
Satu persatu karyawan dan karyawati yang bekerja di kantor milik Anton pun memasuki ruangan meeting, sesuai perintah atasan mereka. Karena kapasitas di ruangan tersebut terbatas, sebagian dari mereka berdiri di luar ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka, agar mereka dapat mendengar ucapan Anton yang akan berbicara mengenai kasus yang menimpa Tasya.
Anton sudah duduk di samping Tasya dan menatap satu persatu karyawan dan karyawati nya dengan tatapan dingin yang cenderung menyeramkan dimata para pegawainya. Sedangkan Tasya tampak malu karena banyak mata yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sangat sulit untuk Tasya artikan. Entah apa yang ada di otak mereka. Yang jelas, dari tatapan mereka, ada yang merasa iba, tidak peduli dan bahkan ada tatapan yang seperti melecehkan dirinya. Khususnya para karyawan yang memang menyukai Tasya.
"Selamat pagi menjelang siang," Ucap Anton, kala seluruh karyawan nya ia anggap sudah berkumpul di sana.
"Selamat pagi menjelang siang pak.." Sahut mereka semua.
Anton menatap satu persatu dari mereka. Lalu ia menghela nafas panjang seraya menatap Tasya yang terus menundukkan wajah nya.
"Hari ini kuta dikejutkan oleh pesan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Pesan tersebut merupakan video, dimana Tasya sedang berganti pakaian nya di toilet perempuan. Apakah masing-masing dari kalian mendapatkan video yang sama?" Tanya Anton dengan tatapan menyelidik.
"Dapat pak." Sahut para pegawainya secara serentak. Tasya yang mendengar pengakuan para pegawai tersebut pun merasa sangat malu. Pasalnya, walaupun bagian tubuhnya tidak semua terekspos, tetapi tetap saja, dalam video tersebut Tasya tampak seperti seseorang yang sedang berada di pantai dengan balutan bikini two piece. Hal itu cukup memalukan bagi Tasya yang notabene adalah wanita baik-baik. Jangankan berbusana minim, bahkan di pantai saja Tasya tidak pernah menggunakan bikini.
"Apa kalian mengenali nomor tersebut?" Tanya Anton lagi.
Masing-masing dari pegawainya menggelengkan kepala mereka, tanda mereka tidak mengenali nomor ponsel yang mengirimkan video tersebut.
"Ngomong-ngomong, Riyanti mana?" Tanya Anton serata menyisir pandangan nya kepada satu persatu pegawainya itu.
"Saya pak." Terdengar suara Riyanti dari luar ruangan. Gadis itu berdiri paling belakang pegawai yang berjejer di depan pintu ruangan meeting.
"Ngapain kamu disitu?" Tanya Anton seraya mencoba mencari sosok Riyanti dari gerombolan para karyawan nya di luar ruangan.
"Sini kamu!" Perintah Anton.
Dengan malas dan kikuk, Riyanti pun melangkah menerobos gerombolan para pegawai untuk memasuki ruangan meeting. Dan kini ia sudah berada di dalam ruangan meeting. Riyanti berusaha bersikap biasa saja. Ia tetap tenang dan berusaha tampak elegan di depan para pegawai lain nya. Ia berdiri di samping Anton sambil memainkan rambut nya yang panjang.
"Jadi begini, tindakan merekam tanpa izin dan juga menyebarluaskan nya adalah salah satu tindakan pelanggaran hukum. Dan itu semua sudah diatur dalam undang-undang ITE di negara kita."
Riyanti menelan saliva nya kala mendengar penjelasan Anton. Ia tidak pernah menyangka bila tindakan gila nya itu melanggar hukum. Semua yang telah ia lakukan hanya bertujuan untuk memberikan pelajaran untuk Tasya dan juga agar Tasya keluar dari kantor tersebut karena malu. Maka dari itu, ia pun akan merasa berhasil telah menyingkirkan Tasya dan membuat posisinya aman bersama dengan Anton. Rasa iri kepada Tasya dan sakit hati kepada Anton mendorong dirinya untuk bertindak diluar batas. Tentu saja ia kini sedang merasa gelisah dengan tindakan bodohnya sendiri.
"Dibawah sudah ada polisi yang sedang menuju ke atas. Jadi, untuk anda yang merasa melakukan hal memalukan itu, lebih baik anda mengakuinya sekarang juga. Agar hukuman anda tidak berat dan segeralah meminta maaf pada Tasya. Apalah anda tahu, bila Tasya adalah wanita terhormat yang tidak akan terima bila video seperti itu disebarluaskan?"
Mendadak Riyanti mulai gemetar. Ia mulai merasa bodoh karena kelakuan nya sendiri. Terutama saat ia mendengar dibawah sudah ada polisi yang akan segera menangkap sang penyebar video tersebut.
"Aduh.. aku harus apa?" Batin nya.
