Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
49. Ini Gawattt..!


__ADS_3

Lantunan musik dari biola yang tengah dimainkan di atas panggung di sebuah ballroom hotel berbintang lima membuat suasana di ruangan tempat berkumpulnya para pengusaha sukses itu terasa begitu ekslusif. Dengan grogi, Tasya melangkah masuk bersama dengan Anton sang pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Tasya berjalan beriringan dengan Anton yang terlihat begitu percaya diri saat melangkah di tengah-tengah para pengusaha dengan segala usia tersebut.


"Bapak Anton..." Sapa seorang pengusaha muda yang terlihat begitu akrab dengan Anton.


"Halo pak Tria.." Sahut Anton, seraya menjabat tangan pria tersebut dengan erat.


"Apa kabar, lama tidak berjumpa."


"Baik.. baik.. bapak apa kabar? Ini..." Lelaki itu menunjuk Tasya yang berdiri di samping Anton.


"Ah.. perkenalkan, ini calon istri saya."


Deg!


Terkejut bukan kepalang, itulah yang dirasakan Tasya saat ini. Ia menoleh dan menatap Anton yang terlihat acuh. Ia tidak menyangka sama sekali bila dirinya diakui sebagai calon istri dari boss nya sendiri.


"Sa-saya...


"Halo ibu, ibu cantik sekali. Perkenalkan, nama saya Tria, sahabat dan juga terkadang saya menjadi rekanan bapak Anton." Lelaki itu tersenyum dan menjabat tangan Tasya yang tampak semakin grogi.


Anton menoleh dan menatap Tasya dengan tatapan yang sangat sulit Tasya mengerti. Tidak mau memperkeruh suasana ataupun membuat boss nya itu malu, akhirnya Tasya hanya tersenyum tanpa mampu menjelaskan apa pun kepada Tria.


"Tasya," Ucap Tasya seraya menundukkan pandangan nya.


"Tasya.." Terdengar suara seorang wanita memanggil namanya. Tasya menoleh dan menatap wanita cantik dengan busana yang terlihat sangat elegan, sedang tersenyum kepada dirinya.


"Queen!" Tasya melepaskan tangan nya dari Tria, lalu ia mengecup kedua pipi Queen, saat Queen menghampiri dirinya.


"Apa kabar? Ya ampun, kamu kok disini?"


Tasya terlihat bingung akan menjelaskan apa kepada Queen.


"A-aku...


"Halo ibu Queen.." Sapa Anton kepada Queen.


"Hai.. apa kabar bapak Anton?"


"Baik, bagaimana kabar bapak Raka?"


"Dia ada disini, biar saya panggilkan ya.." Ucap Queen dengan bersemangat.


"Baik bu... kalau bapak Raka sedang berbincang dengan yang lain nya, lebih baik tidak usah. Nanti saja," Ucap Anton dengan ramah nya kepada Queen.


"Ah.. iya.. Ngomong-ngomong, bapak Anton datang dengan siapa?" Tanya Queen yang belum menyadari bila Tasya adalah partner Anton pada malam ini.


"Ini, sama Tasya, calon istri saya."


Queen mengangkat kedua alisnya, matanya membulat dan bibirnya terbuka lebar.


"Hah!" Queen langsung menatap Tasya yang terlihat semakin bingung akan bersikap seperti apa, kala menghadapi situasi yang begitu canggung itu.


"Sebentar ya pak, saya pinjam calon istrinya dulu." Ucap Queen seraya menarik tangan Tasya. Anton hanya mengangguk dan tersenyum kepada Queen. Lalu ia melanjutkan perbincangan nya dengan Tria.

__ADS_1


Queen menyeret Tasya hingga ke sudut ballroom tersebut. Lalu ia menatap Tasya dengan tatapan yang tampak serius.


"Really?" Tanya Queen dengan ekspresi yang terkesan sangat berlebihan.


"Apanya?" Tanya Tasya yang berpura-pura bodoh.


"Kamu akan menikah dengan bapak Anton?"


"A-aku..


"Serius sekali kalian.." Tiba-tiba saja Raka dan Banyu menghampiri Queen dan Tasya.


Kedua wanita itu pun menoleh dan menatap Raka dan Banyu. Raka tersenyum kepada Tasya, sedangkan Banyu, terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran Tasya di sana.


"Mas Ba....


"Halo apa kabar Tasya?" Tanya Raka seraya menjabat tangan Tasya yang merupakan sahabat dari istrinya, Queen.


"Ba-baik mas.."


"Lama tidak terlihat, sibuk? Kamu kok bisa disini?" Tanya Raka lagi.


Tasya hanya tersenyum dan sesekali melirik Banyu yang hanya diam dengan ekspresi nya yang terlihat dingin sekali.


