
Suasana terasa hening di ruang keluarga, di kediaman orang tua Tasya. Kini di sana sudah duduk kedua orang tua Tasya, Anton, kedua orang tua Banyu dan Putra, dan kedua putra mereka. Sedangkan anggota keluarga yang lain nya dipersilahkan untuk menunggu di luar atau pendopo rumah tersebut. Kedua orang tua sengaja dilibatkan untuk penengah dan juga mereka berhak tahu akar masalah dari kekacauan di acara yang sedang mereka gelar pada hari ini.
Acara pertunangan yang harusnya begitu indah dan khidmat, sekitaka berubah menjadi pertunjukan drama yang memalukan dan juga menjadi persidangan dadakan yang melibatkan Anton dan juga kedua belah pihak keluarga. Terlihat juga dekorasi dan beberapa bangku yang masih berantakan di ruangan itu. Yang sengaja di biarkan begitu saja, karena sang pemilik acara sudah tidak lagi memikirkan acara itu lagi. Melainkan ingin segera mengetahui apa sebenarnya yang membawa Anton, selaku orang lain yang tak dikenal mengamuk di acara tersebut dan juga mengatakan pengakuan yang begitu melukai hati dua keluarga itu.
Anton menatap Banyu dan Putra secara bergantian. Ia yang baru saja menerima kenyataan bila Banyu dan Putra sebenarnya adalah adik dan kakak, mulai nerasa bodoh karena ia tidak menyadari kemiripan diantara keduanya. Selain ia tidak menyadari, ia juga tidak pernah menyangka bila Banyu memiliki adik yang sangat bertolak belakang dengan sikap dan sifat sahabatnya itu.
"Bagaimana? Kita bahas sekarang?" Tanya Banyu seraya membuka satu kancing atas kemeja nya, agar ia merasa sedikit relax di suasana yang terasa panas tersebut.
"Tenang.. saya rasa Tasya berhak tahu. Jadi, kalau mau membahas masalah ini. Kita tunggu Tasya siuman." Tegas bapaknya Tasya yang duduk disamping ibunya Tasya yang terlihat sedikit sulit bernafas karena merasa shock dengan kekacauan ini, hal itu juga di dukung karena penyakit kangker paru-paru yang sedang dideritanya.
Sedangkan kedua orang tua Banyu dan Putra terlihat tertunduk malu karena pengakuan Anton yang menampar wajah kedua nya.
"Memang Tasya nya pingsan? Dimana dia sekarang?" Tanya Banyu yang terlihat begitu khawatir akan keadaan Tasya.
Saat itu juga Anton, kedua orang tua Tasya dan kedua orang tuanya, menatap Banyu dengan seksama. Banyu terlihat panik dan segera beranjak berdiri untuk mencari Tasya. Mereka melihat kekhawatiran Banyu bukan lah hal yang terlihat lumrah, kecuali Putra yang sudah mengetahui sebelumnya bila Banyu memang menaruh hati pada Tasya.
"Jang..." Tegur ibunya Banyu seraya menarik lengan Banyu untuk kembali duduk di bangkunya. Saat itu juga Banyu pun tersadar bila dirinya tidak memiliki hak untuk menaruh kekhawatiran yang berlebihan kepada Tasya. Bahkan ia pun mulai terlihat salah tingkah, kala semua orang menatap dirinya dengan tatapan yang menghakimi.
"A' Banyu memang menyukai calon ku ambu," Ucap Putra dengan tatapan yang penuh dengki kepada Banyu.
"Astaghfirullah.. yang dikatakan Putra teh benar Jang?" Tanya ibunya kepada Banyu. Banyu hanya dapat tertunduk dan menahan sesak di dadanya.
"Jadi?" Anton mulai bertanya tentang kebenaran ucapan Putra tentang Banyu.
"Itu Tasya." Ucap bapak nya Tasya, kala melihat Tasya yang masih terlihat pucat, keluar dari kamarnya. Saat itu juga tiga lelaki yang mencintainya pun menoleh. Terlihat raut wajah khawatir di masing-masing wajah lelaki yang berharap untuk dapat hidup bersama Tasya.
"Mas Banyu," Ucap Tasya yang terlihat bahagia atas kehadiran Banyu di sana.
