Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
100. Dimana kamu sekarang?


__ADS_3

"Kamu ngapain ke Swiss?" Tanya Banyu melalui sambungan telepon, saat Putra sedang berjalan menuju ke ruang tunggu pesawat yang akan membawa dirinya ke Zurich, Swiss.


"Ada urusan a',"


"Urusan apa?" Tanya Banyu lagi.


"Ada customer di sana yang agak rewel."


"Kamu bercanda."


"Tidak,"


"Kamu memakai uang perusahaan?"


"Iya," Sahut Putra seraya terkekeh geli.


"Adik jurang ajar!"


"Hahahaha.. sekali-sekali a', biar aku menaklukkan customer ini. A'a tau berapa pembeliannya?"


"Berapa?" Tanya Banyu penasaran.


"Coba tanya sama Ira."


"Terus, apa guna mu?"


"Aku hanya bermain tebak-tebakan sama a'a."


"Dasar adik gelo."


"Hahahaa.. sampai jumpa ya a', mau oleh-oleh apa?" Tanya Putra seraya beranjak dari duduk nya setelah mendengar panggilan dari pengeras suara untuk para penumpang dengan tujuan Kota Zurich, Swiss.


"Tidak ada, kalau kamu mau membelikan keponakanmu, tidak apa-apa. Kalau aku hanya mau kamu selamat saja."


"Baik a', terima kasih ya. Oh iya, pesawat ku akan segera take off."


"Ya sudah, hati-hati."


"Iya a', salam untuk Tasya dan keponakan-keponakan ku yang tampan dan cantik. Assalamu'alaikum."


"Ok, Wa'alaikumussalam," Sahut Banyu.


Putra pun mengakhiri panggilan telepon tersebut. Lalu ia melangkah menuju gate boarding yang akan membawa dirinya ke pesawat yang akan ia tumpangi.


Perjalanan ke Zurich, menghabiskan waktu selama kurang lebih dua puluh sembilan jam. Putra akan menghabiskan satu malam di dalam pesawat sebelum ia mendarat di Kota Zurich.


Putra duduk di bangku yang sesuai dengan nomor boarding pass nya, setelah ia menyimpan kopernya di dalam bagasi kabin. Lalu ia pun membuka tas nya dan menatap foto Eijaz yang kini ia simpan di dalam ponselnya.


"Kamu mirip sekali denganku Eijaz." Batin nya.

__ADS_1


Pesawat tersebut mulai bergerak meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, setelah menunggu persiapan penerbangan sekitar setengah jam. Selama itu juga Putra terus menatap foto sang buah hati, yang selama ini baru ia sadari keberadaan bocah tersebut.


"Bagaimana bisa, mereka menyembunyikan Eijaz dariku?" Batin Putra lagi. Bukan bermaksud untuk menyalahkan Alia dan Anton. Hanya saja, ia merasa kecewa dengan kenyataan yang tidak sengaja ia ketahui itu.


.


Seorang anak laki-laki berlari di halaman belakang rumah nya yang di tumbuhi rerumputan yang lumayan luas. Bocah laki-laki itu sedang bermain dengan kucing kecil yang sangat lincah. Sedangkan ibunya sedang asik duduk di beranda dengan segelas teh hangat dan juga sebuah laptop yang menyala di depan nya.


Burung-burung berkicau dan berpindah dari dahan ke dahan pohon yang tumbuh di halaman belakang rumah tersebut. Rumah itu terlihat begitu asri, walaupun rumah itu terletak di kota Zurich, Swiss. Terlihat sekali rumah itu tetap mengusung budaya Indonesia, Negara asal sang pemilik rumah. Di rumah itu terlihat ada beberapa kursi yang terbuat dari jati, asal Jepara. Serta hiasan dinding yang terbuat dari kain tenun asal Sumatera utara. Tak ketinggalan beberapa hiasan yang terletak di lemari kaca dan juga di atas meja pajangan. Ada replika rumah gadang yang di kemas cantik dalam kaca yang berbentuk persegi panjang. Ada juga wayang kulit dan beberapa patung-patung yang melambangkan dari berbagai daerah di Indonesia.


"Menyebalkan sekali suplayer ini!" Gumam Alia dengan wajah yang terlihat kesal, setelah ia membaca email dari suplayer mebel yang ia pesan untuk mengisi kantor cabang nya yang ke lima di Negara itu.


Brakkkk..!


Alia menoleh ke arah Eijaz yang baru saja menabrak pot bunga yang tersusun rapi di pinggir taman itu.


"Oh my god, are you ok?" Ucap Alia seraya menghampiri Eijaz yang tampak terluka di siku dan lututnya.


"I'm ok mommy." Sahut bocah itu seraya meringis menahan perih nya luka yang ia dapat dari insiden tersebut.


"Eijaz, kamu harus berhati-hati."


"Iya mommy, aku tidak sengaja, tadi kitty berlari kearah pot, so aku berlari terlalu kencang dan menabrak pot nya. I'm sorry mom, pot nya rusak." Bocah itu terlihat sangat menyesal.


"Mommy tidak peduli dengan pot nya, yang penting kamu baik-baik saja. Ayo kita bersihkan lukanya." Alia mengulurkan tangan nya dan di sambut oleh Eijaz. Mereka pun beranjak ke ruang tamu, setelah Eijaz duduk di sofa, Alia pun beranjak untuk mengambil kotak P3K, untuk mengobati luka yang di derita oleh anak semata wayangnya itu.


Setelah mengobati luka Eijaz, Alia menatap putra nya itu dengan seksama. Lalu ia mengecup lembut kening Eijaz. Rasa sayang nya melebihi apa pun kepada Eijaz. Eijaz adalah pengobat luka, capek dan stress bagi Alia. Ia tidak bisa membayangkan bila saja ia menggugurkan bocah itu saat masih di dalam kandungan.


