Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
105. Pertemuan


__ADS_3

Alia menghentikan laju mobilnya tepat di depan kediamannya. Seperti biasa, ia turun dari mobilnya untuk membuka garasi yang berada di sisi kiri rumah tersebut. Sedangkan Eijaz masih duduk manis menunggu mamanya yang sedang membuka pintu garasi untuk memasukkan mobil mereka.


Sreeekkkkk..!


Alia menggeser pintu garasi itu ke sisi kiri dan kanan. Garasi yang terbuat dari bahan besi tersebut memiliki dua pintu yang dapat dibuka kearah berlawanan. Setelah Alia membuka pintu garasi itu, ia pun berniat kembali ke mobilnya. Saat itu juga ia melihat seorang lelaki yang sedang berdiri beberapa meter darinya. Tepatnya berdiri di ambang pagar rumah miliknya. Saat itu juga Alia terkejut, hingga kunci garasi yang berada di genggamannya hampir saja terhatuh. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdebar.


"Siapa lelaki itu?" Gumam Alia. Ia merasa seseorang telah membuntuti dirinya dan ingin berbuat jahat kepada dirinya dan Eijaz.


Jantung Alia semakin berdebar kencang saat lelaki itu melangkah mendekati dirinya. Di temaramnya cahaya lampu taman, Alia mencoba menegaskan siapa sosok lelaki itu seraya ia mencoba berjalan dengan cepat kearah mobilnya. Ia berinisiatif untuk segera kembali ke mobilnya, agar bila memang orang tersebut berniat jahat kepada dirinya, ia dengan mudah dapat melarikan diri dengan Eijaz.


"Alia.."


Alia yang hendak memasuki mobilnya pun kembali menatap lelaki itu. Perlahan cahaya lampu menerpa wajah lelaki itu dan kini wajah lelaki itu terlihat begitu jelas dalam pandangannya.


Deg!


Alia terbelalak, rasa tak percaya mulai menghampiri dirinya. Bahkan ia merasa hal ini hanyalah mimpi yang sedang ia alami dalam tidurnya yang nyenyak.


"Pu-pu-putra!" Ucapnya dengan tubuh yang kaku dan gemetar.


"Alia, apa kabarmu? Bisakah kita berbicara?"


Alia menelan saliva nya dan terus menatap Putra yang semakin dekat jaraknya dengan dirinya.


"Ba-bagaimana ka-kamu sampai disini?" Tanya Alia yang kini mulai mengeluarkan keringat jagung di dahinya. Entah mengapa ia merasa gugup bertemu dengan Putra. Satu sisi dirinya ingin sekali menampar dan memukul lelaki itu. Namun satu sisi di dirinya mencoba menahan rasa amarahnya yang mulai membara saat melihat lelaki dari masa lalunya itu.


Putra menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Alia, lelaki itu menatap jauh kedalam dua bola mata indah milik Alia yang kian membulat saat mereka saling bertatapan untuk yang pertama kalinya setelah sekian tahun mereka tidak lagi pernah berjumpa.


"Aku kesini untuk menemui kamu dan anak kita." Tegas Putra.


Mata Alia mulai memerah saat Putra dengan percaya diri mengatakan bila Eijaz adalah anak mereka.


"Apa maksudmu?" Tanya Alia dengan nada suara yang terdengar bergetar.


"Dia anakku bukan?"

__ADS_1


Bibir Alia terkunci, lututnya terasa lemas air mata pun mulai mendesak untuk keluar dan membanjiri pipinya yang kini tampak tirus.


"Alia, bolehkah aku berbicara kepadamu?"


"Untuk apa?" Alia menatap Putra dengan tatapan sinis nya.


"Pertama, dengan kerendahan hati, aku ingin meminta maaf kepadamu. Kedua, aku ingin membahas masalah Eijaz. Dan keti.....


"Stop!" Potong Alia, lalu ia segera masuk kedalam mobilnya dan segera memasukkan mobilnya kedalam garasi.


"Alia, please.." Putra mengetuk kaca mobil yang mulai melaju.


Alia mencoba menghiraukan Putra, yang hanya ingin ia lakukan saat ini adalah, ia hanya ingin segera memasukkan mobil itu dan menutup pintu garasi tersebut.


"Alia.." Putra nyaris saja terserempet mobil yang sedang melaju itu. Hingga akhirnya ia pun mengalah, ia hanya dapat terdiam dan berdiri mematung di tanah tempat dirinya berpijak.