Banyu berdiri dari duduknya, ia terpana saat melihat betapa cantik nya Tasya dengan balutan kebaya di tubuh wanita dambaan nya itu.
"Tasya.."
"Mas.." Tanpa di duga, Tasya berjalan dengan cepat ke arah Banyu, lalu tanpa ragu, wanita itu memelui Banyu dengan erat.
"Mas kamu datang? Mas.. aku...
Tasya menghentikan ucapan nya dan lalu menangia terisak di pelukan Banyu. Dengan ragu, Banyu membalas pelukan Tasya, mulai dengan menyentuh punggung Tasya dengan lembut dengan tujuan untuk menenangkan wanita itu.
Kedua orang tua mereka pun terlihat semakin bingung dengan sikap Tasya yang menghambur ke pelukan Banyu. Tetapi, tidak ada sepatah kata pun yang mampu terucap dari bibir mereka. Hanya saja, kedua orang tua Tasya tampak malu dengan sikap Tasya kepada sosok Banyu yang merupakan kakak kandung dari Putra. Tidak sepatutnya Tasya memeluk Banyu dengan begitu erat di depan mereka dan juga Putra.
"Tasya!" Panggil ibunya seraya mencoba menarik lengan Tasya yang masih saja memeluk erat tubuh Banyu. Namun Tasya bergeming, ia larut dalam tangisan nya di dada Banyu yang berbidang.
"Kita duduk dulu ya." Pinta Banyu. Barulah Tasya melepaskan pelukan nya dan mengusap air matanya. Masih terisak, Tasya di bantu duduk oleh Banyu di bangku yang baru saja ia tarik ke sebelah bangkunya.
Kedua orang tua mereka saling bertatapan. Namun mereka tidak mau berkomentar lagi. Mereka hanya diam dan menahan malu atas sikap Banyu kepada Tasya pun dengan sikap Tasya kepada Banyu.
"Bisa kita mulai?" Tanya bapak nya Tasya seraya membetulkan kacamatanya. Lalu ia menatap satu persatu orang yang berada di ruang keluarga itu.
"Kita mulai dari... maaf bapak siapa?" Tanya bapak nya Tasya kepada Anton.
"Saya? Saya Anton."
"Oh ya.. Bapak Anton. Mohon maaf pak, bapak siapa nya anak saya, Tasya?" Tanya lelaki lanjut usia itu.
"Saya....
Anton terdiam beberapa saat, ia menatap Tasya yang terlihat enggan menatap dirinya.
"Saya minta disini kita berbicara jujur-jujur saja. Tidak ada yang di tutup-tutupi. Saya mohon... saya cukup lelah dengan semuanya. Istri saya sakit keras, impian nya hanya ingin bahagia melihat Tasya bahagia dengan lelaki pilihan nya. Dan ternyata apa? Acara ini berantakan.. Saya malu sama tetangga dan juga keluarga. Terutama istri saya yang shock melihat kekacauan ini. Sekali lagi saya mohon... tolong kuta senua berbicara jujur saja." Pinta bapak nya Tasya.
Anton tertunduk malu, terutama ia akan lebih merasa malu pada Banyu. Jujur, berarti Banyu tahu kebohongan dirinya selama ini. Walaupun ia tahu dari pengakuan Banyu sendiri, bila dirinya berbohong dan berkhayal menjadi calon suami Tasya selama ini.
"Pak Anton.." Panggil bapak nya Tasya.
__ADS_1
"Hmmmm.. ya pak... hmmmm... saya.. saya hanya atasan Tasya di kantor."
"Owalahhhh..." Seru kedua orang tua Tasya dan juga orang tua Banyu.
"Lantas, mengapa bapak seperti ini di acara pertunangan karyawan bapak sendiri?" Tanya bapaknya Tasya lagi.
Anton menghela nafas panjang, lalu ia menatap Putra dengan penuh kebencian.
"Awalnya saya merasa cemburu, karena Tasya memilih lelaki lain. Maka saya ingin tahu siapa lelaki yang dipilih Tasya. Jujur saja, saya menyusul untuk memergoki Tasya dan Banyu. Tetapi tanpa saya sadari ternyata orang itu adalah Putra. Ya.., lelaki brengsek ini!" Terang Anton.
"Aku?" Tanya Banyu dengan ekspresi wajah tak percaya, seraya menatap Anton dengan seksama.
