
"Loh, kamu mau kemana?" Tanya Alia, saat ia menyempatkan mampir ke kamar Putra.
"Tidakkah kamu menyadari, kalau aku adalah dosen mu? Ya aku mengajar lah.. masa mau diam saja di sini."
"Tapi kamu masih sakit." Ucap Alia seraya menghampiri Putra yang sedang mengancingi kemeja nya.
Putra menatap Alia yang terlihat khawatir kepada dirinya, lalu ia menghela nafas dan beranjak dari hadapan Alia.
"Sayang... aku bicara sama kamu loh..!"
"Itu sudah ku jawab."
"Tapi kamu masih sakit.."
"Lalu aku harus jadi beban disini? Apa serendah itu aku di matamu?"
Alia terdiam saat mendengar jawaban dari Putra. Ia pun beranjak duduk di tepi ranjang dan terus menatap Putra yang masih merapikan kemeja nya.
"Tapi kamu tidak kemana-mana kan? Kita berangkat bersama ya..." Pinta Alia.
"Mau kemana? Orang kamu satu kampus dengan aku. Kamu bisa melihat aku di sana." Tegas Putra.
Alia tersenyum malu-malu dan menatap Putra dari pantulan cermin.
"Sayang.. kamu kerja buat masa depan kita ya?" Tanya Alia dengan nada suara yang terdengar manja.
Putra menoleh dan menatap Alia dengan seksama. Lalu ia kembali menatap cermin dan memastikan kemeja nya sudah rapi. Lalu ia beranjak menuju ke sudut ruangan dan meraih sepatu fantofel miliknya.
"Aku jadi tidak sabar menikah denganmu. Sayang.. kan banyak tuh yang menikahi dosen nya sendiri, tapi mereka diam-diam saja. Bagaimana bila kita mempercepat pernikahan kita?"
Deg!
Putra terperanjat dan kembali menatap Alia dengan tak percaya.
"Apa kamu sudah gila?"
"Iya, aku sudah gila karena mu." Alia meraih tangan Putra dan menuntun tangan lelaki itu ke pipinya.
"Alia... aku risih," Ucap Putra, seraya menarik tangan nya kembali.
Alia terdiam, lalu ia menghela nafas panjang. Terlihat raut wajah kecewanya kepada Putra. Sikap Putra kepada dirinya belum juga mencair. Walaupun ia merasa kecewa, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan lelaki dambaan nya itu.
__ADS_1
"Biar tidak risih, bagaimana kita menikah saja?"
Lagi-lagi Putra menatap Alia. Lalu ia menggelengkan kepalanya, tanda ia merasa Alia begitu keras kepala.
"Kenapa kamu begitu ngotot ingin aku nikahi? Padahal kita kan tidak pernah melakukan nya!"
"Karena aku cinta kamu." Tegas Alia.
"Apakah cinta harus dipaksakan?"
"Harus, namanya usaha. Mana tahu perlahan cintamu tumbuh kepadaku." Alia tersenyum dan memasang wajah yang tampak begitu menggemaskan.
"Dasar keras kepala."
"Ya.. memang.. itulah aku. Aku keras kepala, karena aku memperjuangkan hatiku. Aku percaya, suatu saat keras kepala ku ini akan membuahkan hasil."
Putra melengos dan tertawa masam. Lalu ia beranjak dari duduk nya, setelah ia selesai memakai sepatu.
"Aku berangkat dulu."
"Ikut! Kita barengan," Ucap Alia, seraya menyambar tas nya dari atas ranjang.
"Tidak bisa, kita harus menjaga privasi. Kamu dan aku harus berangkat masing-masing."
Putra berjalan menuju ke arah pintu kamar itu, berniat meninggalkan Alia begitu saja di kamar yang beberapa hari ini ia tempati.
"Aku turun di jalan dekat kampus tidak apa-apa kok." Tegas Alia.
Putra menoleh dan menatap gadis cantik yang berdiri beberapa meter dari dirinya, dengan wajah yang terlihat memohon kepada dirinya.
"Aku berangkat naik taksi. Nanti kaki mu lecet kalau jalan kaki, karena turun di jalan."
"Tidak masalah, dari pada hatiku yang lecet." Alia masih saja keras kepala, namun ucapan nya itu cukup menggelitik hati Putra. Diam-diam lelaki itu tersenyum, tetapi ia berusaha menyembunyikan nya dari Alia.
