Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
09. Indah, namun pilu


__ADS_3

"Dia pasti menang, aku melihat cara dia mewarnai bagus sekali," Ucap Putra saat dirinya duduk bersebelahan dengan Tasya yang menunggu Rafis sedang berlomba.


Tasya menatap Putra yang tersenyum seraya memandangi Rafis yang sedang asik mewarnai. Lalu Tasya tersenyum dan ikut memandangi Rafis yang duduk diantara anak-anak yang ikut serta berlomba di restoran cepat saji tersebut.


"Terima kasih atas pujian nya kepada Rafis."


Putra tersenyum dan memandangi figur wajah Tasya yang begitu sempurna.


"Maaf, boleh aku bertanya?"


Tasya menoleh dan membalas tatapan Putra, lalu ia mengangguk dengan ragu.


"Apa itu Mas?"


"Tetapi aku mohon maaf sebelumnya, bila tidak berkenan untuk di jawab, lebih baik katakan saja."


"Ya... apa dulu pertanyaan nya?" Tanya Tasya.


Putra mencoba mengukur ekspresi wajah Tasya yang juga sedang menatap dirinya. Setelah ia merasa pertanyaan nya tidak akan membuat Tasya marah kepadanya, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Kemana ayah nya Rafis?"


Tasya mengalihkan pandangan nya saat pertanyaan itu akhirnya terlontar dari bibir lelaki yang sedang duduk di sampingnya.


"Oh.. kami bercerai." Jawab Tasya dengan singkat dan padat.


Putra menghela nafas dan mengangguk paham.


"Maaf bila aku bertanya seperti itu."


"Tidak apa-apa mas. Memang kamu perlu tahu, agar tidak ada pertanyaan lagi." Tasya mencoba tersenyum dan memaklumi pertanyaan dari Putra.


"Terima kasih atas pengertian nya," Ucap Putra yang di sambut senyuman canggung dari Tasya.


"Sekarang dia dimana?" Sambung Putra lagi.


Tasya terdiam beberapa saat dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Ah, maaf.. seperti yang aku bilang sebelumnya, tidak apa-apa bila memang tidak perlu di jawab." Sergah Putra.


Tasya masih terdiam membisu, sejurus kemudian matanya kembali menatap Rafis yang hampir saja menyelesaikan perlombaan tersebut.


"Aku minta...


" Dia di rumah sakit jiwa mas," Potong Tasya.


Saat itu juga Putra terkejut dengan tatapan yang tak percaya.


"Sorry, apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak." Tasya menoleh kepada Putra dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ah... aku turut prihatin."


"Tidak apa-apa." Sahut Tasya.


Lalu hening.


"Mama!" Rafis berlari ke arah Tasya dan memeluk Tasya dengan erat.


"Kamu sudah selesai?"


"Sudah ma.." Rafis tampak begitu ceria, ia juga memberikan senyuman manisnya kepada Putra yang juga sedang tersenyum kepada dirinya.


"Mama, ayo kita main.."


"Tidak makan dulu?" Tanya Tasya dengan penuh perhatian dan keibuan yang membuat Putra terpukau karenanya. Selama ini Putra belum pernah jalan dengan wanita yang sudah memiliki anak, dan dirinya juga belum pernah menemukan wanita yang selembut Tasya. Hal itu membuat jantung nya mulai berdetak kencang, dan hal ini baru ia rasakan dua kali saja sepanjang hidupnya. Yaitu, dengan Queen dan kini dengan Tasya. Saat itu juga Putra mulai merasakan hal yang berbeda. Ia menyadari bila Tasya wanita yang berbeda dari wanita-wanita sebelumnya. Entah mengapa ia memiliki rasa kagum yang tidak bisa ia bendung dari pikiran nya.


"Rafis belum lapar ma, nanti kan dapat hadiah makan dari sini. Rafis mau main dulu ya." Rafis tampak memohon dengan mimik wajah yang membuat siapa saja luluh karenanya.


"Baiklah.. mau main dimana kita? Tapi waktunya hanya satu jam ya sayang, karena akan ada pengumuman siapa pemenangnya nanti. Jadi, setelah satu jam, kita harus kembali kesini lagi, ok?"


"Ok ma..." Rafis melompat girang.


"Ayo kita ke Game zone!" Seru Putra seraya menggendong tubuh mungil Rafis.


Sikap Putra membuat Tasya terpaku dan sekaligus tak percaya.


"Horreeeee..!" Rafis tampak begitu bersemangat dan nyaman dengan Putra.


"Rafis, turun ya.. kamu berat, nanti om nya capek." Tasya mencoba mencari alasan agar Rafis turun dari gendongan Putra.


"Sudah tidak apa-apa, aku senang melakukan nya," Putra tersenyum lebar. Lalu lelaki itu melangkah keluar dari restoran cepat saji tersebut, sambil menggendong Rafis yang terlihat begitu nyaman di dekapan Putra.


Tasya terdiam, matanya terus menatap Putra dan Rafis yang sempat bercanda dan tertawa bersama.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Tasya. Lalu ia pun mengikuti Putra yang berjalan menuju area bermain anak-anak di Mall tersebut. Tasya terus menatap Putra dan Rafis dari belakang. Perasaan nya bercampur aduk, hingga ia tidak tahu, perasaan mana yang harus ia ekspresikan saat ini.