"Ya.. karena kemarin kamu dan Tasya berkencan di sebuah toko dan rumah makan!"
Deg!
Banyu dan Tasya terdiam seiring tatapan penuh tanda tanya dari semua orang yang berada di ruangan itu.
"A'?" Putra menatap Banyu dengan tatapan menghakimi.
"Kamu berkencan dengan calon kakak ipar mu sendiri nduk?" Tanya bapak dan ibunya Tasya dengan ekspresi wajah yang tak percaya.
"Bu-bu-bukan begitu. Mas Banyu hanya mengantarkan saya membeli oleh-oleh dan mengajak saya makan siang. Setelah itu dia mengantarkan saya pulang. Ti-tidak ada apa-apa antara saya dan mas Banyu." Tasya mencoba membela dirinya.
"Oh begitu," Ucap Putra sambil menatap Tasya dengan tatapan sinis.
"Sudah, lalu mengapa bapak mengatakan calon tunangan anak saya adalah lelaki brengsek? Apa benar yang bapak bilang sebelumnya, kalau dia telah menodai anak bapak? " Tanya bapaknya Tasya lagi.
"Ya! Memang dia adalah lelaki brengsek! Dia merusak anak saya yang bernama Alia! Lalu sekarang ingin lari dan menikahi wanita yang saya cintai. Pak, saya sangat mencintai anak bapak. Saya bersedia untuk menikahi Tasya," Ucap Anton dengan tatapan yang tampak serius kepada bapak nya Tasya.
Banyu yang mendengar nama Alia, lantas mengerutkan keningnya. Ia langsung menatap Putra dengan seksama. Ia pun baru menyadari bila orang yang membuat Putra babak belur adalah Anton, sahabatnya sendiri. Dan ia baru menyadari juga bila selama keluar dari rumah sakit, Putra tinggal bersama dengan Alia dan Anton, untuk mempertanggung jawabkan kelakuan Putra sendiri.
"Subhanallah..." Bapaknya Tasya hanya mampu mengelus dada kala mendapatkan pengakuan dari Anton.
"Tidak, dia hanya..."
"Saya tidak suka sama Alia!" Potong Putra.
"Kau!" Anton menggebrak meja, dan berdiri untuk bersiap melayangkan pukulannya ke arah wajah Putra.
"Jangan pukul anak saya!" Ibunya Putra melindungi Putra layaknya melindungi bocah umur lima tahun, dengan merangkul dan menyembunyikan wajah Putra di ketiak nya.
Anton mengurungkan niat nya untuk memukul Putra. Ia kembali duduk dan mendengus kesal.
"Dasar bajingan cengeng!" Hardik nya kepada Putra.
"Apa benar itu nak Putra?" Tanya bapaknya Tasya kepada Putra yang masih berlindung di bawah ketiak ibunya.
Putra terdiam membisu. Ia hanya menundukkan wajahnya karena malu.
"Jang.. jawab atuh.." Pinta ibunya.
"Dia juga sudah menandatangani surat perjanjian untuk menikahi anak saya. Anak saya di....
"Cukup," Potong bapak nya Tasya.
"Tolong di jawab nak Putra." Pinta bapaknya Tasya lagi.
Perlahan Putra mengangkat wajahnya dan menatap bapaknya Tasya dengan wajah yang menahan malu. Lalu ia menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Astaghfirullahalazim..." Bapak nya Tasya tampak kecewa dengan calon menantu nya itu. Pun dengan kedua orangtuanya Putra pun tak sanggup lagi berkata-kata. Mereka terlihat sangat malu dengan tingkah Putra yang sebenarnya.
"Jang.. ya Allah.. Ambu malu...!" Ibunya Putra memukul pundak Putra yang bergeming dan tertunduk malu.
__ADS_1
"Mas.. ternyata..." Tasya kembali terisak saat menerima kenyataan pahit tentang calon tunangan nya itu.
"Aku kecewa sama kamu mas!" Sambung Tasya.
"Bu-bu-bukan begitu sayang.. a-aku sebenarnya sangat mencintai kamu. Aku tidak menyukai Alia, sumpah demi Allah!" Putra mencoba meyakinkan Tasya, namun Tasya sudah terlanjur kecewa kepada dirinya.
"Sudah sudah... kalau begitu....
Drettt... drettt...!
