
"Saudara Putra!" Ucap seorang Polisi yang sedang membuka sel tahanan di kantor polisi dimana Putra sedang mendekam untuk menebus kesalahan nya.
Putra yang sedang duduk di pojok sel dengan wajah yang masih terlihat lebam itu pun beranjak berdiri. Lalu ia berjalan menghampiri Polisi yang sedang menunggu dirinya.
"Saya," Sahut nya.
"Ada yang menjenguk."
"Oh, iya pak." Putra pun beranjak keluar dari sel dan berdiri di belakang Polisi yang hendak mengunci sel itu kembali. Setelah itu Polisi itu pun menuntun Putra yang terlihat masih agak sulit berjalan, untuk menuju ruangan jenguk.
"Siapa yang menjenguk saya?" Tanya Putra.
Tetapi Polisi itu diam saja, seakan ia malas menjawab pertanyaan dari tersangka yang melecehkan perempuan itu.
"Masuk!" Perintah Polisi tersebut, seraya membuka pintu ruangan jenguk.
Dengan ragu, Putra pun melangkah masuk. Lalu matanya tertuju pada Banyu dan Tasya yang duduk di bangku jenguk. Saat itu juga Putra terlihat enggan untuk menemui mereka berdua. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu dengan wajah yang terlihat malu untuk menghadapi dua orang tersebut.
"Put.." Panggil Banyu.
Mau tidak mau, Putra pun menghampiri Banyu dan Tasya. Lalu ia duduk tepat di hadapan mereka berdua. Tidak ada kata apa pun yang keluar dari bibir nya. Ia hanya tertunduk malu dengan raut wajah yang terlihat kusut.
"Apa kabarmu?" Tanya Banyu.
Putra tertawa kecil, lalu ia menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Banyu.
"Apakah a'a tidak bisa melihat keadaan ku?" Pungkasnya. Kata-kata nya membuat Banyu terdiam, dan merasa iba kepada adik kandung nya itu.
"Tidak usah berbasa-basi. Maksud a'a ngapain kesini, pakai bawa Tasya juga." Ucapnya dengan sinis.
Tasya yang duduk disamping Banyu, mulai terlihat tidak enak dengan situasi tersebut. Lalu ia meraih aneka makanan kecil yang sengaja ia bawa untuk Putra, dan ia mendorong nya kehadapan Putra dengan perlahan.
"Ini untuk mas Putra," Ucap Tasya.
Putra menatap aneka makanan kecil yang di kemas dalam kantung pelastik tersebut, lalu ia menatap Tasya yang menundukkan pandangannya, dengan seksama.
"Mengapa kamu kesini? Tidakkah kamu membenciku?" Tanya nya dengan genangan air mata di pelupuk mata nya.
Tasya memberanikan diri untuk menatap Putra. Kedua mata mereka pun bertemu pandang. Terlihat jelas sekali penyesalan dimata Putra yang sedang bersusah payah menahan air mata yang hampir saja terjatuh di pipinya.
"Aku tidak membencimu mas. Aku hanya menyayangkan tindakan mu saja."
Putra terdiam, seakan ia mendapatkan tamparan di pipinya.
__ADS_1
"Lantas? Apa maksud kamu kemari?" Tanya nya dengan air mata yang mulai terjatuh di pipinya.
Tasya terdiam, lalu ia melirik Banyu yang terlihat tenang menghadapi Putra.
"Kapan kamu dipindahkan ke rutan?" Tanya Banyu.
"Aku tidak tahu." Sahut nya.
"Aku akan mengurus semuanya, termasuk pengacara.....
"Sudahlah a', aku tahu a'a lebih sukses dariku. Aku tahu a'a lebih baik dari ku. Tapi aku tidak membutuhkan bantuan mu!" Ucap Putra dengan nada suara yang tinggi.
"Lalu, kamu mau minta bantuan ambu dan abah? Tidak kah kamu tahu, mereka akan nenjual ternah yang menjadi sumber penghasilan mereka selama ini! Kamu kapan sadarnya? Kalau selama ini kamu cukup menyusahkan orang tuamu sendiri!" Banyu tidak mau kalah, nada suaranya pun ia tinggikan agar Putra paham penderitaan orang tua mereka selama ini.
Putra terdiam, ia menatap Banyu dengan penuh emosi.
"Biar aku yang membantumu. Aku ikhlas, aku tulus, karena kamu adik ku." Sambung Banyu.