"Hmmm.. Tasya bersama bapak Anton. Dia tadi mencari mu loh sayang..." Potong Queen yang tahu bila Tasya enggan menjelaskan mengapa dirinya ada di perkumpulan para pengusaha, di ballroom tersebut.


"Oh, bapak Anton... ya.. ya.. ya... kamu bekerja di sana?"


"Tapi tadi....


"Queen.. ikut aku sebentar ya.." Pinta Tasya seraya menarik tangan Queen untuk menjauh dari Raka dan Banyu. Kedua lelaki itu saling bertatapan dan lalu menatap Queen dan Tasya yang menjauhi mereka. Lalu, merasa tidak ingin mengganggu, akhirnya Raka dan Banyu memutuskan untuk menghampiri Anton dan Tria yang merupakan kenalan mereka juga.


"Ada apa sih.." Queen terlihat penasaran dengan sikap Tasya yang begitu terlihat panik.


"Duh.. gimana ya jelasin nya.."


"Ada apa?" Desak Queen lagi.


Tasya menggigit bibir nya dan menatap Queen dengan seksama.


"Tas... ada apa?" Desak Queen yang terlihat mulai khawatir dengan Tasya.


"Apa yang dibilang pak Anton itu tidak benar."


"Hah? Terus, kenapa dia mengakui kamu...


"Aku tidak tahu Queen..! Bagaimana ini? Malah ada mas Banyu lagi.." Keluh Tasya.


"Mas Banyu? Hubungan nya apa?" Tanya Queen dengan tatapan yang menyelidik.


"Hmmm anu... hmmm... apa ya..." Tasya meremas gaun nya dengan wajah yang panik.


"Kamu aneh deh! Kamu pacaran sama mas Banyu? Terus kamu takut bila hal ini terdengar oleh mas Banyu?" Tanya Queen yang terlihat tidak sabar.

__ADS_1


"Bukan.."


"Lantas?"


"Aku mau bertunangan.."


"Hah? Sama siapa? Anton? Banyu?"


"Sa-sa-sama.... Tasya menghentikan ucapan nya dan menatap Queen dalam-dalam. Ia sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Sudah banyak juga cerita yang belum sempat ia ceritakan kepada Queen. Biasanya, mereka saling bertukar cerita tentang apa saja yang terjadi dala. hidup mereka. Tetapi, karena kesibukan mereka belakangan ini, mereka jadi jarang sekali bertatap muka.


"Tas... ngomong dong. Ya ampun.. aku sudah lama tidak tahu ceritamu..." Queen terus mendesak karena ia terlihat sangat ingin tahu mengapa Tasya begitu panik saat ini.


"Aku akan bertunangan dengan mas Putra, Queen."


"HAH....!"


Hampir semua orang menoleh kearah Tasya dan Queen. Hal itu dikarenakan suara Queen yang terdengar lantang saat mengetahui bila Tasya akan bertunangan dengan Putra, lelaki yang pernah mengejar dirinya itu.


Queen dan Tasya hanya bisa tersenyum kepada semua orang yang sedang menatap mereka, lalu Queen berusaha acuh dan kembali menginterogasi Tasya yang semakin terlihat pucat.


"Serius?" Tanya Queen dengan setengah berbisik.


"Iya, maaf aku tidak sempat mengatakan nya kepadamu. Soalnya acara lamaran yang akan digelar di Solo pada akhir pekan ini begitu mendadak." Jelas Tasya.


"Kamu gak lagi...." Queen menatap perut Tasya yang terlihat ramping.


"Ngawur!"


"Alhamdulillah.. bukan begitu, tapi kok...


"Dadakan?" Potong Tasya.


Queen mengangguk dengan cepat, membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Jadi begini... ibuku sakit,"


"Ya ampun, sakit apa? bagaimana keadaan nya sekarang?" Tanya Queen yang terkesan lebih cerewet pada malam ini.


"Sakit kangker paru-paru. Keadaan nya sudah me. baik. Pasalnya, ibuku ingin aku segera menikah. Aku tidak punya calon. Hanya saja, mas Putra sedang dekat denganku dan dia juga sangat perhatian dengan Rafis."


"Lalu?" Desak Queen yang terus terlihat tidak sabar.


"Kebetulan mas Putra mengajak aku untuk menikah, jadi... aku langsung mengiyakan nya."


"Hah! kamu serius?"


"Iya..." Dengan wajah canggung, Tasya menatap Queen dengan seksama.


"Duh... apa jadinya kalau mas Banyu mendengar berita bohong dari Anton?" Tanya Queen.


Tasya dan Queen terlihat mulai khawatir. Lalu mereka sama-sama melihat kearah Anton, Tria, Raka dan Banyu yang sedang asik berbincang.


"Ini gawatttt...!" Pekik kedua wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2