Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
33. Pilih yang mana?


__ADS_3

Sikap canggung terlihat jelas sekali pada Tasya yang tengah duduk di samping Banyu yang sedang menyetir mobil. Sedangkan Banyu terlihat dingin dengan sikap yang tenang, seraya memperhatikan jalan yang tengah mereka lintasi. Sudah beberapa menit mereka saling diam di dalam mobil tersebut. Hingga Tasya pun mulai gelisah dan mencoba mencari bahan pembicaraan dengan Banyu.


"Bagaimana kabar mas Putra, mas?" Tanya Tasya seraya melirik Banyu yang masih fokus dengan kemudinya.


"Semakin membaik." Sahut Banyu tanpa melirik sedikitpun pada Tasya.


"Lukanya?"


"Dimana? Hampir di seluruh wajah nya memar dan terluka."


Tasya menelan saliva nya dan lalu menghela nafas dalam-dalam.


"Ya, dimana saja." Akhirnya ia menanggapi jawaban Banyu yang terdengar acuh kepada dirinya.


"Sudah mulai mengering. Kamu tidak menjenguk dia lagi?" Tanya Banyu, seraya membelokkan kemudi nya ke arah kanan, untuk menghindari truk yang hampir saja Menyerempet mobil nya.


"Nanti malam mungkin mas." Sahut Tasya.


"Oh. Dengan anak mu?" Tanya Banyu lagi.


Tasya melirik Banyu dan kembali menghela nafas.


"Maafkan ucapan anak ku semalam ya mas." Tasya merasa tidak enak dengan ucapan Rafis semalam kepada Banyu.


"Tidak apa-apa, namanya anak kecil. Aku malah salut pada dirinya, karena dia berani berbicara." Banyu tersenyum kecil dan mengingat sosok Rafis.


"Ya... pokoknya aku minta maaf saja."


"Tidak apa-apa." Sahut Banyu.


Lalu hening...

__ADS_1


"Gudang nya masih jauh mas?" Tanya Tasya, selang beberapa menit kemudian. Sebenarnya semakin tidak ada komunikasi diantara mereka, justru membuat Tasya semakin bingung untuk bersikap selama perjalanan bersama Banyu.


"Lima belas menit lagi lah." Sahut Banyu, seraya ia memperhatikan arlojinya.


"Mas...


" Kamu sudah sarapan?" Potong Banyu, seraya melirik Tasya yang juga sama-sama melirik dirinya. Tatapan mereka saling bertemu, justru membuat suasana menjadi semakin canggung.


"Sudah." Sahut Tasya.


"Oh.. syukurlah. Gimana luka di betis mu?"


"Hmmm.. sudah mulai mengering. Terima kasih mas. Mas sudah..


" Ya sama-sama." Potong Banyu lagi.


Tasya merapatkan bibirnya dan membuang pandangan nya ke jendela samping mobil sedan berwarna silver tersebut. Entah mengapa, ia merasa Banyu sengaja membuat dirinya menjadi mati kutu. Akhirnya ia memilih untuk diam saja, hingga mobil yang dikendarai Banyu tiba di sebuah gudang yang juga workshop tempat pembuatan mebel yang di pesan oleh perusahaan tempat Tasya bekerja.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Banyu, seraya melepaskan sabuk pengaman nya.


"Ayo.." Ucap Banyu seraya berjalan terlebih dahulu dari Tasya. Tasya pun mengikuti langkah kaki lelaki tampan itu, yang membawanya masuk ke dalam gudang tersebut.


Sesampainya di gudang, terlihat beberapa pekerja menyapa Banyu dengan ramah. Pun dengan Banyu yang membalas sapaan mereka dengan ramah pula. Terselip juga senyum yang manis di bibir Banyu yang tipis. Tasya tertegun, ia sangat jarang melihat senyuman manis itu dilemparkan kepada dirinya.


"Ayo kita ke ruangan sana." Banyu menunjuk sebuah ruangan yang terbuat dari sebuah kontainer bekas yang disulap menjadi kantor dadakan di dalam gudang itu. Meskipun begitu, kantor dadakan itu dilengkapi oleh pendingin ruangan dan juga fasilitas yang lengkap. Seperti toilet dan juga kursi serta meja, untuk menerima customer yang mengunjungi gudang tersebut.


Sesampainya di dalam kantor itu. Terlihat seorang karyawan sedang duduk di sana. Karyawan itu menyapa Banyu dengan ramah, lalu mempersilahkan Tasya untuk duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati, serta alas yang empuk dan juga berwarna merah hati. Kesan mewah dalam ruangan tersebut, membuat orang yang sedang di dalam kantor itu tidak merasa sedang berada di dalam sebuah kontainer.


