Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
104. Aku berjanji..


__ADS_3

Brakkkkkkk...!


"Kau!" Greta menggebrak meja dan menatap Putra dengan tatapan yang penuh dengan amarah. Sedangkan Putra tampak terkejut saat melihat reaksi Greta setelah ia menceritakan kisah tentang dirinya dengan Alia. Saking terkejutnya, Putra sampai-sampai menyenggol gelas yang berada disampingnya, hingga gelas tersebut hancur berkeping-keping di atas lantai restoran tempat dirinya dan Greta bertemu pada malam ini. Semua mata tertuju kepada mereka berdua, sebagian dari pengunjung tampak berbisik membicarakan mereka berdua.


"Sa-saya minta maaf Greta," Ucap Putra dengan gagap.


"Maaf? Apakah anda tahu penderitaan yang di lalui Alia? Apakah anda tahu bagaimana mengandung dan membesarkan anak seorang diri?" Greta bertanya dengan kedua mata yang mendelik.


"Greta... Saya juga sudah menebus segala kesalahan saya di dalam penjara. Apakah itu kurang?"


"Jelas kurang! Mengapa kamu tidak di hukum mati saja!" Greta beranjak dari duduknya, lalu ia menyambar tas tangannya dan mulai beranjak untuk meninggalkan restoran itu dengan hati yang di selimuti emosi.


"Saya memang bajingan. Tetapi, apakah saya tidak berhak menerima kepercayaan setelah saya berusaha untuk berubah menjadi lebih baik?"


Langkah Greta tertahan, lalu ia menghela nafas panjang dan menoleh kearah Putra.


"Saya telah mengatakan hal yang jujur kepadamu, tanpa ada satupun yang saya tutupi agar saya terlihat baik di matamu. Saya memang brengsek, dan itu benar adanya. Tetapi itu dulu, tidak dengan sekarang. Bahkan, hingga detik ini pun saya tidak pernah menikah ataupun bersama dengan wanita lain. Hanya Alia yang terakhir bagi saya. Setelah kebodohan mengantarkan saya dalam petaka di dalam hidup saya sendiri. Kini saya sangat menyesalinya. Saya tahu itu terlambat, setidaknya saya hanya ingin bertemu dengan Alia dan Eijaz dan mengatakan kata maaf kepada mereka berdua."


Seketika sorot mata emosi Greta pun padam, perlahan ia berjalan mendekati Putra dan kembali duduk di hadapan lelaki itu.


"Terima kasih sudah kembali. Saya tahu kamu adalah orang yang baik. Saya tahu amarahmu sebagai seorang wanita. Saya tahu emosimu sebagai seorang teman ataupun sahabat Alia. Saya minta maaf padamu bila masa lalu saya begitu menjijikkan. Tetapi, izinkan saya bertemu dengan mereka. Saya tidak tahu lagi mau meminta tolong pada siapa selain kamu." Wajah Putra tampak memelas saat menatap Greta yang tampak serba salah.


"Greta, saya berjanji.. bila saja saya mendapatkan kepercayaan itu lagi dari Alia, saya tidak akan pernah menyia-nyiakan dirinya ataupun anak saya dan dia. Kini, saya baru menyadari bila wanita terbaik di dalam hidup saya hanya Alia. Itulah alasan saya yang tidak berani memulai kehidupan baru dengan wanita lain. Saya takut, tidak ada wanita yang seperti dia yang selalu memaklumi apa pun kekurangan saya."


Greta tertunduk dalam mendengar ucapan Putra yang terdengar sangat tulus dan menyesal di telinganya.

__ADS_1


"Terlebih, saat ini ternyata kami memiliki anak. Saya hanya ingin Eijaz mengenal saya. Bila Eijaz tidak menerima saya, saya pastikan saya tidak akan pernah mengganggu mereka lagi. Tetapi, saya akan tetap memenuhi kewajiban saya sebagai ayah kandung dari Eijaz. Saya ingin bertanggungjawab atas Eijaz. Saya tahu ini sangat terlambat, tetapi... saya laki-laki, dan saya harus mencobanya. Bagaimanapun hasilnya, saya akan terima dengan lapang dada." Sambung Putra lagi.


Greta menatap Putra dengan seksama, mencoba mencari kejujuran di sepasang mata milik lelaki itu.


