
2 tahun kemudian.
"Happy anniversary..." Tasya berjalan mendekati Banyu yang basih terbaring di atas ranjang.
Lelaki yang baru saja membuka matanya pada pagi itu pun menatap Tasya yang berjalan menghampiri dirinya dengan membawa sebuah tart di tangan nya.
"Hmmm.. sayang... happy anniversary.." Ucap Banyu seraya beranjak duduk di atas ranjang dan sesekali mengucek mata nya yang masih terlihat mengantuk.
"Semoga, kedepannya kita lebih baik, lebih romantis, lebih saling mencintai dan lebih segala-galanya. Aamiin..." Ucap Tasya seraya duduk di samping Banyu.
"Aamiin." Banyu tersenyum dan mengecup lembut kening istrinya itu.
"Yuk kita tiup lilin nya." Tasya mengeluarkan pemantik dari sakunya dan membakar sumbu lilin yang berbentuk angka dua, yang tertancap di atas tart tersebut.
"Satu.. dua.. tiiiii... ga!" Seru Tasya seraya meniup lilin tersebut bersama-sama dengan Banyu.
Lalu mereka saling tersenyum dan berpelukan dengan erat.
"Maaf ya.. aku belum sempat membelikan hafiah anniversary untuk kamu. Tapi aku janji, nanti malam hadiah itu sudah ada di tangan mu,"
Tasya tersenyum semringah, lalu ia mengeluarkan kotak kecil yang diikat dengan pita.
"Aku sudah ada kado untuk kamu mas."
"Oh ya?" Banyu terlihat salah tingkah dan merasa tidak enak hati dengan Tasya yang lebih dahulu mempersiapkan kado untuk dirinya.
"Buka saja." Pinta Tasya.
"Ini apa?" Tanya Banyu, penasaran.
"Ih buka saja, malah bertanya sih... gak seru ah.." Tasya mengerutkan dagu nya dan menatap Banyu dengan tatapan yang sebal.
"Sorry sorry.. oke.. aku buka." Banyu meraih kotak kecil memanjang tersebut dan membuka pita yang mengikat nya. Sesekali ia melirik istri nya yang tampak sangat cantik pada pagi ini.
__ADS_1
"Ini apa?" Tanya Banyu saat melihat isi kotak tersebut. Di dalam kotak itu terlihat potongan-potongan kertas warna warni, seperti tidan ada isinya.
"Coba lihat kedalam. Keluarkan kertas-kertas itu mas.." Pinta Tasya.
"Baiklah..." Banyu tersenyum dan menuruti permintaan istrinya itu.
Lalu perlahan ia menyingkirkan kertas-kertas yang menutupi permukaan kotak tersebut. Hingga ia melihat sebuah benda pipih yang berada di dasar kotak tersebut. Banyu mengangkat wajahnya dan menatap Tasya dengan tatapan tak percaya.
"Kamu..." Banyu terperangah dan membulatkan kedua matanya.
Tasya tersenyum lebar, ia tidak mampu menahan kebahagiaan yang tengah ia rasakan. Memberitahukan kepada suami bila dirinya sedang mengandung anak pertama mereka dengan cara yang unik, adalah hal yang pertama kali Tasya lakukan. Maka dari itu dirinya sudah mempersiapkan kejutan ini dari kemarin tanpa sepengetahuan siapa pun.
Banyu meraih kertas yang terlipat di bawah benada kecil tersebut dan mulai membukanta dan membaca tulisan yang berada di atas kertas tersebut.
"Hai papa.. sampai jumpa delapan bulan lagi." Kertas itu di lampirkan dengan foto USG bayi yang tengah Tasya kandung.
"Allahu Akbar! Alhamdulillah!" Ucap Banyu dengan suara yang begitu bersemangat dan juga sangat bersyukur.
"Kamu hamil sayang! Kamu hamil! Aku akan menjadi bapak lagi! Ini anak kedua kita...! I love you sayang!" Banyu memeluk Tasya hingga tart yang sedang Tasya pegang, nyaris saja terjatuh.