Putra menggelengkan kepalanya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Banyu. Selama ini ia sadar, bila ia terlalu menyakiti Banyu. Lantas, mengapa Banyu tetap tulus kepada dirinya?
"Membantu kamu, sama dengan membantu kedua orangtua kita. Aku ingin kalian tenang, itulah tanggung jawab ku sebagai anak tertua. Terserah kamu mau menolak atau tidak, aku akan tetap membantumu. Hari ini ambu dan abah datang ke Jakarta, untuk mengurus semuanya dan mendampingi kamu dalam persidangan. Nanti mereka akan tinggal bersama dengan ku."
Putra bergeming, ia tidak menemukan kata-kata lagi untuk membantah ucapan Banyu.
"Satu lagi.."
"Apa?" Tanya nya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Aku dan Tasya..." Banyu melirik Tasya yang tampak enggan kala Banyu berniat untuk berterus-terang kepada Putra. Putra yang paham bila apa yang akan dikatakan oleh Banyu hal yang teramat serius pun mencoba menanti kata-kata yang akan Banyu katakan kepada dirinya.
"Sudah tidak apa-apa." Ucap Banyu, seraya mengusap lembut punggung tangan Tasya yang baru saja menarik lengan nya.
"Ada apa antara kalian berdua? Apa kalian sudah bertunangan? Apa a'a yang menggantikan aku?" Tanya Putra dengan bertubi-tubi.
Banyu menatap Putra dengan seksama. Lalu ia menghela nafas panjang.
"Aku sudah menikah dengan Tasya." Ujarnya.
Kedua mata Putra terbelalak, ia nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Banyu.
"Apa a'a sudah gila? Dia milik ku a'..!"
"Bukan, dia bukan milik mu.. Dia baru hendak bertunang denganmu. Tetapi keadaan...
__ADS_1
"Jangan salahkan keadaan!" Potong Putra.
"Tas, mengapa kamu menikah dengan a'a? Apakah kamu tidak mau menunggu aku?" Tanya Putra, seraya menggenggam kedua tangan Tasya.
Dengan cepat, Tasya menarik kedua tangan nya. Lalu ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Maaf mas, keadaan memaksa aku dan mas Banyu untuk menikah. Lagi pula, aku baru menyadari.. bila mas Banyu lah orang yang tepat untuk ku."
"Tapi... Tas!"
"Mas, bila kamu orang yang tepat untuk ku, tidak mungkin kamu menghianati aku di belakang ku."
Putra terdiam, ia paham bila kesalahan nya tidak sebanding dengan keputusan Tasya yang menikahi kakak kandungnya sendiri.
"Jadi.."
"Ya... kami sudah menikah." Tegas Tasya.
Putra tertunduk lemas, ia meremas rambutnya sendiri kuat-kuat. Lalu dengan mata memerah ia menatap Banyu dan Tasya.
"Pergi!" Bentak nya.
"Put.. aku minta maaf..."
"A'a diam saja! A'a jahat kepadaku!"
"Put.. ayo kita bicarakan baik-baik..."
"Tidak! Kalian berdua sama! Penghianat!" Ucap nya dengan penuh emosi, tanpa ia sadari kesalahan nya sendiri begitu berat kepada Tasya dan Banyu.
"Mas, lebih baik kita pulang saja," Tasya membujuk Banyu untuk meninggalkan ruang besuk itu.
Banyu menghela nafas panjang, lalu ia mengangguk dan beranjak dari duduk nya.
"Jangan pernah anggap aku adik ku lagi! Aku juga tidak butuh bantuan mu!" Teriak Putra yang masih duduk di kursinya.
Banyu dan Tasya bergeming, mereka terus melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Dasar brengsek! Kalian bahagia melihat orang lain menderita ya! Kalian malah mengambil kesempatan atas penderitaan ku! Jahanam kalian berdua!" Hardik Putra.
Banyu terus berjalan, mencoba untuk menahan emosinya yanh mulai terpancing.
"Mas, sabar ya.." Tasya mengusap dada Banyu dengan lembut. Banyu tersenyum tipis kepada Tasya, lalu mereka pun menutup pintu ruangan itu.
__ADS_1
Seorang polisi memasuiki ruangan itu, dan memaksa Putra untuk kembali ke dalam sel nya. Dengan caci maki yang terus ia lontarkan dari bibirnya, Putra pun kembali ke dalam sel tahanan nya yang berisi 7 orang lain nya.
"Kakak bajingan! Perempuan sialan!" Pakiknya.