
"Kamu yakin, mau merantau ke Australia?" Tanya Banyu, setelah beberapa bulan Putra tinggal di rumah nya.
Putra tertunduk lesu, ia menatap Banyu sejurus kemudian dengan tatapan yang terlihat bimbang.
"Mau gimana lagi a', aku kan mantan narapidana. Agak sulit bekerja di Negeri sendiri." Keluh Putra. Tangan nya tak henti-hentinya memilin ujung kemeja yang terpasang di tubuhnya.
Banyu menatap Putra dengan seksama. Ia pun merasa iba dengan Putra yang terlihat putus asa atas hidupnya sendiri.
"Tapi kan a'a sudah bilang, kamu bekerja saja di perusahaan a'a."
"Tidak a', aku tidak mampu menatap mata orang yang mengenaliku."
"Memang ada yang kenal denganmu?"
"Ya.. ada saja," Ucap Putra, lalu ia menundukkan pandangan nya.
"Put, kalau kamu malu, kamu tidak akan maju. Bekerjalah bersama a'a. Kebetulan a'a butuh asisten untuk menjaga gudang."
"Atau kamu mau usaha apa? Bimbel? Atau apa? A'a mungkin bisa bantu,"
Lagi-lagi Putra menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak sanggup menerima kebaikan Banyu lagi, setelah Banyu menampung dirinya di rumah itu.
"A'a benar-benar tidak merasa keberatan Put.. Ayo lah... jangan pedulikan orang lain. Kamu bisa, kamu pasti mampu. Daripada kamu jauh-jauh ke luar Negeri yang belum tahu juntrungan nya." Nasihat Banyu kepada adik semata wayangnya itu.
"Put, dengarkan a'a sekali ini saja. Kalau kamu ada apa-apa di luar Negeri, jelas a'a tidak bisa bantu kamu. Kalau kamu disini, setidaknya a'a bisa monitor kamu. Put, kamu sudah tidak muda. Kamu sudah hampir empat puluh tahun!"
Putra terdiam, bibirnya terkunci rapat setelah mendengar nasihat dari Banyu.
"Kalau tidak begini saja. Kalau kamu malu berada di Jakarta, lebih baik kamu pindah ke Jepara."
Putra menatap Banyu dengan seksama. Ia tidak mengerti mengapa kakak nya itu ingin ia pindah ke Jepara.
"Memang ada apa di Jepara?" Tanya Putra, penasaran.
"Begini, a'a baru saja mendirikan gudang di sana. Setelah a'a pikir-pikir, sepertinya a'a butuh gudang yang besar di sana. Ada juga kantor yang belum ada pengelolanya. Bagaimana kamu saja yang memegang salah santu kantor pemasaran? Sekalian kamu menjaga gudang milik a'a di sana. Di sana lingkungan pekerja, jadi mereka tidak terlalu menyimak tentang berita-berita yang di televisi." Terang Banyu.
Putra tampak berpikir untuk menerima tawaran dari Banyu.
"Ayolah.. kamu tahu, sekarang a'a sudah banyak pembeli dari luar Negeri juga. A'a butuh orang yang seperti kamu, yang bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Jadi tidak semua a'a handle sendiri." Lagi-lagi Banyu mencoba meyakinkan Putra.
"Bagaimana?" Desak Banyu.
Putra bergeming, ia tampak mempertimbangkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Banyu.
__ADS_1
"Gajinya a'...?" Tanya Putra seraya tersenyum malu-malu.
"Kamu minta gaji berapa?" Tanya Banyu seraya menatap Putra dengan tatapan yang tampak serius.
"Tiga puluh juta ya a'."
Banyu membelalakkan matanya, saat mendengar permintaan gaji yang Putra inginkan.
"Mimpi kamu.."
"Come on a'.."
"Tidak.. Tidak.. enak saja.."
"Biar aku tidak korupsi a'.." Putra tersenyum dan menatap Banyu dengan tatapan memohon.
"Lagi pula aku butuh membeli rumah lagi a'. Semua sudah terjual setelah kasus kemarin." Putra menundukkan pandangannya dan mulai memasang wajah yang tampan begitu memelas.
"Hhhhhhhhh..!" Banyu menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"A'... a'a baik deh.."
"Tidak. Kalau kamu mau, mulai dari NOL. Paham?"
Banyu tampak berpikir untuk memberikan gaji kepada adik kandung nya sendiri.
"Bagaimana lima belas dulu."
Dengan wajah yang tampak malas, Putra pun melengos.
