Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
34. Untuk sementara


__ADS_3

"Selamat pagi, saya dosen pengganti mata kuliah yang biasa di pegang oleh pak Putra yang sedang dirawat karena sakit." Ucap ibu Ayu, rekan Putra saat ia memasuki kelas Alia. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi tampak bertanya-tanya prihal sakit nya Putra. Sedangkan Alia tampak diam saja di bangku nya.


Seorang mahasiswa mengangkat tangan nya sebelum mengajukan pertanyaan kepada ibu Ayu.


"Ya?" Tanya ibu Ayu, seraya menatap mahasiswa tersebut.


"Bapak Putra sakit apa bu?"


"Bapak Putra mengalami kecelakaan mobil kemarin. Jadi dia sedang dirawat di rumah sakit tak jauh dari rumahnya." Terang ibu Ayu.


Seketika ruangan tersebut terdengar gaduh, semua langsung mendoakan keadaan Putra saat ini, kecuali Alia. Gadis itu masih diam dan menggigit bibirnya. Pandangan nya kosong dan terlihat jelas penyesalan di wajah nya yang cantik.


"Maafkan aku." Batin nya.


Cinta terkadang membuat seseorang gila karena rasa ingin memiliki. Itulah yang di rasakan oleh Alia yang begitu bernafsu ingin memiliki Putra yang sudah jelas tidak menginginkan dirinya. Walaupun disisi lain ia tahu, bila tidak seharusnya ia berbicara pada papa nya tentang masalah yang tengah ia alami, tetapi rasa sakit hati nya mendorong dirinya untuk mengatakan nya pada Anton, papanya.


Sikap Putra lah yang membuat Alia nekat melakukan ini semua. Walaupun pada awalnya ia hanya ingin memberikan pelajaran kepada Putra agar tidak lagi mempermainkan dirinya dan menerima dirinya menjadi kekasih Putra. Namun siapa sangka, bila Anton bersikap terlalu jauh dan membuat Putra menjadi terluka.


Alia menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ingin sekali menjenguk lelaki itu. Apalagi sekarang Putra telah berjanji untuk menjadi kekasihnya di depan Anton. Namun, Alia masih merasa takut, bila Putra akan bersikap berbeda padanya saat mereka hanya berdua saja. Tetapi rasa penasaran yang ia rasakan akhirnya mendorong dirinya untuk memutuskan akan menjenguk Putra saat jam kuliah berakhir pada siang ini.

__ADS_1


.


Putra menatap langit-langit kamar rawat inapnya dengan nanar. Kedua matanya masih terasa berat karena trauma di sekitar kedua matanya. Ia meringis kala berusaha duduk di atas ranjang. Sesekali ia mengusap kedua pipinya yang masih terlihat bengkak. Putra menghela nafas panjang dan menatap keluar jendela kamar tersebut. Ia tidak menyangka perbuatan isengnya akan berakhir seperti ini. Dimana biasanya mempermainkan wanita tidak menjadi masalah yang berarti dalam hidupnya. Tetapi tidak kali ini, ia berurusan dengan perempuan yang memiliki sifat yang licik dan pintar, serta orang tua yang berkuasa di kampus tersebut.


"Sialannnn sialaaaan.." Keluh nya berkali-kali saat mengingat sosok Anton dan Alia yang telah melukai wajah dan tubuhnya.Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah menyetujui perjanjian bila ia akan menerima Alia menjadi kekasih nya dan bersedia menikahi Alia saat gadis itu lulus kuliah nanti.


"Mimpi apa aku terjebak sama gadis psycho itu." Sesalnya lagi.


Tiba-tiba saja pintu ruangan itu bergeser, Putra pun langsung menoleh dan memastikan siapa yang akan masuk kedalam ruangan rawat inap yang ia tempati. Terlihat Alia, gadis yang baru saja ia pikirkan memasuki ruangan tersebut. Seketika Putra terperangah, layaknya ia sedang melihat sosok makhluk halus. Tubuhnya gemetar dan nafasnya terasa sesak. Saking tidak menyangka bila Alia datang menemuinya di rumah sakit itu, Putra nyaris saja terjatuh dari tempat tidurnya.


"Ka-kamu..." Ucapnya dengan suara yang tercekat.


