
Lanjut....
''Sampai akhirnya, Tuan Tama yang tidak tahan dengan sikap Den Elvan, memutuskan untuk memisahkan mereka sejenak. Tuan Tama merasa kasihan pada Den Endrew dan Nyonya Elisa karena terus di hakimi oleh Den Elvan. Tuan Tama akhirnya membelikan rumah Nyonya Elisa dan rumah itu sekarang yang di tempati oleh Den Endrew dan Nona Milka. Hal itu semakin membuat Den Elvan merasa sakit dan merasa di abaikan. Setiap Papanya pulang kemari, Elvan selalu marah dan meluapkan marahnya pada Papanya. Namun Tuan Tama tidak memahami isi hati putranya. Tuan Tama justru frustasi dengan sikap Den Elvan yang semakin menjadi. Hingga pada akhirnya bisnis Tuan Tama semakin berkembang, membuat Tuan Tama harus meninggalkan Indonesia bersama Nyonya Elisa.''
''Apa Elvan dan Kak Endrew ikut bersama mereka?''
''Tadinya iya. Pak Tama berniat memboyong mereka ke luar negeri tapi Den Elvan menolak. Den Elvan ingin tetap disini, hidup bersama dengan kenangan Mamanya. Karena Den Elvan menolak ikut keluar negeri, akhirnya Den Endrew pun menolak. Den Endrew tidak tega jika harus meninggalkan Den Elvan sendirian disini. Akhirnya Tuan Tama dan Nyonya Elisa pergi ke luar negeri. Mereka pulang hanya tiga bulan sekali saja. Den Elvan pun selalu rajin mengunjungi makam Mamanya."
''Apa Kak Endrew tinggal disini juga, Bi?''
''Iya, Mbak. Tapi mereka tidak saling bertegur sapa. Terutama Den Elvan, sangat enggan bertegur sapa dengan Kakaknya. Bahkan Den Elvan enggan satu sekolah dengan Den Endrew saat masih SD. Saat Den Endrew, masuk SMA, Den Elvan meminta Den Endrew keluar dari rumah ini karena Den Elvan merasa tidak perlu di awasi lagi. Den Elvan meminta Den Endrew menginap disini, hanya saat orang tua mereka kembali dari luar negeri. Seolah kedua saudara itu hidup rukun satu atap. Tapi Den Endrew sama sekali tidak keberatan dengan sikap Den Elvan. Den Endrew tetap menyayangi Den Elvan dan sangat menjaganya. Kesalahan Tuan Tama adalah selalu membanggakan Den Endrew yang penurut dan pintar di hadapan Den Elvan. Bahkan Tuan Tama tak segan selalu membandingkan mereka berdua. Dan itu semaki membuat Den Elvan terluka. Karena saat itu Den Elvan suka bolos sekolah bahkan nilainya selalu merah, sedangkan Den Endrew selalu juara kelas. Padahal sebenarnya Den Elvan juga sangat cerdas dan pintar.''
''Mungkin Elvan seperti itu karena butuh perhatian, Bi. Pasti Elvan sangat terluka selama ini. Tapi Papanya tidak pernah peka dan menganggap sikap berontak Elvan sebagai kenakalan yang tidak bisa di tolelir lagi."
''Sepertinya memang seperti itu, Mbak. Di usia yang masih kecil, Den Elvan sudah di hadapkan pada situasi yang rumit. Maka dari itu, Tuan Elvan selalu melampiaskan marah dan kesepiannya dengan alkohol, dugem dan main sama cewek sana sini."
"Apa Tuan Tama tahu semua kenakalan Elvan yang ini, Bi?"
"Tahu Mbak. Bahkan sepertinya Den Elvan selalu sengaja mabuk, setiap kali Tuan dan Nyonya pulang. Dan sikap Den Elvan yang seperti itu, semakin membuat Tuan Tama marah dan semakin membuat Tuan Tama, membanding-bandingkan Den Elvan dengan Den Endrew. Tapi Den Elvan sama sekali tidak menghiraukannya, padahal saya tahu hatinya sangat terluka. Kalau bukan karena Nyonya Tama, mungkin saya sudah meninggalkan rumah ini. Karena rumah ini tidak sesejuk dulu, saat Nyonya masih ada disini. Nyonya sendiri yang meminta saya untuk tetap bersama Den Elvan. Saya juga sering sekali melihat Den Elvan menangis tapi saya tidak berani mendekatinya. Karena saya tahu Den Elvan selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kesepiannya dengan sikap nakalnya itu. Bahkan sampai detik ini, Mbak. Maafkan saya kalau Mbak Alia harus tahu semua ini. Saya sangat berharap, Mbak Alia bisa merubah Den Elvan menjadi lebih baik. Dan saya berharap Mbak Alia bisa membantu Den Elvan supaya tidak kesepian lagi. Saya sangat sayang pada Den Elvan, Mbak. Saya juga kasihan sama Nyonya Tama, nasibnya begitu buruk. Dulu saya juga sering mendengar nyonya Tama menangis tapi saya hanya bisa diam dan menyaksikan itu semua,'' tangis Bi Minah semakin menjadi dalam pelukan Alia. Alia pun ikut meneteskan air matanya.
