
Dengan tergesa-gesa, Putra menaiki bus yang sudah ia pesan tiketnya via online sehari sebelum keberangkatan. Bus itu akan membawa dirinya ke Kota Bandung, dimana kedua orang tuanya tinggal di Kota itu. Putra berniat untuk menjemput kedua orang tuanya dan membawa mereka ke Kota Solo untuk melamar pujaan hatinya.
Suasana di terminal pagi ini begitu ramai, hingga membuat Putra merasa paranoid bila ada orang suruhan Alia atau Anton yang sedang membuntuti dirinya. Ternyata tidak, hingga bus sudah bergerak meninggalkan terminal pun, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan atau menghalangi dirinya untuk meninggalkan kota Jakarta.
"Mengapa tidak ada yang mencegahku?" Batin Putra.
.
"Kemana dia?" Tanya Alia yang sedang duduk diruang keluarga.
Bodyguard yang sempat bertemu dan bertanya pada Putra tampak ketakutan saat Alia bertanya kepada dirinya dengan mimik wajah yang tampak datar.
"Ka-katanya dia mau ada seminar di Kota Bandung non. Apakah dia tidak izin dengan non Alia terlebih dahulu?" Tanya bodyguard tersebut.
Alia membuang pandangan nya ke langit-langit ruangan itu. Lalu ia menghela nafas panjang dan kembali menjatuhkan pandangan nya pada sang bodyguard.
"Tidak."
Tampak raut penuh penyesalan di wajah bodyguard tersebut.
"Saya minta maaf non, kalau non mau, saya akan menyusul dia non."
"Tidak usah, biarkan saja. Kalau papa bertanya tentang dia, bilang saja saya yang mengizinkan dia pergi."
Bodyguard itu tampak bingung dengan jawaban Alia yang tak acuh akan kepergian Putra. Mengingat sikap Alia yang selalu ingin menempel kepada Putra, sudah jelas sesuatu terjadi antara Putra dan Alia. Hingga membuat gadis itu mendadak tidak peduli dengan Putra.
"Baik non."
"Ya sudah, kembali ke depan." Perintah Alia.
Alia termenung di ruangan itu, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis yang akan meledak. Dadanya terasa sesak, namun ia mencoba pasrah dengan kepergian Putra yang ia yakin, lelaki itu tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu.
"Apa pun yang terjadi, aku pasrah. Asal jangan kamu terluka lagi. Jalani hidup mu sebaik-baiknya nya." Batin Alia.
.
__ADS_1
"Jadi, mas besok akan datang apa tidak?" Tasya kembali bertanya prihal kehadiran Banyu di hari pertunangan dirinya dan Putra.
Banyu menatap Tasya yang baru saja ia antar kan kembali ke kediaman wanita pujaan nya itu.
"Kita lihat besok." Sahut Banyu dengan tatapan yang terlihat gelisah.
"Tapi mas, masa tidak mau datang ke pertunangan adik sendiri?" Tanya Tasya lagi.
"Bukan tidak mau, tetapi kita lihat besok. Aku akan usahakan datang." Banyu tersenyum dan menghela nafasnya untuk memberikan ruang pada dadanya yang terasa semakin sesak.
"Ya sudah, ngomong-ngomong, terima kasih banyak ya mas. Aku sudah dibayarkan oleh-oleh, sudah di ajak makan siang dan hmmm..
Tasya menghentikan ucapan nya. Lalu ia menatap Banyu dengan seksama. Air matanya mulai mengembang dan nyaris saja menetes di pipinya yang lembut.
"Mas sudah sangat baik untuk mendukungku dari kasus ku di kantor dan juga berniat untuk membuka usaha untuk ku. Terima kasih banyak mas.." Ucap Tasya seraya tersenyum manis kepada Banyu.
"Anytime Tas..." Sahut Banyu.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain nya. Tatapan yang begitu dalam, dengan makna yang begitu sulit di ungkapkan. Dua anak manusia yang saling memuja, namun tidak dapat saling memiliki. Dua anak manusia yang saling mendukung, namun tidak dapat berjalan bersama sebagai sepasang kekasih.
"Ya sudah, aku masuk dulu ya mas. Apa mas Banyu mau mampir dulu?"
"Ya sudah.. mas hati-hati ya.. Oh iya, setelah ini mas mau kemana?"
"Pulang."
"Oh.. ya sudah.. Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
"Hati-hati di jalan."
Banyu mengangguk dan beranjak dari hadapan Tasya yang mulai membuka gembok gerbang rumah nya. Banyu memasuki mobil sedan nya dan mulai menyalakan mesin mobil itu. Sebelum ia beranjak pergi, ia membuka jendela mobil dan menatap Tasya yang juga sedang menatap dirinya dari balik gerbang bercat hitam tersebut.
