
Mobil yang dikendarai Putra sampai di sebuah rumah mewah dengan nuansa modern. Rumah dengan warna yang di dominasi warna putih itu terlihat begitu sepi. Sedangkan pagar rumah tersebut menjulang tinggi dan mengelilingi hampir sekeliling rumah mewah tersebut. Dari celah pagar terlihat taman yang ditata rapi sedemikian rupa, serta terlihat sebuah kolam ikan lengkap dengan pancuran air yang terus mengalir kedalam kolam tersebut.
Putra menghela nafas panjang, tangan nya terlihat gemetar saat akan membuka pintu mobilnya. Tetapi ia tidak punya pilihan lain, selain tetap memenuhi undangan dari orang tua Alia, gadis yang begitu menyukai dirinya, sehingga membuat ia terjebak di situasi yang menurut Putra sendiri sangat menyulitkan dirinya.
Terlihat seorang satpam mendekati Putra, saat Putra baru saja turun dari mobil sedan nya yang berwarna hitam. Satpam yang bertubuh tegap serta berseragam serba hitam tersebut menatap dirinya dengan tatapan yang menyelidik dan memperhatikan dirinya dari ujung kepala hingga ke ujung rambut.
"Selamat malam, cari siapa?" Sapa satpam tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini." Sahut Putra dengan ujung suara yang tercekat.
"Sudah ada janji?"
"Sudah. Bapak Anton sendiri yang mengundang saya tadi pagi."
"Baik, tunggu sebentar." Satpam itu pun beranjak masuk kedalam pos nya dan mencoba menghubungi sang pemilik rumah. Selang beberapa menit kemudian, satpam itu pun kembali menemui Putra yang terlihat semakin gelisah di sebelah luar pagar rumah tersebut.
"Bapak Putra?"
"Iya, saya."
"Silahkan masuk. Bapak Anton sudah menunggu anda."
"Terima kasih." Sahut Putra, seraya beranjak masuk kedalam mobilnya. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya, untuk dapat ia bawa masuk kedalam halaman rumah mewah tersebut. Saat Putra baru saja memarkirkan mobilnya tepat di halaman parkir, sesuai petunjuk sang satpam, terlihat Anton keluar dari rumahnya dan berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan orang yang sedang ia tunggu-tunggu kehadiran nya itu.
Putra menelan saliva nya, ia menatap Anton dari dalam mobilnya yang memiliki kaca berwarna hitam pekat, sehingga Anton tidak dapat melihat dirinya yang sedang memperhatikan lelaki paruh baya tersebut.
"Apa rencana bajingan ini? Anak sama bapak sama saja menyusahkan aku!" Keluh Putra sebelum. ia memberanikan diri untuk membuka pintu mobilnya.
Putra melangkah turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Anton yang terus menatap dirinya dari kejauhan dengan senyuman sinis yang terbingkai di sudut bibirnya.
"Bapak Putra... akhirnya kamu datang juga. Silahkan masuk," Ucap Anton, seraya merentangkan kedua tangan nya. Seolah ia ingin memperlihatkan bahwa dirinyalah pemilik kekuasaan di rumah mewah tersebut.
"Terima kasih," Ucap Putra seraya melangkah menaiki anak tangga yang berjumlah sembilan anak tangga, untuk menuju pintu utama rumah tersebut.
Anton tersenyum dan mengulurkan tangan nya saat Putra sudah berdiri berhadapan dengan dirinya.
__ADS_1
"Tidak saya sangka, ternyata kamu adalah seorang lelaki pemberani."
Bug!
Sebuah pukulan mendarat di perut Putra saat ia baru saja berjabat tangan dengan Anton. Pukulan tersebut ia terima dari salah satu bodyguard Anton yang berdiri di sisi kiri nya.
"Arghhhh..!" Keluh Putra, seraya memegangi perut nya yang terasa sakit.
Anton tersenyum puas dan memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Putra masuk kedalam rumah mewahnya itu. Dengan di papah oleh dua orang bodyguard, Putra yang terus memegangi perutnya pun dibawa masuk ke ruang keluarga. Di sana terlihat Alia sedang duduk manis sambil menonton televisi. Gadis cantik tersebut terperanjat saat melihat Putra hadir di rumahnya pada malam itu. Yang lebih membuat ia terheran-heran adalah, saat melihat Putra yang terus memegangi perutnya dengan ekspresi yang menahan sakit.
"Pa! ada apa?" Jerit Alia, seraya beranjak mendekati Putra.
"Ini kan yang kamu mau, membawa dia ke sini dan meminta maaf kepadamu?"
"Iya, tapi tanpa kekerasan pa!" Alia melotot dan menyesali perbuatan papa nya.
"Bapak tidak apa-apa kan?" Tanya Alia kepada Putra yang masih tertunduk menahan sakit di perutnya.
"Saya tidak suka ada orang yang mempermainkan putri saya. Bukankah kamu dan putri saya sudah dekat dan sedikit intim?"
