Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
92. Sampai berjumpa lagi


__ADS_3

Suara burung bersahutan dari pohon satu ke pohon lain nya. Suasana di pagi hari ini begitu syahdu, karena matahari di selimuti awan. Meskipun tidak mendung, namun udara terasa begitu teduh. Tasya dan Banyu berjalan menyusuri komplek pemakaman. Tentu saja mereka berkunjung untuk melihat makam Tika yang berada di komplek pemakaman itu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Banyu dan Tasya, saat mereka baru saja menghentikan langkah kaki mereka tepat di depan makam Tika.


Banyu dan Tasya berjongkok di sisi kanan makam tersebut. Terlihat di tangan Tasya sekeranjang bunga, serta dua botol air yang sengaja ia beli dengan pedang bunga yang berada di depan makam tersebut. Banyu menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama Almarhumah istrinya itu.


"Apa kabar kamu disana?" Ucap Banyu lirih, sedangkan Tasya hanya diam di sisi Banyu yang terus mengusap lembut batu nisan tersebut.


"Tika, wanita ini tidak perlu aku perkenalkan kepadamu. Kamu pasti sudah mengenalnya, dia pernah mengunjungi kamu bersama dengan Queen."


"Tika, aku sudah menikah dengan nya. Kini, dia adalah istriku. Aku harap, kamu akan bahagia melihat aku bersama dengan nya saat ini. Karena tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Aku akan di rawat olehnya dengan sebaik-baiknya. Pun dengan ku, aku akan merawat dan menjaganya dengan sepenuh hatiku."


Tasya melirik Banyu, lalu ia Mengundukkan wajahnya, karena ia dapat merasakan duka Banyu yang masih belum tuntas, sejak kehilangan Tika.


"Dia adalah wanita yang baik, wanita yang dapat membuat hatiku merasakan cinta lagi setelah kehilangan dirimu."


"Tika, aku kesini untuk meminta restu mu dan anak kita. Izinkan aku memulai hidup baru dengan Tasya. Kami berjanji, aku dan tasya akan rutin mengunjungi kamu dan merawat makam mu selama kami masih di dunia ini. Beristirahat lah, jangan lagi mengkhawatirkan aku disini."


Banyu menatap Tasya, lalu ia meraih bahu Tasya dan menarik Tasya untuk bersandar di bahunya. Tasya tersenyum dan melingkarkan tangan nya di pinggang Banyu dengan erat.


"Mbak.. izinkan aku melanjutkan cinta mu untuk mas Banyu. Aku berjanji, aku akan setia di samping mas Banyu selama nya," Ucap Tasya seraya mengusap batu nisan Tika.

__ADS_1


Kini Tasya dan Banyu tersenyum, mereka berdua mulai membersihkan makam Tika dan menaburi bunga-bunga segar di atas gundukan tanah itu, serta menyiram nya dengan dua botol air mawar yang harum. Aroma tanah bercampur dengan aroma bunga segar, menyeruak masuk ke dalam rongga hidung mereka berdua. Seiring doa yang mereka panjatkan di samping makam itu.


Setelah berdoa dan membersihkan makam Tika, Banyu pun mengucapkan selamat tinggal untuk tubuh yang sedang terbaring di bawah sana. Meskipun begitu, mereka yakin bila apa yang mereka ucapkan dan doakan, akan sampai kepada ruh sang pemilik raga yang terpendam itu.


"Sampai berjumpa lagi, Tika. Izinkan kami tetap melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya."


.


Putra berjalan diiringi para petugas untuk meninggalkan Polsek dan di pindahkan ke Rumah Tahanan di wilayah tersebut. Puluhan wartawan yang sudah menunggu dirinya pun langsung menyerbu Putra, untuk di wawancarai tentang kejahatan yang telah ia lakukan. Sebenarnya kasus Putra sudah di tutupi rapat-rapat oleh Anton dan petugas kepolisian. Tetapi namanya media, ada saja informasi yang mengatakan bila ada seorang oknum Dosen yang melakukan hal yang tak terpuji kepada mahasiwi nya sendiri. Meskipun belum di ketahui media, siapa sebenarnya mahasiwi yang menjadi korban Putra.


Putra menutupi wajahnya dengan rompi orange yang melekat di tubuhnya untuk menghindari sorotan media. Namun beberapa petugas memaksa dirinya untuk hadapi saja sorotan kamera, untuk nemberikan efek jera kepada dirinya. Sesekali Putra mengumpat di dalam hatinya. Menyesali apa yang telah terjadi kepada dirinya. Meskipun itu ulahnya sendiri, namun dirinya tetap merasa Anton dan Alia lah yang bersalah kepada dirinya. Andai saja Alia tidak ingin ia sentuh, mungkin ia tidak akan pernah melakukannya. Namun kini ia merasa terjebak oleh hal yang ia anggap kejadian yang di dasari 'suka sama suka' itu.