Setelah mengetahui dirinya mengandung, Alia sempat merasa terguncang, hingga Devonna menyarankan dirinya untuk menggugurkan kandungan saja, mengingat usia nya yang masih sangat muda dan dirinya yang masih baru saja kuliah. Karena ia baru menyadari dirinya hamil setelah usia kandungan nya 3 bulan, Alia pun tertegun saat melihat janin yang tumbuh di dalam rahimnya melalui layar monitor USG.


Awalnya Alia menyetujui ucapan Devonna yang mengarahkan dirinya untuk menggugurkan kandungan itu. Tetapi entah mengapa ia mulai bimbang dan meminta waktu untuk memutuskan operasi pengguguran janin itu.


Alia sempat depresi memikirkan nya. Hingga bulan ke empat, secara ajaib dirinya merasakan gerakan halus di perutnya. Sejak saat itu ia mulai banyak membaca tentang kehamilan. Alia pun mulai mengajak janinnya untuk berbicara. Bermain bersama janin nya yang walaupun saat itu masih berada di dalam perut nya. Lambat laun Alia mulai merasa bahagia, hingga ia memutuskan untuk mempertahankan saja kehamilan itu.


Berita dirinya yang mempertahankan janin itu sempat di tentang oleh Anton. Bahkan Anton sempat ke Swiss hanya untuk memaksa Alia agar ia menggugurkan kandungan nya. Anton tidak sudi memiliki cucu dari lelaki brengsek yang sangat ia benci, yaitu Putra. Tetapi Alia tidak peduli, ia adalah seorang ibu yang memiliki hati yang lembut. Hingga akhirnya Anton pun pasrah. Mau tidak mu ia menerima Eijaz menjadi bagian dari hidupnya.


Karena sadar dirinya menjadi orang tua tunggal, Alia mulai mendirikan usaha kecil-kecilan, untuk menanggung kebutuhan hidup dirinya dan Eijaz yang baru saja lahir ke dunia. Alia adalah wanita yang kuat, dia tidak mau hanya berpangku tangan pada kedua orang tuanya yang kini sudah bahagia di Jakarta. Walaupun harta Anton sudah pasti akan menjadi miliknya, tetapi Alia masih saja berusaha untuk hidup dengan usahanya sendiri. Alia berusaha menebus segala kebodohan nya dengan sukses dan tetap bertanggung jawab atas hasil dari perbuatan nya, yaitu Eijaz.


"Mom,"


"Ya?" Alia kembali tersadar dari lamunan nya.


"Bagaimana wajah daddy?"


Deg!


Ser!


Darah Alia berdesir, jantung nya berdegup kencang. Baru kali ini ia mendengar pertanyaan yang begitu serius dari Eijaz.

__ADS_1


"Mengapa kamu bertanya seperti itu sayang?" Tanya Alia dengan berhati-hati.


"Aku melihat teman-teman ku di sekolah, mereka memiliki mom dan dad. Kenapa aku tidak?"


"Semuanya?" Tanya Alia.


"Ya... tidak semuanya. Tetapi, banyak yang memiliki mom dan dad." Terang Eijaz.


Alia menelan saliva nya dan menatap Eijaz dengan mata yang mulai memerah, menahan rasa sedih nya.


"Siapa daddy ku? Apakah dia tinggal bersama dengan opa Anton?"


"Tidak anak ku."


"Lalu?"


"Apakah dia jahat?"


Deg..!


Alia menghela nafas panjang dan lalu menundukkan pandangan nya.


"Tidak, dia orang baik. Hanya saja...


"Apa mommy?"


"Hanya saja... hmmm... dia.. dia bekerja jauh dari kita." Alia berusaha untuk memberikan pengertian yang dapat di terima oleh Eijaz.


"Apakah suatu saat dia akan kembali?"


Alia kembali terdiam.


"Mom..."


"Ya..?" Alia mengerjapkan matanya.


Wajar saja Eijaz bertanya seperti itu pada dirinya. Pasalnya Eijaz tidak pernah melihat Alia dekat dengan lelaki manapun. Hingga ia mulai bertanya siapa ayahnya. Sejak kejadian itu terjadi, Alia tidak pernah berkencan dengan lelaki manapun. Bahkan setelah kelahiran Eijaz, alih-alih butuh teman untuk bernagi, Alia malah memilih untuk menyibukkan dirinya dengan membangun kerajaan bisnis nya sendiri. Alia adalah wanita yang sangat pintar dan bertanggung jawab. Dunia dan segala isinya menjadi pelajaran bagi dirinya untuk hidup lebih baik setelah kebodohan demi kebodohan yang dulu menjadi pilihan hidup nya.


"Eijaz lapar?" Tanya Alia setelah mendengar suara yang berasal dari perut Eijaz.


Eijaz tersenyum lebar, hingga terlihat deretan giginya yang putih dan rapi.


"Mommy buatkan omlete dengan toping cheese mau?"


Eijaz mengangguk dan mencoba beranjak dari duduk nya.


"Disitu saja, tidak usah membantu mommy. Kamu sedang terluka. Sekarang, saat nya mommy melayani kamu." Alia tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Eijaz.


"Ok mommy." Sahut bocah kecil itu.

__ADS_1


Alia pun beranjak kedapur. Setelah ia mengeluarkan beberapa bahan untuk ia masak, kini ia pun termenung di depan meja dapurnya. Lalu matanya tertuju pada tahun yang tertera pada kalender yang berada di atas meja tersebut.


"Tahun dua ribu dua. Harusnya sudah setahun kamu bebas. Dimana kamu sekarang Putra?" Batin nya.


__ADS_2