Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
90. Buah dari kesabaran


__ADS_3

Tasya tersenyum sendiri saat ia hendak membasuh tubuhnya di kamar mandi. Hari ini sudah memasuki hari ketujuh sejak ia datang bulan. Yang berarti, hari ini haid nya sudah sepenuhnya berakhir. Ia mencoba memastikan sekali lagi bila haid nya sudah benar-benar berakhir. Lalu ia mengigit bibirnya seraya tersenyum malu-malu.


"Hmmm.. gimana nanti cara ngomong nya sama mas Banyu ya?" Gumam Tasya.


Lalu ia menatap cermin di atas wastafel, terlihat pantulan dirinya di dalam cermin itu. Ia mulai menatap ke seluruh tubuhnya secara seksama.


"Kayaknya aku gemukan ya.. Hmmm.. pede gak ya nanti.." Gumam nya lagi.


Lalu Tasya menghela nafas panjang dan sekali lagi menatap dirinya lewat pantulan cermin.


"Ah sudahlah, mandi dulu saja." Batin nya.


Dengan bersemangat Tasya melakukan mandi besar, untuk menyucikan dirinya. Tidak lupa ia menggosok tubuhnya dengan body scrub agar kulitnya terasa lebih halus dan bercahaya. Ia juga memakai conditoner agar rambutnya lebih halus dan mudah di atur.


"Biar enak di belai sama ayank mbeb ini rambut, dan kulit," Gumam nya sambil terus tersenyum sendiri.


Setelah selesai mandi, Tasya pun keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian yang pantas ia kenakan di depan mertuanya. Ya.., ia harus makan malam dengan mertuanya dan juga suaminya. Ini adalah makan malam pertamanya dengan sang mertua, jadi ia harus tampil se baik mungkin, walaupun makan malam itu hanya di laksanakan di rumah saja.


Setelah selesai berpakaian dan berdandan, Tasya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Saat itu juga pintu kamar terbuka, Tasya menoleh dan menatap Banyu yang baru saja memasuiki kamar tersebut.


"Sudah mandinya?" Tanya Banyu berbasa-basi.


"Sudah mas," Tasya tersenyum dan kembali fokus mengeringkan rambutnya.


Sudah beberapa hari mereka menikah, namun bila mereka berdua tetap saja suasana mendadak canggung.


"Ya sudah, aku mandi dulu ya.. Kamu nanti langsung saja ke ruangan makan. Soalnya abah dan ambu sudah disana," Ucap Banyu seraya beranjak masuk kedalam kamar mandi.


"Iya mas," Sahut Tasya.


Setelah Banyu menutup pintu kamar mandi, Tasya pun mulai kembali tersenyum. Ia mulai merasa salah tingkah sendiri dan bingung bagaimana caranya mengatakan bila dirinya sudah boleh di sentuh oleh sang suami.

__ADS_1


Angan Tasya kembali ke beberapa hari yang lalu, saat ia pertama kali melihat otot perut Banyu di toko kue milik nya. Saat itu ia tidak bisa menggambarkan betapa canggung nya dirinya. Jantung nya berdebar kencang dan nafasnya mulai memburu. Wajar saja, selain mereka sudah sah menjadi suami istri, Tasya sudah lama tidak pernah tersentuh, bahkan Tasya tidak pernah merasakan sentuhan lawan jenisnya, jauh sebelum dirinya dan Antoni bercerai. Terakhir kali ia di sentuh oleh Antoni pada saat sebelum mereka pindah ke Jakarta. Tetapi, setelah itu Antoni seakan tidak menganggap dirinya ada. Karena Antoni sudah sibuk mengejar Queen untuk kembali pada lelaki itu.


Sejak berumah tangga pun dengan Antonu, Tasya jarang di sentuh. Antoni akan datang padanya bila terpaksa saja. Hal itu bisa terjadi berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya. Sebagai wanita normal dan seorang istri, wajar saja Tasya merasa kecil hati dan frustasi dengan keadaan yang dulu ia alami. Tetapi kali ini ia sudah membuka lembaran baru dan ia sudah siap untuk melakukan nya dengan Banyu. Hanya saja ia harus bersabar, karena dirinya harus makan malam dulu dengan kedua mertua nya.


Tasya mematikan hair dryer nya dan meletakkan nya di atas meja rias. Lalu ia meraih sisir dan menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Setelah itu ia bersiap mengambilkan pakaian untuk di kenakan oleh Banyu.


