Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
24. Undangan


__ADS_3

"Pagi," Sapa Banyu, saat dirinya bertemu dengan Tasya di restoran hotel, saat dirinya hendak menyantap sarapan pada pagi ini.


Tasya mengangkat wajahnya dan menatap Banyu yang terlihat baru saja bercukur. Wajah lelaki itu terlihat lebih bersih dari kemarin, yang dihiasi jenggot dan kumis tipis yang berbaris di atas bibir nya dan dari rahang hingga dagunya.


"Pagi mas," Sahut Tasya seraya membetulkan kerah kemeja putih yang melekat di tubuhnya.


"Sudah dari tadi?"


Tasya hanya mengangguk dan tersenyum kepada Banyu. Sedangkan lelaki itu menarik kursi yang berada tepat di depan Tasya.


"Eh lupa, aku boleh duduk di sini?"


"Boleh kok mas,"


"Terima kasih." Banyu meletakkan piringnya dan beranjak duduk di depan Tasya. Tasya terus memperhatikan gerak gerik lelaki yang membuat dirinya tidak dapat tidur tadi malam.


"Kita sudah bisa pulang?" Tanya Banyu seraya menyendok kan nasi dan lauk yang ada di dalam piring miliknya.


"Kata mbak Riyanti, kita bisa berangkat nanti siang. Kemarin katanya dia sedang sibuk."


"Oh.." Banyu mengangguk paham sembari mengunyah sarapan nya.


"Sebelum pulang, kita di suruh ke kantor lagi mas, untuk make sure, apakah ada yang terlewatkan atau tidak."


"Ok." Lagi-lagi Banyu mengangguk dan menjawab dengan singkat.


"Mas, mas kan yang akan mengisi semua mebel untuk kantor ini. Mas apa tidak pusing? Belum tata letak mebel yang di sesuaikan untuk ruangan nya."


Banyu menatap Tasya dan menggelengkan kepalanya.


"Apa lagi jauh-jauh ke Semarang." Sambung Tasya lagi.


"Aku dan bos mu itu sangat dekat. Dia adalah kakak kelas ku dulu di SMK. Jadi, bagaimanapun, dia berusaha untuk memberikan aku pekerjaan. Maklum lah, pekerjaan ku ya begini lah."


"Begini bagaimana mas?"


"Ya.. menunggu orang lain memberikan pekerjaan." Sahut Banyu.


"Ah mas Banyu merendah." Tasya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Serius, ya.. kadang ada juga sih masukan dari kantor lain, atau perumahan yang ingin rumah contoh nya di isi dan di tata. Juga dari orang-orang yang tidak mau ambil pusing dengan perabot dan bagaimana cara menatanya."


"Selain itu? Apa mas punya usaha lain?" Tanya Tasya penasaran.

__ADS_1


Banyu hanya tersenyum dan melanjutkan makan nya.


"Apa aku menyinggung ya, karena bertanya seperti itu?" Batin Tasya.


"Hmmm... mas.."


"Kamu cantik pagi ini." Potong Banyu, seraya menatap Tasya dengan sorot mata yang teduh.


Seketika bibir Tasya terkunci rapat. Ia menjadi lupa akan perkataan yang akan ia lontarkan untuk Banyu.


"Terima kasih," Ucap Tasya seraya menundukkan wajahnya.


Banyu hanya tersenyum dan meraih air putih miliknya dari atas meja.


"Pukul berapa kita ke kantor?"


Tasya memberanikan diri menatap Banyu, "Habis sarapan ini, kita bisa jalan," Ucap Tasya, lalu ia kembali menundukkan wajahnya.


.


"Pagi..." Sapa Putra saat ia baru saja memasuki ruangan kelas tempat ia memberikan materi pelajaran hari ini untuk para mahasiswa dan mahasiswi nya.


"Pagi pak.." Sahut seluruh anak didik Putra.


"Buka buku, halaman lima puluh dua." Perintah Putra pada seluruh anak didiknya. Serentak mereka semua mengeluarkan buku dari dalam tas mereka dan membuka halaman yang dimaksud oleh Putra.


"Materi kita hari ini adalah....


Tok! Tok! Tok!


Belum sempat Putra melanjutkan ucapan nya, terdengar ketukan dari luar pintu ruangan itu. Putra menatap kearah pintu dan terlihat seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan itu.


"Pagi pak, ada yang mau berbicara dengan bapak."


"Saya?" Tanya Putra pada dosen yang sedang berbicara kepada dirinya.


