
Dua puluh sembilan jam perjalanan menuju Zurich, akhirnya Putra dapat menjejakkan kakinya di Bandar Udara Zurich atau dikenal juga dengan sebutan Bandar Udara Kloten, yang merupakan Bandara terbesar di Swiss. Ia menatap langit pada siang hari itu yang terlihat begitu cerah berawan. Putra melangkahkan kakinya menuju ke terminal kedatangan untuk mengambil koper bawaan nya yang ia titipkan di bagasi pesawat.
Setelah mengambil koper miliknya, Putra melangkah keluar dari terminal kedatangan tersebut dan berdiri agak lama di depan terminal kedatangan Bandara itu. Beberapa orang menyapa dirinya dengan ramah dan bertanya apakah dirinya merupakan tamu yang sedang mereka nantikan. Beberapa kali Putra tampak menggelengkan kepalanya dan menerangkan dirinya bukanlah orang yang mereka tunggu. Putra beranjak menuju ke cafe yang berada di sekitar terminal kedatangan. Lalu ia duduk dan memesan segelas kopi dan juga makan siang untuk dirinya, sekaligus untuk mengusir penat yang tengah ia rasakan setelah sekian jam ia duduk di atas pesawat yang tadi ia tumpangi.
Putra mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan alamat kantor perusahaan yang Alia pimpin. Untuk kesekian kalinya ia membaca lagi alamat kantor itu, jantung nya pun berdegup kencang, seolah nyalinya merasa ciut untuk menemui wanita yang pernah ia sakiti itu. Ribuan pertanyaan muncul di otak nya, serta rasa gelisah yang luar biasa menyergap relung hatinya.
"Bagaimana bila ia mencaci maki aku? Bagaimana bila ia tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan Eijaz? Tuhan.. aku mohon ampunan mu, aku sangat menyesal telah menyia-nyiakan dia." Batin Putra.
Lamunan Putra seketika buyar, setelah seorang pelayan menyapa dirinya dan menyajikan kopi dan juga menu makan siang yang beberapa menit lalu ia pesan. Putra tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut, seraya kembali menyimpan salinan alamat kantor Alia yang tertulis di selembar kertas, ke saku celananya. Ia menatap menu makanan yang tersaji di depan nya beberapa saat, lalu ia menghela nafas panjang dan tampak kembali berpikir tentang bagaimana pertemuan dirinya dengan Alia, mantan mahasiswinya yang ternyata memiliki anak dengan nya.
"Nanti saja lah aku pikirkan, yang terpenting sekarang aku makan dan segera menuju hotel untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak." Batin nya.
Putra mulai menyantap menu makan siang nya, hingga beberapa menit kemudian habis tak tersisa. Setelah ia menghabiskan makan siangnya, ia pun mulai menikmati kopi yang juga ia pesan, untuk menenangkan dirinya sendiri. Sesekali ia menatap lalu lalang calon penumpang di Bandara tersebut dengan tatapan matanya yang terlihat kosong. Otak nya terus berputar seakan tidak memberikan dirinya kesempatan untuk tenang. Hingga matanya tertuju pada seorang bocah laki-laki yang sedang di gendong oleh ayahnya. Bocah itu tertawa riang dan bercanda dengan sang ayah yang tampak begitu sabar menghadapi tingkah aktif sang bocah. Sedangkan ibu sang bocah hanya tersenyum seraya menikmati sepotong roti di genggaman nya.
"Indah sekali," Gumam Putra.
Untuk usia Putra saat ini, ia benar-benar merasakan lelah dalam kesendirian nya. Namun untuk mencari pendamping, ia masih merasa agak ragu, karena status nya yang pernah menjadi seorang pesakitan dan di hukum karena kasus yang sangat memalukan. Kenyataan dirinya memiliki anak dengan Alia, seakan menjadi titik balik dalam hidup Putra. Maka ia tidak perlu menunggu lama, ia langsung mencari Alia, jauh-jauh dari Jakarta ke Zurich, Swiss. Ia hanya ingin benar-benar memastikan, walaupun ia sudah merasa pasti, bila Eijaz itu adalah putra kandung nya. Ia hanya ingin mendengarkan pengakuan secara lisan dari bibir Alia sendiri. Dan di samping itu, ia ingin sekali meminta maaf pada Alia atas semua yang telah terjadi.
