Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
88. Tasya!


__ADS_3

"Mas, mas baik-baik saja kan?" Tanya Tasya, saat mereka baru saja memasuki mobil untuk meninggalkan kantor polisi, dimana Putra sedang di tahan.


Banyu menatap Tasya dan menghela nafas panjang. Lalu ia mengangguk pelan dan tersenyum kepada istrinya itu.


"Sekarang mari kita jemput abah dan ambu." Ucap nya seraya menyalakan mesin mobilnya.


Tasya hanya mengangguk, lalu memasang sabuk pengaman nya. Tasya hanya diam, memikirkan pertemuan nya nanti dengan mertuanya. Apakah mertuanya nanti akan menerima dirinya? Apakah mertuanya yang baru ini akan sama dengan mertuanya dulu? Apalagi sebelumnya dirinya adalah calon dari Putra dan ternyata kini menjadi istri dari Banyu. Apa kata mertuanya nanti? Keringat dingin pun mulai bermunculan di dahi Tasya.


"Kamu kenapa?" Tanya Banyu, kala lelaki itu menghentikan laju mobilnya saat lampu merah menyala di jalan utama Ibukota.


Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan tatapan khawatir. Lalu ia hanya menggelengkan kepalanya tanpa mampu mengutarakan kegelisahan yang tengah ia rasakan.


"Sayang.." Banyu meraih tangan Tasya, saat itu juga Banyu merasakan tangan Tasya yang basah karena di banjiri keringat dingin.


"Kamu kenapa? Sakit? Apa kita kedokter saja? Biar ambu dan abah naik taksi saja?" Tanya Banyu yang mulai terlihat panik.


Tasya terdiam melihat kekhawatiran suaminya itu. Entah mengapa ia begitu terpesona dengan perhatian Banyu. Dulu saat dirinya bersama dengan Antoni, ia tidak pernah merasakan Antoni khawatir kepada dirinya. Bahkan, cenderung tidak peduli. Semua ia lewati sendirian, hingga ia merasa tidak berarti dimata mantan suaminya itu.


"Katakan padaku, kamu kenapa?" Tanya Banyu lagi, seraya menempelkan punggung tangan nya di dahi Tasya.


"Aku tidak apa-apa kok mas.." Tasya tersenyum dan meraih tangan Banyu yang sedang berada di dahinya. Lalu dengan lembut ia mengecup punggung tangan suaminya itu.


"Terima kasih mas,"


"Untuk?" Tanya Banyu dengan tatapan yang bingung.


"Untuk... hmmmm.. sudah memperhatikan diriku." Tasya tersenyum lebar dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.


"Kamu benar-benar tidak apa-apa? Kalau memperhatikan itu sudah semestinya, kamu kan istriku.."


Tasya menitikkan air mata kala mendengar ucapan Banyu yang begitu menyanjung dirinya.


"Ternyata benar ya mas, mas adalah lelaki yang sangat tepat untuk ku. Seperti apa yang dikatakan bapak ku."


Banyu kembali melajukan mobilnya kala lampu hijau menyala. Lalu ia menoleh sebentar kepada Tasya dan tersenyum malu-malu.


"Mengapa begitu?" Tanya Banyu, seraya menepikan mobilnya di tepi jalan.

__ADS_1


"Gak apa.. aku hanya merasakan apa yang dikatakan bapak, benar adanya." Tasya kembali tersenyum dan mengusap air matanya.


"Loh.. kok nangis.. sudah.. sini aku peluk.." Banyu meraih tubuh Tasya dan mendekapnya kedalam pelukan hangat nya. Lalu ia mengecup pipi Tasya dengan begitu lembut.


"Kamu istriku, segalanya tentang mu harus aku perhatikan." Bisik nya.


"Entah mengapa, aku hanya takut mas.. Mungkin aku juga trauma."


Banyu melepaskan pelukan nya dan menatap Tasya dengan seksama.


"Trauma?"


"Ya.."


"Pertama aku agak gelisah, karena akan bertemu dengan abah dan ambu. Aku takut bila mereka akan seperti orang tuanya Antoni. Kedua.. hmmm.. mungkin..


"Mungkin apa?" Desak Banyu.


"Mungkin ini hanya pikiran ku saja. Aku takut nanti kamu seperti Antoni."