"Kamu.." Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Putra saat ia menatap Alia yang terlihat serba salah kepada dirinya.
"Kamu tahu, saya hanya memiliki satu orang anak, yaitu Alia. Saya sangat menyayangi dia dan tidak akan pernah tinggal diam bila ada seseorang yang mengecewakan anak saya. Apalagi memanfaatkan kepolosan anak semata wayang saya."
Putra tertunduk lesu, kini ia terjebak di situasi yang lebih sulit lagi. Putra mulai menyesal karena telah memenuhi undangan dari Anton untuk datang ke rumah tersebut.
Bug!
Kembali pukulan mendarat di perut Putra, hingga ia berlutut menahan rasa sakit yang baru saja ia terima.
"Stop! Aku menginginkan papa untuk berbicara saja baik-baik dengan pak Putra. Tetapi tidak dengan kekerasan!" Pekik Alia yang kini ikut berlutut dan merangkul Putra.
"Lihat, betapa besarnya kasih sayang putriku kepadamu. Bahkan ia tidak rela kamu tersakiti. Lantas, mengapa kamu mempermainkan perasaan Putri ku?" Anton berjongkok dan meraih dagu Putra, sehingga mau tidak mau Putra menatap kedua mata yang sedang dihinggapi amarah tersebut.
"A-apa yang bapak mau?" Tanya Putra dengan terbata.
__ADS_1
Anton menghela nafas dengan berat dan menurunkan tangan nya dari dagu Putra.
"Saya dengar, kamu sudah memiliki tunangan."
Putra terbelalak dan langsung menatap Alia yang kini tertunduk karena tatapan Putra yang tajam dialamatkan kepada dirinya. Seketika terbayang wajah Tasya dan Rafis di pelupuk matanya. Tawa Rafis yang begitu lepas, serta senyuman manis Tasya yang dilemparkan kepada dirinya. Ada rasa penyesalan karena ia telah mengaku sudah bertunangan kepada Alia, sehingga ia pun berpikir bila sesuatu bisa saja terjadi kepada Tasya dan Rafis.
"Jawab!" Bentak Anton, kala ia merasa tidak sabar melihat Putra yang terdiam membisu.
"A-apa yang bapak mau. Saya mohon jangan lakukan apa pun kepada wanita yang sedang bersama dengan saya." Terlihat raut wajah Putra yang begitu memohon kepada Anton. Lagi-lagi Anton tersenyum sinis, ia kembali mendekati Putra dan menatap Putra dengan seksama.
"Saya ingin kamu putuskan hubungan mu dengan wanita itu dan mulailah untuk mencintai anak saya."
Putra menghela nafas yang terasa sesak di dadanya. Ia baru saja ingin serius dengan seorang wanita, tetapi ia terjebak di situasi yang menyulitkan dirinya sendiri. Ini semua karena nafsunya yang tidak bisa ia kendalikan sejak ia tumbuh dewasa. Ia selalu menganggap semua wanita adalah mainan semata.
"Saya tidak bisa." Tegas Putra seraya menatap Anton.
Alia menatap Putra dengan kerut di kening nya. Pun dengan Anton yang tidak menyangka jawaban Putra seperti itu kepada dirinya.
"Apa!"
"Saya tidak bisa, saya tidak mencintai Alia. Hati saya milik wanita lain." Tegas nya lagi.
Bug!
Bug!
Bug!
Bug!
Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh dan wajah Putra, tanpa mampu satupun ia elak kan. Pukulan itu semakin membabi-buta kala Putra hanya pasrah menerima pukulan-pukulan tersebut. Sedangkan Alia, kali ini ia hanya diam saja melihat Putra menerima perlakuan tersebut. Rasa sakit hati karena jawaban yang keluar dari bibir Putra membuat ia pun merasa puas kala Putra menerima pukulan demi pukulan dari para bodyguard papa nya.
"Uhuk! Uhuk!" Darah menyembur dari mulut Putra kala ia terbatuk dan terkapar dilantai rumah mewah nan dingin tersebut. Ia meringkuk memegangi perutnya yang terasa sakit dan ngilu. Mata nya terpejam dan tubuhnya gemetar. Saat itu juga sepasang kaki milik Anton terlihat tepat di depan wajahnya. Putra mendongak dan samar ia melihat Anton yang baru saja berjongkok di hadapan nya.
"Saya bisa melakukan apa saja. Termasuk menghilangkan tunangan mu dari hidupmu. Kamu menyetujui perjanjian dengan saya, atau tunangan mu akan hilang dari muka bumi ini."
__ADS_1
Air mata mengalir disudut mata Putra yang memerah. Ia tidak punya pilihan lain, selain menyetujui perjanjian nya dengan Anton. Ini semua ia lakukan demi keselamatan Tasya dan Rafis. Dua orang yang kini sangat berarti di dalam hidupnya.