"Ya Allah... Janji-Mu tidak akan pernah meleset. Engkau memberikan aku cobaan berat selama aku belum bertemu lelaki hebat ini. Dan sekarang Engkau hadiahkan dia untuk ku. Orang yang tulus kepadaku dan juga putra ku. Alhamdulillah.. Terima kasih Ya Allah.." Batin Tasya seraya terus menatap Banyu dengan tatapan kagum nya.
"Apa kata dokter? Kamu mau apa? Ngidam apa? Aku akan upayakan segalanya.." Ucap Banyu dengan sangat bersemangat.
"Dokter bilang, calon bayi kita sehat. Tidak ada masalah apa pun. Alhamdulillah. Saat ini aku cuma mau kamu. Ngidam... hmmmm.. aku tidak ngidam sama sekali. So.. semuanya baik-baik saja."
Banyu tertawa dan mengusap perut Tasya yang masih rata.
"Kamu pintar nak, berarti kamu sayang sama mama dan papa. Terima kasih ya anak ku." Banyu mencium perut Tasya dan lalu memeluk istrinya itu.
"Terima kasih sayang, denganmu aku sempurna. Denganmu adalah kebahagiaan ku." Banyu mengecup pipi dan kening Tasya berkali-kali.
Tasya tertawa lebar dan membalas pelukan Banyu.
__ADS_1
"Ayo di makan tart nya." Tasya meletakkan tart tersebut di atas ranjang. Lalu ia memotong nya kecil-kecil dan menyuapi nya kepada Banyu.
Banyu pun menyambut tart itu dengan suka cita dan terus menatap Tasya seraya menikmati rasa tart yang begitu lembut dan manis tersebut.
"Rafis sudah tahu? Ambu abah?" Tanya Banyu.
"Belum mas, aku baru ke dokter kemarin dan aku simpan rahasia ini hingga pagi ini. Hanya kamu orang pertama yang mengetahuinya. Bapak dari bayi yang tengah aku kandung ini." Tasya tersenyum lebar.
Banyu tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka, bila di usia empat puluh tahun ini, aku diberikan kesempatan untuk memiliki anak lagi. Aku bahagia sekali sayang. Kamu sehat-sehat ya.. ada aku.. aku akan selalu siaga untuk kamu. Dan satu lagi, terima kasih sudah mengandung anak ku," Ucap Banyu seraya menggenggam kedua tangan Tasya dan mengecup nya dengan lembut.
"Terima kasih mas.." Ucap Tasya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia begitu terharu dengan apa yang di ucapkan Banyu pada dirinya.
Selama mereka menjalani pernikahan, tidak sekalipun Tasya merasa tersinggung dengan ucapan sang suami. Ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Kehidupan yang jauh lebih baik, kebahagiaan lahir dan batin, serta memiliki teman hidup yang sangat luar biasa. Tidak henti-hentinya ia selalu memanjatkan syukur pada sang Pencipta, yang sudah memberikan dirinya kesempurnaan hidup setelah semua yang ia hadapi pada waktu yang telah berlalu.
"Kira-kira anak nya cewek apa cowok ya?" Tanya Banyu seraya kembali mengusap perut Tasya.
"Cewek atau cowok, sama saja mas. Yang penting dia sehat dan selamat saat melahirkan nanti."
Banyu menatap Tasya dengan wajah yang tampak semakin semringah.
"Ya betul, kamu ibu yang hebat!" Ucap nya dengan bersemangat.
"Aku mau mandi dulu. Terus kita cari kado untuk kamu. Aku tidak usah ke kantor," Ucap Banyu, seraya beranjak dari ranjang itu.
"Loh..."
"Sssttt... pokoknya kamu adalah Ratu.. Hamil atau tidak hamil, sama saja.. Kamu tetap Ratu dan kamu adalah prioritas ku." Banyu beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Tasya tersenyum sendiri, hatinya di penuhi bunga-bunga cinta yang terus tumbuh bermekaran hingga tidak terlewatkan sedikit ruang kosongpun di dalam hatinya. Semua terpenuhi, semua terasa begitu indah dan wangi.
.
__ADS_1
"Lelaki yang dapat meratukan wanitanya adalah lelaki yang sadar, bila ia melanjutkan perjuangan seorang ayah yang telah mati-matian membahagiakan putri kecil nya." -De'rini-