Banyu terdiam, ia merasa trauma yang di derita oleh Tasya begitu parah. Hingga wanita itu tidak dapat mempercayai bila tidak semua orang seperti Antoni ataupun keluarganya. Banyu kembali mendekap tubuh Tasya, lalu ia mengusap lembut punggung istrinya itu.


Tasya melepaskan pelukan Banyu, lalu ia menatap kedua mata teduh lelaki itu dengan seksama, mencoba untuk mencari kepercayaan di sana.


"Dengar," Banyu menyentuh kedua pipi Tasya dengan kedua telapak tangan nya. Ia menatap istrinya itu dengan tatapan penuh cinta dan simpati.


"Ingatkan aku bila aku ada kesalahan. Ingatkan aku bila ada yang tidak membuatmu merasa puas. Ingatkan aku untuk tetap menjadi baik. Ingatkan aku selalu.. Apapun itu, jangan ragu untuk mengatakan apa pun kepadaku. Aku ini suami mu, pengganti bapak mu, mas mu, pacar. mu dan apa pun peran lelaki di dalam hidup mu."


"Sayang.. Insya Allah aku tidak seperti orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu mu. Aku adalah penyembuh luka mu. Aku mohon, percayalah padaku."


Tasya menangis haru, rasa cinta nya pada Banyu semakin tumbuh dan bermekaran. Entah bagaimana ia dapat melukiskan apa yang tengah ia rasakan. Yang ia tahu, betapa ia bersyukur tidak jadi menikah dengan Putra, namun mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik.


"Aku mencintaimu mas, sangat..." Ucap Tasya seraya kembali memeluk erat tubuh Banyu.


"Pun denganku.." Bisik Banyu.


.

__ADS_1


Suasana di terminal cukup ramai dengan para calon penumpang dan juga yang baru tiba dari berbagai Kota. Terlihat juga para pedagang asongan yang menjajakan dagangan nya, berjalan diantara para calon penumpang yang sedang menunggu kedatangan bus yang akan mereka tumpangi. Juga para kru bus yang terlihat begitu sibuk dengan bongkar muat barang-barang bawaan para penumpang dan calon penumpang di bagasi bus yang menjadi tujuan atau yang baru saja mereka tumpangi.


Banyu dan Tasya sedang menunggu bus yang di tumpangi oleh kedua orangtua Banyu, di sebuah rumah makan yang berada di area terminal tersebut. Mereka juga baru saja selesai menyantap makan siang mereka yang begitu telat, karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


Dretttt... dreettt..!


Ponsel Banyu pun berdering, lelaki itu dengan cepat langsung menerima panggilan telepon dari orangtuanya itu.


"Jang, kamu dimana?"


"Abah sudah sampai?"


"Sudah, ini baru mau turun dari bus."


"Baik bah, aku kesana sekarang." Ucap nya seraya beranjak dari duduk nya.


"Baik jang, abah dan ambu tunggu."


"Iya bah." Sahut Banyu seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Abah dan ambu sudah sampai?" Tanya Tasya yang mulai terlihat panik.


"Sudah, ayo kita temui," Ucap Banyu seraya membereskan barang nya yang berada di atas meja makan restoran itu. Lalu ia berjalan ke kasir untuk membayar tagihan menu yang ia dan Tasya pesan. Sedangkan Tasya terlihat ragu untuk beranjak dari duduknya. Ia mulai diserang kepanikan atas trauma nya kala menghadapi mertua.


"Ayo.." Ucap Banyu saat ia baru saja membayar tagihan di kasir, kepada Tasya yang berjalan pelan ke arahnya.


"Mas.."


"Ya?"


"Aku.. aku.. aku takut.."


"Tenang, ada aku." Bisik Banyu.


Mereka berdua berjalan menuju ke bus tujuan Bandung - Jakarta, yang baru saja tiba. Terlihat kedua orangtua Banyu yang sedang menunggu barang bawaan mereka di keluarkan dari dalam bagasi bus.


"Abah, ambu.." Sapa Banyu dengan wajah yang begitu riang.

__ADS_1


Kedua orang tua Banyu menatap anak pertama mereka itu, lalu sejurus kemudian mereka menatap Tasya dengan wajah yang tampak terkejut.


"Tasya!" Ucap mereka secara serempak.


__ADS_2