"Greta, saya banyak belajar setelah saya menerima hukuman saya. Saya tidak memaksa siapapun untuk mempercayai saya. Tetapi, bila kamu mengizinkan saya mengetahui alamat rumah Alia, saya tidak akan mengatakan bila saya mengetahuinya dari kamu. Saya akan merahasiakannya. Saya mohon.. niat saya baik dan saya tidak akan melakukan apapun yang merugikan Alia dan anak kandung saya. Bila sesuatu terjadi, ini alamat hotel saya. Kamu bisa mencari saya disini, dan laporkan saya pada polisi."


Greta menatap alamat hotel yang di sodorkan Putra ke hadapannya. Cukup lama wanita itu terdiam, seakan ia sedang mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan untuk Putra dan Alia. Satu sisi dirinya begitu membenci lelaki seperti Putra, satu sisi lagi ia merasa iba pada Putra yang terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah lelaki itu lakukan dimasa lalu.


"Apakah kamu mau berjanji padaku?" Tanya Greta setelah sekian lama ia terdiam.


"Aku berjanji, kalau bisa kamu boleh mengawasi saya saat saya bertemu dengan Alia. Bila sesuatu terjadi, segera hubungi polisi. Saya siap untuk di hukum, bila saya melakukan hal yang melanggar di mata kamu." Ujar Putra, yang sedang berusaha untuk meyakinkan Greta.


Greta mengigit sudut bibirnya. Ia merasa bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil untuk lelaki yang sedang memohon di hadapan dirinya.


"Sumpah! Saya berjanji. Pegang tanda pengenal saya," Putra mengeluarkan KTP, pasport dan apapun yang ada di dalam tas nya.


Greta kembali terdiam, ia menatap semua yang Putra keluarkan dari tas lelaki itu.


"Simpan saja tanda pengenal mu. Alamat hotel mu sudah saya pegang dan saya bisa tahu dimana alamat rumahmu melalui informasi hotel yang kamu tempati. Bila memang kamu ingin bertemu dengan Alia dan Eijaz, saya akan memberitahukan alamat rumahnya. Tetapi, izinkan saya mengawasi kamu dari kejauhan. Karena saya tidak sepenuhnya percaya kepada kamu," Ucap Greta secara berterus terang.


"Ok! Baik... saya setuju," Ucap Putra dengan wajah yang tampak bersemangat.


"Baiklah, sekarang kamu habiskan makanan mu. Lalu bayar semua tagihan di restoran ini, dan ikutlah dengan saya."


"Saya sudah kenyang, sekarang saja kita ke rumah Alia."

__ADS_1


"Tidak! Mubazir! Habiskan makananmu, atau....."


"Baiklah!" Putra langsung menyantap sisa makanan nya yang berada di piring dengan lahap. Sebelum ia mendengar ancaman dari Greta.


Greta tersenyum seraya menatap Putra yang tampak lahap menyantap sisa makanan nya.


.


"Bagaimana makanan nya?" Tanya Alia kepada Eijaz yang sedang duduk di samping dirinya yang sedang mengemudi mobil dengan kecepatan yang sedang, pada malam ini.


"Not bad." Sahut Eijaz yang terlihat acuh tak acuh.


"Eijaz.. come on.." Alia menatap Eijaz dengan tatapan yang terlihat kecewa.


"Lalu aku harus bilang apa ma? Memang tidak begitu buruk kok rasa masakan mereka," Ucap Eijaz seraya membalas tatapan Alia dengan tatapan yang tajam.


Alia menghela nafas panjang dan mencoba meredam emosi yang tengah ia rasakan. Akhir-akhir ini Eijaz memang sedikit memberontak kepada dirinya. Semua itu semenjak Eijaz sering bertanya tentang siapa bapaknya.


"Honey, bagaimana bila kita berlibur besok? Eijaz mau kemana sayang?" Tanya Alia dengan nada suara yang di buat selembut-lembutnya.


"Mom..." Eijaz menghela nafas panjang dan menatap Alia dengan tatapan yang malas.


Alia terdiam, ia benar-benar merasa putus asa dengan sikap Eijaz saat ini. Eijaz yang dulu selalu ceria, tetapi kini terlihat murung setelah Eijaz mulai bersekolah dan melihat teman-temannya yang memiliki orang tua yang lengkap.


"Tuhan, bila memang ini hukuman atas dosa-dosaku dimasa lalu, aku terima. Tetapi Tuhan, aku mohon berikan aku jalan keluar yang sebaik-baiknya. Aku hanya ingin mengembalikan senyum putraku satu-satunya ini. Tuhan, cukup aku yang kehilangan senyuman. Tetapi, jangan ambil senyuman Eijaz ku.." Batin Alia seraya meneteskan air mata pilunya.

__ADS_1


__ADS_2