
''Assalamualaikum, Kak. Udah lama nunggunya?'' sapa Andra yang sudah sampai di tempat kerja Alia.
''Nggak kok. Ini juga baru tutup, Ndra. Oh ya, kita mampir beli lauk buat makan malam ya.''
''Nggak usah, Kak. Tadi Andra udah beli pecel lele di warung tenda ujung jalan sana.''
''Ya udah kalau gitu kita langsung pulang aja.'' Alia lalu berjalan tertatih dan naik ke atas motor Andra.
''Kak Alia kenapa? Jalannya kok pincang gitu,'' kata Andra yang merasa khawatir pada Kakaknya.
''Udah nggak apa-apa. Nanti kita ngobrol di rumah aja. Kasihan Ayah kalau nunggu.''
''Ya udah kalau gitu.'' Sesampainya di rumah, Andra membantu Alia berjalan dengan memapahnya.
''Assalamualaikum,'' seru Andra sambil mengetuk pintu rumahnya.
''Waalaikumsalam,'' sahut Pak Samir dari dalam sembari berjalan membuka pintu.
''Lho,lho kamu kenapa Alia?''
''Alia jatuh, Yah.'' Andra lalu membantu Alia duduk di kursi ruang tamu.
''Kok bisa jatuh gimana?'' tanya Pak Samir dengan suara panik.
''Tadi Alia habis nolongin anak kecil yang hampir saja ketabrak motor. Tapi Alia udah di obatin kok yah sama orang yang Alia selamatkan. Kebetulan itu keponakan langganan laundry Alia.''
''Ya Allah, nak. Kenapa sampai kayak gitu? Perlu di bawa ke tukang urut nggak?"
''Udah nggak apa-apa, Yah. Paling cuma kesleo biasa. Mending sekarang kita makan malam dulu ya, Yah. Ayah pasti belum makan dan Alia juga sudah lapar.''
''Ya udah, Kak. Biar Andra yang siapin ya.''
''Makasih ya, dek.''
...****************...
''Om, bangun, Om!" panggil Chelsea pada Elvan yang masih tertidur pulas.
''Masih ngantuk, ah, berisik!" ucap Elvan dengan malas.
''Chelsea mau berangkat sekolah, Om. Nanti Chelsea terlambat.'' Kata Chelsea sambil menggoyang-goyangkan tubuh Elvan. Mendengar ucapan Chelsea, Elvan perlahan membuka matanya. Ia melihat Chelsea sudah memakai seragam sekolah.
''Ya udah, kamu turun sana, cepat sarapan. Aku mau mandi.''
__ADS_1
''Iya, Om.'' Chelsea segera berlari menuju meja makan. Disana Bi Marni sudah menyiapkan sarapan.
''Pagi, Nona manis,'' sapa Bi Marni dengan ramah.
''Pagi, Bibi yang cantik.''
''Om Elvan mana?''
''Om Elvan masih mandi, Bi.''
''Ya udah, Nona sarapan dulu ya.''
''Makasih, Bi.'' Tak lama kemudian Elvan menyusul menuju meja makan.
''Di habisin ya, Cheal.''
''Iya, Om. Makasih ya, Om udah temenin Chelsea sarapan.'' Mendengar ucapan keponakannya, Elvan hanya mengangguk malas. Kemudian Elvan mendengar ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Nama Endrew ada di layar ponselnya. Elvan menyalakan mode speaker, supaya Chelsea bisa mendengarnya.
''Ada apa?'' tanya Elvan dengan nada ketus.
''Chelsea sudah bangun dan sarapan?'' tanya Endrew di seberang sana. Elvan lalu memberikan ponselnya pada Chelsea.
''Halo, Daddy. Chelsea sudah bangun dan sarapan kok. Daddy sama Mami kapan pulang?''
''Iya, Daddy. Chelsea tungguin kok.'' Elvan kemudian merebut ponselnya dari Chelsea.
''Kalau pergi jangan lama-lama, emang gue baby sitter apa.'' Ketus Elvan yang kemudian memutus sambungan teleponnya.
''Om kayaknya benci ya sama Daddy? Apa Daddy punya salah sama Om?" tanya Chelsea dengan ragu-ragu.
