Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
84. Maafkan ibu


__ADS_3

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!


Terdengar pukulan pukulan palu yang menghantam paku di sebuah ruangan yang akan dipersiapkan Banyu untuk toko kue yang akan dikelola oleh Tasya. Juga terlihat Tasya sedang mengatur beberapa pajangan yang akan ia gantung di dinding ruangan itu. Ruangan yang cukup luas dengan cat berwarna pink dan biru itu terlihat begitu nyaman.


"Sudah pas kan mas?" Tanya Tasya sambil menoleh kebelakang.


Banyu yang baru saja memaku dinding pun menoleh dan memperhatikan lukisan cake yang baru saja Tasya gantung.


"Pas.." Ujarnya seraya turun dari tangga lipat.


"Panas sekali. Padahal sudah di berikan AC." Ucap Banyu yang kaos nya tampak basah karena peluh.


"Apa kurang ya AC nya mas?" Tanya Tasya seraya kembali menyangkutkan sebuah lukisan lagi di dinding.


"Mungkin.. mau di tambah AC lagi?"


Tasya kembali menoleh. Tetapi ia tertertegun saat melihat Banyu yang baru saja membuka kaos nya.


"Sayang.."


Tasya mengerjapkan matanya. Lalu ia mencoba mengalihkan pandangan nya dari perut sixpack dan dada bidang milik suaminya itu. Sudah empat hari mereka menikah, tetapi dirinya dan Banyu belum boleh melakukan nya, karena Tasya sedang berhalangan. Tasya juga belum pernah melihat bagaimana bentuk tubuh suaminya. Karena mereka masih saling malu dan belum sepenuhnya terbiasa hidup bersama.


"Hah?"


"Mau tambah AC lagi? Kalau iya, aku pesan sekarang. Kita taruh disebelah sana," Ucap Banyu seraya menunjuk kearah dinding yang berada di sebelah kiri ruangan itu.


"Nanti kan disini etalase, disana juga etalase panjang. Kita beli AC yang PK nya besar. Jadi cake mu aman." Sambung Banyu lagi.


"I-iya mas," Tasya kembali melirik perut Banyu yang tampak begitu menggoda.


"Baik kalau begitu, mas pesankan ke toko nya ya. Jadi langsung minta dipasangkan."


"Iya.." Sahut Tasya.


Lalu Banyu berjalan ke arah depan, sambil menghubungi toko yang ia maksud. Tasya terus mencuri pandang kepada Banyu yang tampak tidak sadar bila dirinya menjadi pusat perhatian sang istri.


"Duh.. ternyata punya roti sobek." Gumam Tasya seraya tersenyum sendiri.


Tiba-tiba saja pintu toko itu terbuka. Lalu masuklah Rafis dan baby sitter nya yang baru saja menjemput bocah itu dari sekolah.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Rafis dan baby sitter.


"Wa'alaikumsalam.." Sahut Tasya dan Banyu.


"Papa!" Seru rafis, seraya berlari ke pelukan Banyu.


"Eh, papa keringetan loh."


"Tidak masalah... Rafis rindu sama papa.." Ucap bocah itu.


"Oh.. jadi sekarang mama dicuekin ya? Biasanya pulanh sekolah langsung memeluk mama, sekarang malah langsung ke papa." Tasya mengerutkan dagunya seraya menatap Rafis dan Banyu dengan tatapan cemburu.


"Mama cemburu.." Ucap Banyu seraya tertawa penuh kemenangan. Lalu Rafis dan Banyu pun tertawa meledek Tasya.


"Ish.. teganya..." Tasya berpura-pura semakin terlihat cemburu.


"Tidak kok ma... Rafis juga rindu sama mama.."


"Sini peluk mama.." Ucap Tasya seraya membuka lebar-lebar kedua tangan nya. Rafis pun berlari kearahnya dan memeluk Tasya dengan erat.


"Hmmm.. I love you baby.." Bisik Tasya dengan penuh kasih sayang.


"Besok akan dipasang AC nya. Sekarang kita pulang dulu yuk." Ucap Banyu, seraya beranjak dari duduknya.