"Jujur, saya sudah tahu siapa pelakunya."
Riyanti, Tasya dan semua pegawai menatap Anton dengan cemas.
"Siapa pak?" Sebagian dari mereka memberanikan diri untuk bertanya, hanya untuk membunuh rasa penasaran mereka.
"Ada lah.. saya hanya sedang menunggu pengakuan dari tersangka. Sebelum polisi memaksa dirinya untuk berbicara." Ancam Anton.
Semua mulai berbisik dan terlihat tak sabar. Sedangkan Riyanti mulai merasa cemas. Ia merasa terpojokkan tanpa Anton menuduh dirinya.
"Selamat siang pak Anton." Dua orang polisi memasuki ruang meeting tersebut dan menyapa Anton dengan wajah yang ramah.
"Selamat siang pakpol.. Aduh.. apa kabar nya?" Sahut Anton dengan ramah. Lalu ia beranjak untuk menjabat tangan polisi yang sudah lama ia kenal tersebut.
"Baik-baik pak Anton. Ada masalah apa ini? Kenapa tiba-tiba saya di undang?" Tanya polisi tersebut, seraya menatap ke sekeliling nya. Terlihat wajah cemas dari seluruh pegawai Anton yang berada di sana.
"Seperti yang saya bilang melalui sambungan telepon tadi loh pak. Jadi, saya sudah mendapatkan bukti dari pegawai IT saya."
"Wah wah... jadi bagaimana pak Anton..? Kita buka saja sekarang atau bagaimana?" Tanya polisi itu.
Keringat dingin menetes di dahi Riyanti. Ia terlihat semakin gelisah.
"Sabar pak, saya menunggu pengakuan dari bibirnya sendiri. Saya menunggu lima belas menit mulai dari sekarang." Tampaknya Anton sengaja mempermainkan mental tersangka.
__ADS_1
"Koe kenopo toh mbak Riyanti? Kok yo mengigil ngunu? Koyok wong kademen?" Tanya Nur yang berdiri di samping Tasya yang sedang duduk di atas kursi di ruangan itu.
"Oh.. Jangan-jangan...
"Jangan-jangan apa!" Bentak Riyanti yang mulai panik.
"Jangan-jangan pean kedinginan. Ac di sini kan banter. Ngomong-ngomong pean kok grogi ngunu?" Cecar Nur lagi.
Tampak nya Nur juga sudah menaruh curiga pada Riyanti. Karena menurut nya, hanya Riyanti lah yang selalu menekan Tasya dan banyak kecurigaan lain nya yang menurut nya mengarah ke Riyanti.
"Berisik!" Lagi-lagi Riyanti membentak Nur yang tersenyum sinis kepada dirinya.
"Sepuluh menit!" Tiba-tiba saja Anton berteriak kencang di ruangan itu, yang membuat para pegawainya semakin tegang.
Riyanti mulai merasa semakin tertekan.
"Menurut alamat IP, pemegang ponsel atau nomor yang menyebarkan video itu ada di gedung ini. Jadi, dia adalah orang yang bekerja di kantor ini. Nah.. karena kejadian di toilet wanita, tersangka mengerucut pada jenis kelamin wanita!" Tegas Anton lagi.
Kini lutut Riyanti terasa lemas. Ia benar-benar merasa takut dengan teror mental dari Anton.
"Jadi, kalian yang berjenis kelamin laki-laki, silahkan keluar dari ruangan ini. Yang perempuan di luar silahkan masuk!" Perintah Anton.
Pegawai laki-laki beranjak keluar, kini ruangan itu dipenuhi oleh para karyawati saja. Mulai dari OB, hingga pegawai tetap di sana. Pintu ruangan itu pun di tutup rapat. Para karyawan hanya mampu menguping dari luar ruangan tersebut. Sedangkan para karyawati tampak gelisah, mereka takut menjadi tersangka, walaupun mereka merasa tidak bersalah sama sekali. Bagaimana tidak? bila sudah menyangkut hukum, mereka bisa saja menjadi tertuduh atau saksi dan itu membuat mereka berurusan dengan hukum yang tidak sesederhana itu. Mereka akan melewati banyak proses yang membuat stress.
"Ok, lima menit lagi!" Ucap Anton seraya menggebrak meja di ruangan itu.
Brakkkkk...!
Semua karyawati termasuk Tasya pun terkejut karena gebrakan meja tersebut.
"Ada yang sudah mau mengaku?" Anton tidak henti-hentinya meneror mental tersangka.
"Saya tidak melakukan nya pak.." Ucap Beberapa karyawati di sana.
"Riyanti..."
"I-i-iya pak?" Sahut Riyanti dengan terbata.
"Apakah ada yang mau disampaikan?" Tanya Anton.
"A-apa? Kok saya? Saya tidak melakukan apa pun!"
"Yang menuduh kamu siapa?" Tanya Anton seraya mendekati Riyanti yang tampak semakin gugup.
