitnah.'' Kata Alia degan geram
''Fitnah apanya? itu buktinya. Kamu di peluk, kamu di pegang. Sudah ayo, buka aja. Kita kan sama-sama brengsek, jadi tidak usah munafik dab berlagak sok alim." Kata Elvan. Tangan Elvan lalu berusaha menarik jilbab Alia untuk berusaha membukanya. Beruntung Alia dengan sigap menangkis tangan Elvan dengan kuat. Alia menangkis lalu memelintir tangan Elvan dan memutarnya kebelakang. Mereka semua terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Alia pada Elvan. Leon dan Fandi pun di buat melongo dan tidak bisa berkata apa-apa.
''Aduh, sakit. Lepasin,'' teriak Elvan.
''Aduh, Elvan. Remuk-remuk deh tuh tangan.'' Gumam Leon yang merasa ngeri dengan sikap Alia.
''Gimana nih, si Alia galak juga. Mati deh gue," gumam Fandi dalam hati.
''Tolong ya kalian dengar semua. Asal kalian tahu, cowok yang aku peluk itu adik kandung aku. Dan satunya lagi teman kampus aku. Kita hanya mengobrol biasa untuk memberikan sumbangan ke panti asuhan. Jelas kalian semua. Lagian jadi cowok hobinya jangan nyinyir. Kalau mau niat jahat jangan tanggung, di selidiki dulu. Mending kalian baca sholawat atau mengaji gitu di rumah daripada di sini dan nyiyirin orang lain. Dasar cowok tukang ghibah. Bikin jatuh reputasi cowok aja kalian." Kata Alia dengan tegas kemudian melepaskan tangan Elvan dan pergi berlalu meninggalkan club dengan rasa marah yang luar biasa. Para pengunjung bersorak mengejek pada Elvan.
''Huuuuuuuuu, cowok ghibah." Kata para pengunjung dengan kesal.
''Hei, diam kalian semua. Atau gue beli mulut elo semua." Kata Elvan dengan berteriak.
''El, gimana tangan elo? patah nggak?" kata Leon dengan panik.
''Tangan gue, kayaknya kesleo ini. Sumpah sakit banget." Keluh Elvan.
''Gue nggak nyangka si Alia yang kalem, bisa bengis juga.''
''Awas aja tuh cewek. Kalian juga pakai acara kayak gini, malu kan gue. Ternyata cowok itu adikya. Dari awal gue udah bilang kalau nggak mau ikutan.''
''Ya udah lah, jangan nyerah. Elo balas dendam dong udah di bikin malau sama dia. Elo besok pura-pura minta maaf. Terus deketin dia, kalau dia udah ada rasa sama elo, tinggalin deh." Kata Leon.
''Bener tuh ide, Leon. Gue setuju. Masak playboy nyerah.''
''Udah ya, jangan banyak bacot kalian. Sekalian antar gue ke rumah sakit. Tangan gue sakit, jangan-jangan tulangnya remuk.'' Kata Elvan.
''Iya, iya. Ayo kita ke rumah sakit. Lagian badan segede gini kalah sama cewek kayak Alia.'' Kata Leon.
''Elo bisa diam? mau gue gampar?" teriak Elvan
''Iya, iya sorry." Timpal Leon.
__ADS_1
...to be continued...