"Mas, kita mampir ke rumah ku dulu yuk. Masih ada yang ketinggalan disana."


"Boleh.. Ayo.." Sahut Banyu, seraya memakai lagi kaos nya.


Mereka pun meninggalkan toko tersebut. Sepanjang jalan, di mobil Rafis terus bercerita dengan bersemangat tentang hari nya di sekolah. Bocah laki-laki itu terlihat semakin riang, karena apa yang ia impikan kini sudah tercapai. Yaitu memiliki keluarga yang utuh. Terlihat juga Tasya dan Banyu yang dengan senang hati mendengarkan cerita sang anak. Mereka terlihat begitu bahagia, tertawa dan saling bercanda di dalam mobil itu.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Tasya yang lama untuk mengambil sisa barang yang masih tertinggal. Mereka berempat turun dari mobil dan beranjak memasuki halaman rumah tersebut, sesaat setelah Tasya membuka kunci gerbang rumah itu.


"Assalamu'alaikum.." Terdengar suara seorang lelaki dari luar gerbang rumah itu. Tasya, Banyu, Rafis dan sang baby sitter pun menoleh kebelakang. Saat itu juga wajah Tasya tampak terkejut saat melihat sosok lelaki dan wanita tua yang berdiri beberapa meter dari dirinya.

__ADS_1


"Tasya.." Panggil lelaki itu.


Tasya melirik Banyu, sang suami. Ia tampak gelisah dengan situasi saat ini.


"Antoni.." Banyu langsung mengenali lelaki yang berdiri di sana.


"Banyu.."


Antoni dan wanita tua disampinya pun berjalan mendekati Banyu dan Tasya. Saat ini, terlihat keadaan Antoni jauh lebih baik daripada terakhir Tasya melihat mantan suaminya itu.


"Hmmm.. mas Antoni, ibu.." Sapa Tasya, seraya menyalami mantan mertuanya itu. Pun dengan Antoni yang juga di salami oleh Tasya.


Antoni tampak ragu menyambut tangan mantan istrinya itu. Lalu dengan perlahan dirinya pun menyambut tangan Tasya dengan suka cita.


"Ibu dengar kamu sudah menikah Tas, selamat ya." Ucap mantan mertua Tasya.


"Terima kasih bu." Sahut Tasya.


"Mas Antoni.."


"Ah.. dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter." Potong ibunya Antoni.


Tasya dan Banyu hanya mengangguk paham. Lalu suasana pun terasa kikuk sekali.


"Kami kesini hanya ingin mengucapkan selamat padamu Tas, dan juga ibu dan Antoni mau melihat Rafis." Terang ibunya Antoni tanpa Tasya sempat mempertanyakan maksud kedatangan mereka.


"Oh.. Terima kasih." Sahut Tasya.


"Jadi.. kamu suaminya Tasya?" Tanya Antoni pada Banyu.


Banyu tersenyum dan mengangguk sopan. Banyu terdiam, lelaki itu terus menatap Banyu, dan tak lama kemudian ia menatap Tasya yang tampak canggung kepada dirinya dan juga ibunya.


"Syukulah, semoga kalian bahagia."


"Aamiin." Sahut Tasya dan Banyu.


"Silahkan masuk dulu, tapi sofa nya sudah...


"Tidak usah repot-repot. Kami kesini hanya ingin lihat Rafis saja dan membawa nya ke hotel." Potong ibunya Antoni lagi.


"Bu...


"Bukan begitu. Tapi, Rafis baru saja pulang sekolah."


"Jadi.. kamu tidak mengizinkan Rafis ikut kami?" Ibunya Antoni tampak begitu emosi.


"Bukan begitu bu..."


"Mentang-mentang kami tidak ikut membiayai Rafis?" Cecar ibunya Antoni lagi.


"Bu...


"Maaf sebelumnya.. Saya bukan mau ikut campur. Kalu ingin melihat Rafis, tidak apa-apa. Tetapi bila membawanya, kami belum bisa melepaskan nya begitu saja. Kecuali dia sudah dewasa." Tegas Banyu dengan wajah yang tampak serius.