"Tolong siapkan minuman buat ibu Tasya ya." Pinta Banyu kepada karyawan tersebut dan di sambut anggukan dari karyawan itu. Lalu karyawan tersebut pun pergi meninggalkan kantor itu. Kini tinggallah Banyu dan Tasya berdua saja di dalam ruangan tersebut.


Tasya menyapukan pandangan nya ke seluruh ruangan. Sedangkan Banyu, memberikan contoh atau model mebel dalam bentuk katalog yang telah ia persiapkan untuk dilihat oleh Tasya, sebelum mereka menjelajahi gudang tersebut untuk melihat produksi, contoh yang sudah jadi dan juga bahan dari mebel tersebut.

__ADS_1


"Silahkan," Ucap Banyu seraya menyodorkan katalog tersebut kepada Tasya.


Pandangan Tasya mendarat kepada katalog itu. Lalu ia meraih katalog tersebut dan mulai memperhatikan satu persatu dari semua yang ada di dalam katalog tersebut.


"Ini untuk meja resepsionis, ini untuk sofa tunggu. Ini untuk kantor karyawan marketing, ini juga lemari berkas dan ini untuk kantor manager." Banyu memberitahukan satu persatu mebel yang akan ia persiapkan untuk kantor di Semarang.


"Kalau harga kemarin sudah deal ya mas sama pak Siswoyo?" Tanya Tasya.


"Sudah, jadi kalau memang ada perubahan. Bisa dibicarakan sekarang, sebelum produksi. Jadi, aku hanya ingin memberikan pertimbangan saja. Kemarin pak Siswoyo meminta dari bahan yang biasa saja. Namun menurutku, lebih baik pakai yang ini. Beda harga hanya selisih tiga juta dari yang di pilih pak Siswoyo. Tetapi aku berani jamin ini akan awet sekali. Anti rayap dan model lebih elegan." Terang Banyu pada salah satu mebel yang sudah di pesan oleh Siswoyo.


"Hmm.. gimana ya mas. Berhubung aku baru dalam hal ini. Aku ikut pak Siswoyo saja. Aku tidak berani mengambil keputusan apa lagi mengganti mebel dan menambah harga." Tasya terlihat enggan untuk memilih saran dari Banyu.


Banyu tersenyum dan menatap Tasya dengan seksama.


"Sekarang kamu sudah menjadi asisten nya pak Siswoyo. Itu tandanya ini sudah menjadi bidang mu. Kala kamu dihadapi oleh dua pilihan, pilihlah yang terbaik. Karena ini untuk jangka panjang. Bila kamu memilih hanya karena lebih gampang untuk di jangkau, padahal itu akan rusak pada waktu yang singkat, perusahaan akan rugi dan kesalahan akan dilemparkan kepadamu atau pengrajin kami. Padahal, aku tau pak Siswoyo ada main dalam mark-up harga. Aku hanya tidak ingin mengatakan nya saja pada pak Anton. Karena memang aku tidak ingin orang di pecat gara-gara aku membuka suara. Pilihlah yang terbaik."


Tasya mengerutkan keningnya. Walaupun Banyu berbicara sebagaimana seorang marketing, namun kata-kata Banyu terdengar seperti sedang menyindir dirinya. Dirinya yang sedang memikirkan dan mengagumi dua orang pria. Yaitu kakak beradik Banyu dan Putra.


"Mas...


"Jadi yang mana bu Tasya?" Potong Banyu.


Tasya menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia menghela nafas panjang.


"Aku, milih mas Banyu saja boleh?" Tanya Tasya seraya menatap Banyu lekat-lekat.


"Hah?" Banyu terperangah dan matanya membulat saat membalas tatapan Tasya.


"Tidak, aku bercanda. Mas Banyu terlalu serius pagi ini. Silahkan minum kopi nya mas, biar gak terlalu serius," Ucap Tasya seraya menyodorkan gelas yang berisi kopi panas yang baru saja ia terima dari tangan karyawan yang baru saja masuk membawa dua gelas kopi pesanan Banyu.


"Te-terima kasih," Ucap Banyu seraya menerima gelas kopi tersebut dari tangan Tasya.

__ADS_1


Tasya mengangguk dan tersenyum manis kepada Banyu. Yang membuat Banyu semakin salah tingkah karenanya.


"Sial... dia berani bermain kata kepadaku." Batin Banyu, seraya tersenyum tipis sebelum ia menyeruput kopi di gelas nya.


__ADS_2