"Loh, belum keluar? Kenapa?" Tanya Banyu yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh lelaki itu terlihat begitu menggoda dengan handuk yang terlilit di pinggang ramping nya.


"Ah.. aku baru selesai juga, ini aku sedang menyiapkan baju untuk mas Banyu." Ujar Tasya.


Banyu tersenyum dan mengecup puncak kepala Tasya.


"Terima kasih ya.." Ucap Banyu seraya meraih pakaian yang Tasya taruh di atas ranjang.


Tasya mengangguk dan menghela nafas panjang. Sesekali ia melirik Banyu yang hendak memakai pakaian nya.


"Tumben.. Biasanya keluar," Tanya Banyu yang hendak memakai pakaian dalam nya.


"Ng... nggak.. aku cuma ingin keluar bareng sama mas Banyu."


"Hmmm.. maksudnya.. aku mau ke ruangan makan dengan mas Banyu." Tasya mencoba mengulangi ucapan nya dengan benar.


"Oh... kirain.." Banyu tersenyum dan mulai memakai pakaian dalam nya dari balik handuk yang tetap terlilit di pinggang nya.


"Hmmm.. kamu.. sudah.. itu. apa namanya.." Banyu memegang rambutnya sendiri, seakan ia lupa bagaimana caranya menyebut kata 'keramas', kepada Tasya.


"Keramas?" Tanya Tasya seraya menatap Banyu malu-malu.


"Aaaa... iya.. keramas.." Layaknya sedang bermain tebak-tebakan, Banyu terlihat puas saat istrinya memahami apa maksud dari gerak tubuhnya.


"Tiap hari juga keramas," Sahut Tasya.

__ADS_1


"Siapp.." Ucap Banyu seraya memakai celana panjang nya.


"Bukan.. maksudku.. aku tiap hari keramas mas.. rambutku kan panjang, terus udara Jakarta kan panas."


Banyu terdiam, wajah nya mulai memerah. Ia mulai merasa malu bila istrinya tahu pikiran mesum nya itu.


"I-iya.. maksudku juga begitu. Siap.. silahkan keramas tiap hari. Aku akan membeli stock shampoo yang banyak," Ucap Banyu dengan gerak gerik yang canggung.


"Oh.. begitu ya mas." Tasya tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Iya.." Banyu menghela nafas panjang dan memakai kaos nya. Lalu ia meraih sisir dari atas meja rias istrinya itu dan menyisir rambutnya dengan cepat.


"Ayo kita ke ruangan makan." Ucap Banyu seraya membuka pintu kamar itu.


Tasya menatap Banyu dengan seksama untuk beberapa saat, lalu ia beranjak dari duduknya seraya menghela nafas panjang.


"Dia mah.." Batin Tasya. Entah mengapa Tasya sedikit merasa kecewa, karena ia menilai Banyu tidak peka kepada dirinya. Lalu ia berjalan mendahului Banyu, untuk keluar dari kamar tersebut.


Setelah Tasya keluar, barulah Banyu menepuk dahinya dengan keras.


Plokkkk!


"Aduh..!"


Ia pun mengusap dahinya yang baru saja ia tepuk.


"Jangan sampai ia berpikir kalau aku celamitan.. Tidak sabaran.. atau apalah.. Malu aing maluuuuu.." Batin Banyu, seraya menutup pintu kamar itu.


Banyu pun menyusul Tasya yang sudah berada di ruangan makan. Terlihat ambu dan abah tersenyum menyambut dirinya. Sejak dulu, ia belum pernah di sambut dengan senyuman oleh kedua orangtuanya itu. Tetapi malam ini ia merasakan nya, dan tentu saja hal itu membuat dirinya merasa sangat bahagia. Apalagi ia melihat sosok bidadari cantik yang sedang mempersiapkan piring untuk dirinya dan kedua orangtuanya.


"Ya Allah.. maksudku ya begini... Terima kasih ya Allah.. Alhamdulillah.. Allahu akbar!" Batin nya.

__ADS_1


.


"Jangan lelah.. walaupun dianggap tidak ada artinya. Bersabarlah, karena ada masanya dunia akan berpihak kepada diri kita. Tidak hari ini, mungkin esok hari... tidak pada esok hari, mungkin suatu saat nanti. Bila tidak juga, ya sabar saja... πŸ˜‹" -De'rini- (Sesekali author bercanda yesss...!)


__ADS_2