Ibunya dan Antoni terdiam, pun dengan Tasya. Tasya menatap Banyu yang terlihat gagah saat membela dirinya dan Rafis.


"Kamu jangan ikut campur. Kamu itu orang lain.." Ucap ibunya Antoni seraya memasang raut wajah yang tak suka kepada Banyu.


"Mbak.. tolong bara Rafis kedalam." Pinta Banyu. Saat itu juga Rafis di bawa kedalam rumah itu oleh baby sitter nya. Kini dihalaman rumah itu hanya ada Tasya, banyu, Antoni dan ibunya saja.


"Oh, jadi begini cara kalian memperlakukan kami?" Ibunya Antoni terus mengintimidasi Tasya dan Banyu. Selama ini Tasya hanya bisa pasrah saat diintimidasi oleh ibunya Banyu. Tetapi tidak kali ini, dirinya sudah memiliki sosok pelindung yang begitu tegas dan bertanggung jawab. Yaitu Banyu, suaminya.


"Maaf ibu, bukan begitu. Kami. Mengizinkan bila ibu dan Antoni mengunjungi Rafis. Tetapi tidak dengan membawanya." Tegas Banyu lagi.


"Tetapi.. Dia kan hak kami juga!" Bentak ibunya Antoni.


"Bu.. sudah.." Antoni terlihat panik dengan sikap ibunya di depan mantan istri dan suami sang mantan istri.


"Tidak bisa begitu Antoni!"


"Bu!" Antoni pun membentak ibunya.


Semua yang berada disana pun terdiam. Dengan wajah kecewa, Antoni menatap ibunya dengan seksama.

__ADS_1


"Kenapa jadi kamu yang bentak ibu?"


"Bu.. kita harusnya sadar diri. Antoni tidak pernah menafkahi Rafis bu. Mereka menyambut kita dengan baik dan juga mengizinkan kita untuk bertemu saja sudah Alhamdulillah."


Ibunya Antoni pun terdiam. Ia terlihat kesal saat Antoni membela Tasya dan Banyu.


"Kalu begitu, lebih baik kita pulang saja! Ayo!" Ibunya Antoni menyeret tangan Antoni sekuat tenaganya. Dengan pasrah lelaki itu mengikuti ibunya untuk kembali masuk kedalam mobil mereka.


Sedangkan Tasya dan Banyu hanya mampu terdiam saat melihat sikap mendominasi yang di tampakkan oleh ibunya Antoni.


"Sekarang aku mengerti kenapa pernikahan kalian tidak berjalan dengan mulus," Ucap Banyu seraya merangkul pundak Tasya yang masih tampak shock.


Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia tersenyum tipis dan terus menatap sang suami.


"Ayo kita masuk kedalam, ambil barang dan terus tidak usah kembali lagi ke rumah ini."


Tasya bergeming, ia terus menatap sang suami dengan tatapan yang begitu mengagumi suaminya itu.


"Kenapa? Kok melihat ku seperti itu?" Tanya Banyu yang terlihat bingung dengan tatapan Tasya.


"Mas, Terima kasih," Ucap Tasya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Kenapa?" Tanya Banyu dengan ekspresi wajahnya yang polos.


"Seumur hidup, selain bapak, baru ini aku merasa di lindungi oleh lawan jenis." Suara Tasya terdengar bergetar. Selama ia terikat dalam pernikahan nya dengan Antoni, lelaki itu tidak sama sekali membela dirinya di depan keluarga ataupun dimana saja. Tasya di biarkan begitu saja, bahkan Antoni sendiri pun menekan mental dan perasaan Tasya selama dengan dirinya.


Banyu terdiam, lalu ia mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut. Lalu ia mengusap air mata Tasya yang mulai terjatuh di pipinya.


"Aku suami mu.. Akulah pelindungmu. Sejak bapak menyerahkan kamu kepadaku, kamu adalah prioritas bagiku. Bahagiamu adalah tanggung jawabku. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti kamu, mulai dari Ijab Kabul di ucapkan di depan para saksi."