''Kamu anak kecil nggak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Udah cepat dihabisin makanannya. Om mau ke kampus juga.''
Selesai sarapan pagi, Elvan segera mengantar Chelsea ke sekolah, kemudian ia pun segera berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, Elvan yang baru saja turun dari mobil, melihat Alia turun dari motor Andra. Terlihat Alia berjalan tertatih.
''Tuh cewek, di suruh berobat malah uang sok-sokan nggak di ambil. Sok jual mahal,'' gerutu Elvan. Kemudian Elvan melihat Rendra mendekati Alia yang berjalan sendirian.
''Al, kamu kenapa?''
''Nggak apa-apa, Ren. Cuma jatuh aja.''
''Tapi kayaknya kamu kesakitan banget. Kenapa nggak di bawa ke klinik saja.''
''Kaki elo masih sakit? Kenapa nggak periksa? Sok-sokan ogah nerima uang dari gue,'' sahut Elvan tiba-tiba.
__ADS_1
''Bukanya nggak mau tapi segala sesuatu tidak bisa di ukur dengan uang.''
''Halah, sok munafik. Mending elo periksa soalnya gue nggak mau di salahin atau hutang budi sama elo.'' Andra yang berada bersama mereka merasa bingung, apa yang terjadi antara Alia dan Elvan. Elvan yang kesal mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyelipkan uang itu pada telapak tangan Alia.
''Nggak usah, El.'' Tolak Alia yang memberikan uang itu pada Elvan kembali.
''Udah lah jangan keras kepala. Ini bentuk tanggung jawab gue. Gue nggak mau elo mikir gue nggak tanggung jawab.'' Kata Elvan yang menyelipkan uang itu kembali.
''Aduh, kalian ini kenapa sih? Ada apa sih Al?'' sela Rendra yang kesal pada Elvan.
''Udah, elo nggak usah ikut campur.'' Kata Elvan dengan ketus.
''Ayo, Ren, kita ke kelas.''
''Ya udah ayo aku antar.'' Kata Rendra yang membantu Alia berjalan. Elvan merasa kesal di tolak oleh Alia dan di abaikan begitu saja. Namun saat Alia berjalan, tiba-tiba ia terjatuh.
''Aw,'' rintih Alia.
''Astaghfirullah, Al. Kamu hati-hati. Sini aku bantu.'' Kata Rendra yang begitu khawatir melihat Alia terjatuh. Elvan yang kesal dengan sikap keras Alia, menghampiri Alia yang terjatuh.
''Makanya jangan keras kepala. Kaki elo kalau di biarin bisa parah,'' marah Elvan pada Alia. Elvan yang merasa geram, terpaksa menggendong depan Alia. Elvan mengalungkan lengan Alia pada lehernya, kemudian kedua lengannya berusaha menyangga tubuh dan kaki Alia.
''Elvan! Lepasin! Bukan muhrim.'' Kata Alia dengan kesal.
''Udahlah bodoh amat. Elo lagi sakit juga, udah jangan bawel.'' Balah Elvan dengan ketus.
''Elvan, elo mau bawa Alia kemana?'' tanya Rendra.
''Ke rumah sakit! Emang menurut elo kemana? Ke hotel? Dia bukan level gue,'' ketus Elvan pada Rendra. Elvan kemudian berlalu meninggalkan Rendra dan membawa Alia masuk ke dapam mobilnya.
''El, semua orang lihatin kita.''
''Bodoh amat! Udah diam aja. Kita ke rumah sakit sekarang.'' Elvan mulai menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah sakit.
''Fan, Fan, itu mobilnya si Elvan kemana? Baru sampai kenapa balik lagi,'' kata Leon pada Fandi yang melihat mobil Elvan keluar dari kampus.
''Emang tuh anak selalu bikin masalah. Dia nggak tahu apa kalau hari ini ada kuis.'' Kata Fandi.
''Kali ini kita nggak usah ikut campur. Karena ini terakhir kalinya buat kita nunjukkan sama boka nyokap, kalau kita berubah. Sekalipun kita dapat nilai hancur tapi kan kita nggak bolos lagi,'' sahut Leon.
''Iya deh, daripada semua fasilitas di cabut kan bisa mati gaya kita,'' timpal Fandi.
bersambung....
__ADS_1