"Hati-hati.." Ucap Tasya seraya melambaikan tangan nya dan tersenyum manis kepada Banyu.
__ADS_1
"Kamu juga." Sahut Banyu seraya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
.
Banyu terdiam di persimpangan jalan, kala ia menghentikan laju mobilnya saat lampu merah menyala. Ia membayangkan wajah dan senyuman manis wanita yang harus siap dia lepaskan untuk sang adik, Putra. Tidak ada pilihan lain selain merelakan. Lebih baik dia tidak jadi dengan Tasya, daripada ia merebut Tasya dari adik kandungnya sendiri dan membuat hubungan dirinya dan Putra menjadi retak, atau bahkan terjadi perpecahan hubungan saudara.
Banyu menjatuhkan dahinya di atas setir mobil itu dan diam-diam air mata terjatuh dari kedua matanya yang teduh.
"Entah dimana lagi aku akan bertemu wanita yang seperti kamu. Atau adakah yang bisa menggantikan kamu?" Gumamnya lirih.
Banyu tengah merasakan kesedihan yang tak bertepi. Kala ia kehilangan Tika, istri yang sangat ia cintai, lalu ia bertemu dengan seorang wanita yang bisa membuat dirinya jatuh cinta lagi. Namun itu semua pupus setelah bunga-bunga cinta terpaksa harus layu sebelum sempat berkembang.
Banyu mengangkat wajahnya kala mendengar klakson dari mobil yang berada tepat dibelakang nya. Ia melirik lampu yang sudah berganti menjadi hijau, tanda ia harus segera menjalankan mobilnya. Dengan segera, Banyu melajukan mobilnya dan berjalan entah kemana. Ia memutari jalan Ibukota yang tampak padat namun lancar. Hingga ia kembali mengingat sosok Tika, ya... sudah seminggu ia tidak mengunjungi makam sang istri. Ia pun membelokkan setirnya menuju ke komplek pemakaman, dimana Tika yang beristirahat dengan tenang di sana.
Beberapa menit kemudian, Banyu pun spai di komplek pemakaman tersebut. Ia beranjak turun dari mobilnya yang ia parkir di luar pagar komplek pemakaman tersebut. Ia berjalan menuju ke blok dimana makam Tika berada. Hingga langkah kaki nya terhenti di sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama wanita yang pernah sangat ia cintai itu.
"Assalamu'alaikum sayang.." Ucap Banyu seraya berjongkok tepat di samping makam yang tampak sangat terawat tersebut.
"Aku kembali datang untuk bertemu denganmu. Apa kabar kamu disana?"
Banyu mengusap batu nisan Tika dengan lembut.
"Apa kabar juga anak kita? Aku sangat merindukan kalian berdua."
Angin bertiup sepoi-sepoi, suara gesekan dedaunan dari pohon yang tumbuh di sekitar makam, membuat suasana begitu terasa pilu.
"Tika, saat kamu muncul dalam mimpi ku, disitu aku yakin kamu merestui aku untuk memulai hidup yang baru dengan wanita lain. Tetapi, aku. masih ragu. Setelah aku mulai bertanya pada diriku sendiri, akhirnya aku berpikir, pesan-pesan mu di dalam mimpi ada benarnya. Aku mulai memberanikan diri untuk jatuh cinta. Tetapi aku dan Putra mencintai wanita yang sama. Apa yang harus aku lakukan?" Banyu tertunduk lesu seraya menatap gundukan tanah yang membisu.
"Besok, mereka akan bertunangan. Aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka. Tika... apakah ada wanita yang sesempurna kamu dan Tasya?"
Angin kembali bertiup kencang, hingga dedaunan berguguran dan terbang terbawa angin. Selembar daun terjatuh tepat diatas gundukan tanah di makam Tika. Banyu menatap daun tersebut, seakan ia mendapatkan jawaban dari Tika yang sudah berbeda dunia dengan dirinya.
"Daun?" Gumam nya.
.
__ADS_1
Ya, daun..
Tidak ada daun yang gugur kecuali kehendak Tuhan mu. Tetapi, daun yang gugur akan berganti dengan daun yang baru. Selama pohon itu masih berada di atas tanah, pohon akan selalu menghadapi segala cuaca maupun angin yang memaksanya untuk tetap bertahan berdiri kokoh di atas tanah. Kecuali..., Tuhan mengatakan bila pohon itu sudah harus berakhir dan mati. -De'rini-