
Aa' dimana?
Banyu membaca pesan yang baru saja ia terima dari Putra, adik nya. Banyu sempat menoleh kearah Tasya yang duduk di kursi penumpang bagian belakang pada taksi yang mereka tumpangi untuk menuju ke hotel tempat mereka menginap.
Semarang. Balas Banyu singkat.
Mendadak sekali! Kapan berangkat nya? Balas Putra.
Ya, Tiba-tiba ada tugas ke Semarang. Mau bagaimana lagi, namanya masih bekerja untuk orang lain.
Ya sudah A'. Berapa hari Aa' di Semarang? Balas Putra.
Belum tahu. Kamu baik-baik di sana. Jangan pernah membawa perempuan ke rumah ku!
Siap A'. Curigaan banget..! Balas Putra.
Banyu tidak membalas lagi pesan dari adik nya itu Ia mengantongi ponselnya dan kembali menoleh ke belakang. Terlihat Tasya sedang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Saat itu juga Banyu tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Saat ia kembali menatap ke depan, perlahan senyum nya pun memudar. Ia kembali lagi menoleh kebelakang dan menatap wajah Tasya yang masih tertidur dengan lelap karena lelah.
Saat yang sama, terlintas wajah Tika yang pernah tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka, saat mereka sedang dalam perjalanan ke Jakarta, waktu mereka baru saja menikah.
"Segitu rindu nya kah aku padamu? Hingga wajah mu selalu terlintas di benak ku?" Gumam nya seraya terus menatap Tasya yang masih tertidur lelap.
"Ya Allah, mengapa aku selalu melihat kesamaan antara Tika dan Tasya?" Seketika Banyu mengusap wajahnya dan kembali menatap ke depan. Jantung nya mulai berdegup kencang. Entah apa yang sedang ia rasakan, yang jelas saat ini ia benar-benar merasa sangat merindukan almarhumah Tika.
7 bulan sudah, sejak kepergian Tika. Banyu tidak sama sekali memikirkan seorang wanita mana pun. Di matanya, tidak ada yang lebih menarik dibandingkan almarhumah istrinya. 7 bulan masih terhitung waktu yang singkat untuk kepergian orang yang sangat ia cintai. Tetapi melewati hari tanpa Tika adalah siksaan terberat bagi Banyu. Hampir lima belas tahun ia mengenal Tika, sejak hari itu lah hari-harinya hanya tertuju pada Tika.
Perkenalan pertamanya dengan Tika, saat Banyu akan pergi bekerja. Sedangkan Tika masih menggunakan seragam putih Abu-Abu. Gadis cantik, berkulit eksotis, dengan rambut yang hitam legam, serta memiliki senyum yang tak pernah terlupakan dari ingatan nya. Pagi itu, Tika sedang berdiri di halte bus, pun dengan Banyu yang baru saja di terima bekerja di Jakarta. Mereka sama-sama berdiri di halte yang sama. Mata Banyu tertuju kepada gadis manis itu. Gadis yang terlihat acuh dengan sekelilingnya, sedangkan headset putih yang terselip di telinga Tika yang sedang asik mendengarkan lagu yang ia putar dari ponselnya.
Sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Saat Itu juga Tika beranjak masuk, pun dengan Banyu yang kebetulan memiliki tujuan yang sejalan dengan sekolah Tika. Di dalam bus, Hanya tersedia satu saja bangku kosong. Mereka berdua sama-sama hendak duduk di bangku yang sama. Karena Tika adalah seorang pelajar dan juga perempuan, maka Banyu mengalah dan memberikan bangku itu untuk Tika.
"Terima kasih mas," Ucap Tika saat itu. Suara lembut dan wajah yang imut membuat Banyu terpana karenanya. Saat itu juga setiap malam, Banyu terus terbayang-bayang wajah cantik Tika. Sejak saat itu, Banyu selalu berangkat di jam yang sama, untuk bisa dapat bertemu dengan Tika setiap hari.
Perkenalan yang unik tersebut, membuat mereka berdua menjadi dekat dan hingga suatu saat Banyu memberanikan diri untuk mengajak Tika berkencan. Terutama saat Banyu tahu, mereka berasal dari daerah yang sama dan di Jakarta, Tika juga tidak tinggal dengan orang tuanya. Betapa bahagianya Banyu, saat Tika menerima cintanya dan saat itu juga Banyu berjanji akan selalu menjaga Tika yang hidup sendiri di Ibukota. Tidak jarang, mereka berdua pulang ke Bandung bersama. Setiap waktu, selalu ada saja kejadian-kejadian yang terus tertinggal dan menjadi kenangan di antara keduanya. Hingga membuat Banyu begitu sulit untuk melupakan Tika, bahkan kala mereka sedang putus hubungan.
Karena itulah, mengapa Banyu rela menunggu Tika siap untuk menikah dengan nya. Walaupun tidak sedikit wanita yang sangat menyukai Banyu dan siap untuk menjadi istri Banyu. Tetapi, tidak sekalipun Banyu tergoda dengan mereka. Hanya Tika, tidak ada yang lain di hatinya. Tetapi tidak kali ini. Kali ini adalah kali pertama ia merasa jantung nya berdetak kencang saat melihat seorang wanita. Ya, dia adalah Tasya.
__ADS_1
"Tidak, mungkin karena kebiasaan Tasya hampir mirip dengan Tika. Karena aku hafal dengan kebiasaan Tika, jadi aku mengingat Tika saat aku melihat Tasya." Banyu mencoba berpikir positif atas apa yang tengah ia rasakan saat ini.