"Aku mau keluar Negeri saja." Tegasnya untuk menolak tawaran daei Banyu.
"Dasar manja! Ya sudah dua puluh di awal. Kalau kamu berhasil meng-handle minimal dalam tempo satu tahun pemasukan banyak, kamu a'a tambahkan gaji."
Putra tersenyum semringah saat mendengar kata-kata dan janji Banyu padanya.
"Beneran nih?"
"Iya." Sahut Banyu dengan malas.
"Aihhh.. a'a teh memang paling kasep! Paling baik! Paling paling si paling!" Ucap Putra seraya mencubit kedua pipi Banyu.
"Apaan sih!" Banyu menepis tangan Putra yang terus mencubit pipinya dengan gemas.
__ADS_1
"Aku tuh lagi seneng a'a.."
"Ya gak gitu juga.." Banyu mengusap pipinya yang terlihat memerah.
"Masa bodo.. Ya sudah.. kapan aku bisa ke Jepara?"
"Terserah." Banyu pun beranjak dari duduk nya.
"Yah dia marah.. A'.. a'a!" Panggil Putra, seraya menyusul Banyu yang beranjak ke arah kamar nya.
"Apa lagi."
"Kasih kepastian dong!"
"Ya sudah.. lusa kamu berangkat."
"Yes! Yes! Terima kasih a'a!"
Putra berlari ke arah kamar nya, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat gembira. Sedangkan Banyu hanya dapat menatap tingkah adik nya itu seraya menggelengkan kepalanya.
"Terbentur dinding penjara mungkin dia ya, rada aneh." Gumam Banyu. Tetapi perlahan senyum mengembang dari bibirnya. Entah mengapa, setiap ia dapat membantu seseorang, ia pasti merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Banyu melangkah masuk kedalam kamarnya. Terlihat Tasya yang sudah tertidur bersama dengan Nadira yang sudah tampak semakin besar. Kini Nadira sudah berusia tiga bulan. Bayi cantik itu pun terlihat semakin aktif dan pintar. Semakin hari, wajah Nadira pun semakin mirip dengan Banyu. Entah mengapa kemiripan mereka berdua sering sekali membuat Tasya merasa cemburu, kala Nadira sedang di gendong oleh Banyu.
"Huh! Mengandung sembilan bulan. Pegal linu, gak bisa tidur dan keram di derita sendiri. Melahirkan sakit luar biasa, menyusui apa lagi, tapi yang keluar malah mirip bapak nya!" Protes Tasya.
"Ih.. biarin.. sirik.." Celetuk Banyu seraya menimang-nimang Nadira yang tertawa ke pada Tasya, seakan ia ikut menertawakan keluhan ibunya.
"Dasar!" Tasya mengerutkan dagu nya, lalu tak lama ia pun tertawa melihat Nadira yang tersenyum manis kepada dirinya.
Banyu menghampiri Tasya, dan mengecup lembut kening istrinya yang terlihat lelah setelah seharian mengasuh sang buah hati. Tasya pun menggeliat dan membuka kedua matanya. Lalu ia tersenyum kepada Banyu yang sedang duduk di pinggir ranjang dan menatap dirinya.
"Mas.." Sapa nya seraya menguap karena masih mengantuk.
"Tidur yang nyenyak ya sayang.. Terima kasih sudah menjadi istriku yang hebat," Ucap Banyu seraya kembali mengecup kening Tasya.
Tasya pun tersenyum manja, lalu ia mengangguk dan kembali memejamkan kedua matanya.
Banyu mulai menepuk-nepuk lengan Tasya dengan lembut, agar sang istri dapat kembali tidur terbuai oleh mimpi indahnya. Sambil membuat Tasya merasa nyaman, Banyu terus menatap Nadira yang tertidur pulas di sisi sang ibu.
"Tidurlah anak ku sayang, mimpi indah.. Masa depan sedang menunggumu. Jadilah anak yang baik dan salihah." Gumam nya seraya mengecup lembut kening Nadira.
Hal ini sempat menjadi impian Banyu dan Tika dahulu, saat ia baru saja mengarungi rumah tangga bersama almarhumah Tika. Tetapi kini impian itu terwujud, walaupun tidak dengan orang yang sama. Meskipun begitu, Tuhan telah mengganti Tika dengan versi yang jauh lebih baik. Yaitu Tasya yang mempunyai hati yang sangat lembut dan cinta yang luar biasa untuk Banyu. Yang membuat Banyu merasa selalu bersyukur setiap kali ia melihat Tasya dan juga kedua anak nya.
__ADS_1