
''Ya Allah, aku nggak nyangka El, kamu nglakuin ini semua hanya untuk menjadikan aku bahan taruhan. Dimana hati nurani kamu? aku berusaha merubah pola pikirku untuk tidak menjudge kamu. Tapi kamu malah sebaliknya. Sikapmu bahkan sempat membuat ku berpikir bahwa kamu pasti memiliki sisi baik. Aku bahkan tidak pernah berpandangan buruk tentang kamu. Sekalipun semua orang tahu kamu seperti apa. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Jujur aku sangat kecewa dan marah sama Elvan. Aku selalu berusaha berpikir positif pada semua orang, bahkan dengan Elvan sekalipun. Tapi nyatanya, aku hanya sebagai taruhan saja, tidak lebih. Elvan sangat keterlaluan, begitu mudahnya merendahkan seorang wanita. Tapi aku akan menyelesaikan sisa delapan hari masak untuk kamu karena aku berhutang uang padamu. Setelah itu aku akan berhenti bekerja dengan mu. Cukup aku tahu bahwa kamu sangat keterlaluan.'' Gumam Alia dalam hati. Ternyata Alia mendengar obrolan Elvan dan dua sahabatnya. Saat Alia hendak memanggil Elvan untuk makan siang. Alia begitu kecewa saat mendengar ucapan Leon yang mengatakan bahwa jalan Elvan semakin mulus untuk mendekati Alia. Hingga Elvan dengan bangga dan sombongnya bahwa sangat mudah mendekati Alia. Namun Alia tidak sempat mendengar alasan Elvan menyuruhnya memasak karena masakan Alia, mengingatkan Elvan pada Mamanya. Seketika air mata menetes membasahi wajah cantik Alia. Namun Alia buru-bruru menyekanya dan berusaha bersikap biasa pada Elvan dan kedua sahabatnya.
''Elvan, makan siangnya udah siap,'' ucap Alia dengan lembut.
"Oh, oke. Come on guys, kita makan!" ajak Elvan.
"Pasti enak nih masakan Alia,'' kata Leon.
''Semoga kalian suka,'' kata Alia yang memaksa senyumnya. Mereka bertiga segera turun ke bawah menuju meja makan dan Alia mengekor di belakang mereka bertiga. Alia lalu kembali ke dapur dan meninggalkan mereka begitu saja. Sembari mencuci piring, Alia kembali menangis. Padahal apa yang dilakukan oleh Alia sangat tulus bahkan ia tak mengharapkan apapun. Bi Minah, yang baru saja kembali dari halaman belakang, melihat Alia menangis.
''Mbak Alia kenapa?'' tanya Bi Minah.
''Nggak apa-apa kok, Bi.''
''Nggak apa-apa kok nangis.''
__ADS_1
''Oh ini, saya lagi ingat sama almarhumah Bunda saya saja, Bi. Makanya jadi sedih begini,'' kata Alia yang terpaksa berbohong.
''Sabar ya, Mbak. Jangan berlarut dalam kesedihan, di doakan saja yang terbaik.''
''Iya, Bi. Kalau itu jelas saya lakukan, Bi.'' Ucap Alia sambil menyeka air matanya.
''Mbak Alia tahu nggak? kenapa Den Elvan minta Mbak Alia buat masak?''
''Kenapa Bi?''
'' Eh Mbak, kita ngobrol di kamar saya saja ya. Nanti ada yang dengar,'' bisik Bi Minah. Alia hanya mengangguk saja dan menuruti permintaan Bi Minah. Bi Minah lalu mengajak Alia ke kamarnya.
''Maaf ya Mbak, kalau saya seperti ini. Karena saya sangat ingin Den Elvan berubah. Dia tampan, kaya, mau apa saja dan mau ngapain aja bisa tapi sebenarnya hati Den Elvan kosong dan kesepian. Sebenarnya Den Endrew adalah saudara satu Ayah beda ibu.''
''Maksud Bibi bagaimana?''