"Ya, di tunggu di kantor sekarang juga. Mari pak.."


"I-iya." Ucap nya dengan wajah yang tampak penuh dengan tanda tanya.


"Kalian baca dulu saja materinya yang tertulis di buku. Nanti saya kembali lagi," Ucap Putra, seraya meninggalkan ruangan tersebut. Ia sempat menghela nafas sambil berjalan menuju ke arah kantor para dosen.


Putra membuka pintu ruangan dosen dan mendapati beberapa orang bertubuh tegap yang berdiri di depan meja milik nya. Sedangkan seorang lagi tampak sedang duduk dengan santai sambil menatap dirinya yang terlihat sedang mencoba mengenali sosok tersebut.

__ADS_1


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Putra setelah ia beranjak mendekati sosok lelaki paruh baya, dengan setelan jas yang tampak mahal.


Lelaki paruh baya itu tersenyum, dan tampak sedikit menghela nafas sebelum ia menaruh ponsel nya di atas meja milik Putra.


"Bapak siapa?" Tanya Putra seraya terus menatap lelaki paruh baya itu.


"Perkenalkan, saya orang tua dari Alia.


Seketika raut wajah Putra berubah drastis. Ia tampak sedikit tidak nyaman dengan kehadiran orang tua Alia dan beberapa bodyguard nya tersebut.


"Oh.. salam kenal pak, saya Putra dosen nya Alia. Ada yang bisa saya bantu?" Putra terlihat mencoba biasa saja, menganggap bila Orang tua Alia tidak tau masalah dirinya dengan Alia. Tetapi satu sisi Putra terlihat grogi saat di ruangan itu tampak masih ada beberapa dosen yang menunggu jam pelajaran nya tiba.


"Saya dengar, bapak dosen baru disini. Oh iya, siapa namanya tadi? Putra Kartawijaya," Ucap Anton dengan gaya mengeja nama Putra.


"Ya, saya baru mengajar beberapa bulan di sini. Ada apa ya pak? Ada yang bisa saya bantu tentang Alia?" Tanya Putra, tetapi mata nya terus mencoba melihat reaksi para rekan kerja nya yang masih berada di meja nya masing-masing.


"Perkenalkan, saya Anton. Penyumbang dana terbesar di Universitas ini."


"Ah... Senang berkenalan dengan bapak. Ada yang bisa saya bantu?" Lagi-lagi Putra tampak grogi dan terus bertanya hal yang sama kepada Anton.


"Saya ingin mengundang Anda ke rumah saya malam ini. Saya tidak ingin ada penolakan, kalau anda masih mau mengajar di universitas ini. Bagaimana pak Putra Kartawijaya?"


Seketika wajah Putra tampak memucat. Ia terus menatap Anton yang terlihat sedang menatap dirinya dengan penuh makna tersembunyi.


"Kalau boleh tahu, ada apa ya pak? Hmmmm, maksud saya, ada acara apa sehingga bapak mengundang saya langsung."


Anton tersenyum sinis, lalu ia mencondongkan tubuhnya ke arah Putra.


"Saya ingin membicarakan keseriusan anda dengan putri saya."


Deg!


Putra menahan nafas beberapa detik, lalu ia kembali menghembuskan nafasnya setelah Anton kembali duduk di bangku nya. Sebenarnya Putra ingin membahas di situ, tetapi ia merasa takut bila rekan-rekan nya mendengarkan pembicaraan dirinya dengan orang tua dari salah satu mahasiswinya tersebut.


"Bagaimana? Saya tidak suka penolakan," Ucap Anton dengan gaya nya yang terlihat dingin dan datar.


"Pu-pukul berapa saya bisa datang?" Tanya Putra dengan wajah yang pucat pasi.


"Saya tunggu pukul tujuh malam. Saya harap anda datang. Bila tidak, anda akan lihat sendiri akibatnya." Ancam Anton.


Putra mengangguk dengan ragu. Lalu ia menghela nafas nya yang terasa hampir putus.


Anton beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan para bodyguard nya. Melihat Anton meninggalkan ruangan itu, kini Putra dapat bernafas lega. Namun ada perasaan kesal dan dendam pada sosok gadis manis bernama Alia. Putra sudah tahu apa yang dimaksud oleh Anton dengan cara mengundang Putra secara pribadi untuk datang kerumahnya.

__ADS_1


Tentu saja, ini semua adalah jebakan Alia yang menghalalkan segala cara untuk membuat Putra tunduk kepada dirinya.


__ADS_2