Tiba-tiba saja ponsel Anton berdering, dan suasana pun kembali hening.
"Maaf saya angkat dulu panggilan ini," Anton meminta izin dengan semua orang yang berada disana.
"Silahkan.." Selaku pemilik rumah, bapaknya Tasya mempersilahkan Anton untuk menerima panggilan telepon terlebih dahulu.
Merasa mendapatkan izin, Anton pun mengangkat panggilan dari ibunya.
"Ya bu.. Ada apa?"
"Apa!" Anton terbelalak saat mendengar berita buruk yang baru saja ia dapatkan.
"Baik bu, saya akan segera ke Jakarta. Saat ini saya sedang di Solo. Saya titip Alia dulu." Wajah Anton terlihat panik dan juga emosi. Lalu ia mengakhiri panggilan tersebut dan menatap Putra dengan tatapan yang memburu.
"Bajingan! Anak ku sampai mencoba bunuh diri gara-gara kau! Lebih baik mati saja kau!" Anton yang tidak mampu lagi menahan emosi nya, menendang meja ke arah Putra. Putra tampak ketakutan luar biasa. Ia kembali berlindung di balik ketiak ibunya.
"Sini kau! ikut aku! Kau harus mempertanggung jawabkan semua yang terjadi!" Anton menarik kerah kemeja Putra dengan kasar.
"Ada apa?" Cegah Banyu yang tak rela melepaskan adiknya begitu saja.
"Banyu, kau jangan ikut campur! Dia sudah mengambil keperawanan anak ku! Sampai anak ku berusaha untuk bunuh diri!"
Banyu terdiam, kecuali Putra yang terus menyangkal dan meminta pertolongan kepada kakak nya itu.
"A'.. bohong a'... Tolong aku A'."
"Diam! Kau harus ikut!" Ucap Anton seraya menyerahkan Putra kepada empat bodyguard nya. Para bodyguard pun menarik Putra keluar dari rumah tersebut.
"Jang! Bantu adikmu!" Seru ibunya seraya mendorong Banyu untuk. menyusul Putra.
Banyu hanya terdiam, ia menghela nafasnya yang terasa sesak. Bagaimana bisa ia membela seseorang yang salah?
"Jang!" Ibunya kembali mendorong Banyu dengan ekspresi wajah yang menyalahkan dirinya yang tidak berbuat apa-apa kala adiknya di seret oleh para bodyguard Anton.
"Jang! Kamu anak durhaka! Bantu adik mu!"
"Cukup ambu! Sudah saatnya dia belajar mandiri dan menghadapi permasalahan nya sendiri! Dia yang berbuat! Dia lah yang harus bertanggung jawab! Bukan aku!" Tegas Banyu.
"Jang.. kamu..."
"Ambu.. coba tanyakan pada diri ambu sendiri, mengapa Putra bisa tumbuh seperti itu. Kalau ambu khawatir dengan Putra, silahkan ambu dan abah saja yang mendampingi Putra menghadapi masalahnya. Aku lelah... aku lelah sekali dengan kelakuan Putra."
Bapak dan ibunya terdiam dengan ucapan regas tegas pertama yang di sampaikan Banyu kepada mereka.
"Apa aku pernah dianggap? Apa Putra pernah salah dimata ambu dan abah? Sekarang inilah hasil dari perlindungan ambu dan abah selama ini. Ya... Putra.. dia tumbuh menjadi pecundang!" Ungkap Banyu dengan penuh emosi.
Kedua orangtuanya pun tertunduk malu. Lalu ibunya meraih tas tangan miliknya dan menarik lengan suaminya dengan kasar.
"Ayo bah! Kita dampingi Putra!" Ucap nya seraya beranjak meninggalkan kediaman keluarga Tasya.
Suasana kembali hening, hingga perlahan tangisan Tasya kembali pecah, mengingat rasa malu dan kegagalan nya hari ini.
"Mama!" Rafis yang ternyata dari tadi menyimak dari balik pintu kamar pun berlari ke pelukan Tasya.
__ADS_1
"Rafisss..." Tasya memeluk Rafis dengan erat, lalu ibu dan anak tersebut pun hanya bisa menangis untuk mengungkapkan rasa kecewa mereka kepada orang yang sempat menjadi harapan kebahagiaan mereka, yaitu Putra.