
Tok! Tok!
Putra menatap kearah pintu ruangan nya yang tertutup rapat. Seketika pintu itu terbuka dan tampak Tasya melangkah masuk kedalam ruangan itu. Tasya tersenyum kepada Putra yang menatapnya dengan semringah.
"Kamu datang.." Ucap nya dengan penuh kegembiraan.
"Ya, seperti janjiku." Tasya menghampiri Putra dan meletakan bingkisan buah-buahan yang sengaja ia bawa untuk Putra. Saat itu juga Tasya melihat sebuah bingkisan yang sama terletak di atas meja, tepat di samping ranjang Putra.
"Oh, mungkin dari mas Banyu," Pikirnya saat melihat bingkisan tersebut.
"Bagaimana keadaan mu mas?" Tanya Tasya seraya menatap Putra dengan seksama.
"Baik, kamu apa kabar?"
"Baik." Sahut Tasya seraya menarik kursi mendekat kearah ranjang, dan ia pun duduk di atas kursi itu seraya tersenyum menatap Putra.
"Ternyata mas Banyu dari sini?" Tanya Tasya seraya menatap kembali buah-buahan yang terletak di atas meja.
Putra mengikuti arah pandangan Tasya, matanya menatap buah-buahan yang Alia bawakan untuk dirinya tadi siang.
"Ng... bu-bukan.. ada rekan kerja yang mengunjungi aku," Ucap Putra dengan gugup.
"Oh.." Tasya tersenyum dan kembali menatap Putra yang terlihat salah tingkah.
Lalu hening..
"Bagaimana kabar Rafis?" Akhirnya Putra memecahkan keheningan antara dirinya dan Tasya.
"Baik."
"Aku sangat merindukan dia." Senyum Putra mengembang di bibirnya yang masih terlihat luka.
Tasya hanya tersenyum menanggapi ucapan Putra. Lalu ia beranjak menuju ke meja dan meraih keranjang parsel buah yang ia bawakan untuk Putra.
"Mas, mau aku...
"Tas," Potong Putra, seraya memegang tangan Tasya yang hendak membuka parsel tersebut.
"Ya?"
"Bagaimana tentang pembahasan kita di telepon tadi?" Tanya Putra tanpa basa basi.
Tasya terdiam, ia membalas tatapan Putra yang terlihat serius bertanya kepada dirinya.
"Mas aku...
"Aku mohon.. Aku sangat mencintaimu.. Aku sangat mencintai Rafis. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Tasya menghela nafas panjang dan menundukkan pandangan nya.
"Tas... Aku sedang tidak bermain-main. Aku sangat serius untuk menikahi kamu. Ini bukan waktu nya lagi bermain-main. Aku sudah tiga puluh lima tahun. Aku ingin menikah dan memiliki keluarga."
Tasya bergeming, entah mengapa wajah Banyu terlintas dibenak nya. Sikap Banyu yang dingin, dan kini mulai melunak kepada dirinya. Hingga kejadian tadi siang di gudang tempat Banyu bekerja.
"Kalau dia tidak mencintai aku, mengapa ia ingin mencium ku?" Batin Tasya, ia mulai bertanya tentang sikap Banyu kepadanya. Tetapi seketika ia membantah itu semua. Ucapan Banyu yang meminta maaf kepada dirinya dan meminta Tasya untuk tidak mengatakan kejadian tadi siang kepada Putra, sudah jelas membuktikan bila Banyu hanya khilaf kepada dirinya. Tidak bisa dipungkiri, dua manusia dewasa berdua saja di tempat yang sepi, tentu saja mereka terbawa suasana yang tercipta begitu saja, tanpa direncanakan sebelumnya.
__ADS_1
"Tasya, menikahlah dengan ku.." Putra meraih tangan Tasya dan menggenggam nya dengan erat. Tasya menatap tangan nya yang sedang berada dalam genggaman Putra. Lalu ia menatap Putra dengan seksama.
"Aku berjanji, akan menjadi ayah yang baik untuk Rafis. Ayo kita menikah dan hidup diluar negeri, atau hidup dimana saja. Jangan disini!"
Tasya mengerutkan keningnya, entah mengapa ia merasa sesuatu yang ganjil dengan sikap Putra yang terlihat panik saat mengajak dirinya untuk hidup jauh dari Jakarta.
"Kalau... ini kalau ya mas. Kalau aku menerima, kenapa kita tidak tinggal saja di Jakarta?" Tanya Tasya yang penasaran.
"A-aku hanya punya impian kita tinggal di luar negeri atau di luar daerah."
Tasya menghela nafas dan menundukkan pandangan nya.