Alia memasang ekspresi wajah datar dan menaruh buah tangan nya di atas meja. Lalu ia menatap Putra dengan tatapan yang sama datarnya.


"Aku menjenguk kekasihku. Apa itu salah?" Tanya Alia. Seketika bibir Putra terkunci rapat, saat Alia menyebut dirinya adalah kekasih Alia. Ingin sekali ia membantah ucapan Alia, tetapi ia ingat bila hal yang lebih parah akan terjadi padanya, bila ia menyakiti hati Alia.


"Apa kabar sayang?" Dengan wajah yang terlihat licik, Alia mendekati Putra.


"Ba-baik." Sahut Putra, seraya terus membalas tatapan Alia kepada dirinya.

__ADS_1


Alia tersenyum dan mengusap lembut lebam di pipi kanan Putra. Lalu ia memeluk Putra dengan penuh kelembutan.


"Aku rindu." Ucapnya tanpa perasaan bersalah sama sekali. Tubuh Putra gemetar hebat, ia tidak menyangka bila Alia benar-benar tidak peduli dengan derita yang tengah ia rasakan.


"Aku membawakan kamu buah-buahan. Mau aku kupas kan untuk mu sayang?"


Putra masih menatap Alia tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Ingat, aku tidak suka di tolak." Sambung Alia lagi.


Dengan ragu, Putra mengangguk dan di susul senyuman manis Alia yang mulai beranjak untuk meraih salah satu buah-buahan yang sengaja ia bawakan untuk Putra. Lalu ia mengupas sebuah jeruk untuk Putra, seraya duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang Putra.


Dengan wajah yang tampak tertekan, Putra terus menatap Alia yang tampak santai saat mengupas jeruk. Melihat sikap santai Alia, membuat Putra semaki takut dengan sosok Alia. Putra tidak menyangka, di samping wajah cantik dan penampilan yang tampak sangat feminim, ternyata Alia memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan penampilan nya yang seperti itu.


"Buka mulut nya.. aaaaaa.." Alia menyodorkan jeruk yang baru saja ia kupas ke hadapan Putra. Putra menatap jeruk tersebut sambil menelan saliva nya. Dengan berat hati, lelaki itu membuka mulutnya dengan susah payah. Karena memang bibir Putra sempat pecah karena menerima pukulan dari bodyguard Anton. Tidak hanya itu saja, rahang Putra nyaris saja patah, serta pipinya pun lebam.


Akhirnya Putra menyambut jeruk tersebut menggunakan mulutnya dari tangan Alia. Gadis itu tersenyum lebar saat Putra menurut kepada dirinya. Lalu dengan penuh kasih sayang, Alia mengusap pipi Putra.


"Terima kasih ya... sudah menurut kepadaku," Ucap Alia dengan setengah berbisik kepada Putra.

__ADS_1


Dengan menahan air mata dan rasa sakit di mulut dan wajahnya, Putra hanya dapat mengangguk dengan perlahan. Ia tidak menyangka, kini nasibnya di atur oleh gadis yang jauh lebih muda dari dirinya. Gadis yang tidak terbayangkan sebelumya. Gadis yang ia tidak inginkan kehadiran nya. Putra menyesali segala kebodohan nya. Ia tahu betul bila ia melawan, maka karir dan nama baik nya akan hancur. Karena sebelumnya, Anton sempat mengancam Putra, bila ia berani melaporkan kasus penyiksaan itu, maka itu semua akan sia-sia. Anton dan keluarganya sangat berpengaruh dan sialnya, andaikan Putra tahu dari awal, bila Alia adalah bukan gadis biasa, sudah dapat dipastikan bila Putra tidak akan pernah berani menyentuh apalagi berurusan dengan Alia maupun keluarganya.


"Untuk sementara kamu menang Alia. Aku akan memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Aku tidak akan pernah mau menikahi mu. Aku akan meninggalkan mu suatu saat nanti. Aku hanya mencintai Tasya.... hanya dia... ini semua aku lakukan hanya demi keselamatan Tasya dan Rafis. Dan juga nama baik ku untuk sementara waktu. Lihat saja, ke depan nya kamu yang akan tersiksa di tangan ku." Batin Putra. Lalu ia mencoba tersenyum kepada Alia yang kembali menyodorkan kepingan buah jeruk kepada Putra.


__ADS_2