"Nah.. kita sampai. Rafis mau main apa?" Tanya Putra.


"Itu om, biar dapat kupon. Nanti kupon nya bisa di tukar hadiah!" Ucap bocah laki-laki itu dengan bersemangat.


"Ok baiklah. Kita belum kartu nya dulu yuk." Putra yang baru saja menurunkan Rafis dari gendongan nya pun menggandeng tangan mungil bocah laki-laki itu menuju ke penjual kartu untuk dapat bermain di arena tersebut.


"Mas, biar saya saja yang beli."


"Sssttt.. sudah, biarkan aku yang membelinya. Kamu tunggu saja di sana ya." Putra menunjuk kursi tunggu yang berada di dalam area bermain tersebut.


Tasya kembali terperangah melihat sikap Putra yang bersikap selayaknya ayah dari Rafis.


"Tapi mas..."


"Kamu tenang saja ya..."

__ADS_1


Kali ini Tasya tidak mampu berkata-kata. Ia melangkah menuju ke arah kursi tunggu dan duduk di sana. Lutut nya terasa lemas, dadanya berdegup kencang, hatinya terasa begitu risau. Pikiran nya terlihat kacau karena terlalu banyak hal yang terlintas di sana. Matanya terus menatap Putra dan Rafis yang tampak semakin akrab.


"Ya Allah, bagaimana bila Rafis nyaman dengan lelaki itu?" Batin nya.


Perasaan itu semakin tidak terkendali saat Tasya melihat Putra dan Rafis tertawa bersama, saat mereka sedang bermain hampir semua permainan di arena bermain tersebut. Saking tidak terkendali nya, tubuh Tasya pun terlihat gemetar. Ingin sekali ia menarik Rafis menjauh dari Putra. Tetapi, senyum bahagia anak semata wayangnya itu membuat dirinya tak kuasa. Terlebih saat ia melihat Rafis memeluk dan mencium Putra dengan wajah yang begitu tulus.


.


"Om,"


"Ya?" Putra menatap Rafis yang baru saja melemparkan bola terakhir dari permainan lempar bola yang baru saja mereka mainkan bersama.


"Rafis boleh panggil om papa?"


Deggggggg...!


Seketika dada Putra terasa sesak, matanya mulai menatap Rafis dengan tatapan haru. Putra berjongkok di depan Rafis dan menatap kedua mata yang masih begitu polos tersebut.


"Kamu mau memanggil om dengan sebutan papa?" Tanya Putra dengan tak percaya.


"Iya om, Rafis kan tidak punya papa kayak teman-teman Rafis yang di sekolah. Rafis juga tidak tahu kemana papa rafis perginya. Jadi, Rafis senang sekali bila ada papa yang bisa mengajak Rafis bermain seperti ini."


Putra menelan Saliva nya, lalu ia menghela nafas panjang dan dahinya mulai berkeringat saat mendengar ucapan yang memilukan dari bibir mungil Rafis. Ia mulai salah tingkah, dan menatap Tasya yang juga sedang memandangi dirinya dan Rafis di kursi tunggu tak jauh dari dirinya.


Putra sekali lagi menarik nafas dalam-dalam dan kembali menatap kedua manik mata milik Rafis.


"Kamu mau om jadi papa kamu?"


"Mau om!" Seru Rafis tanpa ada keraguan sedikitpun.


Putra tersenyum canggung, lalu ia meletakkan kedua tangan nya di bahu mungil Rafis.


"Ok, kamu bisa memanggil om dengan sebutan papa. Om tidak keberatan, justru om merasa senang sekali."


"Beneran om?" Wajah Rafis tampak begitu bahagia saat mendengar ucapan Putra.


"Iya," Putra menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar kepada Rafis.


"Asik! Rafis punya papa! Rafis punya papa!" Bocah itu berteriak kegirangan seraya memeluk Putra dengan erat. Semua mata menatap bocah laki-laki itu dengan tatapan bingung dan juga haru. Pun dengan Tasya yang mulai terlihat bingung dan juga merasa sedikit malu, karena anak nya mengundang perhatian banyak orang, karena ucapan nya yang begitu bahagia saat mengatakan dirinya kini telah memiliki seorang papa.


"Rafis, sudah satu jam sayang. Kita kembali ke sana ya.." Dengan cepat, Tasya menghampiri Rafis dan menggendong buah hatinya itu.


"Ma.. Rafis mau di gendong sama papa saja." Rafis meronta dari gendongan Tasya.


"Rafis... tapi.."


"Sudah tidak apa-apa."


"Mas..."


"Nanti kita bicara." Sahut Putra seraya meraih tubuh mungil Rafis dan menggendongnya kembali menuju ke restoran cepat saji, dimana lomba yang Rafis ikuti berada.

__ADS_1


Lagi-lagi Tasya hanya bisa pasrah, ia hanya bisa menatap Putra dan Rafis yang berjalan di depan nya dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Sungguh pemandangan yang indah sekaligus pemandangan yang memilukan hati Tasya.


__ADS_2