Mobil Alia sudah terparkir dengan sempurna, kini wanita itu beranjak turun dan menatap Putra dengah tatapan penuh kebencian. Lalu ia segera menutup pintu garasi itu dan menguncinya. Setelah ia mengunci pintu garasi itu, ia pun menyenderkan punggungnya di daun pintu garasi tersebut, seraya menghela nafas panjang dan mengusap air matanya yang sudah terlanjur terjatuh di pipinya.


Angannya kembali melayang ke masa dimana ia mengejar cinta Putra. Segala perbuatan pahit dan sikap yang kasar kerap ia terima dari lelaki itu. Pun dengan ucapan terakhir Putra yang membuat dirinya merasa terhina sebagai seorang perempuan yang baru saja di renggut kesuciannya.


"Alia.."


Dor dor dor dor dor...!


Alia terkejut saat mendengar Putra memanggil namanya dan menggedor pintu garasinya.


"Mom, siapa dia?"


Alia terperanjat saat melihat Eijaz yang sudah turun dari mobil dan berjalan menghampiri dirinya. Dengan cepat, Alia mengusap air matanya dan mencoba tersenyum kepada Eijaz yang tampak bingung dengan sikap Alia.


"Bu-bu-bukan siapa-siapa." Sahut Alia seraya meraih tubuh mungil Eijaz dan menggendongnya untuk masuk kedalam rumah mereka.


"Mama menangis?" Tanya Eijaz yang berada di dalam dekapan Alia.


"Tidak," Sahut Alia seraya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"No mama, mama menangis. Dia siapa?" Tanya Eijaz lagi.


"Bukan siapa-siapa. Sekarang kamu tidur ya..." Ucap Alia seraya membawa Eijaz menuju kekamar bocah laki-laki tersebut.


"Ma.. please.." Ucap Eijaz saat Alia baru saja menaruh tubuh mungil itu di atas ranjang. Namun Alia hanya diam dan membukakan sepatu Eijaz. Lalu ia beranjak menuju ke lemari pakaian milik Eijaz dan mengambilkan satu set baju tidur untuk bocah tersebut.


"Ma.. apa dia orang jahat? Atau pencuri? Mama diapakan sama dia?" Bocah itu semakin kritis. Hingga membuat Alia terdiam dan ikut duduk di samping Eijaz.


"Mama..."


Alia menatap wajah Eijaz yang mirip sekali dengan Putra. Lalu ia mulai menangis dan mendekap Eijaz dengan erat.


"Mama kenapa menangis?" Tanya bocah polos itu lagi. Namun Alia hanya dapat menangia hingga tersedu-sedu. Segala emosi yang tengah ia rasakan kini ia tuangkan dalam dekapan pangeran kecil pemilik hatinya saat ini.


"Mama jangan nangis... cup cup cup.." Eijaz mengusap punggung Alia dengan tangan mungilnya.


Ting Tong! Ting Tong!


Alia terperanjat saat mendengar bell rumahnya berbunyi. Ia sudah tahu itu pasti perbuatan Putra yang memaksa dirinya untuk keluar dari dalam rumah itu.


"Sekarang ganti baju dulu ya.. Terus tidur. Mama akan tidur bersama kamu sepanjang malam." Alia mengusap air matanya dan mencoba tersenyum kepada Eijaz.


"Iya mama.."


"Good boy." Ucap Alia seraya mengecup puncak kepala Eijaz.


.


"Sudah, lebih baik kamu kembali saja. Biarkan dirinya meluapkan emosinya pada malam ini. Kamu bersalah dan jangan pernah memaksakan kehendakmu pada orang yang pernah kamu kecewakan," Ucap Greta yang tiba-tiba berada di belakang Putra. Putra menoleh dan menatap wanita yang telah mengantarkan dirinya ke rumah Alia.


"Mari aku antarkan kamu kembali ke hotel. Beristirahatlah, masih ada hari esok."


Putra menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan berat hati. Lalu ia melangkah meninggalkan halaman rumah tersebut. Putra kembali menatap rumah itu, kala ia menutup pagar rumah tersebut. Lalu dengan perasaan kecewa, ia pun berjalan berdampingan dengan Greta menuju mobil yang di parkir tak jauh dari kediaman Alia.


"Ya... masih ada hari esok." Batin Putra.

__ADS_1


__ADS_2