Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
116. Kesepakatan dan perdamaian


__ADS_3

"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Banyu, saat dirinya dan Anton berada di ruang kerja Anton berdua saja tanpa Devonna.


Anton menghela nafas dalam-dalam dan menatap mantan sahabatnya itu dengan tatapan yang terlihat ragu.


"Boleh aku melihat ponsel adikmu?" Pinta Anton kepada Banyu. Tanpa pikir panjang, Banyu pun mengangguk dan menyerahkan ponsel itu kepada Anton. Anton pun meraih ponsel itu dari tangan Banyu, dan melihat lagi foto dan video kebersamaan Putra dan Alia, serta anak mereka Eijaz.


Sejak kelahiran Eijaz, Anton hanya beberapa kali bertemu dengan cucunya itu. Bukan ia tidak menyukai Eijaz, hanya saja hadirnya Eijaz merupakan hal yang tidak terduga bagi dirinya. Sebelumnya ia berharap bila Alia dapat berkuliah dan sukses terlebih dahulu, lalu menemukan jodoh yang baik dan pantas untuk putri semata wayangnya itu. Namun takdir berkata lain, Eijaz hadir ke dunia ini. Meskipun begitu, Alia tidak putus asa, putrinya itu membuktikan kepada Anton, bila walaupun begitu, ia masih bisa sukses dan mandiri tanpa meminta bantuan Anton sama sekali. Bahkan, Alia terlihat sangat menyayangi Eijaz dan mampu membagi waktu antara kuliah, pekerjaan dan Eijaz. Hal itu membuat seiring berjalannya waktu, Anton mulai luluh dengan Alia dan mulai menyapa Eijaz, walaupun sebenarnya ada terbesit kekecewaan saat melihat wajah tampan cucunya itu. Ya, Eijaz sangat mirip dengan ayah biologis nya, yaitu Putra.


Kebencian Anton pada Putra tidak perlu diragukan lagi. Bahkan ia bisa mendadak tidak suka melihat wajah Eijaz, karena saat menatap cucunya itu, ia kerap terbayang wajah Putra di sana. Oleh karena itu, Anton sangat jarang menemui cucu pertamanya itu. Harusnya cucu pertama adalah kebanggaan dan kebahagiaan bagi seorang kakek, hanya saja Anton tidak pernah merasakan itu semua pada Eijaz. Itu semua karena rasa dendam dan benci yang masih bersarang di benaknya.


Saat Anton memutar video kebersamaan Putra, Alia dan Eijaz, ia dapat melihat sorot mata bahagia dari anak semata wayangnya itu dan tawa lepas dari cucunya. Mendadak ia pun tersadar, bila cinta Alia tidak pernah terkikis oleh problem yang ada dan waktu. Hal itu membuat ia terpukul, namun di satu sisi ia merasa terharu dan sedikit merasakan kebahagiaan anak dan cucunya yang sedang ia saksikan di dalam video tersebut.


Setelah puas melihat-lihat isi galeri ponsel milik Putra, Anton pun menaruh ponsel itu ke atas meja dan lalu menatap Banyu yang hanya diam menunggu Anton untuk berbicara kepada dirinya. Anton kembali menghela nafas panjang dan menyodorkan ponsel itu ke hadapan Banyu. Banyu pun langsung meraih ponsel itu dari atas meja dan langsung mengantonginya.


"Bagaimana keadaan Putra?"


Banyu sempat tersentak tak menyangka dengan pertanyaan dari Anton kepada dirinya.


"Masih koma." Sahut Banyu.


"Ya, dia anak dari adikmu. Dia adalah keponakanmu." Akhirnya Anton berani mengakui rahasia yang hampir empat tahun dirinya simpan dari mantan sahabatnya itu.


Banyu hanya mengangguk dan merasa lega dengan pengakuan dari Anton, dan dia sangat menghargai keberanian Anton dalam berkata jujur kepada dirinya.


"Aku akan meminta Alia untuk datang ke Indonesia dan membawa Eijaz bersama dengannya. Lalu kami akan datang menemui keluargamu dan juga adikmu."


Lagi-lagi Banyu tidak menyangka dengan ucapan Anton. Matanya membulat kala menatap lelaki yang duduk dihadapannya itu.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya, meskipun aku bajingan, aku tidak pernah tidak menepati janjiku."


"Anton, Terima kasih.." Ucap Banyu seraya menahan rasa haru di dadanya.


Anton hanya mengangguk dan terlihat sedikit kikuk.


"Bagaimana kau dan Tasya?" Tanya Anton lagi.


"Hmmm.. kami sudah memiliki tiga orang anak."


"Tiga?"


"Ya, satu adalah anak sambung ku. Bukankah itu juga anakku?"


"Ah, iya.." Anton mengangguk paham. Lalu ia berdiri dan menyodorkan tangannya. Sejenak Banyu menatap tangan Anton yang berada tepat dihadapannya, lalu dengan ragu ia berdiri dan menyambut tangan mantan sahabatnya itu.


"A-aku juga." Sahut Banyu seraya menggenggam erat tangan Anton.


Anton melepaskan tangannya dan berjalan kearah Banyu. Lalu ia menatap Banyu dengan seksama.