"Pak.. minta waktunya sebentar pak!" Teriak salah satu wartawan.


Putra di tuntun masuk kedalam bus tahanan yang sudah terparkir di depan Polsek. Dengan tak berdaya tanpa perlawanan, dirinya pun terpaksa menuruti apa mau petugas tersebut. Di antara kerumunan wartawan dan para petugas, tampak ambu dan abah ikut berjalan keluar dari kantor polisi tersebut. Di samping mereka berdua, terlihat seorang pengacara yang siap untuk membantu Putra untuk melewati masalah yang sedang membelit nya. Walaupun tidak mungkin bebas begitu saja, minimal pengacara yang di pekerjakan oleh Banyu itu dapat membantu Putra mengurangi masa tahanan nya.


Disana tidak terlihat Banyu dan Tasya, karena memang Putra tidak menginginkan kehadiran mereka berdua. Sebagai seorang kakak dan kakak ipar, Banyu dan Tasya hanya bisa memberikan doa dan dukungan melalui pengacara tersebut dan membiarkan ambu dan abah saja yang mendampingi Putra. Setidaknya Putra tidak merasa sendirian dalam masa sulitnya.


Putra terdiam menatap keluar jendela bus tahanan, menatap kerumunan wartawan dan juga kedua orang tuanya yang tampak begitu lelah. Hatinya terasa teriris, terluka dan hancur. Karir yang ia bangun hancur, nama baik juga tercoreng begitu saja. Rasa dendam nya kepada Anton dan Alia semakin membara. Ia terus mengutuk ayah dan anak itu di dalam hatinya.


"Andaikan bukan karena obsesi Alia, aku tidak akan pernah berada disini!" Sesal nya.

__ADS_1


Walaupun memang ini bukan hanya kesalahan Putra sepihak, tetapi harusnya dirinya bisa menahan nafsu dan godaan terhadap situasi kala itu. Bukan malah terjebak dengan situasi yang akan mempersulit dirinya sendiri di masa depan. Pun dengan Alia, dirinya yang buta akan cinta membuat ia mengupayakan apa saja demi memiliki Putra. Tanpa ia pikirkan lagi, bila dirinya akan merugi bila Putra yang memang tidak bisa mencintai dirinya itu pergi.


Sekarang semua sudah terlanjur terjadi. Masing-masing pihak merasa di rugikan dan merasa menjadi korban. Tetapi melakukan perbuatan itu dan disertai janji yang sudah ditanda tangani oleh Putra lah yang membuat posisi Putra sulit untuk di bebaskan. Terutama sudah adanya undang-undang yang mengatur masalah yang menjerat Putra.


.


Dilain tempat, Alia menatap berita di televisi yang sedang membicarakan tentang sosok oknum Dosen yang melakukan tindakan tak senonog dengan mahasiswi nya. Air mata Alia mengalir deras kala melihat sosok Putra yang baru sana keluar dari kantor Polisi dan hendak di pindahkan ke Rumah Tahanan. Bagaimanapun rasa cintanya pada Putra belum lah padam, tetapi ada satu sisi yang membuat dirinya tidak ingin berdamai. Karena rasa sakit hatinya pada ucapan Putra yang sangat merendahkan dirinya, saat malam dimana kesucian nya direnggut oleh Putra. Sebagai seorang wanita, walaupun ia tahu dirinya juga bersalah dan ikut andil dalam kejadian yang memalukan ini, ia merasa tidak sepatutnya Putra melontarkan kata-kata yang melukai harga dirinya.


"Honey, mari kita pulang," Ucap Devonna kepada putri semata wayangnya itu.


Alia yang sudah bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit pada hari ini pun beranjak dari atas ranjang, lalu ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Devonna.


"Ma.."


"Ya?" Devonna menatap Alia dengan seksama.


"Setelah kasus ini selesai, aku ingin kuliah di luar Negeri," Ucap Alia dengan tatapan yang tampak memohon.


Devonna terdiam, lalu ia menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. Ia sadar betul bila hal ini cukup memalukan bagi Alia bila Alia tetap kuliah di kampus yang sama. Lalu ia mengangguk, tanda setuju.


"Silahkan, kamu berhak melanjutkan hidupmu dengan sebaik-baiknya." Devonna tersenyum dan mengusap pipi Alia dengan lembut. Alia pun membalas senyuman Devonna dengan pelukan hangat darinya.

__ADS_1


"Terima kasih mama." Ucapnya dengan wajah yang haru nya.


.


__ADS_2