"Mas...
Dretttt... Dreeettt... Dreettt...
Ponsel Tasya berbunyi. Tasya menatap tas tangan nya yang ia taruh di atas meja. Lalu ia berusaha melepaskan genggaman tangan Putra yang begitu erat menggenggam kedua tangan nya.
"Sebentar ya mas.." Tasya meminta izin untuk mengangkat panggilan yang sedang menanti dirinya.
"Ok," Sahut Putra seraya melepaskan genggaman tangan nya dan menatap Tasya yang langsung meraih tas tangan nya. Putra terus memperhatikan Tasya yang tampak mengerutkan keningnya.
"Siapa?" Tanya Putra penasaran.
"Ibu ku mas. Sebentar ya.." Ucap Tasya seraya beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Putra terus menatap Tasya yang berjalan sembari menerima panggilan tersebut.
.
"Tas, ini bude Parmi."
Tasya mengerutkan keningnya.
"Bude? Kok bude menelepon ku pakai nomor ibu?" Tanya Tasya penasaran.
"Nduk, ibu mu sakit. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Bapak mu meminta bude menghubungi kamu."
"Hah? Ibu sakit apa bude?"
"Bude gak tahu juga. Ini lagi di periksa oleh dokter Tas,"
"Dimana bude?"
"Di rumah sakit dekat rumahmu di Solo."
Tasya terlihat panik, lalu ia kembali bergegas masuk kedalam ruangan Putra.
"Ok bude, aku akan ke sana besok pagi-pagi. Aku akan mengambil penerbangan paling pagi!" Janji Tasya.
"Iya nduk. Ibu mu loh, selalu panggil nama kamu."
"Iya bude.. aku mohon tenangkan ibu dulu. Aku akan pulang dengan segera."
"Ngeh... Hati-hati yo nduk.."
__ADS_1
"Iya bude."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," Sahut Tasya, seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut. Ia pun berjalan mendekati Putra yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Ada apa?" Tanya Putra, penasaran.
"Mas, aku pulang dulu ya..." Tasya menyambar tas tangan nya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa?" Desak Putra.
"Ibu ku sakit mas, dia sedang dirawat di rumah sakit."
Putra terlihat semakin cemas. Lalu ia berusaha beranjak dari ranjang nya.
"Terus? Dirawat di rumah sakit mana?" Tanya Putra lagi.
"Di Solo mas, aku akan terbang pagi ini. Malam ini aku akan mencari tiket pesawat dan berkemas untuk pulang ke Solo." Terang Tasya.
"Kamu baik-baik saja? Yang sabar ya..." Putra menghampiri Tasya dan memeluk tubuh Tasya, untuk menenangkan wanita yang ia cintai tersebut.
Tasya terdiam didalam pelukan Putra. Lalu dengan ragu, ia membalas pelukan hangat dari lelaki yang kini tengah dekat dengan dirinya itu.
"Te-terima kasih mas," Ucapnya.
Srekkkk!
Sepasang mata menatap Putra dan Tasya yang tengah berpelukan. Menyadari ada seseorang yang baru saja memasuki ruangan nya, Putra pun melepaskan pelukan nya dari tubuh Tasya dan menatap kearah pintu. Pun dengan Tasya yang tampak canggung kala melihat lelaki yang berdiri di depan pintu tersebut.
"Maaf mengganggu kalian," Ucap Banyu seraya membalikkan badan nya, hendak kembali keluar dari ruangan itu.
"Tidak apa-apa A', Tasya juga mau pulang,"
Banyu menghentikan langkah nya dan menoleh kebelakang. Ia menatap kedua insan itu dengan tatapan teduh nya.
"Oh.. kenapa buru-buru sekali?" Banyu kembali melangkah masuk dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Ibu nya Tasya sakit. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit." Terang Putra.
"Ah.. kamu mau ke Solo? Kapan?"
"Pagi ini mas," Sahut Tasya yang terlihat salah tingkah dengan Banyu.
"Salam untuk ibu mu. Semoga cepat sembuh."
"Baik mas, aku pulang dulu ya.."
"Ya.." Sahut Banyu yang berjalan mendekati Tasya dan Putra.
"Salam juga buat ibu mu ya Tas, salam dari calon menantu," Ucap Putra seraya tersenyum manis kepada Tasya.
Tasya semakin salah tingkah, terlebih ia melihat Banyu yang tengah melirik Putra dan dirinya.
"Mari mas," Ucap Tasya tanpa menanggapi ucapan Putra. Lalu ia melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Putra dan Banyu di sana.
__ADS_1