__ADS_1
Selama mendekam di penjara, Putra banyak berpikir dan kembali memutar kejadian-kejadian yang telah ia lalui. Terutama saat-saat kebersamaan dirinya pada Alia. Alia adalah wanita yang tulus, saking tulus nya dan mencintai dirinya, Alia agak sedikit berlebihan dan membuat Putra merasa di kekang dan tidak mau mengenal Alia secara suka rela. Sikap Alia yang terlalu memaksakan, membuat lelaki seperti Putra merasa muak. Apalagi saat itu Putra sedang menginginkan Tasya menjadi miliknya.
Setelah Putra ingat-ingat lagi, sebenarnya Alia adalah teman bicara yang menyenangkan. Alia juga tipe wanita yang mau melayani dirinya, lembut dan memiliki sepasang mata yang indah dan selalu menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta. Tidak ada yang kurang dari Alia, hanya saja saat itu Putra benar-benar buta akan cintanya pada Tasya.
"Apakah tatapan itu akan tetap sama setelah semuanya terjadi?" Gumam nya.
"Alia.. maafkan aku..."
.
"Bu.. nanti malam ada yang ingin bertemu dengan ibu."
"Apa? Malam ini? Apa dia sudah gila? Aku ingin cepat pulang, Greta.." Keluh Alia.
"Tapi, memang sudah buat janji sama ibu." Ujar Greta.
"Tamu dari mana?"
__ADS_1
"Indonesia, tepatnya perusahaan suplayer furnitur yang ibu pesan dari sana." Terang Greta.
"Oh, si menyebalkan itu. Bisa-bisanya dia datang kesini. Apa dia mau minta maaf sama kita karena sifat sombong mereka. Aku sudah mengancam untuk membatalkan, akhirnya pimpinan nya sendiri yang datang dan meminta maaf. Rasakan itu!" Alia tersenyum dan mengayun kursinya ke kiri dan ke kanan.
"Jadi bagaimana? Apakah ibu bersedia menemui?" Tanya Greta lagi.
"Katakan padanya aku sibuk. Dia harus bersusah payah untuk menemui aku."
"Dia jauh-jauh dari Indonesia bu..." Greta tampak tidak tega untuk membohongi orang yang tengah menjadi topik pembicaraan dirinya dan Alia.
"Aku tidak peduli. Aku membeli milyaran, lalu mereka menganggap aku hanya sebagai pembeli yang membeli dengan nilai receh. Tidak ada attitude nya sama sekali!" Alia terus mengomel, melampiaskan rasa kesal nya pada perusahaan yang di pimpin oleh Putra, tanpa ia sadari pimpinan perusahaan tersebut adalah lelaki yang pernah sangat ia cintai. Dan juga lelaki yang telah memberikan dirinya seorang putra yang kini hidup dan tumbuh dengan baik menemani hari-harinya.
"Baiklah, kira-kira kapan bisa bertemu?"
"Tergantung suasana hatiku nanti." Sahut Alia dengan raut wajah yang acuh.
Greta hanya mampu menggelengkan kepalanya, saat melihat sikap keras yang dimiliki oleh Alia.
__ADS_1
Ya, Alia begitu keras dan tegas dalam memimpin perusahaan nya, terutama tentang negosiasi dengan siapa saja. Kalau dirinya lemah, ia tidak akan pernah bisa berada di titik saat ini.
"Lebih baik aku menghabiskan waktu bersama Eijaz, aku sudah janji akan membawa dirinya makan malam di restoran favorit nya." Batin Alia seraya tersenyum sendiri membayangkan wajah tampan buah hatinya itu.