.
Putra termenung di ruang keluarga. Ancaman Alia membuat dirinya merasa sakit hati kepada perempuan itu. Hatinya terus mengutuk Alia yang terlalu bermain perasaan kepada dirinya. Sedangkan Putra sendiri hanya sekedar iseng belaka dengan Alia. Seperti biasa, Putra tidak pernah memiliki perasaan kepada wanita manapun kecuali Queen. Dan kini, hanya Tasya yang ada di benak nya setelah Queen memilih dengan Raka. Entah mengapa, Tasya mampu membuat dirinya merasa berbeda. Padahal Tasya tidak sama sekali melakukan apa pun untuk dirinya. Tetapi justru sikap Tasya yang memiliki batasan dan tidak langsung terpesona dengan dirinya, membuat Tasya begitu berbeda dari kaca mata Putra. Tetapi mengapa, saat ia memilih untuk serius dengan Tasya, masalah pun datang tanpa mampu ia cegah sebelumnya. Ini murni karena kebodohan dirinya sendiri. Andai saja ia mampu menahan sedikit saja nafsunya, maka tidak pernah terjadi apa pun antara dirinya dan Alia.
"Bagaimana biar perempuan brengsek itu diam. Kenapa dia harus ada di kelas ku! Argghhh!" Keluh Putra seraya meremas rambutnya sendiri.
Ancaman Alia benar-benar membuat Putra merasa pusing. Terutama Alia mengancam akan menyebar luaskan apa yang telah terjadi diantara mereka, di kampus itu. Putra baru dua bulan mengajar di sana. Apa jadinya bila namanya rusak begitu saja karena mulut perempuan bernama Alia itu.
Tiba-tiba saja bayangan Tasya mengusik benak Putra. Entah mengapa ia mulai merasakan cinta yang dalam kepada Tasya. Ancaman Alia benar-benar membuat dirinya khawatir bila membuat semuanya berantakan. Mulai dari pekerjaan, hingga misi nya yang akan mendapatkan hati Tasya. Putra meraih ponsel nya dan mencari nama Tasya di daftar kontak nya. Dengan bimbang ia pun mulai menghubungi Tasya.
"Halo..." Terdengar suara lembut Tasya dari ujung sana.
"Hai, apa kabar kamu? Aku boleh ke rumah mu? Aku agak bingung akan melakukan apa saat sendirian saja di rumah." Ucap Putra melalui sambungan telepon nya dengan Tasya.
"Hmmm, mas, aku sedang di luar Kota."
Putra terlihat kecewa saat Tasya mengatakan dirinya sedang di luar Kota.
"Kamu dimana? Rafis sama siapa?" Putra mencoba memberikan perhatian nya kepada Rafis.
"Semarang?" Batin Putra seraya mengerutkan keningnya. Ia teringat bila Banyu juga sedang bertugas di Semarang.
"Oh begitu. Bagaimana bila aku datang saja ke rumah? Aku sangat ingin bertemu dengan Rafis."
Tasya terdiam saat Putra meminta izin kepadanya untuk menemui Rafis.
"Tas, aku tidak ada niat buruk. Aku hanya bingung mau ngapain. Agak sedikit stress saja dengan pekerjaan. Jadi, aku ingin bermain dengan Rafis." Putra mencoba meyakinkan Tasya.
"Hmmm gimana ya mas.."
"Please.."
"Ya mas.. nanti saya kasih tahu baby sitter nya Rafis ya."
__ADS_1
"Terima kasih Tas.."
"Sama-sama mas,"
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam." Sahut Tasya.
Putra tersenyum puas, karena Tasya mengizinkan dirinya bertemu dengan Rafis. Sebenarnya Tidak hanya Tasya yang menyita perhatian Putra, pun dengan Rafis, bocah itu memiliki kepribadian yang menyenangkan. Hingga Putra pun tidak dapat melupakan bocah tersebut.
"Rafis.. papa datang." Gumam Putra, seraya beranjak dari duduknya dan bergegas untuk datang ke rumah Tasya, untuk menemui Rafis.
.
"Putra?" Tanya Banyu saat mereka sedang berada di dalam lift sebuah hotel tempat mereka menginap.
Tasya menatap Banyu dengan canggung, lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Oh.." Dengan sikap yang dingin, Banyu membuang pandangan nya ke depan.
"Mas, aku boleh bertanya?"
"Apa?" Tanya Banyu.
"Mas Putra kan adik nya mas Banyu. Kira-kira dia seperti apa orang nya?" Tanya Tasya dengan mimik wajah yang terlihat polos.
Banyu mengangkat kedua alisnya dan menatap Tasya dengan seksama.
"Kalian kan sudah dekat, mengapa tidak menilai dia secara pribadi?"
Tasya terdiam, ia terlihat sungkan untuk bertanya lebih jauh lagi.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Mereka berdua melangkah keluar dari lift tersebut dan berjalan beriringan menuju ke kamar masing-masing. Langkah kaki mereka pun berhenti di dua kamar yang letaknya berhadapan.
__ADS_1
"Yang jelas, dia berbeda jauh dari ku," Ucap Banyu, saat Tasya hendak masuk kedalam kamarnya. Tasya menoleh kebelakang dan menatap Banyu yang juga sedang menatap dirinya dengan tatapan yang teduh. Tasya hanya tersenyum dan melangkah masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Banyu hanya mampu menatap pintu kamar Tasya yang mulai tertutup rapat.
"Perasaan apa ini?" Gumam Banyu, saat Tasya sudah menghilang di balik pintu kamar nya.