"I-i-iya sih... ta-ta-tapi...
" Tiga menit lagi! apakah sudah ada yang mau mengakuinya?"
Riyanti semakin gelagapan, jantung nya berdegup kencang. Keringat dingin terus membasahi dahinya.
"Ingat, hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda satu milyar." Timpal bapak polisi.
Mental Riyanti semakin down. Ia merasa tidak mampu lagi berdiri, hingga ia tersender di dinding ruangan itu.
"Nah...! Biang kerok nya lima L'. Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lunglai!" Seru Nur seraya menunjuk Riyanti.
Tasya mengerutkan keningnya dan ikut menatap Riyanti yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Bu-bu-bukan saya..."
"Waktunya habis! Bawa saja pak!" Perintah Anton kepada polisi kenalan nya itu.
__ADS_1
"Baik, laksanakan!"
"Pak! Bu-bu-bukan saya..."
Dua polisi tersebut tidak peduli, mereka tetap menghampiri Riyanti bertujuan untuk mengamankan Riyanti.
"Gak usah mengelak lagi Riyanti. Kamu pelakunya, saya bukan orang bodoh. Mencari orang seperti kamu itu sangat mudah bagi saya." Anton tersenyum sinis kepada Riyanti.
"Tapi sayang...
"Jangan panggil aku sayang!"
"Selama ini kita baik-baik saja..... Tapi semenjak wanita ini hadir, kamu berubah!" Riyanti berteriak menggila di depan Anton.
"Owalah.. latar belakang asmara toh..!" Celetuk Nur.
Tasya meneteskan air matanya, dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka bila Riyanti mampu berbuat serendah itu, hanya gara-gara merasa cemburu pada dirinya.
"Kamu..! Ini semua gara-gara kamu!" Riyanti menuding Tasya dengan jari telunjuk kirinya.
"Ya Allah mbak.." Tasya kehabisan kata-kata untuk berbicara kepada Riyanti yang secara tidak langsung telah mengakui perbuatan hina nya.
"Koe iku yo.. dasar siluman biawak betina! Berani koe mempermalukan konco ku..! Tak jambak rambut mu sing warna warni kui!" Nur melangkah mendekati Riyanti seraya menjambak rambut Riyanti dengan sekuat tenaga.
"Aaaaaa..! Hair extension ku!" Jerit Riyanti.
"Horah peduli aku c*k!" Maki Nur.
"Sabar mbak! Sabar..!" Tasya dan beberapa karyawati lain nya menahan Nur yang tampak emosi.
"Aku iyo.. wis suwe aku rasa e kepengen jambak rambut ne sing sambungan kui! Rambut kok disambung-sambung koyok sepur!"
"Mbak sabar.. nyebutt.." Ucap Tasya yang terus mencoba menenangkan Nur. Tasya tidak lagi berpikir dirinya adalah korban, karena emosi Nur yang meledak-ledak kepada Riyanti.
"Sudah pak, bawa saja. biar tersangka aman dari amukan poweranggers pink ini," Ucap Anton seraya mempersilahkan para polisi untuk menggiring Riyanti ke kantor polisi.
"Anton! Kamu!" Riyanti menatap Anton dengan wajah yang geram.
"Kita bicara di kantor polisi saja. Jangan berisik disini. Suara mu tidak enak di dengar," Ucap Anton.
Mendengar ucapan Anton, Riyanti pun semakin geram. Ia pun berusaha untuk menyerang Anton yang berdiri tak jauh darinya. Beruntung, para polisi yang membekuk nya menahan Riyanti, agar tidak menyerang siapa pun yang berada di sana.
"Bye bye nenek lampir..." Celetuk Nur seraya tertawa penuh kepuasan.
"Gue inget muka lu semua! Tunggu pembalasan dari gue!" Teriak Riyanti saat ia di giring keluar dari ruangan itu.
"Heleh.. koyok sinetron wae! Lagak mu Ti... Riyanti.." Nur pun menggelengkan kepalanya. Lalu ia teringat ucapan Anton yang mengatakan sesuatu tentang dirinya.
"Ngapunten pak,"
"Apa?" Tanya Anton seraya menatap Nur yang memasang wajah serius.
"Bapak tadi menyebut saya apa pak?"
"Poweranggers Pink!"
Nur pun terdiam seraya mengerutkan dagunya. Tasya yang sudah merasa lega pun tak kuasa menahan tawa nya. Lalu ia memeluk Nur dengan erat.
"Terima kasih ya mbak.."
"Sama-sama Tas, aku loh sayang sama kamu." Sahut Nur seraya membalas pelukan Tasya.
__ADS_1
"Terima kasih juga pak," Ucap Tasya kepada Anton.
"Sama-sama.." Anton tersenyum puas, karena dirinya merasa berhasil melindungi dan menarik perhatian Tasya.