''Insya Allah, Bi. Itu semua tinggal Elvan. Apakah dua bisa berdamai dengan masa lalu atau tidak? kita sama-sama berdoa untuk kebaikan Elvan.''
''Tolong jangan bilang sama Den Elvan ya, Mbak. Kalau Den Elvan tahu pasti marah, makanya saya minta kita ngobrol di kamar saya.''
__ADS_1
''Iya Bi, nggak apa-apa kok.''
''Terima kasih ya Mbak, sudah mendengar cerita saya. Karena Nyonya sendiri begitu dekat dengan saya. Entah kenapa saya merasa anda orang yang tepat untuk Den Elvan. Begitu banyak teman perempuan Den Elvan, tapi hanya dengan Mbak Alia, saya menceritakan semuanya.''
"Tapi saya sudah terlanjur kecewa dengan sikap Elvan, Bi."
"Kenapa Mbak? Apa Den Elvan melakukan kesalahan?"
"Saya tidak lebih dari barang taruhan, Bi."
"Maksud Mbak Alia apa?"
"Tadi saya dengar pembicaraan Elvan dengan teman-temannya. Elvan mendekati saya karena mendapat tantangan dari teman-temannya. Saya di pertaruhkan hanya demi sebuah mobil, Bi."
"Ya Allah, keterlaluan sekali Den Elvan. Gadis sholeha, cantik dan sebaik Mbak Alia, sampai di jadikan bahan taruhan. Mbak Alia tidak pantas di perlakukan seperti ini."
"Saya mohon, Mbak. Jangan tinggalkan Den Elvan. Saya yakin Den Elvan tidak benar-benar seperti itu. Saya tidak pernah melihat wajah Den Elvan sebahagia ini saat bersama Mbak Alia. Begitu banyak wanita yang mengelilingi Den Elvan tapi tidak ada yang bisa membuat wajah Den Elvan, se-sumringah ini, Mbak. Saya mohon maafkan Den Elvan, jangan tinggalkan dia mbak."
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Alia dalam hati. Alia hanya bisa terdiam mendengar ucapan Bi Minah. Alia pun menjadi bimbang.
"Alia! dimana elo?" teriak Elvan.
"Bi, itu Elvan manggil. Saya keluar dulu ya."
__ADS_1
"Iya, Mbak. Tolong ya Mbak di pikirkan lagi," ucap Bi Minah sambil menggenggam tangan Alia.
"Insya Allah, saya pikirkan lagi ya, Bi."
"Terima kasih ya, Mbak."
"Sama-sama, Bi." Alia pun segera keluar dari kamar Bi Minah. Alia menyeka sisa air matanya dan merapikan kembali pakaiannya.
"Ada apa?"
"Dari mana aja sih?"
"Aku dari belakang."
"Ya udah ayo ajarin gue sama yang lain."
"Iya, iya," jawab Alia pasrah. Alia lalu mengikuti langkah Elvan menuju ruang tengah di lantai atas.
"Oh ya sebelum belajar, bisa kan singkirkan sebentar botol-botol minuman itu?" kata Alia.
"Oh ini? oke." Kata Elvan. Elvan melirik kearah Fandi dan Leon, memberi kode untuk menyingkirkan botol-botol wine tersebut. Alia pun mulai mengajari mereka bertiga dengan telaten. Fandi dan Leon begitu serius mendengarkan Alia, sementara Elvan fokus menatap wajah cantik Alia. Elvan tersenyum, saat melihat Alia berbicara dan sesekali melempar senyumnya.
"Kalau dosennya kayak kamu, Al? aku betah banget di kelas. Aku pasti milih tinggal kelas lebih lama," goda Leon.
__ADS_1
"Masak sih? udah jangan gombalin aku. Gombalan kalian tidak akan mempan," kata Alia dengan senyum tipisnya.
Bersambung....