__ADS_1
''Jadi dulu Tuan Tama dan Nyonya Tama, menikah bertahun-tahun namun tak kunjung mendapatkan anak. Jadi Nyonya Tama meminta Tuan Tama menikah lagi dengan Nyonya Elisa. Awalnya Tuan Tama menolak keras dan ingin bersabar menunggu sampai Tuhan memberikan mereka anak. Tapi Nyonya Tama sudah tidak sabar, sampai akhirnya Tuan Tama menikah lagi secara siri. Sampai akhirnya lahirlah Den Endrew. Rencananya, setelah Den Endrew lahir, Nyonya Tama kan mengambil Den Endrew tapi tiba-tiba saja Nyonya Elisa menolak dan melanggar kesepakatan. Di situ hati Nyonya Tama sangat hancur sekali, saking marahnya Nyonya Tama meminta Tuan Tama untuk menceraikan Nyonta Elisa. Tapi ternyata cinta itu tumbuh di hati keduanya. Tuan Tama tidak tega meninggalkan Nyonya Elisa dan Den Endrew kecil. Nyonya Elisa pun tidak masalah jika di anggap istri simpanan, asalkan jangan mengambil Endrew. Bahkan Nyonya Elisa selalu mengijinkan Nyonya Tama untuk mengunjungi atau bahkan mengajak Den Den Endrew menginap di rumah ini. Nyonya Tama akhirnya mengalah dan rela di madu karena Nyonya Tama sudah sangat terlanjur menyayangi Endrew. Hingga akhirnya Den Endrew berusia 5 tahun, di situlah Nyonya Tama akhirnya hamil.''
''Lalu bagaimana saat Nyonya Tama hamil? apa Papanya Elvan bahagia, Bi?''
''Sangat bahagia sekali, Mbak. Dan lagi, Nyonya Tama meminta Tuan Tama untuk mengakhiri pernikahannya bersama Nyonya Elisa. Tapi lagi-lagi Tuan Tama menolaknya, padahal Nyonya Tama tetap akan menganggap Endrew sebagai anak. Sampai akhirnya Den Elvan lahir ke dunia ini. Semua waktu pun tercurahkan untuk Den Elvan dan Nyonya Tama. Nyonya Elisa pun menyadari posisinya sebagai istri siri jadi Nyonya Elisa memberikan kebebasan dan tidak menuntut sama sekali. Sampai akhirnya Den Endrew besar dan sering menanyakan Papanya, di situlah Nyonya Elisa meminta waktu dari Tuan Tama, meskipun hanya satu kali dalam seminggu. Nyonya Tama pun mengijinkannya dan sama sekali tidak marah.''
''Lalu Mamanya Elvan meninggal kenapa Bi? Apa Elvan tahu kalau dia memiliki saudara lain?'' tanya Alia yang semakin penasaran dengan cerita Bi Minah. Rasa kecewa yang ia rasakan tadi, seolah ia lupakan.
''Nyonya Tama meninggal karena kecelakaan. Saat itu Den Elvan bersama Nyonya Tama. Mobil mereka terperosok ke tanah yang curam, beruntung sekali mereka segera di bawa ke rumah sakit. Tapi keadaan yang paling parah adalah Nyonya Tama. Di situlah Den Elvan seperti trauma karena kecelakaan itu dan dia menyaksikan sendiri Mamanya mengalami luka parah. Den Elvan selalu mimpi buruk. Sempat koma beberapa hari di rumah sakit dan akhirnya Nyonya Tama tidak bisa lagi bertahan. Den Elvan sangat syok. Dia menangis histeris, seolah ia tidak terima dengan keadaan itu. Sejak saat itu Den Elvan terus mengurung diri di kamar. Setelah seratus hari kepergian Mamanya, Tuan Tama kembali bersama Nyonya Elisa dan Den Endrew. Sepertinya Den Elvan mengetahui sesuatu yang ia simpan sendiri karena saat melihat Nyonya Elisa dan Den Endrew, mata Den Elvan seolah di penuhi oleh amarah dan kebencian. Padahal Nyonya Elisa sangat menyayangi Elvan. Den Elvan pun selalu membuat masalah yang memancing kemarahan Tuan Tama,'' kata Bi Minah yang berurai air mata
''Apa mungkin Elvan benci karena tahu di bohongi, Bi?''
''Sepertinya tidak begitu, Mbak. Karena baru saja tiba di rumah, Den Elvan langsung menghujat Den Endrew dan Mamanya. Den Elvan berteriak kalau Den Endrew dan Nyonya Elisa menjadi penyebab Mamanya meninggal. Kata-kata buruk selalu Den Elvan lontarkan pada Nyonya Elisa dan Den Endrew. Mulai dari merebut Papaku, merebut kebahagiaanku, perusak, parasit, entah apa saja yang Den Elvan ucapkan pada mereka. Tapi tak sedikitpun Den Endrew dan Nyonya Elisa marah.''
''Pantas aja saat itu Elvan memaki Kak Endrew seperti itu, ternyata itu alasannya,'' gumam Alia dalam hati.
__ADS_1
...Bersambung.... Jangan lupa like, komen dan vote ya, makasih........