"Dasar keras kepala!"
"Memang..!" Alia beranjak mendekati Putra. Lalu ia mengaitkan tangan nya di lengan Putra.
"Ya sudah, ayo!" Ucap Putra yang terlihat kesal.
Mereka pun beranjak turun ke lantai bawah. Di sana terlihat Anton sedang sarapan sendirian, di layani oleh para asisten nya.
__ADS_1
"Pagi pa.." Sapa Alia yang masih menggandeng tangan Putra yang terlihat kikuk, saat melihat Anton.
Anton mendongak ke arah tangga, dan melihat Putra menuruni anak tangga dengan anak semata wayangnya. Refleks, Anton langsung berdiri dan menghampiri Putra yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dasar rumah tersebut.
"Bajingan! Ngapain kamu pagi-pagi disini! Kamu tidur dengan anak saya!" Bentak Anton seraya meraih kerah kemeja Putra.
"Pa... bukan begitu, Alia tidak tidur sama Putra pa...! Alia tidur sendiri. Ini Putra yang bawa dari rumah sakit itu, Alia pa.. Papa jangan emosi begitu!" Alia mencoba menerangkan kepada Anton yang terlihat sangat emosi pada pagi itu.
Anton mendengus kesal dan menatap Alia dengan seksama. Lalu ia melepaskan kerah kemeja Putra dan mencoba mengatur nafas nya agar dirinya tak lagi emosi.
"Maaf ya pa... Alia baru mengatakan nya pada papa."
"Kenapa dia harus tinggal disini?" Tanya Anton dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Alia cuma gak mau Putra lari dari Alia." Alia menundukkan wajahnya, karena ia merasa malu dan bersalah.
Anton menghela nafas panjang dan kembali menatap Putra yang mendadak diam seribu bahasa. Nyali Putra ciut begitu saja, kala ia bertemu dengan Anton. Ia paham bila lelaki itu bisa berbuat apa saja yang akan mempersulit dirinya sendiri.
"Ya sudah, ikut sarapan. Dan kamu..." Anton mendelik dan menunjuk Putra dengan jari telunjuk tangan kirinya.
"Jangan pernah menyentuh anak saya. Atau lelaki lakian mu akan hilang selama-lamanya." Ancam Anton.
"I-i-iya pak." Sahut Putra, dengan bulu kuduk nya yang meremang.
Anton beranjak kembali ke meja makan, disusul oleh Alia dan Putra yang terlihat gugup.
"Sayang mau makan apa?" Tanya Alia, layaknya seorang istri yang melayani suami dengan sepenuh hati.
"A-apa saja." Sahut Putra.
"Kasih dia roti sama susu saja. Jangan nasi, menambah beban saja!" Ucap Anton dengan wajah acuh nya, tanpa mempertimbangkan perasaan Putra.
"Ya.. itu juga boleh." Sahut Putra.
Anton menatap Putra yang berusaha tidak bertemu tatap dengan dirinya. Lalu ia mengangguk sambil tersenyum sinis.
"Jadi, belum menikah saja, kamu sudah menjadi beban saya?" Tanya Anton.
"Saya sih tidak mau pak, tetapi anak bapak memaksa saya tinggal disini. Saya harus apa? Apakah saya harus keluar dari sini? Kalau iya, saya akan keluar dengan senang hati."
Jawaban Putra membuat Anton kembali terpancing emosi. Namun Alia berusaha mencegah Anton dengan tatapan nya yang memohon. Anton pun mengurungkan niat nya untuk melakukan kekerasan kepada Putra. Ia menghela nafas panjang untuk meredakan emosi yang tengah menguasai dirinya pada pagi ini. Akhirnya mereka melanjutkan sarapan pagi mereka dengan suasana yang hening.
__ADS_1
Putra sengaja membuat Anton emosi. Agar ia ditendang dari rumah tersebut dan dapat bebas dari Alia. Namun usaha nya gagal, kala Alia mati-matian membela dirinya di depan Anton. Ia memaki di dalam hatinya, ia ingin sekali lepas dari Alia, dan dapat bebas mengurus pertunangan nya dengan Tasya yang tinggal beberapa hari lagi. Ia terus memutar otak nya agar ia dapat bebas, namun semua itu tidak sesederhana pikiran nya. Alia yang begitu tangguh dalam mempertahankan dirinya membuat ia tidak berdaya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Putra.