"Aku merindukan kamu. Aku tahu, masalah kita sudah berlalu. Dan masalah Putra dan Alia, memang sangat sulit aku maafkan, tetapi aku akan berusaha. Aku seorang bapak, kau juga seorang bapak, kau akan melakukan hal yang sama bukan? Bila anakmu diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki?"


Banyu mengangguk paham, jauh didalam lubuk hati Banyu, ia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan Anton. Hanya saja, selama ini Anton lah yang memutuskan hubungan silaturahmi dan persahabatan diantara mereka berdua. Mengenai masalah Putra, Banyu paham mengapa Anton melakukan tindakan itu semua. Walaupun didalam kasus tersebut, Putra tidak sepenuhnya bersalah. Dalam hal hati, siapa pun akan buta. Termasuk Alia, Alia lah yang terlalu memaksakan kehendaknya kepada Putra, hingga Putra hilang akal sehatnya. Pada akhirnya Putra terjebak dalam hubungan toxic antara dirinya dan Alia dan berakhir di penjara. Namun sekarang semua berubah, antara Alia dan Putra sudah terjalin hubungan yang tulus. Penyesalan Putra pun sudah Putra tebus dengan menjadi orang yang berbeda. Putra kini jauh lebih baik dan tidak bermain perempuan lagi. Ia juga sengaja datang jauh-jauh dari Indonesia ke Zurich hanya untuk menemui Alia dan buah hatinya. Hubungan itu pun terjalin atas kesepakatan bersama, yang artinya Alia sudah memaafkan segala yang terjadi dan tidak membenci Putra sedikitpun. Dan kini, tugas mereka sebagai keluarga adalah hanya dapat mendukung saja, itu semua demi kebahagiaan Putra dan Alia, dan tentu juga kebahagiaan Eijaz yang sangat merindukan sosok seorang ayah.


"Aku juga merindukanmu," Ucap Banyu dengan suara yang bergetar haru. Mereka pun saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu mereka, dan melunturkan segala ego dan masalah yang mengganjal dari masa lalu.

__ADS_1


Mereka berdua melepaskan pelukan itu dan tersenyum. Lalu Anton merangkul Banyu dan keluar dari ruangan itu.


.


Bunyi alat pendeteksi detak jantung menggema di ruang ICU. Di sanalah Putra terbaring koma tak berdaya. Ia sedang berjuang untuk tetap hidup demi dua orang yang ia cintai, yaitu Alia dan Eijaz. Terlihat juga luka operasi yang dibalut kain kasa di sekitar dadanya. Sedangkan keluarganya masih berdiri mematung melihat dirinya yang sedang terbaring dari balik kaca ruangan itu. Terlihat ambu terus berdoa demi keselamatan anak kesayangannya itu.


Langkah kaki terdengar menggema di lorong tersebut, abah, ambu dan Tasya menoleh dan melihat Banyu yang sedang berjalan menghampiri mereka. Dengan cepat ambu berdiri dengan wajah yang terlihat cemas dan menunggu kabar yang di bawa oleh Banyu. Ia pun langsung bertanya hasil dari pertemuan antara Banyu dan keluarga Alia saat Banyu baru saja menghentikan langkah kakinya di hadapan ambu.


"Bagaimana Banyu?" Tanya ambu dengan ekspresi wajah yang cemas.


Banyu hanya mengangguk dan tersenyum. Dari ekspresi Banyu, mereka semua pun sudah tahu hasil dari pertemuan Banyu dan keluarga Alia. Yaitu bahwa benar Eijaz adalah anak kandung Putra, dan kesepakatan antara kedua belah pihak sudah menemui hasil yang baik. Ambu langsung menangis, ia tidak menyangka bila dirinya memiliki cucu selain anak-anak Banyu. Dan ia pun mulai merasa bersalah karena memperlakukan Devonna dengan tidak baik pada sore tadi.


Ambu terduduk lemas, dengan cepat abah merangkul sang istri untuk menenangkan istrinya dari emosi yang berkecamuk didalam hatinya.


"Alhamdulillah ambu, mereka sudah mengakui. Kita patut bersyukur. Sekarang saatnya kita berdoa untuk kesembuhan Putra dan merestui mereka berdua. Ini semua demi cucu kita juga." Abah mencoba untuk memberikan pengertian kepada ambu. Ambu hanya dapat mengangguk dan terus menangisi apa yang telah terjadi.


"Alia dan Eijaz juga akan segera ke Indonesia. Kita akan segera bertemu dengan Eijaz." Tegas Banyu.


Ambu menatap Banyu dengan tak percaya.


"Benarkah?" Ambu tampak begitu bersemangat mendengar ucapan Banyu.


Banyu mengangguk dan tersenyum, lalu ia memeluk ambu yang tampak masih tak percaya dengan ucapannya.


"Benarkah?" Tanya ambu lagi.


"Iya ambu," Sahut Banyu seraya mengusap lembut punggung sang ibu.

__ADS_1


Tangisan ambu semakin kencang, ia begitu bersyukur dan tidak dapat menunggu waktu dimana pertemuan dirinya dan sang cucu yang selama ini tidak ia ketahui keberadaannya.


"Alhamdulillah.. Alhamdulillah..!" Seru ambu.


__ADS_2