Tangisan Tasya pun meledak, ia begitu bahagia hingga tidak mampu berkata-kata. Ia memelui tubuh Banyu dengan erat, dan mengucapkan banyak terima kasih di telinga sang suami.


"Terima kasih.. terima kasih.. terima kasih.. aku mencintaimu.." Bisik Tasya.


Banyu tersenyum dan menahan perasaan haru nya. Ia membalas pelukan sang istri dan mengecup kening sang istri dengan lembut.


"Aku mencintaimu dunia dan akhirat." Balas nya.


.


"Hahahahahhahaha...."


Di dalam mobil, tiba-tiba saja Antoni tertawa terbahak-bahak. Ibunya Antoni pun terkejut dan mencoba menyadarkan Antoni dengan menepuk bahu putra nya itu.


"Kamu kenapa ketawa-ketawa gak jelas!"


"Hahahahahahaha...!" Antoni terus tertawa terbahak-bahak, lalu tak lama kemudian ia pun menangis meraung layaknya bocah kecil.


"Antoni! Sadar nak!" Ibunya mencoba untuk menyadarkan Antoni yang mulai kehilangan kontrol kembali, dengan menggoyangkan tubuh Antoni dengan kasar.


"Antoni!" Panggilnya lagi.


Antoni menepis tangan ibunya dan menatap wanita tua itu dengan mata yang memerah.


"Aku benci dengan ibu! Ibu tahu? Kenapa aku membenci ibu!"


"Kamu kenapa! Kamu lupa minum obat ya!" Ibunya Antoni tampak panik dan berusaha merogoh obat Antoni yang berada di dalam tas sandang putra nya itu.


"Yang membuat aku gila itu ibu! Apa ibu sadar itu? Apakah ibu tidak menyadari? Ibulah orang yang membuat aku gila! Mulai dari ibu melarangku bersama dengan Queen! Ibu memaksa ku menikah dengan Tasya! Wanita yang tidak aku cintai! Ibu.. yang gila itu ibu! Ibu gila! Ibu orang gila!" Teriak Antoni di dalam mobil itu.


"Cukup Antoni! Cukup! Sekarang minum obatnya!" Ibunya Antoni yang baru saja mengeluarkan beberapa butir obat dari dalam tas nya pun memaksa Antoni untuk meminum obat yang diresepkan oleh dokter kejiwaan untuk Antoni.


Dengan cepat, Antoni merebut obat-obatan itu dan balik memaksa ibunya untuk meminum obat tersebut.


"Ibu saja yang minum! Hahahahahha..! Ibu gila! Ibu yang gila!" Lelaki itu seperti kesetanan dan memaksa ibunya untuk menelan obat itu tanpa air.


Sang supir pun menghentikan laju mobil itu. Lalu ia beranjak keluar dari mobil itu dan membuka pintu penumpang. Lalu ia berusaha melerai Antoni dan ibunya.


"Mas.. mas Antoni... mas... Astaghfirullah.. sadar mas.." Supir itu berusaha keras untuk menahan tangan Antoni. Hingga sang ibu berhasil keluar dari dalam mobil tersebut.


"Dasar anak gila! Gila kamu Antoni!"


"Hahahaha...! Ibu... ibu yang gila..!" Sahut Antoni yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Ibunya Antoni terdiam, lalu perlahan ia menagis. Kini dirinya sadar, ia lah penyebab dari sakitnya jiwa Antoni. Ia mulai merasa menyesal, mengapa dulu ia tidak membiarkan saja Antoni menunggu Queen beberapa bulan lagi. Mengapa dirinta terus memaksakan kehendak nya pada Antoni, anak semata wayangnya itu. Kini terlambat sudah... Antoni sudah menjadi orang yang berbeda. Harapannya hancur saat Antoni dinyatakan mengidap gangguan kejiwaan. Dan sekarang, Antoni sudah lebih baik, namun kembali dirinya lah penyebab anak nya kembali seperti itu.


"Maafkan ibu Antoni.." Gumam nya seraya menyeka air mata penyesalan.


__ADS_2